Satu bulan yang lalu, di sebuah sore yang tenang, Hilya duduk di kamarnya, tenggelam dalam buku yang sedang dibacanya. Halaman-halaman buku berisi cerita yang membawanya jauh dari realitas sejenak, memberikan kedamaian yang sering sulit ditemukan dalam kehidupan sehari-harinya. Namun, ketenangan itu segera terganggu oleh ketukan pelan di pintu kamarnya.
Hilya menoleh, melihat pintu terbuka perlahan, dan wajah ayahnya, Pak Hadi, muncul di balik pintu. Wajahnya tampak cemas, seolah-olah ada beban berat yang ia bawa. Hilya langsung merasakan ada sesuatu yang tidak biasa. Ayahnya, biasanya seorang pria yang tenang dan penuh keyakinan, kini terlihat bimbang dan gelisah.
Pak Hadi melangkah masuk ke dalam kamar dengan hati-hati dan menutup pintu di belakangnya. Ia duduk di tepi tempat tidur Hilya, menarik napas panjang sebelum akhirnya berbicara. Hilya bisa merasakan bahwa apa pun yang akan dikatakan ayahnya adalah sesuatu yang sangat penting dan serius.
“Hilya, ada sesuatu yang harus Ayah sampaikan,” ujar Pak Hadi, suaranya terdengar lembut namun penuh dengan rasa khawatir. “Ayah sudah lama berpikir tentang ini, dan Ayah tahu mungkin ini akan mengejutkanmu.”
Hilya meletakkan bukunya dan menatap ayahnya dengan penuh perhatian. “Ada apa, Yah? Apa yang terjadi?”
Pak Hadi menghela napas panjang sebelum melanjutkan. “Nak, kamu tahu kan bahwa keluarga kita selalu menjaga hubungan baik dengan sahabat-sahabat almarhum kakekmu? Nah, salah satu sahabat kakekmu adalah Almarhum Pak Bara. Beliau adalah orang yang sangat dekat dengan kakekmu, bahkan seperti saudara sendiri. Dan, beberapa waktu lalu, ayah dan putra beliau, Pak Hendra, sempat berbicara tentang perjodohan antara kamu dan putra satu-satunya, Arshaka.”
Hilya terkejut, matanya melebar mendengar kata “perjodohan.” Seumur hidupnya, dia tidak pernah berpikir bahwa dirinya akan dijodohkan, apalagi dengan seseorang yang bahkan belum pernah ia temui. Pikiran itu seperti petir yang tiba-tiba menyambar di tengah langit yang cerah.
“Ayah, apa maksud Ayah?” tanya Hilya, suaranya sedikit bergetar. “Hilya dijodohkan dengan seseorang yang bahkan Hilya tidak kenal? Kenapa begitu mendadak?”
Pak Hadi mencoba menenangkan putrinya. “Ayah tahu ini sulit bagimu untuk menerimanya. Namun, ini adalah keputusan yang Ayah ambil dengan pertimbangan matang. Pak Bara adalah sahabat kakekmu yang sangat Ayah hormati, dan keluarganya adalah keluarga yang baik. Arshaka, cucunya, adalah seorang pria yang bertanggung jawab, dia bekerja sebagai tentara, dan Ayah percaya bahwa dia bisa menjadi pendamping yang baik untukmu.”
Hilya menggeleng pelan, mencoba mencerna informasi yang baru saja diterimanya. “Tapi, Yah, Hilya bahkan belum pernah bertemu dengan Arshaka. Bagaimana bisa Ayah yakin bahwa kami bisa cocok? Apakah ini benar-benar tentang kebahagiaan Hilya?”
Pak Hadi terdiam sejenak, tatapannya penuh dengan kehangatan dan kasih sayang. “Ayah mengerti kekhawatiranmu, Nak. Ayah hanya ingin yang terbaik untukmu. Ayah tahu ini bukan hal yang mudah untuk diterima, tapi Ayah harap kamu bisa mencoba untuk mengenal nak Arshaka. Jika setelah kalian bertemu kamu merasa tidak nyaman atau tidak cocok, Ayah tidak akan memaksamu. Tapi Ayah berharap kamu memberi kesempatan pada keputusan ini, untuk menghormati amanah kakekmu dan juga untuk membuka pintu kemungkinan yang mungkin tidak kamu lihat sekarang.”
Hilya terdiam, hatinya bergolak antara ketaatan kepada ayahnya dan keinginan untuk menentukan jalannya sendiri. Dalam diam, ia berpikir tentang apa yang akan terjadi pada hidupnya setelah ini. Perjodohan ini adalah sesuatu yang di luar bayangannya, dan kini ia harus menghadapi kenyataan yang jauh berbeda dari apa yang ia harapkan.
Pak Hadi menggenggam tangan Hilya dengan lembut. “Nak, Ayah akan selalu mendukung apapun keputusanmu. Tapi Ayah ingin kamu tahu bahwa terkadang, keputusan yang tampak sulit di awal bisa membawa kita ke tempat yang tidak pernah kita bayangkan. Ayah hanya meminta kamu untuk mencoba.”
Hilya mengangguk perlahan, meskipun masih ada banyak ketidakpastian di dalam hatinya. Ia tahu bahwa hidupnya akan berubah, dan ia tidak yakin apakah ia siap untuk menghadapi perubahan besar ini. Namun, untuk saat ini, ia hanya bisa mencoba, seperti yang diminta oleh ayahnya, dan berharap bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Momen itulah yang menjadi awal dari semua kegelisahan yang kini ia rasakan. Dan satu bulan kemudian, Hilya mendapati dirinya duduk di rumah penuh dekorasi pengantin, menanti sosok pria yang baru saja menjadi suaminya namun pergi tanpa sepatah kata pun. Kehidupan baru yang terpaksa ia jalani kini terasa seperti sebuah cerita yang tidak pernah ia tuliskan, penuh dengan pertanyaan dan rasa ingin tahu yang belum terjawab.
*******
Keesokan harinya setelah pernikahan yang tak terduga, Hilya kembali bekerja seperti biasa di rumah sakit terkenal di Jakarta, tempat ia bertugas sebagai dokter umum. Meski kepalanya masih dipenuhi oleh peristiwa-peristiwa yang baru saja terjadi, Hilya berusaha menjaga profesionalismenya. Langkahnya mantap memasuki ruang praktik, namun hatinya masih terasa berat. Suara-suara di rumah sakit yang biasanya memberinya semangat, kini terasa hampa dan berisik.
Ia duduk di meja kerjanya, menatap lembaran-lembaran catatan pasien yang menumpuk. Dalam sekejap, Hilya kembali mencoba fokus pada pekerjaannya. Namun, pikirannya terus melayang kembali ke kejadian sehari sebelumnya—momen ijab kabul yang tak sempat ia resapi, wajah dingin Arshaka yang hanya ia lihat sekilas, dan kepergiannya yang mendadak tanpa sepatah kata.
Saat Hilya sedang sibuk memeriksa pasien pertamanya hari itu, salah satu perawat, Siska, yang biasa akrab dan bekerja bersamanya, menghampiri dengan senyum lebar di wajahnya. "Dokter Hilya, selamat ya! Aku dengar kamu baru menikah kemarin. Pasti masih terasa bahagianya, ya? Tapi kenapa tidak mengundangku?"
Hilya tersenyum kecil, meski senyumnya terasa dipaksakan. “Terima kasih, Siska, Maaf kami hanya mengundang keluarga dekat saja” jawab Hilya merasa tidak enak hati dan berusaha menutupi kegundahan yang sebenarnya ia rasakan.
Siska, yang tidak menyadari apa yang sebenarnya terjadi, melanjutkan dengan antusias, “Wah, pasti suamimu pria yang beruntung, ya, dapat dokter secantik dan sepintar kamu. Semoga kalian bahagia selalu!”
Hilya hanya bisa mengangguk sambil berusaha menyembunyikan perasaannya. Di satu sisi, ia ingin menceritakan semuanya kepada seseorang—betapa bingung dan kecewanya ia dengan keadaan ini. Namun, di sisi lain, Hilya sadar bahwa ini adalah masalah pribadinya yang harus ia selesaikan sendiri. Bagaimanapun, Arshaka adalah suaminya sekarang, meski ia belum tahu banyak tentang pria itu. Kehidupan barunya, yang dimulai begitu tiba-tiba, kini harus ia jalani dengan penuh ketidakpastian.
Hari itu terasa lebih panjang dari biasanya. Hilya menjalani tugas-tugasnya dengan wajah yang tetap tegar meski hatinya masih dipenuhi oleh berbagai pertanyaan yang belum terjawab. Ketika jam istirahat tiba, Hilya memilih untuk duduk sendiri di kantin rumah sakit, memandangi secangkir kopi di depannya tanpa benar-benar ingin meminumnya.
Hilya mencoba menikmati makan siangnya meski pikiran tentang Arshaka masih mengganggu benaknya. Suasana kantin yang ramai oleh suara obrolan rekan-rekannya terasa seperti latar yang jauh, karena pikirannya terus-menerus memutar ulang peristiwa yang terjadi sehari sebelumnya. Di antara suapan makanannya, Hilya berusaha meyakinkan dirinya bahwa semua ini hanyalah fase awal dari sebuah perjalanan panjang yang harus ia hadapi dengan keberanian.
Saat Hilya sedang melamun, seorang dokter muda yang tampan bernama Dokter Reza menghampirinya. Dokter Reza adalah salah satu dokter bedah di rumah sakit yang sering bekerja bersama Hilya, dan diam-diam menaruh hati padanya. Namun, perasaannya itu selalu ia sembunyikan, karena ia tahu bahwa Hilya adalah rekan kerja yang sangat profesional, dan ia tidak ingin merusak hubungan kerja mereka yang sudah terjalin baik.
“Dokter Hilya, boleh saya duduk di sini?” tanya Dokter Reza dengan senyum hangat yang khas.
Bersambung...