Jaka perlahan membuka matanya. Cahaya redup dari lampu tenda medis membuatnya sedikit kesulitan melihat dengan jelas. Tubuhnya terasa berat, dan dadanya masih berdenyut dengan rasa sakit. Dia mencoba bernapas lebih dalam, tetapi setiap tarikan napas terasa seperti beban yang luar biasa. Di tengah kebingungannya, pandangannya tertuju pada sosok yang berdiri di samping ranjangnya—seorang wanita berwajah lembut dan penuh perhatian.
Hilya, yang sedang memeriksa alat-alat medis di sebelah ranjang Jaka, tidak menyadari bahwa pasiennya telah terbangun. Dengan gerakan tenang, ia memeriksa kondisi Jaka, memastikan bahwa semuanya berjalan sesuai rencana pascaoperasi. Wajahnya tetap fokus, meskipun rasa lelah terlihat jelas dari lingkaran hitam di bawah matanya.
Namun, bagi Jaka, pemandangan itu seperti dari dunia lain. Mimpi? Atau kehidupan setelah kematian? Dalam pikirannya yang masih kabur, Jaka mengira bahwa dirinya telah meninggal. Dan wanita cantik di depannya adalah bidadari yang datang untuk menyambutnya ke alam berikutnya.
"Bidadari?" bisiknya dengan suara serak.
Hilya terkejut mendengar suara lirih itu. Dia segera menoleh, melihat bahwa pasiennya telah sadar. Wajahnya berubah dari serius menjadi lega. "Anda sudah sadar," ujarnya lembut, tidak menyadari kekeliruan Jaka.
Jaka, dengan napas terengah-engah, masih merasa linglung. Ia menatap Hilya dengan mata yang setengah tertutup. Penampilan Hilya yang sederhana namun elegan, dengan rambut diikat rapi dan wajah tanpa riasan, membuat Jaka semakin yakin bahwa wanita di depannya adalah sosok mistis.
"Aku... sudah mati?" gumam Jaka lagi, kali ini suaranya lebih jelas. Ia masih berusaha memahami apa yang terjadi.
Hilya tersenyum kecil mendengar kebingungan Jaka. "Tidak, Anda masih hidup. Anda selamat," jawabnya sambil memeriksa infus dan luka-luka di tubuhnya.
Namun, Jaka masih tidak percaya. “Tapi... Anda terlalu cantik untuk jadi manusia. Saya pasti sudah meninggal dan bertemu dengan bidadari.”
Hilya terkekeh pelan, lalu meletakkan tangan lembutnya di bahu Jaka untuk menenangkannya. "Saya bukan bidadari. Saya Hilya, dokter yang merawatmu. Anda mengalami luka parah, tapi Anda selamat dari operasi."
Jaka terdiam sejenak, mencoba mencerna kata-kata itu. Rasa sakit di tubuhnya, suara alat medis di sekelilingnya, dan aroma antiseptik perlahan membawanya kembali ke realitas. Perlahan-lahan, Jaka mulai menyadari bahwa dirinya masih hidup. Namun, tatapan lembut Hilya dan ketenangan yang terpancar darinya membuat Jaka sulit melepaskan pikiran bahwa wanita ini lebih dari sekadar dokter. Dalam kondisinya yang masih lemah, dia merasa kagum sekaligus heran.
"Dokter menyelamatkan saya..." bisik Jaka, matanya tak lepas dari Hilya. "Terima kasih."
Hilya mengangguk. “Itu adalah tugas kami. Anda harus istirahat sekarang. Kondisi Anda masih kritis, tapi kami akan terus memantau perkembanganmu.”
Hilya lalu berdiri, beranjak untuk mengambil beberapa alat lain, namun Jaka menahan tangannya lemah. “Jangan pergi… tolong… tetap di sini,” pinta Jaka dengan suara penuh harapan.
Hilya ragu sejenak, tetapi kemudian mengangguk dan kembali duduk di sebelah ranjang. “Baiklah, saya akan berada di sini sebentar lagi.”
Di tengah suasana medis yang penuh ketegangan, ada kehangatan yang tiba-tiba menyusup di hati Jaka. Bagi Jaka, Hilya bukan hanya sekadar dokter yang merawatnya, tetapi sosok penyelamat—yang baginya terlihat seperti bidadari di tengah medan perang.
Andi, salah satu rekan Arshaka dan Jaka, berjalan cepat menuju kamp medis. Begitu mendengar kabar bahwa Jaka telah siuman, Andi merasa lega, namun kekhawatirannya belum sepenuhnya hilang. Dia tahu betapa parahnya luka Jaka, dan setiap detik bisa menentukan nasib temannya.
Begitu masuk ke tenda medis, Andi langsung mencari Jaka. Matanya dengan cepat tertuju pada sosok rekan sekaligus temannya yang sedang terbaring, dengan Hilya yang duduk di sampingnya. Ekspresi lega terpancar di wajah Andi, tapi dia juga melihat bagaimana Jaka menatap Hilya dengan mata yang masih dipenuhi kekaguman.
"Andi..." Jaka berbisik begitu melihat temannya. Suaranya masih serak, tapi jelas terlihat bahwa dia senang melihat rekannya yang setia.
"Jaka! Kau akhirnya sadar," ujar Andi sambil menghampiri ranjang. "Kau membuat kami semua khawatir, sobat. Kupikir kau benar-benar akan pergi kali ini."
Hilya bangkit dari tempat duduknya, memberi ruang bagi Andi untuk mendekati Jaka. "Letnan Jaka sudah mulai membaik, tapi perlu banyak istirahat. Pastikan jangan terlalu banyak bicara, dia masih lemah," Hilya memperingatkan dengan nada tenang.
Andi mengangguk penuh terima kasih kepada Hilya. "Terima kasih, Dokter. Anda sudah menyelamatkan hidupnya."
Hilya tersenyum tipis dan mengangguk, lalu meninggalkan Andi dan Jaka untuk memberikan mereka privasi. Namun, sebelum benar-benar pergi, Hilya memberi satu pandangan terakhir kepada Jaka, memastikan bahwa kondisinya tetap stabil. Saat dia beranjak keluar, Jaka tidak bisa melepaskan pandangannya darinya. Seolah-olah dalam kondisi setengah sadar, ia masih merasa bahwa Hilya bukanlah dokter biasa. Ada sesuatu tentangnya yang membuat Jaka terus berpikir bahwa dia lebih dari sekadar penyelamat hidupnya.
Andi, yang tidak menyadari pikiran-pikiran Jaka, mengambil kursi dan duduk di samping ranjang. “Kau tahu, Shaka pasti akan senang mendengar ini. Aku sudah mengirim pesan kepadanya bahwa kau sadar. Tapi dia masih di garis depan, jadi belum tentu bisa langsung ke sini.”
Jaka menarik napas panjang, kemudian berusaha bicara. “Andi… bidadari itu… aku benar-benar berpikir aku sudah mati.”
Andi tertawa kecil, meskipun suaranya mengandung rasa cemas. "Kau tidak mati, Jaka. Kau hanya terlalu lama dalam ketidakpastian. Dan yang kau sebut bidadari itu, dia adalah dokter di sini. Kau beruntung, dia yang menangani kasusmu."
Jaka memejamkan mata, mencoba mengingat detail-detail kecil tentang saat-saat sebelum dia kehilangan kesadaran. Namun, ingatan tentang Hilya tetap kuat. "Dia… benar-benar menyelamatkanku."
Andi menatap temannya dengan perhatian. "Ya, dia memang menyelamatkanmu. Tapi sekarang kau harus fokus pada pemulihanmu. Kau masih dibutuhkan di sini, dan kita masih punya banyak tugas untuk diselesaikan."
Jaka mengangguk perlahan, meskipun dalam hatinya, dia masih terjebak dalam kekaguman terhadap Hilya. Bagi Jaka, Hilya bukan hanya dokter yang menyelamatkan hidupnya; ada sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang belum sepenuhnya ia pahami. Di tengah konflik dan kekacauan perang, Hilya muncul sebagai cahaya yang memberikan harapan—bukan hanya untuk fisiknya, tetapi juga untuk jiwanya yang lelah.
Sementara itu, Andi melihat ke luar tenda, memikirkan Arshaka yang masih berada di medan pertempuran. Dia berharap ketika waktunya tiba, mereka bisa bertemu kembali dan membawa pulang cerita-cerita kemenangan, meskipun perang yang mereka hadapi bukan hanya di medan konflik, tetapi juga di dalam hati mereka masing-masing.
*******
Hilya dan Reza duduk bersama di meja makan yang sederhana di kamp medis, menikmati istirahat singkat di tengah tugas berat yang mereka emban. Suasana di sekitar mereka tenang, tetapi penuh dengan kesibukan para petugas medis lainnya yang juga memanfaatkan waktu untuk makan siang dan beristirahat. Reza duduk tepat di sebelah Hilya, berbincang dengan nada santai dan penuh perhatian.
“Kamu pasti lelah sekali setelah tadi pagi menangani pasien darurat,” ujar Reza sambil menyodorkan botol air kepada Hilya. “Kau perlu lebih banyak istirahat.”
Hilya tersenyum kecil, mengambil botol itu. “Aku baik-baik saja. Ini bukan pertama kalinya kita bekerja di bawah tekanan seperti ini. Lagipula, pasien lebih membutuhkan perhatian kita.”
Bersambung....