Ziyu menyipitkan kedua matanya. Dilihatnya kantong hitam itu dengan seksama. Walaupun sempat takut, namun ia berusaha mendekat dengan langkah pelan, sementara sesuatu di dalamnya masih berusaha membebaskan diri.
“Kak?” bisik Ziyu saat penghuni kantong itu berhasil mengeluarkan setengah tubuhnya. Ziyu segera membantunya keluar.
“Di mana ini? Di mana yang lain?” tanya Tio.
“Entahlah. Aku tidak bisa menemukan mereka.” Ziyu memandangi sekelilingnya. Gelap. Tidak ada tanda-tanda kehadiran teman-temannya yang lain. “DO! DO KAU DIMANA? SIEL!” Ziyu langsung menghela napas ketika tidak ada jawaban dari teman-temannya. "Lihat? Seakan mereka telah meninggalkanku."
“Dari tadi kau sendirian?” Tio memijat-mijat bahunya yang masih sakit.
“Iya.” Ziyu menatap Tio dan mulai berbisik, “Kak, kau tahu siapa yang memasukkanmu ke kantong itu?”
“Tidak. Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku. Aku sedang mencari kotak itu kemudian tiba-tiba saja seseorang menyerangku, dan semuanya gelap. Saat aku terbangun aku sudah ada di dalam kantong sempit itu.”
Keduanya kembali terdiam. Namun suasana mulai mencekam ketika tiba-tiba terdengar bunyi ledakan. Ledakan itu tidak hanya sekali, bahkan terdengar lagi di kejauhan. Tembakan pun semakin ramai dan mereka lari tunggang langgang tanpa mempedulikan satu sama lain. Ziyu bahkan tidak menoleh ke belakang lagi. Tio terus berlari, sampai akhirnya ia berhenti untuk mengatur napasnya. Namun saat itu juga jari-jari panjang nan dingin menyentuh bahunya, mencuatkan bau-bau busuk dan lendir-lendir sedingin es di sekitarnya. Ia bisa merasakan bahunya basah karena lendir-lendir menjijikkan itu.
Tio tidak berani menoleh. Ia tahu makhluk di belakangnya itu sangat mengerikan. Ya, Tio bisa merasakan hal itu dari bau busuk yang menusuk hidungnya. Bukan masalah takut, namun ia tidak boleh terganggu oleh hal-hal semacam itu. Ia harus bisa meloloskan diri tanpa harus tahu wajah makhluk itu. Tujuannya datang ke sana adalah untuk mencari kotak hitam yang bisa mengurung hantu-hantu di sana dan membebaskan teman-temannya. Tio pun mulai bisa merasakan tulangnya semakin ngilu karena cengkeraman makhluk itu. Ia berusaha sekuat tenaga untuk menahan rasa sakitnya. Bisikan mematikan mulai menyeruak menembus gendang telinganya. Tiba-tiba saja Tio merasakan pusing yang amat sangat menyakitkan, seakan sebuah benda besar baru saja menghantam kepalanya. Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi padanya. Kedua kakinya bahkan tidak bisa melangkah. Yang ia rasakan sekarang adalah rasa sakit di kepalanya dan tubuhnya yang seperti terangkat ke udara. Semakin kuat usahanya untuk meloloskan diri, cengkeraman itu pun semakin menguat, seakan makhluk itu tengah menancapkan kuku-kuku panjangnya di bahu Tio. Ketika rasa sakit itu hilang, ia pun memberanikan diri untuk membuka kedua matanya. Namun ia tidak bisa mempercayai apa yang ia lihat. Karena kini Tio bisa menyaksikan dengan jelas tubuhnya sendiri dibawah sana. Ia tidak bisa menahan dirinya lagi sekarang. Ia berusaha untuk teriak, namun suaranya sama sekali tidak terdengar. Ia berontak, berusaha kembali ke tubuhnya, namun sosok yang mencengkeramnya tadi telah membawanya melayang pergi, meninggalkan tubuhnya yang kini dihujani sinar bulan yang entah bagaimana sinar bulan itu bisa menembus masuk ke sana.
***
Rina kembali mendengus. Dengan tenang ia terus mengamati tiap inci ruangan, sesekali hanya berjengit saat mendengar dedaunan yang jatuh sekitar sepuluh meter di belakangnya. Sedari tadi ia hanya menemukan benda-benda tak berharga yang tergeletak di mana-mana. Rina mulai memeriksa pintu kayu yang tinggi dengan ukiran naga di kedua sisinya. Di dalamnya dipenuhi meja-meja panjang yang letaknya tak beraturan, masih cukup bagus, hanya saja terlihat kotor. Di sana-sini debu terlihat sangat tebal, menambah suasana mencekam yang awalnya hanya dikarenakan para hantu dan bumbu-bumbu buah bibir masyarakat tentang rumah ini.
“Siel, ayo kesana!” ucap sebuah suara rendah di ambang pintu.
“Kemana?” Rina masih tidak menoleh.
“Ruangan nomor empat.”
Kali ini ia menoleh, bahkan menatap tajam sosok yang sedang berbicara dengannya itu. “Kak, apa kau sudah tidak waras?”
“Lebih baik aku tidak waras daripada tidak bisa menemukan benda itu.” Rina hanya tercengang mendengarnya. “Dengar, semua sudah kesana, semakin banyak yang masuk, semakin cepat pula benda itu ditemukan. Kemudian itu berarti labirin akan hilang, begitu juga dengan hantu-hantu itu.”
“Tapi…”
“Oh, ayolah. Mau sampai kapan kau terperangkap di sini?” Bomi terus mendesaknya.
“Jika kotak hitam itu tidak ketemu, apa itu berarti kita akan terperangkap di sana, selamanya?” Bisik Rina, yang kemudian memekik ngeri dengan pertanyaannya sendiri.
“Berdoalah agar semuanya cepat berakhir. Aku juga tidak ingin lama-lama di tempat ini.” Bomi terus memohon pada Rina yang masih berusaha menolak.
“Aku yakin mereka akan menemukannya di sana. Atau mungkin kita yang menemukannya di sini.”
“Siel…”
“Kak, aku tidak pernah setakut ini sebelumnya.”
"Ya, memang. Ada apa denganmu?"
"Entah lah. Perasaanku tidak enak."
“Kau akan membiarkan mereka berjuang sendiri di sana?”
“Kita juga berusaha mencari di sini, kan?” Rina terus mencoba mencari alasan.
“Jangan keras kepala, Siel. Kita masuk ke rumah ini bersama-sama, jadi kita pun harus berjuang bersama agar bisa keluar dengan selamat,” ucap Bomi seraya menarik lengan Rina yang terus meronta tak karuan, memintanya untuk melepas cengkeraman tangannya. Langkah Rina melambat tepat di depan ruangan nomor empat. Ia bahkan langsung menjatuhkan tubuhnya di kaki patung bermata retak yang berdiri tepat di sebelah kanan pintu.
“SIEL! Kenapa kau jadi penakut seperti ini?” Gertak Bomi yang semakin mencengkeram lengan Rina, sementara gadis itu hanya mendongak menatapnya dengan tatapan memohon. Sepertinya Rina hampir menangis.
“Kak, lebih baik aku bertemu ribuan hantu daripada masuk kesana,” rengek Rina. “Makhluk-makhluk di sini lebih jahat dari hantu-hantu yang biasa kutemui. Kumohon, aku ingin mencari benda itu di sekitar sini saja.”
“Ayolah, jangan penakut! Jadilah Siel yang kukenal. Kau kan biasanya pemberani.”
“Iya tapi tidak di rumah ini. Aku takut di sini.”
“Kau ingin masuk denganku atau di sini sendiri?”
“Kak…”
“Ayolah!”
“Aku lebih memilih bertemu ribuan hantu. Aku tidak ingin ke sana.”
“Tenang saja kau tidak perlu khawatir. Kurasa kau juga akan bertemu dengan mereka disana.” Tanpa pikir panjang lagi, Bomi langsung menarik lengan Rina tanpa mempedulikan jeritan-jeritan gadis itu.
Begitu mereka berdiri di dalam ruangan itu, Bomi terdiam, bahkan Rina yang sedari tadi menjerit tak karuan pun kini ikut bungkam. Tidak ada yang aneh dari ruangan itu karena yang menyusup ke dalam pandangan mereka hanyalah kegelapan. Bomi pun mungkin tidak akan tahu di mana Rina berdiri jika saja ia tidak memegang tangan gadis itu.
“Kak?” bisik Rina was-was.
“Jangan bergerak dulu!” bisik Bomi. “Apa ini jebakan? Kenapa aku tidak bisa melihat apapun?”
“Aku yakin kita sudah ada di labirin.” Tepat ketika Rina mengatakan hal itu, pintu di belakang mereka tiba-tiba menutup dengan bunyi bedebam yang cukup keras. Dan saat itu pula pemandangan di hadapan mereka berubah. Asap mulai memenuhi ruangan itu, namun mereka masih bisa melihat cahaya di kejauhan.
“Haruskah kita kesana?” tanya Bomi.
Rina memandang sekeliling. Tembok tinggi ada di kanan kiri mereka. Sepertinya benar apa yang ia ucapkan. Mereka telah berada di dalam labirin. Tembok itu berwarna gelap dan sangat dingin. Ada yang aneh, karena Rina bisa mendengar dengan jelas suara-suara yang menurutnya datang dari dalam tembok itu.
“Aku… aku tidak bisa,” Rina mulai merintih. Air mata mengalir di pipinya. “Kak. Kurasa aku akan gila jika semakin lama berada di sini.”
“Apa maksudmu? Kita harus mencari mereka. Kita harus membantu mereka menemukan kotak itu.” Suara Bomi hampir meninggi.
“Sungguh, aku tidak bisa. Suara-suara itu, suara-suara itu terus menguasaiku. Aku harus keluar.” Kali ini Rina bersimpuh di hadapan Bomi sambil terus memohon.
“Suara apa? Siel…”
“Lemah…” sebuah suara yang disertai geraman tiba-tiba terdengar dengan sangat jelas di telinganya. “Aku akan membunuhmu.”
“Kak…” Rina masih terus memohon, sementara Bomi hanya mengernyit kebingungan. Bagaimana tidak, ini baru pertama kalinya ia melihat Rina bersimpuh di hadapannya dan memohon untuk berhenti. Baru kali ini ia melihat Rina ketakutan. Sebelumnya gadis itu memang bisa mengendalikan suara-suara yang masuk ke telinganya. Sebelumya Rina tidak pernah setakut ini.
“Kau… atau… temanmu…”
“TIDAK!” Rina menjerit sambil terus menutupi kedua telinganya.
“Siel? Kau baik-baik saja?” Bomi semakin bingung dengan situasi ini. Sungguh, ini baru pertama kalinya ia menghadapi Rina yang benar-benar gemetar ketakutan. Ia yakin suara yang didengar Rina bermeter-meter jauhnya dari mereka, dan hanya Rina lah yang bisa mendengarnya.
“Jangan sakiti teman-temanku!” tangisan Rina terdengar menggema di ruangan itu.
Bomi mendekat, “Rina, tenanglah! Kita akan baik-baik saja. Tidak akan ada yang menyakiti kita.” Bomi menunduk dan menepuk pelan bahu Rina. “Kita bisa melawan mereka. Ayo! Kita harus segera menyelesaikan ini.” Kini Bomi menggengam tangan Rina dan mengangkat wajah gadis itu.
Rina mendongak, namun bukan lagi ketakutan yang muncul di wajahnya, melainkan sebuah seringaian dengan kedua matanya yang merah menyala. “Kau yakin bisa melawanku?”