"Kak, turunin Aku di sini," pinta Nadia.
"Nadia, udah Saya bilang ka-" belum sempat Kean menyelesaikan kalimatnya, Nadia memotong begitu saja, "Cukup kemarin aja, Kak. Tatapan mereka mengeksekusi Aku."
Kean tetap dengan sifatnya yang keras kepala, mengabaikan perkataan Nadia dan melanjutkan laju mobilnya masuk dalam sekolah. Turun dari mobil, tatapan tajam lebih mengganas dari kemarin, bahkan saat berpapasan ada yang berani menyenggol Nadia dan Kean membentak Murid tersebut, "Minta maaf!"
"Maaf," ucap Siswi tersebut dengan terpaksa lalu meninggalkan mereka berdua.
"Tidak sopan, ck," decak Kean.
Kean menggenggam erat tangan Nadia untuk menunjukan bahwa Perempuan di sampingnya adalah miliknya dan tidak ada yang boleh merebutnya.
"Kak, nanti Aku jawab gimana kalau mereka nanya? Masa sih Aku jawab kalau kita udah nikah, bisa-bisa dikeluarin dari sekolah," takut Nadia.
Kean tertawa pelan, "Gak usah khawatir, ini sekolah milik Kakak kok," balas Kean dan Nadia menatapnya tidak percaya.
"Aku gak nyangka loh, tapi, kenapa Kakak gak jadi kepsek?" tanya Nadia.
"Awalnya mau jadi kepsek, tapi gak jadi. Soalnya ada Kamu, biar bisa Aku awasin," jawab Kean.
Nadia tidak membuka suara lagi, ia fokus mendengar ocehan dari Siswa-siswa yang membuat hatinya teriris sakit.
Gak cantik kok bisa dapetin Pak Kean yah?
Ilmu pelet dong.
Haduh segitu gak lakunya pake ilmu pelet segala, murahan.
Nadia meremas tangan Kean pelan, mengalirkan perasaan kesalnya saat ini, Nadia ingin sekali menyumpal mulut mereka yang sadis.
"Mereka iri, jangan didengerin," bisik Kean dan Nadia mengangguk.
Nadia langsung gugup melihat tangannya yang mengenggam erat tangan Kean dan langsung melepasnya begitu saja namun Kean kembali menggenggamnya lebih erat, "Jangan dilepasin, biar mereka tahu kalau Kamu milik Aku," ucap Kean dan Nadia rasa lututnya seketika melemas, jika bukan di sekolah Nadia akan pura-pura pingsan agar Kean menggendongnya ke kamar dan melakukan hal romantis lainnya. Khusus yang udah nikah, wkwkwk.
Tiba-tiba Jojo melepaskan genggaman Kean dari Nadia dan menyelundup berada di tengah-tengah mereka, "Cie, udah baikan nih, gimana malam pertamanya?" tanya Jojo.
Nadia mengerutkan keningnya, mengapa Jojo tahu kalau dia telah marah kepada Kean, lebih tepatnya sih kecewa.
"Lo punya otak mikirnya m***m mulu, kapan sih sembuhnya. Btw lo tau darimana gue bisa baikan?" tanya Nadia.
"Kemarin gue liat lu di area parkiran sendirian, niatnya sih pengen anter lo pulang. Tapi, gue masih sayang sama nyawa gue, jadi cabut duluan. Ternyata dan ternyata gue nemuin Hannah di tengah jalan jalan kaki karena gue sahabat yang baik jadi gue pungut dia dah di jalanan," jawab Jojo lalu menjelaskan sepenggal perjalanan pulangnya kemarin.
"Tega banget lu pungutin Hannah, pake bahasa halus yang halus dikit kek," tanya Nadia.
"Iyah, iyah. Gue nemuin di jalanan."
Mereka bertiga sampai di depan kelas dan berpisah dengan Kean yang menuju ruang guru.
"Beruntung lo punya Pak Kean, bisa diatur dah nilainya," ujar Jojo dan Nadia menggeleng.
"Masalah nilai? Gak tuh, malah gue disuruh belajar giat biar bisa dapet nilai yang bagus. Alasan pastinya sih biar gak selalu bergantung ke orang lain untuk mendapat nilai yang baik karena pada ujian nasionalnya nanti kita kerja sendiri dan gak bisa minta bantuan," balas Nadia.
"Bijak juga lo, kadang sih. Biasanya konslet, hahah," ledek Jojo dan mendapat getokan dari Nadia yang begitu perih.
Pelajaran kelas dimulai dan Ibu Sinar Bulan menunjuk Nadia untuk membuat kata-kata. Nadia tersenyum lebar, sebuah kalimat sindiran begitu indah tersusun di kepalanya.
"Luka yang kering kembali menganga ketika pisau menyayat begitu banyak keburukan hingga membuatnya terlena akan manusia yang tidak sempurna."
"Beri tepuk tangan untuk Nadia Reanandika," ucap Ibu Sinar bulan.
Selanjutnya Ibu Sinar Bulan menunjuk Jojo, "Selanjutnya, Jojo Joetza."
"Jojo Pria yang tampan, tidak sombong dan digemari banyak Wanita. Luka yang menganga lebar akan tertutup kembali ketika melihat ketampanan Saya," ucap Jojo dengan bangganya namun balasan tidak sesuai dengan harapan.
"Karena Jojo membuat suasana hati Ibu buruk, sekarang siapkan kertas dua lembar dan kerjakan halaman 376," perintah Ibu Sinar Bulan dan semuanya menatap Jojo dengan kesal. Jojo yang ditatap hanya memasang wajah tak berdosa.
Ulangan dimulai, siswa siswi sedang mengerjakan terutama Jojo yang menggaruk tengkuknya karena tidak tahu jawaban satu nomor pun dari soal. Kemudian, Jojo memanggil Nadia, "Pssttt, Nad. Bagi dong," pinta Jojo.
"Woi, Nad!" teriak Jojo kesal saat situasi telah aman.
"Apa?" tanya Nadia.
"Gak ngerti satu sampe sepuluh," jawab Jojo.
"Tunggu bentar yah," balas Nadia kemudian menyalin separuh jawabannya lalu memberikannya ke Jojo.
"Nadia, Jojo, ikut Saya!" panggil Ibu Sinar Bulan dengan garang.
"Baik, Bu."
Mereka berada di ruang Guru dan mendapat teguran habis-habisan dari Ibu Sinar Bulan. Kean yang melihat itu menatap Nadia dengan datar, Kean telah memikirkan hukuman yang cocok untuk Istrinya yang pelanggar.
"Saya sudah memperingatkan sebelumnya kepada kalian, masih saja mencontek," resah Ibu Sinar Bulan.
"Maaf, Bu. Kami tidak akan mengulanginya kembali," balas mereka berdua.
"Baiklah, sekarang kembali ke kelas nanti Saya susul," suruh Sinar Bulan, saat Jojo dan Nadia melangkahkan kakinya, Kean memanggil mereka.
"Tunggu, Saya harus memberi hukuman kecil kepada Istri yang nakal," ucap Kean membuat seisi ruangan terkejut kecuali Jojo.
"Maksud Bapak?" tanya Sinar Bulan.
"Siswi yang bernama Nadia adalah Istri Saya. Jojo, Kamu boleh kembali ke kelas, dan Nadia ikuti Kakak," ucap Kean beranjak dari duduknya meninggalkan mereka dan disusul oleh Nadia.