MYSTICAL

1212 Words
Di tempat lain, Jessica masih sibuk berlindung di belakang Erika. Sesekali ia menjerit saat angin malam membelai pipinya. Rengekan Jessica pun akan berakhir dengan omelan Erika yang terus berusaha menyingkirkan tangan temannya yang gemetar ketakutan. “Jessy, berdirilah dengan kakimu sendiri. Jangan jadi pengecut!” bentak Erika. “Aku tidak tahu kenapa aku ke sini,” gumam Jessica. “Hanya kau yang tahu jawaban atas pertanyaanmu sendiri. Kau menyetujuinya. Kenapa sekarang protes? Lagipula bukankah biasanya kau tidak setakut ini? Kau ini kenapa sih?” Erika memicingkan matanya. Jessica balas menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Aku merasa ada yang aneh. Rumah ini tidak seperti tempat-tempat sebelumnya. Aura jahat lebih terasa di sini. Harusnya kau pun bisa merasakannya,” suara Jessica bergetar. “Di tempat sebelumnya pun ada aura jahat, bahkan mungkin sama banyaknya. Jadi apanya yang tidak sama? Jangan terlalu melebih-lebihkan. Kalau kau terus-terusan seperti ini, benda itu tidak akan bisa segera ditemukan. Ayo cari!” Erika melangkah menjauh, namun lagi-lagi Jessica menahannya. “Apa lagi?” “Er, bagaimana jika kita benar-benar tidak bisa keluar dari sini? Bukankah Zito pun belum berhasil keluar dari sini? Bagaimana jika kita bernasib sama dengannya?” “Jangan membahasnya di sini atau dia benar-benar akan mendatangimu. Kau tahu sendiri kan apa yang terjadi padanya? Dia bisa saja menyerangmu kapan saja. Tidak, roh yang menguasainya bisa menyerangmu kapan saja,” bisik Erika. “Kau berusaha menakut-nakutiku sekarang?” “Apa aku terdengar begitu?” Jessica hanya menatap Erika dengan manik matanya yang masih bergetar. “Sudahlah, kalau kau memang ingin tetap bersamaku, jangan merengek! Kita harus segera menemukan kotak itu.” Erika terus berusaha menjauhkan tangan Jessica dari bajunya. “Kau benar-benar tidak punya belas kasihan ya rupanya,” protes Jessica. “Apakah hal itu diperlukan sekarang?” Perdebatan keduanya terhenti begitu sekelebat bayangan melintas di belakang mereka. Jessica kembali panik. Ia mulai menarik lengan baju Erika lagi. “Ayo kita masuk ke sini saja,” gumamnya seraya menarik Erika masuk ke sebuah ruangan di samping mereka. “Ruangan apa ini?” Bisik Erika seraya melangkah masuk tanpa mempedulikan sebuah peringatan yang tertulis di papan yang tertutup debu, yang terpajang tepat di atas pintu masuk. 2-Berlindunglah sebelum bayangan itu membunuhmu Begitu masuk ke dalam ruangan itu, mereka kaget karena masih disuguhi dua ruangan lagi. Dua ruangan itu seperti hanya sebatas bilik. Erika yang masih ragu pun hanya terdiam. Ia ragu harus ke memeriksa bilik itu atau tidak. Namun tanpa pikir panjang, Jessica langsung mengambil langkah ke bilik kanan. Bahkan tanpa rasa takut sedikit pun. Entah dorongan keberanian sekuat apa yang ia dapatkan sampai-sampai lupa kalau ia sempat merengek tadi. Erika yang tanpa mempedulikan temannya itu pun melangkah ke bilik kiri dan memandangi benda di sekelilingnya dengan tatapan aneh. “Untuk apa mereka menaruh cermin-cermin ini disini?” Gumamnya tanpa melepas pandangan dari benda itu. Ia berdiri di sana cukup lama, memandangi bayangannya sendiri. Tidak ada hal aneh yang terjadi, sampai ketika ia mencoba menoleh ke belakang. Bayangannya tetap menatapnya, namun kini tatapan itu berubah menjadi tatapan dingin. Belum sempat ia memperhatikan bayangannya sendiri yang perlahan mulai berubah, jeritan di tempat lain membuatnya terlonjak. Jeritan itu tanpa henti dan terdengar pilu. Bahkan itu mungkin bisa membuat gila pendengarnya secara perlahan. Bukannya segera melangkah keluar, Erika yang khawatir itu suara salah satu temannya pun berusaha mengingat kira-kira siapa pemilik suara itu. Namun semakin keras ia mencoba, suara itu semakin tak terdengar, seakan si pemilik suara berlari menjauh. Dan tiba-tiba saja Erika teringat temannya, Jessica. Ia baru sadar Jessica tidak bersamanya, padahal sedari tadi gadis itu merengek ketakutan dan enggan menjauh darinya. Erika pun segera berlari keluar, menuju ke bilik lain di ruangan itu. Namun pemandangan di hadapannya semakin membuatnya khawatir. Ruangan itu kosong, tidak ada siapa-siapa kecuali dirinya sendiri dan bayangannya yang perlahan berubah, seperti yang terjadi di bilik pertama. Tidak ada tanda-tanda Jessica berada di ruangan itu. Ia baru menyadari ada yang aneh ketika bersiap untuk melangkah keluar. Ada pintu lain di bilik itu. Namun ia ingat di bilik satunya hanya memiliki satu pintu. Dipegangnya gagang pintu di hadapannya. Awalnya ia ragu, namun kemudian dengan cepat ia membuka pintu itu setelah yakin mendengar derap kaki seseorang yang berlari menjauh. Pandangannya pun langsung tertuju pada sosok yang ia kenal, yang sekarang tengah berdiri di ujung lorong. Sosok itu berdiri membelakanginya. Erika ingin menyusulnya dan membawanya keluar, tapi percuma karena Jessica berdiri ber puluh-puluh meter di depannya. Terlebih lagi Jessica berdiri di tengah kepulan asap yang tiba-tiba semakin tebal. Erika hanya bisa berteriak, memintanya untuk segera keluar dari tempat itu, namun tidak ada jawaban apa pun. Ia berniat keluar untuk meminta bantuan teman-temannya. Namun ia kembali terdiam begitu mendengar derap langkah kaki di luar yang berhasil membuatnya berjengit dan beringsut ketakutan. Perlahan ia mundur, menyudutkan tubuhnya sendiri ke dinding seraya terus memejamkan kedua matanya. “Kau sendirian? Dimana dia?” Tanya seseorang dengan panik. Erika pun perlahan mulai membuka kedua matanya dan bernapas lega saat mendapati sosok Dio lah yang berdiri di hadapannya. “S- siapa yang kau maksud?” “Jessica, tentu saja. Bukankah tadi dia bersamamu?” Erika mengerjap, kemudian memandang Dio dengan panik. “Jangan bilang dia sekarang ke ruangan nomor empat.” “Tidak. Tapi dia ke ruangan itu,” ucap Erika seraya menunjuk lorong panjang di belakangnya. Kedua mata Dio melebar. Ia memandang Erika dengan tatapan yang sama paniknya. “Oh, tidak. Sepertinya itu jalan pintas kesana, ke ruangan nomor empat,” gumam Dio yang langsung berlari menembus kepulan asap di sepanjang lorong. “Apa yang kau lakukan?” “Apa lagi? Aku akan menyusulnya. Keluar dan beritahu yang lain kalau Jessy dalam bahaya!” teriaknya di tengah kegelapan. Erika yang masih panik pun segera berlari keluar, namun ia langsung menjerit ketika seseorang menghadang jalannya seraya menampilkan segaris seringai mengerikan. Sosok itu hanya berjarak beberapa senti dari Erika. Napasnya terdengar berat, dengan geraman kecil meluncur dari bibirnya. Tidak mudah mengenali wajah itu ditengah kegelapan. “Bukankah kalian sudah diperingatkan untuk tidak ke sini? Menantang kematian, hah?” Desisnya seraya membelai pisau penuh darah yang terselip di ikat pinggangnya. Erika tercekat, ia ingin teriak namun sepertinya hal itu tidak mungkin. Ia bahkan tidak dapat menemukan suaranya lagi. Berkali-kali Erika mencoba berteriak saat melihat Dhani yang berdiri sekitar sepuluh meter di depannya. Percuma, suaranya masih juga tak kunjung keluar, bahkan ia mulai pasrah saat Dhani menjauh dari tempat itu. “S- s- siapa kau?” Ada perasaan lega dalam diri Erika begitu suaranya keluar. Namun ia masih cukup takut menghadapi sosok yang ada di depannya. Ia tahu itu bukan hantu. Justru itu lah yang membuatnya lebih ketakutan. “Aku? Apa kau perlu tahu namaku? Apakah hal itu penting sekarang? Padahal sebentar lagi kau tidak akan bisa menyebut namaku lagi, mungkin untuk selamanya.” Ada tawa kecil keluar dari bibir itu. “Menjauhlah dariku!” jerit Erika seraya menyeret kedua kakinya menjauh dari sosok misterius itu. “Tunggu. Aku... kurasa aku pernah mendengar suaramu.” “Ah, Tentu saja. Kau bahkan pernah melihat wajahku.” jawaban itu sukses membuatnya terbelalak. Namun sebelum Erika berhasil menebak siapa orang yang tengah berdiri di depannya, seseorang memanggil namanya. “Erika?” Keduanya langsung menoleh. Erika kembali berusaha meloloskan diri dari sosok itu. “SOL!” Erika terus berteriak, berharap Dhani segera menghampirinya. “Tidak akan ada yang bisa menyelamatkanmu,” gumam sosok itu. Suaranya masih terdengar mengerikan. Yang lebih mengerikan, ia telah mengacungkan pisaunya pada Erika. Dibelainya pipi Erika dengan sisi pisaunya itu. “Satu teriakan, dan aku benar-benar akan menancapkan pisau ini di pipi halusmu.” Kedua mata Erika terpejam. Tubuhnya kini semakin bergetar tak karuan. Ini adalah pertama kalinya ia merasa selemah ini saat menjalankan misi. Jika bisa memilih, baginya lebih baik menghadapi puluhan makhluk halus daripada menghadapi seseorang yang bisa membunuhnya saat itu juga. Ketika Erika siap membuka matanya dan menghadapi hal terburuk yang mungkin akan segera terjadi, seseorang menariknya menjauh dari tempat itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD