Bel istirahat berdering, Nadia menarik tangan Jojo dan Hannah pergi kantin. Jojo yang diapit oleh Nadia dan Hannah menimbulkan perasaan iri terhadap buaya-buaya lainnya, satu hal yang harus kalian tahu bahwa Jojo termasuk dalam spesies mereka. Sama-sama Buaya. Sampai di kantin dua sejoli kompak berteriak, masing-masing menunjukan keunggulan pita suara mereka yang kebal terhadap nada tinggi, "Ibu, bakso 3 mangkok!"
Ibu Asmira, selaku Guru kantin mengacungkan jempolnya. Mereka bertiga memilih meja tengah di kantin dengan alasan Jojo ingin pamer kepada Siswa lainnya yang kurang beruntung seperti dirinya, makan bersama dua bidadari sekolah.
"Haduh sejuk yah anginnya apalagi ditambah dua Cewek cantik nemenin Aku makan, oh bahagianya diriku tak seperti mereka yang menyendiri atau kumpul bersama geng yang sama-sama jomlo, buahaha." Nadia dan Hannah menahan tawanya, mereka bertiga sudah terbiasa seperti itu apalagi dua perempuan yang selalu mengerti kejahilan yang dibuat oleh Jojo.
"Ada satu kursi yang kosyong nih, ada yang mau nambahin gak? Menurut gue gak sih, nyalinya pada ciut ngehadepin ketampanan gue," ucap Jojo percaya diri namun seorang Guru memasuki kantin dan duduk di tempat tersebut dengan ekspresi datar.
Ibu Asmira membawa nampan yang di atasnya 3 buah mangkok pesanan mereka, sebelum pergi Guru yang bernama Kean memesan makanan, "Seperti mereka, bakso," pesan Kean. Ibu Asmira tersenyum malu-malu, dalam benak Ibu kantin berkata, (Andai dia menyukaiku, bahagialah Ibu kantin ini)
"Ibu kantin? Sadar Bu, ntar kesambet kuntil anak," Jojo menepuk pipi Ibu Asmira.
"Eh, maaf. Saya berkhayal tentang pangeran," balas Ibu Asmira dengan pipi merona.
"Hihihi, Ibu. Kek remaja aja deh," kikik Nadia. Ibu Asmira pergi begitu saja, tak kuasa menahan malu.
Kean menatap Nadia dengan lekat kemudian memajukan wajahnya dan meneliti setiap inci wajah Nadia, Nadia yang ditatap lekat oleh Kean tentu merasa risih bahkan Nadia mengabaikan Jojo dan Hannah yang meledeknya dengan kata'cie'
"Cantik," Kean memundurkan wajahnya semula ketika Ibu Asmira telah tiba dengan pesanannya. "Silahkan dimakan, Pak. Mumpung hangat, semoga baksonya membuat hati Bapak hangat ketik melihat wajah Saya," ujar Ibu Asmira lalu pergi tanpa menunggu balasan Kean.
Kean hanya diam, menganggap apa yang dikatakan oleh Ibu Asmira hanyalah ocehan, tepatnya 'tidak penting'
"Hannah, gue gak punya duit, teraktirin dong," bisik Jojo.
Hannah berdecak sebal, seandainya sekali saja dirinya meneraktir Jojo tidak masalah, tapi, sudah seminggu Jojo terus diteraktir olehnya juga Nadia.
"Semuanya Saya yang bayar," Jojo bersorak ria dan menyalim tangan Kean penuh ikhlas, "Bapak beruntung, ini pertama kali Saya ikhlas menyalim tangan Guru," balas Jojo dan Kean menatapnya tajam membuat Jojo langsung diam.
Nadia malas memakan baksonya, ia masih kesal dengan Guru yang ada di hadapannya, keempat orang itu sibuk dengan pikirannya masing-masing terutama kepada Kean yang dimana Papahnya berniat menjodohkannya dengan Anak sahabat Papahnya.
Flashback ON.
"Kean, Papah mau jodohin Kamu dengan Anak sahabat Papah. Kamu, gak keberatan kan?" tanya Darma yang sedikit merasa khawatir jika Kean menolaknya.
"Gak keberatan kok, Pah. Apapun yang kalian pinta Kean bakalan nurut, selama itu positif. Kean rasa, ini berupa balas budi seorang Anak kepada orang tuanya walau pada umumnya kita tahu bahwa kasih sayang orang tua tidak pernah tergantikan," jawab Kean.
Elena dan Darma merasa lega kemudian tersenyum haru, "Terima kasih, sayang," Elena memeluk Kean dengan erat tak menyangka jika Anaknya dapat berpikir dewasa.
"Gak perlu terima kasih, Mah, Pah. Udah kewajiban Kean nge-bahagiain kalian," balas Kean.
"Udah melownya, Kamu harus tahu Kean kalau Anak sahabat Papah itu cantik, muda, pintar ngaji, masak dan lain-lainnya, cocok deh jadi Istri Kamu, walau masih muda,"Elena semangat menceritakan sifat calon menantunya, satu hal kesimpulan yang ditarik oleh Kean, orang tuanya sangat menyukai calon Istrinya. Kean tersenyum tulus, inilah cita-cita yang sebenarnya, membuat orang tua bahagia.
"Nak, Kamu mau tahu tidak? Siapa calon Kamu?" tanya Elena, Kean mengangkat alisnya sebelah, "Siapa, Mah?" Darma tersenyum dan menjawab rasa penasaran Kean.
Flashback Off.
Nadia, Hannah, dan Jojo menatap heran Kean yang tengah tersenyum sendiri, kadang juga Kean menggeleng membuat rasa penasaran mereka semakin meningkat. Kean mulai sadar ketika tiga orang Siswa menatapnya lekat, "Kenapa liatin Saya? Makan baksonya!" perintah Kean dengan wajah datarnya kembali. Sedangkan mereka bertiga menggerutu sebal kemudian melanjutkan bakso yang belum habis. 2 menit, waktu yang lebih dari cukup untuk Kean menghabiskan bakso semangkok. Pria itu melihat arloji mahalnya yang menunjukan dirinya harus ke kantor, "Ini uangnya, ada urusan penting yang harus Saya selesaikan," pamit Kean. Sebelum ke kantor, Kean menuju ruang kesenian mengingat ia harus ke sana karena Pak Fian berkepentingan juga kepadanya.
Puk... Nadia menepuk dahinya lalu memakan baksonya dengan cepat kemudian meminum air, "Kalian bayar, yah. Pak Fian nungguin Aku soalnya," setelah itu Nadia berlari menuju ruang kesenian.
Waktu mempertemukan dua insan yang berbeda kelamin dengan situasi yang memalukan antara Guru dan Murid ketika Nadia menabrak tubuh Kean. Nadia tersandung dan hampir terjatuh jika Kean tidak menahannya namun kesialan memang ditakdirkan untuk mereka karena Kean hilang keseimbangan dan terjatuh dalam posisi mencium bibir Nadia.
"Astagfirullah, baru aja disusul udah cium-ciuman, untung gak sampe w*****k," Hannah menggeleng kepala melihat Nadia yang sangat beruntung ketika bibir yang ia impi-impikan telah ternodai oleh bibir sahabatnya.
Nadia mendorong d**a Kean dengan kuat dan menghapus jejak bibir Kean pada bibirnya, "Ya, Allah. Ciuman pertamaku, huaaa. Bapak jahat!" Nadia menangis dan menyubit perut Kean.
"Huft, ciuman pertama Saya juga Kamu ambil," balas Kean.
Jojo masih membulatkan matanya, jika Hannah tidak menepuk pipi Jojo maka Pria itu akan selamanya dalam posisi tersebut. Setan yang bersarang di otak Jojo kini berhamburan dan menyebar berbagai hasutan b***t ke Jojo, kalian tidak akan menyangka jika mendengar apa yang Jojo katakan selanjutnya, "Ciuman yuk, Han. Kalau bisa di ranjang biar lebih nyaman, hehehe."
Tonjokan bak petinju Internasional begitu kuat mengenai pipi Jojo, "Pedih, anjir!"