“Erika, Apa yang kau lakukan di sana? Kau tidak takut sendirian di tempat seperti itu? Dimana Jessy?” Dhani berbicara sepelan mungkin. Sorot matanya seakan-akan menyalahkan Erika karena tidak segera mencari benda yang seharusnya mereka cari. “Kau buang-buang waktu!” bentaknya.
“Sol, seseorang menghadangku,” suara Erika masih bergetar. “Tidak kah kau lihat aku hampir mati di sana?”
“Aku tidak melihat siapa pun,” bantah Dhani dengan tenang. “Jangan cari-cari alasan. Kau bisa membuat yang lain terbunuh karena kemalasanmu.”
“Kemalasan katamu?” suara Erika meninggi. “Aku hampir mati di sana dan kau bilang aku bermalas-malasan? Kau pikir aku bisa santai di tempat seperti ini?” alih-alih melampiaskan kemarahannya, suara Erika kini bergetar. Air mata mulai menggenangi kedua matanya.
“Simpan air matamu! Kita harus bergegas.” Dhani mencengkeram lengan Erika dan menariknya.
Erika berulang kali meminta agar Dhani melepas cengkeraman tangannya, namun cengkeraman itu semakin kuat. Mungkin saja sekarang bekas kemerahan telah terlukis di pergelangan tangannya. Dhani menariknya dalam diam. Tidak ada yang ia katakan, hanya terus menarik lengan Erika. Tanpa Erika sadari, Dhani terus membawanya berjalan memasuki ruangan nomor empat.
“Labirin?” gumam Erika. Dhani tidak juga menghentikan langkahnya. Mereka melewatinya tanpa sekali pun berhenti, seakan ia tahu ujung lain dari labirin itu.
Keduanya berkali-kali menembus asap yang sedari tadi menghadang jalan mereka, namun dengan tenang, Dhani bisa membawa Erika lolos dari kepulan asap itu.
“Kita harus mencari kotak itu kan?” gumam Erika. “Tapi kenapa kau hanya menarik lenganku? Kumohon lepaskan! Kita harus mencarinya.” Erika masih berusaha melepaskan diri. “SOL! KAU TIDAK PERNAH SEKASAR INI PADAKU.” Jeritan Erika menggema di dalam labirin. Napasnya terengah-engah. Teriakannya berhasil membuat Dhani berhenti, namun cengkeramannya masih sangatlah kuat. Ia berbalik menatap Erika dengan kedua matanya yang memerah. “Kau… kau bukan Dhani,” gumam Erika. Ia lega bisa lolos dari sosok yang menghadangnya tadi, namun ternyata sesuatu yang lebih buruk menimpanya. Cengkeraman itu membuat Erika tidak berdaya.
“Gadis bodoh!” suara Dhani terdengar melengking. Suara itu puluhan kali lipat terdengar lebih mengerikan daripada suara-suara gaib yang pernah ia dengar. “Kau menantang maut rupanya.”
“LEPASKAN AKU! BOMI… SIEL…”
“Percuma kau memanggil mereka. Tidak akan ada yang bisa mendengarmu.”
“Kau apakan temanku? Siapa kau sebenarnya?”
Ia menatap lengan Erika yang masih berontak. “Berhentilah atau pergelangan tanganmu benar-benar akan lepas.” Ucapnya seraya membelai pipi Erika dengan tangan kirinya yang dingin. “AAARGH…” suara melengking itu tiba-tiba berubah menjadi suara Dhani. “Keluar dari tubuhku!” geram Dhani dengan suara aslinya.
Rasa takut Erika digantikan oleh kebingungan. Ia hanya bisa menatap pemuda di hadapannya yang sekarang mulai bergerak-gerak tak terkontrol. Erika merasa seakan Dhani tengah berusaha mengusir sosok yang kini menguasai tubuhnya.
“Sol?” bisiknya.
“Pergilah!” gumam Dhani, namun lengannya masih mencengkeram lengan Erika. “Pergilah begitu aku melepas cengkeramanku!”
Perlahan cengkeraman Dhani mengendur. Erika menoleh ke belakang. Haruskah ia lari sekarang? Namun ia tidak tega meninggalkan Dhani sendiri yang kini mulai menjerit kesakitan. Tubuhnya terbanting ke lantai dengan keras.
“PERGI!” teriak Dhani. Namun selang beberapa detik kemudian, geramannya kembali melengking. “TIDAK! Aku harus membunuhmu.”
Baru saja Erika berlari menjauh dari Dhani, tiba-tiba tubuh Dhani melayang ke arahnya. Tangan kanan Dhani mendarat tepat di leher Erika. Disudutkannya tubuh Erika ke dinding, membuat gadis itu semakin kesulitan bernapas.
“Kau sudah mengganggu ketenangan kami,” suara melengking itu kembali terdengar. “Sebentar lagi kau akan bergabung dengan kami,” tangan itu semakin kuat mencengkeram leher Erika, sementara wajah gadis itu mulai terlihat pucat.
“So… Sol…” begitu Erika menggenggam tangan pemuda itu, cengkeramannya mengendur sampai akhirnya Erika benar-benar terbebas. Kedua mata Dhani yang tidak lagi memerah, membuatnya yakin Dhani telah kembali. Dengan sekuat tenaga, ia berlari menjauh dari tempat itu, meninggalkan Dhani yang kini berusaha sendiri melawan roh jahat yang ingin menguasai tubuhnya. “Maafkan aku,” gumam Erika tanpa menoleh. Air mata mulai mengalir di pipinya.
Setelah merasa bahwa ia telah berlari cukup jauh menghindari Dhani, Erika melambatkan langkahnya. Ia kembali mengatur napasnya, sesekali terbatuk merasakan panasnya bekas cekikan di lehernya. Ia merasa cengkeraman itu benar-benar berbekas di lehernya sekarang. Namun beruntung ia berhasil lolos. Erika kembali memandangi sekelilingnya tapi tidak berhasil menemukan siapapun. Langkahnya terasa lebih berat dua kali lipat sekarang. Entah kenapa ia merasa tubuhnya melemah. Mungkinkah efek cengkeraman tadi?
“Erika?” Suara itu muncul ketika Erika berhenti di sebuah persimpangan. Ia menoleh ke sebelah kanannya, melihat sosok Dio. Namun dengan reflex ia melangkah mundur, tidak ingin hal buruk yang baru saja terjadi padanya akan terulang lagi. “Ini aku, Do.”
“Buktikan kalau kau memang Do!” gumamnya.
“A- apa? Dengar, aku memang…”
“BUKTIKAN KALAU KAU DO YANG ASLI!”
Dio menatapnya dengan tatapan bingung, namun kemudian ia mulai paham. “Baiklah. Aku yang pertama kali tahu tentang kemampuanmu. Aku yang memaksamu untuk bergabung dengan komunitas ini.”
Erika menangis dan langsung berlari menghampirinya. Tangannya masih gemetar ketakutan. Dio yang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pun hanya menepuk bahunya, berusaha menenangkannya.
“Apa yang terjadi?”
Erika mendongak, namun masih terisak. “Seseorang hampir membunuhku. Dan Sol…”
“Apa yang terjadi padanya?” suara Dio mulai terdengar panik.
“Kurasa roh jahat berusaha mengambil tubuhnya. Dia juga hampir membunuhku.”
“AAAAAARRRRRGGGHHH...”
Isakan Erika terhenti begitu mereka mendengar suara jeritan. Hal itu membuat keduanya saling menatap. Mereka langsung berlari menghampiri sumber suara. Mereka berdua yakin pemilik suara itu adalah Tio. Berkali-kali mereka berusaha menemukan sosok Tio, anehnya mereka akan kembali ke tempat mereka semula. Keduanya hampir putus asa ketika tiba-tiba saja Erika menjerit dan langsung memejamkan matanya. Sementara itu Dio hanya bisa memandangi ruangan tempat mereka berdiri. Tempat yang semula kering itu tiba-tiba seperti tergenang air, namun berwarna merah pekat. Darah segar menggenang beberapa meter di depan mereka.
“Aku yakin itu tadi suara Tabi,” gumam Erika tanpa melepas kedua tangan yang berusaha menutupi matanya.
“Aku juga yakin dia pemilik suara itu, tapi dimana di…” Ucapan Dio terpotong begitu melihat sesuatu yang ganjil, yang ada di tengah genangan darah segar itu. Dio mendekat dengan langkah pelan. Ia hanya takut kalau itu mungkin jebakan.
Erika yang mendengar langkah Dio menjauh pun mulai memanggilnya, "Do? Do?" namun tidak ada jawaban. Dio masih diam. “Apa yang kau lakukan?” Erika mulai menyingkirkan tangan dari kedua matanya. “Hati-hati!”
“Ada benda aneh di sini. Sesuatu yang seperti…” Dio kembali terdiam. Hal itu membuat Erika curiga. Ia menyusul Dio mendekati benda itu kemudian memekik ngeri. Benda yang diselimuti darah segar itu seperti potongan jari manusia.
Dio memberanikan diri mengambil benda itu. Dugaan mereka benar, benda itu memang potongan jari manusia, lengkap dengan cincin yang masih tertaut indah disana. “Cincin ini…”
Erika kembali mendekat, memeriksa cincin itu, kemudian menatap Dio. “Cincin ini sama seperti milik Bomi.”
“A- apa? Kau yakin?” Bisik Dio seraya menyipitkan kedua matanya. “Kau yakin ini milik Bomi?”
“Aku pernah melihatnya,” Erika berusaha mengingat-ingat cincin yang pernah Bomi tunjukkan padanya. “Tapi tunggu, kurasa ini jari laki-laki. Apakah ini jebakan?” bisiknya dengan suara bergetar.
“Aku tidak yakin.”
“Jika itu jari laki-laki, dengan cincin yang sama dengan milik Bomi. Kurasa kau pun tahu siapa pemilik jari itu.” Erika masih terpaku menatap potongan jari yang ada dalam genggaman Dio.
“Tidak, tidak mungkin. Kau tidak berencana memberitahuku kalau jari ini milik Tabi kan?” Dio menoleh menatap Erika. Kengerian terpancar dari wajahnya.
“Aku takut jika nyatanya aku harus mengatakan kalau cincin ini memang miliknya.”
***
“Tabi... Tabi…” Ziyu terus berteriak tanpa mempedulikan suaranya yang menggema di seluruh ruangan. Kemanapun ia melangkah, ia selalu merasa kembali ke tempat yang sama. “Erika… Sol…” ia masih tidak juga mendapat jawaban dari satu orang pun.
Ziyu mulai menyerah. Ia pun melambatkan langkahnya ketika merasa ada sesuatu di belakangnya. Begitu ia menoleh, sosok lain tiba-tiba muncul dengan menyeret beban di belakangnya, tengah menuju ke arah lain. Sosok berjubah hitam panjang dengan topeng mengerikan itu seperti sedang menyeret beban yang sangat berat. Ziyu tidak yakin bisa melihat dengan jelas apa yang sedang diseret, namun ia berani bersumpah bahwa ia baru saja melihat sesuatu yang ada dalam kantong hitam itu menggeliat seakan memaksa keluar. Entah apa yang ada dalam otaknya, tanpa sadar Ziyu malah berjalan mengikuti makhluk mengerikan itu. Tidak tahu ke mana sosok itu akan membawa benda yang masih diseretnya itu. Namun dalam sekejap, sosok bertopeng menghilang di tengah kepulan asap tebal. Kemudian Ziyu sadar ia telah berada jauh di dalam ruangan nomor empat, labirin. Yang membuatnya kaget adalah ketika benda yang diseret sosok itu sekarang berada tepat di depannya. Kali ini ia bisa melihat dengan jelas isi kantong hitam itu benar-benar menggeliat, namun kali ini ditambah dengan erangan kesakitan yang sangat memilukan.