Andrean tidak percaya begitu saja pada Griya. Alasan seperti itu tidak akan di gunakan seorang ibu yang memiliki keinginan untuk bertemu anaknya. "Hanya itu alasanmu?" Griya mendongak menatap Andrean. Wajah memerah marah, balik menatapnya penuh kebencian, tidak ada rasa iba sedikit pun meski ia telah menangis. "Hanya karena pamannya Lea ingin bertemu Lea, kau ingin menemui Lea. Kalau dia tidak mau bertemu Lea, kau pasti tidak mau bertemu dengannya, sialan!" "Tidak, Andrean." Griya menggelengkan kepalanya. "Bagiku, iya. Untuk seorang ibu, tidak ada rindu di matamu untuk anakmu sendiri!" Andrean memajukan tubuhnya, tidak lagi bersandar di sandaran kursi. "Kau tidak tahu apa pun, Andrean!" Brak ... Andrean memukul meja. Berdiri dengan rahang mengeras, menghadap Griya, amarahnya sudah t

