***
Selepas kabar kepergian bulan madu Kak Audy dan Kak Sean. Aku sengaja menenggelamkan diri dalam pekerjaanku. Aku tak ingin menyia-nyiakan sedikitpun waktuku di sini, dan mengacaukan semuanya. Meski sebenarnya ini sulit untukku yang masih awam, tapi aku harus sudah mulai belajar, kan?
Untung ada Selly, sekretaris Papi yang setia menemaniku, dan mengajarkan aku banyak hal. Hingga aku mulai bisa menghadapi masalah yang sedang kami hadapi. Big thanks untuk Selly.
Lagi pula, aku memang harus mulai belajar mengambil alih pekerjaan Papi mulai sekarang, kan? Karena sekarang, perusahaan ini jadi tanggung jawabku. Jadi, aku harus benar-benar belajar, dan sudah bukan waktunya bermanja lagi.
Mama Sulis setiap hari menelponku dan menanyakan, kapan aku pulang? Mungkin beliau kesepian di rumah sendirian. Karena anak dan menantunya belum ada yang kembali.
Sebenarnya, aku merasa bersalah sih, sudah ninggalin Mama Sulis seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi? Aku belum siap kembali ke rumah itu, walau tanpa adanya Kak Sean dan Kak Audy. Aku merasa, di sana bukan tempatku. Mengerti, kan?
Sementara Mama Sulis menelepon untuk menanyakan kepulanganku. Kak Audy pun tiap hari juga menelpon untuk memberi kabar padaku, tentang perjalanan bulan madunya. Kadang, malah disertai kiriman photo mesra. Lalu nanti ujung-ujungnya dia akan bertanya, kapan aku nyusul?
Namun, semuanya selalu aku balas dengan kata yang sama. Yaitu, Maaf. Atau enjoy your trip. Tentu saja, memang aku harus jawab apa selain kata itu?
Sebenarnya, kadang aku heran dengan Kak Audy. Sikap humble- nya itu, apa benar-benar nyata? Apa dia memang setulus itu menerimaku sebagai madunya? tidak ada rasa sakit hati menjalani poligami ini? Atau, merasa apa gitu dengan pernikahan ini?
Karena memang, meski kini status kami sudah menjadi madu. Kak Audy masih saja bersikap, seolah-olah tak ada apapun antara kami. Dia malah kadang masih suka curhat padaku layaknya teman.
Seperti saat ini. Waktu aku baru saja ingin memejamkan mataku untuk tidur. Kak audy meneleponku dan mengajakku curhat tentang suami kami.
Katanya, Kak Sean nyebelin hari ini. Karena tidak membiarkannya keluar dari Hotel sama sekali. Alasannya sih, karena salju sedang turun dengan lebat. Tapi toh, momen ini juga digunakan Kak Sean untuk membuatnya tak bergerak dari tempat tidur.
Untuk meyakinkan curhatannya, Kak Audy bahkan sampai mengirimkan foto Kak Sean, yang sedang tidur terlelap di sampingnya, dengan keadaan setengah naked. Hanya ditutupi selimut, bagian pinggang hingga lututnya. Membuat aku tersipu malu diam- diam di tempatku.
“Makanya kamu ke sini buruan, Ra. Biar bisa gantian sama aku untuk layanin dia. Soalnya, dia gak puas kalau cuma satu ronde. Aku sampai harus minum vitamin ekstra buat layanin dia,” celoteh Kak Audy dengan riang.
Apa aku boleh cemburu? Apa boleh aku berharap bisa berada di posisi Kak Audy saat ini? Ah, sepertinya tidak. Karena pemeran pendukung tidak punya hak untuk cemburu, iya kan?
“Begitu, ya? Jaga kesehatan kalau gitu, Kak. Jangan sampai Kakak sakit karena terlalu lelah.” Aku hanya bisa menjawab sekenanya saja, karena aku tak mungkin menyuarakan apa yang sangat ingin aku teriakan saat ini. Setelah itu, aku pun sebisa mungkin mencari alasan. Agar bisa menutup hubungan telepon itu secepatnya. Aku mencoba untuk tidak sakit hati selama ini. Tapi luka itu terlanjur tergores di hatiku, dan makin berdarah seiring berjalannya
waktu. Aku berusaha untuk tidak cemburu pada yang dimiliki Kak Audy. Tapi apa daya, aku hanyalah manusia biasa yang juga punya sifat iri. Lagipula, bukankah aku juga istrinya? Lalu, harus bagaimana aku menghadapi semua ini?