Rahasia di Balik Medan Perang

1293 Words
Reza mengangguk, lalu melanjutkan makanannya. Namun, perhatian di kamp medis tak sepenuhnya terfokus pada makanan atau tugas. Beberapa perawat dan staf medis di meja lain tampak mencuri pandang ke arah mereka berdua, berbisik-bisik pelan, dan menatap dengan ekspresi penuh arti. “Lihat deh, Dr. Hilya dan Dr. Reza terlihat cocok sekali, ya?” salah satu perawat berbisik kepada rekannya. “Mereka seperti pasangan sempurna.” “Iya, aku juga pikir begitu. Dr. Reza selalu perhatian sama Dr. Hilya,” jawab perawat lainnya. “Siapa yang nggak cemburu kalau melihat mereka bersama?” Perlahan, bisikan-bisikan itu terdengar di antara perawat-perawat lainnya, membuat suasana di kamp medis sedikit lebih ramai dengan gosip kecil. Banyak yang melihat kedekatan Hilya dan Reza sebagai tanda bahwa mereka mungkin lebih dari sekadar rekan kerja. Meski tak banyak yang tahu bahwa Hilya sudah menikah, kedekatan mereka terlihat begitu alami sehingga memicu rasa iri di hati sebagian staf. Sementara itu, Hilya tidak terlalu memedulikan gosip yang mulai beredar. Baginya, Reza hanyalah rekan yang selalu ada untuk mendukungnya, baik dalam tugas medis maupun secara emosional. Keduanya telah bekerja bersama sejak lama, dan Hilya menghargai profesionalisme Reza yang selalu menjaga sikap. Namun, Hilya tetap sadar akan perhatian yang berlebihan dari beberapa rekan mereka. Ia bisa merasakan tatapan-tatapan di sekitarnya, meskipun ia berpura-pura tidak menyadarinya. “Dokter Hilya,” suara Reza memecah keheningan sejenak di antara mereka. “Aku mendengar kau akan pergi ke garis depan besok untuk menangani korban baru. Kau yakin tidak ingin menundanya? Aku bisa menggantikanmu jika kau butuh waktu lebih untuk istirahat.” Hilya menggeleng pelan. “Aku harus ikut, Dr. Reza. Aku tidak bisa hanya duduk di belakang sementara yang lain membutuhkan bantuan. Aku sudah memutuskan, dan aku akan baik-baik saja.” Reza tersenyum, meskipun di dalam hatinya, ada rasa khawatir yang tak bisa disembunyikannya. “Baiklah, kalau begitu. Tapi jika ada apa-apa, jangan ragu untuk memberitahuku.” Reza mengangguk dan melanjutkan makanannya. Namun, perasaan di antara mereka mulai berubah lebih tenang dan hati-hati. Meskipun mereka bersikap profesional, kehangatan dan perhatian Reza terhadap Hilya jelas terasa. Reza, yang sudah lama menyimpan rasa suka kepada Hilya, tak bisa menyembunyikan perasaannya setiap kali berada di dekatnya. Dan meskipun Hilya bersikap biasa saja, gosip dan tatapan iri dari sekeliling mereka mulai menyebar, membuat suasana di kamp semakin tidak nyaman. Para perawat dan staf yang melihat kedekatan mereka hanya bisa membayangkan betapa cocoknya Dr. Hilya dan Dr. Reza. Namun, tak ada yang tahu rahasia besar yang disimpan Hilya —bahwa dirinya sudah menikah dengan Arshaka, yang kini sedang berjuang di medan perang yang sama. ******* Setelah berita tentang keadaan Jaka sampai di telinga Arshaka, ia merasa sangat lega dan bersyukur atas keselamatan sahabatnya. Beban yang selama ini menghimpit pikirannya sedikit terangkat, meskipun kondisi Jaka masih kritis. Dia berharap bisa segera menemui sahabatnya, namun saat ini tanggung jawabnya belum selesai. Situasi di medan tempur mulai terkendali setelah beberapa jam pertempuran intens, dan pihak pemberontak akhirnya mundur. Arshaka mendekati Farhan yang sedang memeriksa keadaan tim. "Bagaimana kondisi di sini?" tanyanya, sambil menghapus keringat yang menetes di wajahnya. Farhan mengangguk, terlihat lega meski kelelahan. "Semua terkendali untuk saat ini. Pasukan kita sudah mengamankan area, dan warga sipil sudah dievakuasi." Arshaka berpikir sejenak, lalu berkata, "Aku ingin mengunjungi Jaka. Setelah apa yang dia lalui, kita harus memastikan dia baik-baik saja. Kita punya sedikit waktu sebelum serangan berikutnya." Farhan setuju. "Aku juga ingin melihatnya. Kita pergi sekarang?" Dengan keputusan bulat, Arshaka dan Farhan bersiap-siap menuju kamp medis di luar zona konflik. Mereka menaiki kendaraan militer yang membawa mereka keluar dari garis depan, melewati jalanan penuh reruntuhan dan bekas pertempuran. Selama perjalanan, pikiran Arshaka dipenuhi oleh rasa khawatir sekaligus harapan. Dia tidak sabar melihat Jaka dan memastikan sendiri bahwa sahabatnya akan bertahan. Setelah beberapa jam perjalanan yang menegangkan, mereka akhirnya tiba di kamp medis. Udara di sekitar terasa berbeda—tenang, namun penuh dengan rasa kewaspadaan. Para dokter dan perawat sibuk merawat para korban yang baru saja tiba dari zona perang, termasuk warga sipil yang terluka. Arshaka dan Farhan turun dari kendaraan, dan segera menuju tenda medis utama tempat Jaka dirawat. Mereka berdua disambut oleh salah satu dokter, yang segera mengarahkan mereka ke ruang tempat Jaka menjalani perawatan. "Dia sudah stabil setelah operasi, tapi kondisinya masih lemah," jelas sang dokter. "Kami sudah melakukan yang terbaik untuk menghentikan pendarahan." Arshaka mengangguk dengan penuh syukur. "Terima kasih, dokter." Saat mereka mendekati ranjang Jaka, Arshaka merasakan kesedihan dan rasa bersalah sekaligus. Jaka terbaring lemah dengan perban di d**a, namun wajahnya sedikit lebih cerah dari terakhir kali Arshaka melihatnya. Farhan berdiri di samping Arshaka, menatap temannya dengan tatapan penuh empati. "Shaka..." suara Jaka terdengar pelan, namun ada kekuatan di dalamnya. "Kau datang..." Arshaka tersenyum tipis, berusaha menahan emosinya. "Tentu saja aku datang. Kau harus bertahan, Jaka. Kita butuh kau." Jaka mengangguk lemah. "Aku akan mencoba. Terima kasih... kau menyelamatkanku." Arshaka menepuk bahu Jaka dengan lembut. "Jangan berterima kasih dulu. Kami semua bekerja sama untuk membawamu keluar dari sana." Farhan berdiri di samping, mencoba memberikan dukungan moral. “Kami semua sangat khawatir tentangmu. Kami tidak akan meninggalkanmu sendirian.” Jaka merasa cukup kuat untuk berbicara lebih panjang dengan Arshaka dan Farhan. Ketika suasana terasa lebih santai dan mereka duduk di samping tempat tidur Jaka, Jaka mulai menceritakan pengalaman barunya selama di kamp medis. “Kalian tahu,” kata Jaka dengan senyum lemah, “selama aku di sini, aku dirawat oleh seorang dokter perempuan yang benar-benar luar biasa.” Arshaka dan Farhan menatap Jaka dengan penuh perhatian. “Bagaimana? Apa yang membuatnya begitu istimewa?” tanya Farhan. Jaka mulai bercerita dengan penuh semangat, meskipun suaranya masih lemah. “Dia seperti bidadari. Cantik dan baik hati. Setiap kali dia datang, dia membawa rasa nyaman dan ketenangan. Aku tahu aku dalam kondisi kritis, tapi dia selalu bisa membuatku merasa lebih baik hanya dengan kehadirannya.” Arshaka mengangkat alisnya, merasa terkejut dengan deskripsi Jaka. “Bidadari? Sepertinya kamu sudah mulai berfantasi di sini.” Jaka tertawa pelan, meskipun itu membuatnya sedikit kesakitan. “Tidak, aku serius. Dia benar-benar membuatku merasa lebih baik. Ada sesuatu tentang cara dia merawatku yang membuatku merasa seperti dia benar-benar peduli.” Farhan tersenyum dan menggoda, “Sepertinya kau benar-benar terkesan. Jangan-jangan kau akan jatuh cinta pada ‘bidadari’ ini.” Jaka menggelengkan kepala, tetap dengan senyum tipis. “Tidak seperti itu. Dia hanya sangat profesional dan penuh perhatian. Aku tidak pernah merasakan sesuatu seperti ini sebelumnya.” Arshaka mendengarkan cerita Jaka dengan campur aduk perasaan. Di satu sisi, dia merasa lega bahwa Jaka mendapatkan perawatan yang baik. Di sisi lain, dia tidak bisa menahan perasaan sedikit kesal. Mengingat kebiasaan Jaka yang dikenal sebagai playboy, yang sering menggoda petugas medis sebelumnya. “Jaka,” kata Arshaka dengan nada setengah menggoda dan setengah serius, “aku ingin sekali menjitak kepalamu kalau saja kamu dalam kondisi normal. Kau tahu kan betapa seringnya kau menggoda petugas medis sebelumnya?” Jaka tertawa pelan, mengangguk. “Aku tahu, aku tahu. Tapi kali ini berbeda. Dia benar-benar mengubah pandanganku. Aku rasa aku harus mulai memperlakukan orang dengan lebih baik.” Arshaka tersenyum, merasa puas melihat Jaka mengakui kesalahan dan berubah. “Baguslah kalau begitu. Tapi tetap saja, aku merasa beruntung bisa melihat kau masih bisa bercanda dan tertawa. Itu berarti kau semakin baik.” Farhan ikut tersenyum, menambahkan, “Dan jika ada bidadari yang benar-benar membuatmu merasa lebih baik, kita semua patut berterima kasih padanya.” Jaka mengangguk setuju, kemudian merasa kelelahan. “Aku harus istirahat sekarang. Terima kasih sudah datang dan mendukungku.” Arshaka dan Farhan berdiri, mengangguk dengan penuh pengertian. “Kami akan selalu ada di sini untukmu,” kata Arshaka. “Segera pulih, Jaka.” Sementara itu, di sisi lain kamp, Hilya sedang berjalan keluar dari tenda utama setelah menangani pasien terakhirnya untuk hari itu. Dia berhenti sejenak untuk menghela napas dan merenungkan hari yang panjang. Bersambung....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD