Chapter 6

686 Words
*** Seminggu setelahnya. Akhirnya aku kembali ke Jakarta. Namun, bukan untuk menetap, melainkan untuk pamit pada Mama Sulis, karena jatah ijin kuliahku sudah berakhir. Aku harus kembali melanjutkan kuliah di Ausie, hingga dua tahun ke depan. “Coba kamu chat Sean, Ra. Bagaimanapun, dia itu suami kamu. Kamu tetap wajib mengabarinya sebagai seorang istri.” Mama Sulis memberikan wejangannya. Aku hanya bisa memasang senyum miris, tapi tidak berani berkomentar apapun atas wejangannya itu. Faktanya, aku bahkan tidak punya nomor ponsel Kak Sean sejak dulu. Sedikit cerita tentang kami. Aku dan Kak Sean memang tetangga dari dulu. Tapi, sikap Kak Sean yang memang cuek dari sejak kanak-kanak. Membuatku tak pernah bisa akrab dengannya. Apalagi, dulu Kak Sean itu termasuk anak aktif yang suka berorganisasi, dan jarang sekali ada di rumah. Membuatku jarang bertemu dengannya, walau status kami adalah bertetangga. Paling hanya berpapasan sekilas saja. Itupun kalau dia sedang ada di Rumah, saat aku mengunjungi Mama Sulis. Tak pernah ada obrolan antara aku dan Kak Sean sejak dulu. Karena dinginnya sikap Kak Sean, membuatku tidak pernah betah lama-lama di dekatnya. Sekalipun hanya sekedar menegur jika berpapasan. Lagi pula, aku main ke sana juga buat ketemu Mama Sulis, kok. Bukan untuk ketemu Kak Sean. Jadi, ya aku fokus sama Mama Sulis aja. Setelah itu, hubungan kami pun makin jauh sejak aku memilih meneruskan kuliah di Luar Negri. Aku juga jarang pulang. Karena biasanya Papi yang berkunjung ke tempatku, jika sedang masa liburan. Jadi tak pernah merepotkan aku untuk kembali ke tanah air. Toh, hanya Papi keluargaku satu-satunya, dan kebiasaan Papi itulah, yang membuat aku tak punya alasan untuk pulang ke Jakarta selama ini. Itulah kenapa, saat Papi pergi. Rasa kesepian itu benar-benar terasa sekali. Apalagi dengan wasiat Papi yang mengharuskan aku menikah dengan Kak Sean, yang benar-benar tak kukenal sama sekali kepribadiannya. Bahkan aku juga tidak pernah tahu, kalau dia ternyata sudah diangkat jadi wakil Dirut oleh Papi sejak setahun yang lalu. Karena Papi memang tak suka membicarakan soal pekerjaan saat bersamaku. Papi hanya ingin menghabiskan family time, yang jarang bisa kami nikmati. Jadi, ketika bersama. Dia akan berusaha menjadi seorang ayah yang baik untukku. “Nanti Rara chat Kak Audy saja.” Hanya itu jawaban yang bisa kuberikan saat ini. Namun, bukannya mengerti. Mama Sulis malah terlihat menatapku sendu. Sebelum menghela napas berat. “Sampai kapan kamu akan menghindari Sean, Ra? Yang suami kamu itu Sean, loh. Bukan Audy. Jadi kalau kamu mau minta izin, ya harusnya kepada Sean langsung. Bukan lewat orang lain,” tegur Mama Sulis lagi. Harus bagaimana caraku menjelaskan pada Mama Sulis? Kalau aku bukannya tidak mau bicara langsung dengan Kak Sean, tapi aku bicara lewat Kak Audy, karena memang hanya nomer Kak Audy dan Mama Sulis yang ku punya di sini. “Loh, Kak Audy ‘kan bukan orang lain, Mah. Dia ‘kan juga istrinya Kak Sean,” terangku mengingatkan. “Iya, Mama tahu itu. Tapi, alangkah lebih baiknya, kalau kamu bicara langsung dengan Sean, tanpa menggunakan mulut orang lain. Karena bagaimana pun, di sini yang punya posisi suami itu Sean. Kepala rumah tangga kalian itu Sean, dan Sean berhak tahu apapun aktivitas istri-istrinya. Dengan cara bicara langsung, bukan malah maen titip-titipan pesan seperti ini,” jelas Mama Sulis masih bersikukuh. Aku hanya bisa menunduk saja mendengarnya. Karena merasa tertohok mendengar ucapan Mama Sulis barusan. “Lag ipula, Ra. Kalau kamu kaya gini terus. Gimana kalian bisa jadi dekat? Ingat, kalian itu sekarang bukan cuma tetangga lagi. Tapi sudah jadi suami istri yang sah. Kamu harus sering berinteraksi dengan Sean. Supaya timbul perasaan cinta. Layaknya suami istri pada umumnya. Bahkan, kalau bisa kamu juga harus bisa membuat Sean memperlakukan kamu, seperti dia memperlakukan Audy di dalam hidupnya. Karena kamu juga istrinya. Kamu berhak mendapatkan apa yang Audy dapatkan.” Bolehkan aku bertanya bagaimana caranya? Karena jika aku boleh jujur. Aku juga ingin sekali merasa di inginkan di dalam rumah tangga ini. Hanya saja .... aku takut membuat Kak Sean makin membenciku. Tuhan, bisakah aku melakukan itu? Bersediakah Kak Sean membagi cintanya untuk Kak Audy, kepadaku? Apa boleh aku berharap Tuhan? Akhirnya, setelah berdebat lumayan alot dengan Mama Sulis. Aku pun mengalah dan meminta nomor ponsel Kak Sean setelahnya. Karena tak ingin mendebat Mama Sulis lebih dari ini. Aku pun mengirimkan chat pada Kak Sean, seformal yang aku bisa. Berharap dia tidak marah, karena aku sudah mengganggu acara bulan madunya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD