Rumah Marsha saat ini tengah banyak orang. Mereka semua mengirim do'a untuk Marcel.
"Berhenti!"
Sebuah teriakan menghentikan kegiatan tersebut.
"Cio," gumam Marsha begitu ia melihat Cio diujung bawah tangga. Marsha pun bergegas menghampiri.
"Cio kenapa?" tanya Marsha setelah dirinya berada di depan sang anak.
"Suruh mereka diam, Ma. Teman Cio enggak suka. Nanti enggak ajak Cio main lagi."
Dahi Marsha mengernyit, anaknya ini sedang bersama dua adiknya di kamar. Bersama seorang Asisten rumah tangga dari rumah Catherina untuk menjaga anak-anak sementara selama pengajian berlangsung.
"Teman mana? Cio bersama adik Ara dan adik Izy, 'kan?"
Cio menggeleng. "Enggak Ma, Cio di kamar sama teman Cio."
Sukses perkataan Cio mampu membuat Marsha semakin bingung. "Terus adik Izy sama adik Ara dan bibi ke mana?"
"Ada di kamar Ara. Cio di kamar Cio."
Marsha mengelus kedua lengan atas Cio. "Ya sudah kita ke atas dulu, yuk!" ajak Marsha, ia merasa tak enak di lihat orang-orang di sana. Ia melempar senyum pada orang-orang tersebut dan secara sopan meminta mereka untuk lanjut.
"Ma, minta mereka diam," rengek Cio, ia berusaha melepas genggaman sang ibu.
"Cio diam ya. Malu loh di liatin banyak orang."
"Tapi Ma, nanti teman Cio marah. Cio takut kalau dia marah." Marsha tak menghiraukan perkataan Cio.
"Ma, lepasin Cio."
"Ma."
Tidak memperdulikan sang anak, Marsha menggandeng Cio sampai di kamar anak itu.
"Teman Cio yang mana. Tuh, lihat. Enggak ada siapa-siapa," ujar Marsha saat sudah berada di dalam kamar Cio dan Izy.
"Dia ada di depan pintu, Ma."
Marsha menoleh ke belakang, di sana hanya ada Mama Andrean dan juga Mommynya.
"Itu Nenek dan GrandMa, Cio."
"Di sebelah nenek, Ma,"
sontak Catherina menoleh ke sampingnya, tidak ada siapa-siapa. Tiba-tiba saja bulu kuduknya berdiri.
"Mrs. Cud-cudson," bisiknya pada Mama Andrean. "Kok saya merinding ya?"
"Saya juga, Mrs. Wilson."
Mendengar bisik-bisik kedua wanita paruh baya itu semakin membuat kepala Marsha berdenyut sakit.
"Cukup Cio, dengar Mama." Marsha menumpukan tubuhnya pada kedua lututnya, mensejajarkan tingginya dengan tinggi Cio. "Cio tetap di sini. Ingat, Cio harus jadi anak baik. Mereka semua sedang mendo'akan Papa Marcel. Harusnya Cio ikut do'a juga. Biar Papa Marcel bahagia."
"Tapi Ma ..."
Marsha menampilkan wajah lelah dan tatapan memohon pada Cio. "Cio ... Mama mohon. Cio nurut sama Mama ya."
Melihat ibunya, rasa tak tega dan tidak enak hati Cio, muncul. Ia pun mengangguk. Menuruti sang ibu.
"Maafkan Cio, Ma."
Marsha membawa Cio dalam dekapannya. "Terima kasih, Sayang."
Pandangan itu tak luput dari dua wanita paruh baya yang tengah menyaksikan langsung di depan pintu. "Kasihan, Marsha. Ia berusaha kuat untuk anak-anaknya. Sedang kita tahu hatinya pasti menangis."
"Anda benar, Mrs. Cudson. Hari ini saya beberapa kali menemukan dia melamun. Ini persis tujuh tahun lalu. Ketika ia merasa dunia tak lagi berpihak padanya."
Mata Keke berkaca. "Maafkan saya Mrs.Wilson. Saya turut ikut adil untuk kesedihan Marsha tujuh tahu--"
"Sssttt ... Biarlah yang lalu biar berlalu. Sekarang sudah ada kita. Kita pasti tidak akan membiarkan Marsha merasa sendiri bukan?" ujar Catherina merangkul bahu Keke, dan Keke membalasnya dengan senyuman.
Ya, Keke merasa bersalah. Andai dulu ia tidak mempedulikan citra baik. Ia tidak akan menyetujui orang tua Griya untuk menjadikan Marsha sebagai Calon Pengantin Pengganti jika Griya tidak ditemukan hingga membuat Andrean membenci Marsha. Dan ia akan lebih peduli pada anaknya, hingga perbuatan tak senonoh itu tak kan pernah terjadi. Sekarang ia menyesal.
"Saya akan menelpon Andrean, Mrs. Wilson. Memintanya kesini untuk menemani Cio."
Catherina mengangguk, ia mempersilahkan Catherina.
Sebagai orang tua Keke tahu ada yang tak beres dengan Cio. Mungkin dengan hadirnya Andrean nanti, Cio bisa terbuka sekaligus mendekatkan mereka berdua. Catherina tidak menghalangi itu. Andrean ayah kandung Cio, dia berhak tahu kondisi anaknya.
***
Jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Sedari tadi Andrean berusaha meminta Lea untuk tidur. Namun anaknya itu tak kunjung tidur. Padahal ia ingin pergi ke rumah Marsha, membantu di sana dan bertemu anak-anak yang sudah ia rindukan.
Sekitar dua atau tiga bulan yang lalu, menyenangkan baginya. Ia bisa berjalan-jalan bersama ketiga anaknya. Jalan berempat saja dan ketiganya menginap di rumahnya, tidur bersamanya semalaman walau ia sendiri tidur di sofa. Meski begitu, cukup membahagiakan untuk dirinya. Hal itu pun terjadi atas bantuan Marcel. Sayangnya, hal itu tak bisa terulang kembali. Izy marah pada Marcel. Yang janji jemput malam hari, nyatanya di jemput pagi hari dan membuat Marcel berjanji untuk tidak melakukan hal yang sama lagi. Tentu saja, ia sedih mendengarnya. Apalagi pertemuan mereka cukup singkat, jika ia minta bertemu. Terhalang waktunya dan waktu anak-anak. Terbesit perandaian akan tinggal bersama. Langsung ia sirnakan, saat ia sadar itu tidak mungkin bisa terjadi.
"Daddy, ponselnya bunyi," suara Lea menyadarkan Andrean. Andrean pun meraih ponselnya di atas nakas, langsung beranjak pergi begitu melihat siapa yang menelpon. "Lea nonton sendiri dulu, ya. Daddy mau angkat telpon dulu."
"Iya, Ma," jawab Andrean, begitu ia sampai di balkon kamar Lea.
"Mama, Papa akan pulang. Kamu siap-siap buat ke sini ya. Ada yang harus kamu tahu."
"Apa, Ma?"
"Ada yang ganjal dengan Cio. Kamu coba bicara dengannya ya." Perkataan sang ibu, berhasil mengingatkan Andrean akan kejadian dulu di sekolah. Ketika ia mengakui kebenaran siapa dirinya, Izy menolak dirinya sebagai Papa dan Ara yang menangis karena di pisahkan Izy darinya.
"Apa ini soal teman, Cio?"
"Kamu tahu, Andrean?"
"Sial, bagaimana ia bisa melupakan hal sepenting ini. Harusnya ia bicarakan dengan Marsha dan mencari solusi bersama-sama." Andrean merutuki dirinya dalam hati.
"Ceritanya panjang, Ma. Kalau ada waktu Andre bakalan cerita."
"Ya udah. Sebentar lagi Mama pulang. Lea udah tidur belum?"
"Belum, Ma."
"Tunggu Mama aja kalau gitu. Nanti pergi ke rumah Marshanya pas Mama datang."
"Iya, Ma."
Andrean memutus panggilan tersebut, kemudian kembali duduk di ranjang Lea.
Baru duduk sekitar tiga menit, Andrean memeriksa jam tangannya. Tak sabar menunggu Mamanya. Dibalik itu ia sendiri khawatir terhadap Cio. Anaknya itu pendiam. Ia takut terjadi apa-apa pada Cio.
"Daddy, kenapa? Kok lihat jam terus."
"Daddy khawatir pada adik kamu?" jawab spontan Andrean, mungkin karena ia terlalu lelah setelah jalan-jalan seharian bersama Lea ditambah kekhawatirannya pada Cio juga.
"Adik ..."
Tersadar akan ucapannya, Andrean menoleh pada Lea dan menatap dalam mata anaknya.
Ia bingung, di satu sisi kekhawatirannya memintanya untuk segera ke rumah Marsha sedangkan satu sisinya lagi memintanya bersabar.
"Lea ... Daddy minta pengertianmu ya. Daddy ingin ke rumah--"
"Ara," potong Lea. "Kenapa Dad?"
"Lea sini. Mendekat ke Daddy." Lea menurut. "Lea, apa tante Marsha pernah marah padamu? Pernah berteriak padamu? Pernah memukulmu?"
Sesaat Lea terdiam, lalu menggeleng.
"Tante Marsha sama Oma kamu, baikan mana? Daddy ingin kamu menjawab jujur."
Lea menunduk. "Tante Marsha," gumamnya pelan, di hatinya tersimpan rasa bersalah yang tak mampu ia ungkap.
Andrean tersenyum. "Cio baik enggak ke Lea?"
"Baik. Cio suka bantu Lea."
"Izy?"
"Dia nakal." Andrean tersenyum maklum.
"Kalau Ara?"
Lea diam cukup lama. Ia teringat bagaimana ia datang bersama Nenek dan kakeknya ke pesta pernikahan Marsha dan Marcel. Ara yang terus menatapnya, ketika mata mereka tak sengaja bertemu. Mengingatkan Lea, saat mereka bermain bersama dulu. Membuatnya rindu.
"Bagaimana Ara?"
"Dia lucu, suka main sama Lea juga," jawab Lea akhirnya.
"Lea. Mereka adalah adikmu. Anak Dad yang baru Dad tahu. Daddy sayang kamu, Daddy juga sayang mereka adik-adik kamu." Tangan Andrean menepuk-nepuk pelan lengan atas Lea yang ia rangkul.
"Daddy ingin kalian berteman. Saling menyayangi. Saling bantu. Apa bisa Lea?"
Mendapat keterdiaman Lea, Andrean kembali berucap. "Kalau kamu pikir, mereka mengambil Dad. Kamu salah sayang. Justru adanya mereka dan kamu, membuat Dad jauh lebih senang. Dad senang memiliki kalian. Apalagi kalau kalian bisa bersama. Bermain bersama. Dan saling sayang seperti Dad sayang kalian."
"Lagipula, Lea harusnya senang dong. Punya adik. Ada teman buat bermain bareng. Banyak di luaran sana yang pingin punya adik, biar tidak sendirian. Lea udah ada tiga, masak tidak mau? Apalagi adik-adik Lea pintar-pintar. Mau ya?"
Lagi. Lea tidak menjawab. Memilih memalingkan muka.
"Lea, Dad tidak pernah bertemu mereka saat kecil, tidak seperti kamu yang selalu bersama Dad. Dad ingin sekali bisa bersama kalian, Dad pasti akan senang kalau kalian saling sayang. Lea, Daddy janji tidak akan melupakanmu walaupun ada adik-adik kamu. Kasih sayang Daddy akan Dad bagi sama rata, karena kalian kebahagian Dad, kalian harta berharga yang Dad punya."
Andrean mendekap Lea lebih erat dari sebelumnya. Ia meletakkan dagunya di atas puncak kepala Lea sesekali memberi kecupan di atas sana,
"Dad tidak bisa kehilangan salah satu diantara kalian," ujar Andrean lirih, ia menangis. Hatinya sakit jika ia harus ditinggalkan salah satu anaknya. Ia tidak bisa membayangkannya. Di benci saja sudah sesakit ini, apalagi di tinggalkan. Tidak. Ia tidak mau.
"Dad janji akan sayang Lea terus, enggak lupa sama Lea?"
Andrean mengurai pelukannya. "Dad janji, Sayang," jawabnya cepat. Sangking senangnya atas respon Lea.
Lea mengangguk, jari kecilnya menghapus air mata Andrean. "Dad enggak boleh sedih. Lea janji enggak nakal lagi. Enggak nakal sama Ara juga. Sama tante cantik, Cio dan Izy. Lea sayang Dad."
Lea berhambur ke pelukan Daddynya, yang langsung di balas oleh Andrean.
"Terima kasih, Sayang." Hari ini Andrean sangat bahagia, ia berjanji pada dirinya sendiri untuk berlaku adil kepada anak-anaknya sampai kapanpun.
"Lea mau ikut Dad ke rumah tante Marsha?"
Lea menggeleng. "Lea di sini aja sama Nenek" telunjuk Lea mengarah ke pintu,
Di sana sudah berdiri Keke bersama sang suami, Keke yang tersenyum kelewat lebar,
"Iya, biar Lea sama Nenek. Kita nonton sampai malam."
"Iya, Nek!" Semangat Lea, yang mampu mengukir senyum ketiga orang dewasa di sekitarnya.