Dua Puluh Satu

1404 Words

20.30 WIB. "Hai boy. Belum tidur?" "Belum, Pa." "Kok enggak tidur? Kenapa, hmm?" Saat ini, menggunakan ponsel yang di berikan Catherina. Cio menghubungi Andrean. Ya, beruntungnya pria itu sudah sampai di rumah. Pulang setelah memesan perhiasan kalung untuk kedua kelinci Lea. Tidak terlalu lama, anaknya juga butuh tidur. Tidak baik bukan untuk anak-anak tidur di atas jam 9. "Kok diam? Kenapa?" "Mau Papa." Ucapan singkat Cio menggetarkan hati Andrean. Ia ingin sekali ke sana, tapi ia tidak bisa egois. Larangan Marsha dan keinginan Lea untuk tidur bersamanya terus menghantui pikirannya. Sekarang ia harus apa? "Cio, mau Papa bacakan cerita?" tanya Andrean. Bagian dari dirinya meminta untuk bersikap adil. Ia tidak bisa membagi tubuhnya, tetapi otaknya harus bisa membagi waktu dengan ana

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD