Sebuah tangan kekar memelukku dari belakang. Ketika tangan itu sedikit demi sedikit bergerak, jantungku berdetak tak karuan. Kuangkat tangan Kak Kean dengan pelan lalu berbalik dan menepuk pipinya, "Kak, bangun," ucap ku dan ia menggeliat sambil mengerjapkan mata.
Aku beranjak dari ranjang menuju kamar mandi sekadar membasuh wajah lalu menuju dapur untuk memasak. Oh, ada satu yang perlu kuberitahu bahwa masih tinggal di rumah orang tuaku, jadi bahan untuk memasak sudah tersedia.
"Nadia, Mamah sama Papah berangkat dulu yah. Ingat, sekarang Kamu udah jadi Istri. Layani Suami Kamu dengan baik dan turutin perintahnya karena mau keluar kota dalam beberapa hari," ucap Mamah yang tiba-tiba datang, aku hanya mengangguk kemudian menyalim tangan mereka.
Lanjut kegiatan dapur, aku memasak yang seadanya saja karena waktu tidak cukup untuk memasak yang enak-enak. Semuanya sudah tersedia. Mulai dari Nasi, Sayur bening dan Ikan goreng berada di atas meja. Tinggal satu lagi, "Kak Kean, turun makan!" teriakku.
"Ssshhh, berasa di hutan saja. Gak perlu teriak, nanti didengar sama tetangga," balas Kak Kean dan aku cengengesan. Kak Kean duduk di kursi dan aku mengambilkan Nasi dan lauk pauknya, "Seadanya yah, Kak. Udah jam enam soalnya," ucap ku dan Kak Kean mengangguk lalu memakan makanannya.
Senang rasanya melihat Sang Suami makan dengan lahap, apalagi buatan sendiri. Aduh, Istri solehah banget sih Aku, "Nadia, makan! Jangan senyum-senyum sendiri, keburu dingin nanti," tegur Kak Kean. Huft, baru aja seneng malah dikagetin sama suaranya yang indah namun kadang menakutkan.
Hening sampai selesai makan, Kak Kean mandi terlebih dahulu dan aku merapikan piring dan mencucinya setelah itu kuambilkan pakaian dinas Kak Kean dan meletakkannya di atas ranjang.
"Kak Kean, pakaiannya di atas ranjang yah," setelah itu aku mandi di kamar sebelah.
***
Di dalam mobil.
"Kak, nanti turunin Aku sebelum sampai di sekolah yah," pintaku.
"Emangnya kenapa?" tanya Kak Kean.
"Takut sama penggemarnya Kak Kean, bisa diintrogasi satu sekolah," jawabku.
"Gak usah takut, ada Saya," balasnya.
Duh Suamiku yang tampan, ngomongnya enteng bener yah, gak tau apa cabe-cabeannya sekolah itu pada ganas. Aku gak bisa bayangin kalau dilabrak, masih untung kalau dilabrak sih, kalau gak mungkin aku kena smackdown.
"Kak Kean. Kakak kan gak nemenin Aku mulu, kalau Kakak sibuk di kantor gimana? Terus mereka ngambil kesempatan buat bonyokin Aku, emangnya mau?" tanyaku dan Kak Kean menggeleng keras.
"Oke, kita berangkat. Sebentar lagi masuk, nanti Kamu telat," jawabnya kemudian melajukan kendaraan.
Ternyata Kak Kean tidak menepati ucapannya, mungkin ia lupa kalau harus menurunkanku sebelum sampai di sekolah. berada di area parkiran, saat aku turun semua tatapan menuju ke arah , lebih tepatnya ke aku sih. Aku mencium bau-bau tatapan tajam dari penggemar Kak Kean, pas liat muka mereka, astagfirullah, sangar-sangar semuanya.
"Aduh, Kak. Liat deh, mereka pengen makan Aku," ucap ku ngeri dan Kak Kean mencium keningku lembut di hadapan mereka. Oke, ini gak baik. Kak Kean emang sengaja cium aku.
"Tenang aja," balasnya santai kemudian menggandeng tanganku.
berjalan masuk dalam sekolah, tiba-tiba Jojo dan Hannah menepuk pundakku, "Wow, Pasutri udah tiba nih," ucap Jojo dan aku melototinya.
"Cie, yang udah ena-ena," puji Hannah dan kugetok kepalanya.
"Apaan ena-ena, gue masih Gadis," balasku.
Mereka berdua kompak terkejut, "Jadi Bapak belum merenggut kesucian Nadia? Ck,ck,ck. Jika Saya jadi Bapak, sudah Saya perkaos Nadianya." Mulut lemes Jojo membuatku gemas, gemas memalunya.
"Perkosa, Jo. PERKOSA!" Lagi-lagi sahabatku yang satu sama lemesnya seperti Jojo.
"Apaandah? Gue masih sekolah," balasku dan Jojo menggelengkan kepalanya, seperti orang miris lebih tepatnya.
"Jaman sekarang masih mikirin sekolah. Nadia sayang, banyak cara agar tidak hamil, pake pengaman dong!" langsung saja kusumpal mulut Jojo dengan sapu tangan.
"Gue duluan, jangan heran kalau sapu tangannya terasa aneh, ada bekas ingus gue soalnya, hahaha. Bye!" ucap ku meninggalkan mereka, tentunya Kak Kean masih setia menggandeng tanganku sampai di depan kelas. Aku menyalim tangan Kak Kean lalu masuk kelas, banyak yang menatapku dengan tanda tanya.
"Kebetulan ketemu di koridor tadi, jadi cerita dikit-dikit dan gak sadar udah sampai di kelas, hehehe," aku menghela nafas panjang, lega rasanya ketika mereka percaya begitu saja.
Pelajaran kelas dimulai, aku melihat Jojo terus mengganggu Hannah, mulai dari melempar kertas ke Hannah sampai mengambil pulpen Hannah.
"Terima kasih, Han. Gue gak jadi ngantuk gara-gara lo," ucap Jojo mengerlingkan matanya dan Hannah memukul lengan Jojo menggunakan buku hingga terdengar berisik.
"Jojo, Hannah, Nadia! Berdiri sampai waktu pelajaran selesai!" pada akhirnya aku ikut kena batunya. berdiri di depan kelas sambil mendengar Ibu Fitri menjelaskan materi pelajaran Sejarah. Jojo menguap lebar-lebar sedangkan Hannah memainkan jari tangannya, sedangkan diriku? Hanya memperhatikan teman-teman yang menulis materi dari Ibu Fitri.
"Kalian bertiga, ulang penjelasan Saya!" Bagai petir di siang bolong, kenapa mendadak sih? Satu kalimat pun gak ada yang kusimak.
Bruk, tiba-tiba Jojo terjatuh, pingsan lebih tepatnya. Aku dan Hannah langsung menarik badan Jojo secara paksa menuju ruang UKS, tak peduli dengan teriakan Ibu Fitri yang memanggil.
"Sakit, kalian tega banget, njir!" ucap Jojo.
"Mumpung lo lagi akting, jadi kita ikut berperan juga, Jo. Lo harus bersyukur punya sahabat pengertian," balas Hannah dan aku mengacungkan jempolku.
"Berperan apanya? Bikin pinggang gue sakit, iya," setelah itu, kami membantu Jojo bangkit lalu menuju kantin.