"Penggemar Pak Kean bakalan bunuh Aku," khawatir Nadia dan menggigit kuku jarinya sambil berjalan cepat, Jojo dan Hannah sedikit kerepotan menyusul Nadia yang lama-kelamaan berlari, "Woi, jangan lari! Kaki gue kehabisan bahan bakar," teriak Jojo. Nadia memelankan lariannya dan menunggu Jojo dan Hannah hingga menyusul. Saat berdampingan, Nadia menatap Jojo dan Hannah penuh harap, "Pulang, yuk," ajak Nadia. Hannah dan Jojo tersenyum semangat tapi tidak bertahan lama karena Hannah memikirkan nasibnya ketika mereka bolos sekolah, "Gue sih mau, mau banget malahan. Tapi, masa bolos sih. Mau izin tapi takut," balas Hannah. Nadia tertawa pelan, "Tenang aja, itu urusan Aku tapi kalian harus bantu juga," setelah itu Nadia menarik tangan Jojo dan Hannah menuju Pak Kean.
Mereka masuk ke ruang kesenian dan menghampiri Kean yang berbicara serius dengan Pak Fian, masing-masing memiliki wajah tampan dan sorot mata yang tajam.
"Permisi, maaf, Pak. Jika kedatangan Kami mengganggu," ucap Nadia sopan, Kean dan Fian menghentikan pembicaraan mereka dan beralih menatap ketiga murid yang menghadap.
"Perlu apa?" tanya Kean.
"Minta izin, Pak. Ayah saya menelepon barusan yang mengharuskan Saya untuk pulang karena hal yang mendesak," jawab Nadia.
"Saya izinkan," balas Kean dan Nadia bernafas lega.
Jojo menatap Hannah kemudian berbisik, "Han, gampang banget yah mengelabui mereka, untung aja Nadia pandai memainkan ekspresi, cocok tuh ikut ekskul drama, hihihi," Hannah ikut tertawa pelan dan berhenti ketika Nadia berterima kasih, kini tatapan tajam beralih ke mereka, "Kalian berdua?" tanya Kean.
"Sama, Pak. Hari ini Bapak Saya ulang tahun, kalau gak dihadiri bisa-bisa nama Saya tercoret di kartu keluarga," jawab Jojo. Kean menghembuskan nafasnya, "Bilang saja mau ikut Nadia, kan?" tanya Kean kembali, Jojo dan Hannah kompak mengangguk.
"Terima kasih, Bapak baik banget," balas Hannah kemudian kabur, disusul oleh Nadia dan Jojo namun yang membuat Kean dan Fian kesal ketika mendengar Jojo tertawa, "Hahahaha, bebas!" mereka berlari sambil melompat kegirangan di sisi lain, Kean dan Fian kembali melanjutkan pembicaraan mereka dan lagi-lagi tertunda karena dering ponsel Kean yang berbunyi. Kean mengucap maaf kepada Fian lalu mengangkat telepon dari Darma.
"Assalamualaikum, ada apa Pah?"
"Iyah, Pah. Kean pulang sekarang."
"Waalaikumsalam."
Tak enak hati, itulah yang dirasakan Kean kepada Fian, "Besok kita lanjutkan Pak, ada yang harus Saya urus," pamit Kean.
***
"Mamah, Aku pulang!" teriak Nadia. Kirana menggeleng kepalanya pusing, mengapa Anaknya selalu berteriak seolah suaranya begitu merdu dan berada di hutan rimba? Padahal waktu mengandung, Kirana selalu mengaji dan berdoa kepada Tuhan agar Anak nya diberi suara yang lembut.
"Nadia, setiap hari Kamu selalu teriak, bisa-bisa kuping Mamah tuli," kesal Kirana, "sekarang, ganti baju, mandi, dandan, terus pake gaun yang cantik biar gak kayak Tarzan. Bentar lagi ada tamu spesial," perintah Kirana.
"Mager, Mah. Nadia udah cantik soalnya," balas Nadia dan mendapat getokan manja dari Kirana.
"Anak pemalas, ntar tamu kita datang buat ngeliat calon menantunya, kalau gini modelnya yah lari duluan menantu Mamah," setelah mengucapkan kalimat itu, Kirana menarik kuping Nadia.
"Apa?! Aku gak mau dijodohin, aduh, Mah. Sakit," rengek Nadia, Kirana menolak keras rengekan Nadia sambil memijit pelipisnya. Kirana tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan agar Nadia menurut dengan mudah. "Oke, kalau Kamu masih merengek juga, Mamah baka-" Nadia menutup mulut Mamahnya, "Mogok makan terus ngelaporin Papah biar uang jajan Nadia dipotong. Oke, Mah. Nadia yang cantik bakalan nurut, asal ganteng," Kirana melepas tangan Nadia yang menutup mulutnya, sebelum membalas perkataan Nadia, Kirana sempat memukul manja tangan Nadia yang durhaka, "Tenang, calon menantu Mamah ganteng, ganteng banget pokoknya, bye!" setelah itu Kirana meninggalkan Nadia yang melongo.
Revan berkacak pinggang melihat Nadia yang masih setia dengan posisinya, "Percuma kasih menantu ganteng yang ada cap badaknya nanti, calon Istrinya malas gini, bisa-bisa cap beruang gantinya," ucap Revan. Nadia mengerucutkan bibirnya, "Ish, pasti mau ngejahilin Nadia lagi," sebal Nadia.
"Mamah mu kan jahil, jadi Papah harus jahil juga dong. Gini yang namanya jodoh. Makanya cepet nikah biar gak Papah ledek jomlo lagi biar ada yang belain, huhuhu kasian jomlo," Revan merasa puas ketika Nadia menghentakkan kakinya menuju kamar, yang berarti misi untuk menjahili Nadia sukses.
Di tempat lain Kean dan orang tuanya telah tiba di rumah Revan, Kean memencet bel dan tak lama kemudian Revan membuka pintu, "Selamat datang di kediaman keluarga Revan," sambut Revan lalu memeluk Darma erat.
"Terima kasih atas sambutannya, Revan," balas Darma.
Mereka masuk dalam rumah tersebut dan duduk di kursi sambil menunggu Nadia untuk turun, beberapa menit telah berlalu sepanjang penantian kini tiba ketika Nadia menuruni anak tangga dengan langkah yang anggun didukung oleh penampilannya yang sangat cantik.
"Asw, Anak lo cantik banget!" puji Darma dan Revan tersenyum bangga.
"Cetakannya langka, brother," balas Revan.
"Nak Nadia, awasin Kean yah kalau kalian udah nikah, m***m banget soalnya, wajar dia ngikutin Bapaknya, hehehe," ucap Darma dan Kean menatap Papahnya sebal. (Anjlok dah harga diri gua, kartu as dibongkar) batin Kean.
"Bener, Om. Pak Kean m***m, dia nyium Saya di ruang kesenian tadi," celetuk Nadia dan Darma menertawai Anaknya.
Elena, Mamah Kean menyubit lengan Anaknya, "Kean, Mamah gak pernah ajarin Kamu buat gitu yah, pasti Papah nih yang ajarin, nikahin aja langsung takutnya Kean khilaf," putus Elena dan keluarga Revan menyetujuinya.