Huaaahh, besok aku nikah, gila! Gimana nih? Mau nolak udah terlambat, langsung aja kuberitahu Jojo.
Jo, besok gue nikah, kasih tau Hannah. Ingat! Jangan ember. Jangan sampai satu sekolah tau, bisa barabe nantinya.
Njir, nikah sama siapa lo?!
Sama Pak Kean, pasti lo gak nyangka kan? Gue juga, huhuhu.
Wah, bener-bener. Okok, besok gue sama Hannah dateng sambil bawa kresek merah, lumayan bawa makanan. Jamber?
Sa'ae lu, jam sepuluh pagi, Sayang.
Yuhui, bolos lagi ah gue, wkwkwk.
Punya temen kocak jadi bahan hiburan yah. Sampai Papah membuat suasana hati kembali memburuk.
"Ketawa sendiri, gak gila kan, Nak?" tanya Papah dan aku mendengus sebal, masa anaknya sendiri dikatain gila, nyebelin banget sih.
"Papah, kok ngatain Anak gadisnya gila? Untung cantik," balasku dan Ayah balik mendengus layaknya Sapi.
"Terserah Kamu," balas Ayah kemudian pergi, tuh kan Papah hanya datang untuk pergi setelah meninggalkan luka yang amat mendalam kepada anak gadisnya yang dikatai gila. Ya, Tuhan. Gimana yah besok kalau udah jadi Istri? Enak gak yah? Nyaman gak yah? Apalagi dipeluk sama Pak Kean. Biarin lah, kuserahkan kepada yang maha kuasa, tinggal jalanin aja, semoga dilancarkan oleh yang maha kuasa.
Jojo POV
Keesokan harinya, aku ngasih tau Hannah soal Nadia yang sebentar lagi menikah, respon dari Manusia lebay itu sangatlah over. Lama-lama ilfeel guys. Boleh gak kalian gantiin hidupku yang ngenes ini? Sehari doang, biar kalian ngerasain penderitaanku. Di suruh beli es krim lah, pembalut lah, dan lain sebagainya, tentu menjatuhkan harga diri seorang Jojo yang tampannya mengalahkan ribuan artis Korea. Maaf, yang tidak setuju pasti sirik, huhuhuhu.
"Jo, demi apa?! Nadia nikah sama Pak Kean yang ganteng dan seksi serta hot itu? Gue rela, jadi yang kedua buat Pak Kean, hahahaha. Jiwa pelakor menggebu, Jo. Ini yang dimaksud dengan semangat muda para idola roti sobek, huahuahuahu....." Sumpah, pengen kugetokin kepala Hannah pake panci berkarat, kalau ngomong suka ngawur sampai-sampai calon Suami sahabat sendiri mau diembat, astagfirullah. Gemas, itulah yang kurasakan hingga getokan tak dapat ditahan.
"Ouch, sakit Jo. Lo kenapa sih? Bikin gue bahagia sekali kek," gerutu Hannah, pengen ku cium tuh bibirnya biar lemes dan gak ronta-ronta lagi buat ngebicarain hal yang unfaedah.
"Jo, izinnya gimana? Bilang ke Bu Sastri kalau kita mau beli cilok di luar sekolah?" tanya Hannah, lagi-lagi ku getok kepalanya, "Makasih, tapi saranmu gak bagus, cukup diam aja, okeh?" tingkat kegemasan menuju tingkatan medium.
"Gue punya cara berkualitas," balasku dan Hannah nge-getok kepalaku, sial.
"Apanya berkualitas? Nonton bokep mulu yang ada di pikiran lo, raja bokep. Ntar gue buat cerpen judulnya 'nonton bokep setiap hari, jenazahnya beranak dalam kubur," wah Hannah ngibarin perang bokep nih kayaknya.
"Asw, gue Laki, gak mungkin ngelahirin, emangnya gue berkelamin ganda apa?" tanyaku kemudian melanjutkan kembali, "Gak usah malu-malu, ntar gue kirimin video-nya, mau berapa? Seratus, dua ratus, tiga ratus, atau ribuan? Ntar gue download pake hotspot lo."
Tidak ada perlawanan dari Hannah, jelas dia kalah dariku, itulah akibat melawan Pria gagah nan perkasa. Setelah itu, Kami ke ruang BK dan menghadap kepada Guru BK yang galaknya naudzubillah. Tatapannya itu loh, pengen nyekik .
"Bu, izin yah. Betisnya Hannah kena rante sepeda disusul dengan tusukan panah asmara yang mengenai jempol kakinya yang begitu memerihkan kaki sampai tembus ke hati. Kaki Hannah harus mendapatkan perawatan khusus dari Saya. Namun sebelum itu, Saya harus membawanya ke rumah sakit, bersyukurlah jiwa hati nurani Saya bergejolak hebat, Ibu Guru patut menjadikan Saya sebagai panutan," ucap ku percaya diri, namun rasa takut sedikit terbesit.
"Jojo, jangan banyak bacok. Karena Ibu berbaik hati, Ibu beri izin," balas Guru BK yang membuat mataku berkaca-kaca kemudian menyalim tangannya.
"Terima kasih, Bu. Tapi, ada yang harus saya koreksi. Bukan bacok, tapi bacot." setelah itu, Guru BK menyuruh mengambil surat izin selembar. Namun, kelicikan tetap terhubung antara aku dan Hannah sehingga ikatan persahabatan semakin erat dengan mengambil lima belas lembar surat izin.
Alhamdulilah, akhirnya terbebas dari tekanan ruangan BK yang menjalarkan rasa hangat dan menimbulkan keringat yang membasahi wajah seksiku hingga turun melewati bibir yang se-merah delima, "Ngapain liat bibir gue? Pengen lo lumat? Sini, sini. Gue rela kok," ucap ku dan Hannah memberi hadiah berupa tinjuan hangat yang menimbulkan warna kebiruan di wajah, "Lumayan," balasku tersenyum masam.
"Btw, kerja sama kita bagus juga, yah. Akhirnya Hannah dapat menjadi Manusia yang berguna," ucap ku kemudian menghembuskan nafas lega.
Hannah tidak membalas ucapanku, mungkin dia lelah bersaing dengan Sang juara tertampan di Indonesia. Di pintu gerbang, Pak Satpam menatap curiga, langsung saja kuperlihatkan surat izin dengan gaya sombong yang patut dijempoli, wajah curiga itu berubah menjadi senyuman ramah, itu semua karena Jojo, kalian harus tahu itu! Karena JOJO.
keluar melalui pintu gerbang dan aku melajukan motor buntut sambil menggandeng seorang Wanita jomlo yang bernama Hannah. Tak lama kemudian, telah sampai di tujuan. Kutarik lengan Hannah yang ingin masuk ke acara begitu saja.
"Apa?!" tanyanya galak.
"Santai, Han. Jangan lupa kresek merahnya," balasku kemudian menarik tangannya lalu masuk ke rumah Nadia.
Rasa takjub tak dapat kami sembunyikan, rumah Nadia sangat besar dan orang-orang di sekitar memperhatikan kami. "Terbukti kalau gue ganteng," bisikku ke Hannah dan Gadis itu berdecak sebal. Tanpa lama-lama, kami menghampiri Nadia dan Pak Kean lalu mengucapkan selamat kepada mereka berdua.
"Selamat yah, Nad, Pak Kean," ucap ku lalu menyalim tangan Pak Kean begitupun Hannah, sedangkan Nadia, aku memeluknya erat tidak menyangka jika diusianya yang muda harus merasakan gagahan dari Pak Kean, "Gue sama Hannah udah nyiapin kado buat lo, obat kuat dong," ucap ku dan Nadia menyubit lenganku kencang, duh dikasih hadiah dapet balasan berupa cubitan, gak adil.
"m***m lo, Jo. Btw makasih yah, kalian udah repot dateng ke sini," balas Nadia.
"Uh, gak repot kali, kelewat seneng malahan. Bisa bolos, hahaha," ujar Hannah dan aku ikut tertawa sampai berhenti ketika Pak Kean menegur kami bahwa di belakang banyak Bapak-bapak yang mengantre.
"Ingat, Pak. Sepuluh ronde!" teriakku kemudian kabur bersama Hannah. Aku yakin kalau pipi Nadia merah karena malu, hahaha.