Tujuh

1035 Words
Andrean menatap Marsha dalam diam. Celana hitam, kemeja hitam dan kerudung hitam panjang yang hanya di gantung di atas kepala sedang satu sisinya ditarik ke belakang di sisi lain. Wanita tangguh, yang pintar menyembunyikan kesedihannya. Wanita yang kini dengan telaten menurunkan anak-anak dari mobilnya kemudian meminta mereka masuk ke dalam rumah. Ia bahkan tak diizinkan membantu. "Pulanglah Andrean. Kau sejak kemarin di sini. Lea pasti mencarimu." "Ada Mama. Aku rasa anak--" "Aku akan menjaga mereka. Kau tidak perlu khawatir," potong Marsha. Tidak ingin berdebat, Andrean mengangguk setuju dan melangkah menuju kendaraannya. Saat keduanya bersisian, Marsha kembali mengucapkan sesuatu. "Aku hanya ingin kau bisa membagi waktu untuk mereka. supaya tidak menimbulkan rasa iri." Kali ini Andrean mengangguk paham. "Maafkan aku. Aku tidak bermaksud mengusirmu." "Aku mengerti." Andrean menoleh ke samping, menatap Marsha yang tengah menunduk. Kakinya enggan melanjutkan langkah. Ia merasa, masih ada yang Marsha ingin bicarakan padanya. "Andrean." Marsha menggigit bibir bawahnya. Ia ragu tapi ... "Aku ingin minta bantuanmu." ... ia ingin. Menoleh, sepasang mata Marsha menatap sepasang mata Andrean. "Apa?" "Kata Dokter, Marcel telah meninggal dunia saat baru tiba di rumah sakit. Aku tidak sempat bertemu dengannya untuk terakhir kali. Aku ..." Pandangan Marsha kembali ke depan. Kosong. "... aku ingin tahu. Kejadian ini murni penculikkan atau ada orang lain di baliknya." Andrean mengerti. "Aku akan mencari tahu." Ya, ia juga akan mencari tahu. Siapapun orangnya. Dia akan mendapatkan balasannya karena telah mengusik ketiga anaknya. "Aku ingin Marcel mendapatkan keadilan." Tubuh itu bergetar dan memeluk dirinya sendiri. Andrean menyentuh pundak Marsha, lalu perempuan itu menoleh padanya kemudian dengan cepat melangkah mundur. "Maafkan aku." "Tidak apa. Aku hanya terkejut." Andrean pikir masa kelam itu, masih tertinggal pada Marsha. Nyatanya tidak. Wanita itu hanya terkejut. Toh, komunikasi mereka yang lalu-lalu cukup baik. Ia harap selalu begitu. Sampai rasa bersalah dalam hatinya mengikis habis.Akan ia lakukan apapun demi Marsha dan juga anak-anaknya. Taruhannya nyawa sekalipun, akan ia lakukan. "Tenang saja,Marcel akan mendapatkan keadilannya. Aku akan segera mengabarimu." Marsha mengangguk. "Terima kasih, Andrean." *** Andrean menghampiri keluarganya yang saat ini sedang menikmati sarapan pagi bersama di meja makan. Ia melihat Mama dan Papanya tidak menyentuh makanannya sama sekali. Ia tahu, mereka mungkin ingin tahu kondisi cucu mereka dan ingin bertemu. Sedangkan Lea, anak itu begitu lahap menyantap makanannya. "Pa, Ma," sapa Andrean. "Andrean!" Keke terkejut akan kehadiran anaknya. "Bagaimana keadaan--" melalui pancaran mata, Andrean meminta mamanya untuk diam. Untuk tidak membicarakan ini lebih dulu. Kedua orang tuanya pun mengerti. "Anak Daddy." Andrean menggunakan tangannya mengusap puncak kepala Lea. Anak itu sedari tadi diam tak menyapanya. "Kok diam saja. Daddy tidak di sambut, hmm?" Lea memalingkan muka. "Enggak, Daddy lama pulangnya." "Kan kemarin Daddy udah pulang. Ketemu Lea juga 'kan?" Lea mengerucutkan bibirnya kesal. "Cuma bentar. Terus pergi lagi. Enggak pulang lagi." "Ya sudah. Daddy minta maaf. Sebagai permintaan maaf Daddy, bagaimana kalau kita jalan-jalan?" Mata Lea berbinar. "Mau. Lea mau, Dad!" serunya kelewat riang. Andrean mengecup puncak kepala Lea. "Lea ganti baju dulu ya. Sana ke atas sama, Bibi." "Siap, Dad!" Sepeninggal Lea, Andrean mengambil alih duduk di kursi Lea. Di samping Daddynya, di depan ibunya. "Bagaimana keadaan cucu-cucu Mama, Andrean?" Andrean menghela nafasnya. "Mereka baik, Ma. Hanya saja, pergelangan tangan mereka lebam membiru. Ada baret luka juga. Izy lebih banyak dapat luka. Tangan dan kakinya lebam." Tangan Andrean mengepal dan rahangnya mengeras saat menceritakan kondisi anaknya. "Oh, Tuhan. Cucuku!" Keke mencengkram erat lengan suaminya, bentuk lampiasan atas kondisi cucu-cucunya. Mengusap wajahnya kasar, Andrean kembali mengeluarkan suaranya, "Mereka sekarang sudah pulih. Kita sempat ke makam Marcel. Memberikan do'a untuknya dan memberi anak-anak pengertian. Mereka bersikeras ingin bertemu Marcel tapi Marsha dengan penuh pengertian mampu mengatasi hal tersebut." "Marsha, bagaimana Marsha Andrean?" "Marsha sempat kacau, Ma. Marcel meninggalkannya dalam kondisi ..." bergantian Andrean menatap Mama dan Papanya. "... hamil." Keke menutup mulutnya dengan sebelah tangan yang menganggur, ia terkejut. Hatinya serasa diremas mendengar hal itu. "Kasian Marsha, Pa." Keke menggoyangkan tangan suaminya. "Mama, mau ke sana, Pa. Mama mau bertemu mereka." Fian menggenggam tangan istrinya, berusaha menenangkan. "Marsha wanita tangguh, Ma. Terlihat kuat demi anak-anaknya. Meski dalam hatinya hancur, Andrean tahu itu," batin Andrean. "Penculiknya, apa sudah di tangkap?" kini giliran Fian yang bertanya. Andrean menggelengkan kepalanya. "Polisi belum memberitahukannya, Pa. Ketika Marsha sampai di rumah sakit, ia sudah mendapati Marcel terbujur kaku lalu pingsan. Tidak ada yang tahu jelas, bagaimana hal itu bisa terjadi? Kita tidak mungkin bertanya pada anak-anak, Pa. Kita pun masih menunggu polisi mengabari, ada saksi mata bersama mereka. Andrean akan meminta Andrew menyelidikinya. Papa dan Mama jika mau ke rumah Marsha, pergi saja. Biar Lea bersama Andrean." Kedua orang tuanya mengangguk, lalu beranjak dari kursi. Ke mana lagi tujuan mereka, kalau bukan ke tempat Marsha. Semalaman mereka tidak bisa tidur mengkhawatirkan ketiga cucunya. Ingin sekali mereka menuju rumah Marsha, sayangnya mereka harus menjaga Lea. Tidak mungkin meninggalkannya. Apalagi Lea mencari Andrean terus menerus. Di bawa ke sana pun, nanti takutnya akan menambah kekacauan. Keduanya pun mengalah. Biar nanti bergantian dengan Andrean, begitu pikir mereka. Bagi Andrean, semua terasa tiba-tiba. Ia tahu, tidak ada satu pun orang di dunia ini, tahu kapan akan kembali ke sisi Tuhan. Saat ini yang ia pikirkan, bagaimana caranya menjaga mereka? Marsha dan anak-anaknya. Ia merasa, ini saatnya peran dia yang sesungguhnya terhadap anak-anak. Sayangnya, tembok itu masih ada. Kedekatan itu belum terjalin sempurna. Walau dirinya seorang ayah, ia tidak pernah merasa peran itu ia lakukan terhadap ketiga anaknya. Pertanyaannya, apa ia bisa? Apa ia berhasil menjalani peran itu dengan baik? Sesuai harapan kah? Ada yang terlukakah nantinya? "Tuan." Suara dari belakang, menyadarkan Andrean dari lamunannya. "Kau sudah datang, Andrew." Andrew, kalau kalian masih ingat. Dia merupakan bawahan Andrean. Tangan kanan Andrean, orang yang dipercaya Andrean. "Ya, Tuan." "Andrew." "Ya, Tuan." "Perintahkan anak buah mu untuk mencari penculik anak-anakku. Bagaimana pun caranya, dapatkan mereka sebelum polisi. Aku ingin bertemu mereka lebih dulu. Dan tempatkan lima orang lainnya, menjaga anak-anak ku dan juga Marsha," perintah Andrean, sejak awal ia ingin meminta bawahannya menjaga ke tiga anaknya dari jauh. Namun, ia tidak melakukan itu. Ia menghargai Marcel dan Marsha. Sayangnya, hal tersebut malah membuatnya kecolongan hingga ada yang berani menyakiti anak-anaknya. "Siap, Tuan!" "Pergilah, Ndrew. Cepat lakukan tugasmu!" usir Andrean pada Andrew begitu telinganya mendengar langkah kaki mendekat. "Daddy, Lea siap!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD