Chapter 6

777 Words
 "Alhamdulilah, acaranya sudah selesai, otw ranjang," aku berbalik menatap Pak Kean yang geleng-geleng kepala, "Bapak kenapa? Kok gelengin kepala?" tanyaku. Bukan jawaban yang kudapat, melainkan tatapan tajam yang menembus hati. Aduh kenapa sih gue? Tertular Jojo nih. "Jangan panggil Saya Bapak, Saya ini Suami Kamu, sekali lagi Saya denger, hukumannya ini," jawab Pak Kean sambil menunjuk bibirnya. Ternyata gak mau dipanggil Bapak toh, malah ngancam dicium lagi, pokok-nya harus hati-hati. "Terus, manggilnya apa, Pak?" Pak Kean mendekati ku dan berkata, "Kean, kalau manggilnya terasa aneh, panggil Kak Kean," jawabnya, kurasa Kak Kean aja deh, lebih bagus dengernya. Setelah itu, aku menuju kamar dengan buru-buru dan Kak Kean menegurku, "Jangan lari-lari, nanti Kamu jatuh Saya yang repot," padahal udah nikah masih aja sifatnya menyebalkan. Biarlah semoga berubah secepatnya bisa-bisa aku menjadi Istri merana kalau Kak Kean seperti itu. Di dalam kamar aku melepas gaun pengantin yang sangat berat, aku penasaran berapa beratnya yah? Sekilo, dua kilo, atau lebih? Diriku layaknya Gadis bodoh yang menanyakan hal tidak penting. Mengingat kata 'gadis', okeh, aku merinding. Sebentar lagi Kak Kean akan menggagahi ku dengan tubuhnya yang seksi. Tok... tok... tok... Kan baru aja aku bahas tentang Kak Kean dia sudah mengetuk pintu, ataukah bukan Kak Kean? Apa mungkin hantu yang menyukai Kak Kean tidak terima jika aku menjadi penggantinya, oh mai gats! "Kak Kean, Aku takut!" teriakku dan pintu terbuka, semakin naik pula oktaf suaraku. "Kamu kenapa?!" suaranya sangat merdu, oh, siapakah dia? Kenapa sura hantu sangat indah? "Tolong, jangan ganggu Aku. Kamu boleh ambil Kak Kean, silahkan pergi hantu cantik," usirku secara halus. "Hantu? Kamu nganggap Saya hantu? Jangan konyol, Nadia," suara indah itu berubah menjadi geraman, dan ternyata dia adalah Kak Kean. "Ish, Kak Kean, Aku takut tau. Kalau mau masuk ketuk pintu sambil ngucapin salam, biar Aku tahu kalau itu Kakak," tegurku dan Kak Kean tidak membalasnya, ia malah memberiku suguhan yang begitu indah, telanjang d**a gais! Please, bawa gue terbang, Kak Kean. "Kak Kean, jangan telanjang, mataku masih polos," ucap ku agar Kak Kean memasang bajunya kembali, tapi, berbanding terbalik di dalam hatiku. (Muna juga gue, padahal nih mata mau liat mulu, apalagi tanganku gatel banget pengen gerogoti) batinku meronta-ronta. "Baru telanjang d**a juga. Pindah, Kakak mau buka celana terus mandi," balas Kak Kean. "Buka aja semuanya, ntar gue teliti. Apakah setiap inci otot itu benar-benar menggoda atau tidak," maaf, hanya di dalam benakku saja, aku gak berani ngutarainnya dong. Cewek kan agresif, tapi dipendam karena punya gengsi, gak kayak Jojo yang blak-blakan. Waw, wow, waw. Kak Kean cuman pakai celana pendek, kalau kalian ada di posisiku gimana? Terjang Kak Kean? Atau buka celananya langsung? biar jalanin kewajiban sebagai pasangan Suami Istri, gimana nih? Setan udah berbisik kalau aku harus gaspol, "Maaf, biar Kak Kean aja yang agresif, jangan Kamu. Jaga image," gumamku, untungnya Kak Kean tidak mendengarnya dan masuk ke kamar mandi. Menurut kalian, apa yang dilakuin cowok berada di kamar mandi sangat lama? 30 menit aku tungguin belum keluar juga. Bosan menunggu, aku mengetuk pintu kamar mandi dan mengeluarkan suara yang merdu hanya untuk Kak Kean, "Kak, kok lama?" tanyaku. Kudengar suaraku sendiri, kok bikin ilfeel. Tak lama kemudian, Kak Kean membuka pintu, hanya sedikit. "Nadia, ambilin handuk di atas ranjang, Saya lupa membawanya," pinta Kak Kean. Jadi, itu yang membuatnya lama di dalam kamar mandi? Kenapa gak keluar aja sih? Karena cepat atau lambat aku akan melihat semuanya, hihihi. Aku memberi handuk tersebut, kaki hendak melangkah namun tanganku dicekal olehnya, "Kenapa, Kak?" tanyaku. "Temenin Saya mandi, sunnah Rasul soalnya," jawabnya kemudian terkekeh pelan, aku pun ikut terkekeh kemudian melepas cekalan tangan Kak Kean. "Ma, ka, sih. Gak perlu, Kak," balasku kemudian menutup pintu kamar mandi, ternyata Kak Kean m***m, pake alasan sunnah Rasul lagi. Itu maunya Kak Kean mah. Beberapa menit kemudian, Kak Kean keluar dan menyusulku di atas ranjang. Oke, detak jantung mulai meningkat, bulu roma merinding ketika Kak Kean menghembuskan nafasnya dengan sengaja di cekuk leherku, "Geli, Kak," ucap ku kemudian mendorong wajahnya dengan pelan. Aku langsung bangkit dari ranjang ketika tangan nakal Kak Kean merambat ke dalam pakaian, "Kak, Nadia belum siap. Nadia kan masih syekulah," tolak ku dengan nada halus, kulihat Kak Kean menghela nafas berat, sepertinya ia kecewa. 'Maaf Kak Kean, Aku sungguh merasa berdosa' batinku. "Kak, tinggiin nilaiku yah," pintaku. Kalian mau tahu apa responnya? Yaitu tatapan tajamnya. "Gak boleh, kalau mau dapet nilai tinggi yah belajar," balasnya. "Ish, Suami nyebelin." Kak Kean langsung mencium bibirku. "Dosanya bertambah, yang pertama nolak Suami buat malam pertama, kedua ngatain Suami nyebelin." Kuputar bola mataku malas, lalu meminta maaf, "Maaf, lagian bener kok kalau Kakak selalu nyebelin dan—" Kak Kean langsung memotongnya. "Selalu salah. Sudah, kita tidur," potongnya menarik tubuhku dan jatuh dalam pelukan hangatnya. Yuhui, kenapa gak daritadi sih gini? Rela banget kalau dipeluk mah. Makin sayang deh sama Suami. Btw yang jomlo cepet nikah, biar bisa bahagia seperti gue, hahaha.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD