bc

Resep di balik hujan

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
drama
mystery
high-tech world
like
intro-logo
Blurb

grafik dan stetoskop

lika liku kehidupan seorang dokter

antara nyawa yang lain dan ego untuk mencapai kebebasan financial.

arkan adalah seorang dokter di sebuah puskesmas yang merintis karir di sebuah puskesmas

chap-preview
Free preview
Tanpa Judul
Suara deru kipas angin tua di ruang tunggu Puskesmas X seolah beradu dengan rintik hujan yang mulai membasahi kaca jendela. Jarum jam menunjukkan pukul 14:45. Di luar sana, langit Bandung sudah gelap, seolah ingin segera mengakhiri hari yang melelahkan. Di balik meja kayu yang mulai terkelupas lapisannya, dokter muda itu, Arkan, memijat pelipisnya yang berdenyut. Tumpukan rekam medis masih menggunung di sisi kirinya—sebagian besar adalah pasien hipertensi yang rutin datang setiap bulan. "nomor urut 82 panggil arkan dengan suara serak" Seorang pria tua dengan batik yang sudah pudar warnanya masuk dengan tertatih. Ia membawa sebuah kantong plastik berisi botol-botol obat lama. "Dokter, apakah dosis ini masih harus saya minum? Kepala saya masih terasa berat setiap kali melihat berita ekonomi di televisi." ​Arkan terdiam sejenak. Ia menatap pria itu, lalu menatap layar komputernya yang menampilkan pedoman terbaru penanganan hipertensi. Ia sadar, terkadang yang dibutuhkan pasien bukan sekadar penyesuaian dosis, melainkan ketenangan di tengah ketidakpastian dunia. Mari kita periksa dulu, Pak," jawab Arkan lembut, mengesampingkan kelelahannya sendiri. ​Di luar, guntur menggelegar, namun di dalam ruangan itu, waktu seolah melambat. Bagi Arkan, ini bukan sekadar tugas administratif. Ini adalah tentang memastikan bahwa di tengah badai kehidupan—baik itu fluktuasi harga emas yang ia pantau tiap malam atau tekanan klinis di Puskesmas—selalu ada hal yang bisa dipertahankan: kesehatan dan "Pak Hadi, tekanan darah Bapak sedikit naik. Apakah akhir-akhir ini sering begadang atau ada pikiran yang mengganggu?" Arkan bertanya sambil mencatat hasil pemeriksaan di rekam medis. Pak Hadi menghela napas, suara hembusannya terdengar berat, seperti kayu tua yang menahan beban. "Anak saya yang di Jakarta, Dok. Sudah tiga bulan tidak memberi kabar. Terakhir, dia bilang ingin pindah kerja, tapi setelah itu teleponnya tidak aktif." Arkan terdiam. Jemarinya yang tadi menekan stetoskop perlahan melepaskan alat itu. Di Puskesmas, ia belajar bahwa penyakit sering kali hanyalah manifestasi fisik dari masalah yang jauh lebih dalam—kehilangan, kesepian, atau kekhawatiran. "Bapak sudah coba hubungi lewat kerabat lain?" "Sudah, Dok. Tapi mereka juga tidak tahu. Istri saya di rumah selalu menangis tiap malam. Mungkin itu yang membuat kepala saya pening." Arkan menatap Pak Hadi. Di matanya, ia melihat refleksi kegelisahan yang sama yang sering ia rasakan saat memikirkan ibunya di kampung halaman. Dokter tidak hanya meresepkan amlodipin atau valsartan, terkadang mereka hanya perlu menjadi pendengar. "Begini, Pak," ujar Arkan dengan nada lebih tenang. "Obat ini akan membantu fisik Bapak agar tidak semakin drop. Tapi untuk pikiran Bapak, tolong sampaikan pada Ibu, jangan lelah berdoa. Kalau nanti ada waktu senggang, kita coba cari cara lain untuk melacak anak Bapak melalui data kependudukan, mungkin ada instansi yang bisa membantu. Tapi untuk sekarang, Bapak harus janji untuk makan teratur dan jangan biarkan stres mengalahkan Bapak." Pak Hadi mengangguk pelan, setitik air mata menggenang di sudut matanya. "Terima kasih, Dokter. Cuma Dokter yang mau mendengar cerita saya sampai habis hari ini." Arkan tersenyum tipis. Ketika Pak Hadi melangkah keluar, Arkan menatap jendela. Hujan mulai mereda, menyisakan aroma tanah basah yang menenangkan. Tugasnya sebagai dokter di wilayah terpencil ini selalu mengajarkannya satu hal: bahwa di balik setiap resep yang ia tulis, ada sebuah kehidupan yang sedang berjuang untuk tetap utuh. Dan malam itu, di antara tumpukan berkas yang menanti, Arkan memutuskan bahwa esok hari ia akan mencari tahu lebih banyak tentang bagaimana cara membantu Pak Hadi mencari putranya. Malam itu, Arkan tidak langsung pulang. Di ruang kerjanya yang sempit, ia membuka laptop pribadinya. Namun, alih-alih membuka data kependudukan untuk membantu Pak Hadi, ia mendapati dirinya terjebak dalam grafik candlestick yang bergerak liar. ​XAUUSD sedang berada di titik krusial. Analisis fundamental yang ia baca tadi pagi tentang keputusan FOMC menunjukkan volatilitas tinggi. Arkan menatap angka-angka itu dengan tatapan kosong. Ia memiliki posisi terbuka yang cukup besar, hasil dari tabungan selama berbulan-bulan yang ia harapkan bisa memperbaiki kondisi ekonomi keluarga besarnya. Notifikasi ponsel berbunyi. ​Bukan dari bursa saham, melainkan pesan dari Kepala Puskesmas. ​"Arkan, besok pagi ada audit mendadak terkait pelaporan kasus hipertensi di wilayah kita. Pastikan semua data pasien, termasuk laporan kasus rumit seperti Pak Hadi, sudah sinkron dengan sistem pusat." Arkan mengusap wajahnya kasar. Kepalanya terasa mau pecah. Di satu sisi, ia sangat ingin membantu Pak Hadi—mencari tahu keberadaan anaknya melalui relasi di dinas kesehatan—tetapi di sisi lain, tumpukan administrasi audit yang menuntut kesempurnaan kini menjadi prioritas yang tak bisa ditawar. Tiba-tiba, ia teringat sesuatu. Saat ia melakukan pemeriksaan fisik pada Pak Hadi tadi siang, ia menemukan memar di lengan pria itu yang tidak wajar. Apakah itu hanya terjatuh? Atau ada sesuatu yang lebih buruk terjadi pada keluarga Pak Hadi? ​Arkan menutup jendela trading-nya dengan kasar. Ia sadar, ia tidak bisa membagi fokusnya. Ia harus memilih: mengejar keuntungan untuk dirinya sendiri, atau mempertaruhkan kariernya demi mengungkap apa yang sebenarnya terjadi pada pasien tua yang mulai ia anggap seperti ayahnya sendiri. Ia mengambil napas panjang, menatap foto ibunya di meja, lalu mulai mengetik laporan audit sekaligus draf surat permintaan bantuan pelacakan orang hilang. ​Malam itu, hujan kembali turun dengan deras, seolah menantang Arkan untuk tetap bertahan dalam badai yang sebenarnya baru saja dimulai. dingin. Arkan tiba di Puskesmas lebih awal, namun matanya sembap. Semalaman ia tidak tidur. ​Tepat saat ia membuka pintu ruangannya, ponselnya bergetar hebat. Harga XAUUSD mengalami gap besar ke bawah karena data inflasi yang baru saja dirilis. Arkan melihat portofolionya merah padam. Margin call bukan lagi sekadar ancaman, itu sudah di depan mata. Ia merasa sesak, seperti sedang mengalami gagal napas yang sering ia temui di ruang UGD. Dokter Arkan? Sudah siap untuk rapat audit?" suara perawat senior, Bu Sari, memecah lamunannya. ​Arkan cepat-cepat mengunci layar ponselnya dan memasukkannya ke saku jas putihnya. "Siap, Bu. Sebentar lagi." ​Namun, di tengah rapat audit yang membosankan, pikiran Arkan tetap tertambat pada angka-angka di layar ponselnya. Ia menyadari sebuah paralel yang mengerikan: hidup sebagai dokter dan hidup sebagai trader memiliki risiko yang sama—kesalahan kecil dalam mengambil keputusan bisa berakibat fatal. Di Puskesmas, kesalahan diagnosis bisa merenggut nyawa. Di pasar, kesalahan analisis bisa merenggut masa depannya. Saat Kepala Puskesmas menanyakan tentang rekam medis Pak Hadi, Arkan justru teringat pada pola head and shoulders yang ia lihat di grafik tadi pagi—sebuah pola pembalikan arah. ​"Dokter Arkan, kenapa Anda melamun? Apakah ada masalah dengan data Pak Hadi?" tegur Kepala Puskesmas. Arkan tersentak. Ia menatap tumpukan berkas di depannya, lalu kembali teringat memar di lengan Pak Hadi. Ia baru menyadari satu hal krusial: Pak Hadi sempat menyebutkan bahwa anaknya bekerja di sebuah perusahaan tambang yang terikat kontrak ketat. Jika terjadi sesuatu pada anaknya, perusahaan tersebut biasanya menutupi segalanya. Kepala Puskesmas mengernyitkan dahi. "Audit ini prioritas nasional, Arkan. Jangan buat keputusan gegabah hanya karena masalah personal pasien." ​Di bawah meja, Arkan meremas ponselnya. Ia harus segera memutuskan: menutup posisi trading-nya untuk mengamankan sisa modal, atau membiarkannya terbuka dengan risiko kehilangan segalanya demi fokus menyelamatkan Pak Hadi. Ia menyadari, seperti halnya emas yang tidak pernah bisa diprediksi sepenuhnya, hidup pun demikian. Arkan menarik napas dalam, mengabaikan notifikasi margin call yang masuk, dan memilih untuk berdiri. ​"Ini bukan sekadar masalah administrasi, Pak. Ini tentang nyawa dan kebenaran." Ini adalah titik balik yang sangat kelam bagi Arkan. Ketika dunianya di Puskesmas sedang berada di bawah pengawasan ketat, ia harus menghadapi kenyataan pahit bahwa ia kehilangan segalanya di pasar finansial. Notifikasi itu muncul tepat saat rapat audit berakhir. Tulisan berwarna merah di layar ponselnya menghancurkan segala harapan: Account Liquidation - Margin Level 0%. ​Arkan terhuyung, menyandarkan punggungnya ke dinding koridor Puskesmas yang dingin. Semuanya hilang. Uang yang ia kumpulkan dengan lembur selama dua tahun, uang yang seharusnya menjadi dana darurat untuk ibunya, lenyap dalam hitungan detik akibat volatilitas XAUUSD yang brutal. ​Ia merasa kosong. Di matanya, angka-angka di ponsel itu bukan sekadar kehilangan materi, melainkan cerminan dari kegagalannya menjaga keseimbangan. ​Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar. Pak Hadi berdiri di ujung koridor dengan wajah yang lebih pucat dari kemarin

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
724.3K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.6M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
960.7K
bc

A Warrior's Second Chance

read
347.8K
bc

Not just, the Beta

read
342.9K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook