Dua Dunia yang Terpisah

1221 Words
Hilya mengangkat wajahnya dan tersenyum tipis. “Oh, tentu, Dokter Reza. Silakan.” Dr. Reza duduk di seberang Hilya, sambil membawa nampan makan siangnya. Ia memandangi Hilya sejenak, menyadari bahwa ada sesuatu yang berbeda dengan gadis itu hari ini. Senyum Hilya terlihat lebih tipis, dan matanya menyimpan kecemasan yang tidak biasa. “Anda kelihatan lelah, Dokter Hilya. Ada yang bisa saya bantu?” tanya Reza sambil memulai percakapan. Hilya tersenyum kecil, mencoba untuk tidak terlalu menunjukkan kegelisahannya. “Ah, nggak apa-apa, kok. Mungkin cuma lelah sedikit. Semalam saya nggak terlalu banyak tidur.” Dr. Reza menatap Hilya dengan penuh perhatian, mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya mengganggu gadis itu. Meski ia tidak tahu banyak tentang kehidupan pribadi Hilya, Dr. Reza merasa ada sesuatu yang ingin ia ketahui lebih dalam. Namun, ia memilih untuk tidak terlalu mendesak. “Anda perlu istirahat yang cukup, Dokter Hilya. Kerja di rumah sakit ini sudah cukup melelahkan, jangan sampai Anda terlalu keras pada diri sendiri,” kata Dr. Reza dengan nada lembut, mencoba menyampaikan perhatiannya dengan cara yang halus. Hilya mengangguk pelan. “Iya, terima kasih, Dokter Reza. Saya akan coba lebih memperhatikan kesehatan.” Reza tersenyum, namun di dalam hatinya, ia merasa ada jarak yang tidak biasa antara mereka. Selama ini, Reza selalu menikmati percakapan ringan dengan Hilya, namun kali ini ia merasakan ada dinding yang tak terlihat. Ia ingin bertanya lebih jauh, namun ia tahu bahwa Hilya adalah tipe orang yang cukup tertutup soal hal pribadi. “Kalau ada apa-apa, jangan sungkan untuk cerita, ya. Saya ada di sini kalau Dokter Hilya butuh teman bicara,” ujar Reza, mencoba menawarkan dukungan meski dalam batasan yang wajar. Hilya menatap Dr. Reza sejenak, merasa terharu dengan perhatiannya. “Terima kasih, Dr. Reza. Saya benar-benar menghargai itu.” Reza mengangguk, lalu kembali fokus pada makan siangnya. Meski ia berusaha untuk tidak menunjukkan perasaannya, Reza tidak bisa menahan kekhawatiran yang semakin besar dalam dirinya. Ia tahu bahwa Hilya telah melalui banyak hal, dan ia ingin sekali menjadi orang yang bisa mendukungnya. Namun, ia juga menyadari bahwa Hilya adalah sosok yang kuat dan mandiri, dan ia harus menghormati itu. Obrolan mereka berlanjut dengan topik-topik ringan seputar pekerjaan, tetapi pikiran Reza terus tertuju pada Hilya. Dalam hatinya, ia berharap suatu hari nanti bisa lebih dekat dan mengenal Hilya lebih dalam, meskipun ia juga menyadari bahwa perasaannya mungkin harus tetap tersembunyi. Tidak banyak orang di rumah sakit yang tahu tentang pernikahan Hilya, dan Reza pun tidak menyadari bahwa kini Hilya adalah istri seseorang. Sementara itu, Hilya merasakan kehangatan dari perhatian Reza, namun hatinya masih terbelenggu oleh kebingungan yang belum terpecahkan. Hubungannya dengan Arshaka yang baru saja dimulai terasa seperti misteri besar yang harus ia ungkapkan sendiri. Dan dalam kesibukan rumah sakit yang terus berputar, Hilya berusaha menyeimbangkan antara menjalani hidupnya sebagai dokter, dan mencari jawab atas pernikahannya yang penuh dengan ketidakpastian. Pertemuan singkat dengan Reza mungkin memberikan sedikit pelipur lara bagi Hilya, namun di balik senyum hangat dan perbincangan ringan mereka, tersembunyi rasa dan harapan yang tak terucap. Semua terasa kompleks, seolah-olah kehidupan memberikan teka-teki yang belum tentu bisa terjawab dalam waktu dekat. Sementara itu, jauh dari hiruk-pikuk Jakarta, Arshaka bersama timnya tiba di Yaman, negara yang tengah dilanda konflik perang. Matahari yang terik menyambut kedatangan mereka di bandara militer yang dikelilingi oleh pos-pos keamanan bersenjata lengkap. Debu-debu beterbangan, dan suara helikopter berputar-putar di atas kepala, menciptakan suasana yang serba tegang dan tidak menentu. Arshaka, dengan seragam militernya yang rapi dan wajahnya yang tetap dingin, memimpin timnya keluar dari pesawat. Sebagai seorang perwira di pasukan perdamaian dunia, Arshaka sudah terbiasa dengan situasi genting seperti ini. Namun, ada sesuatu yang berbeda kali ini—tanggung jawab baru sebagai seorang suami yang baru ia emban sehari sebelumnya, meski pernikahannya sendiri belum ia pahami sepenuhnya. Mereka berjalan menuju markas sementara, sebuah bangunan sederhana yang dipenuhi peralatan komunikasi dan personel militer dari berbagai negara. Keheningan di dalam bangunan itu terasa berat, hanya sesekali terpecah oleh suara laporan yang terdengar dari radio komunikasi. Arshaka segera melapor kepada komandannya dan menerima briefing singkat mengenai situasi terkini. Konflik yang tengah berlangsung di negara ini melibatkan berbagai pihak, dengan korban sipil yang terus meningkat setiap harinya. “Kapten Arshaka, tim Anda akan bertugas di daerah zona merah dekat perbatasan. Ada laporan tentang kelompok bersenjata yang menyerang desa-desa di sekitar area itu. Tugas utama kalian adalah mengevakuasi warga sipil dan memastikan keamanan di daerah tersebut,” ujar Komandan mereka sambil menunjukkan peta daerah konflik di layar. Arshaka mengangguk tegas. “Siap, Komandan. Kami akan bergerak segera.” Arshaka dan timnya segera bersiap dengan peralatan lengkap, memeriksa senjata dan peralatan komunikasi mereka. Mereka tahu bahwa misi ini tidak akan mudah; setiap langkah bisa berisiko dan berpotensi berbahaya. Meski demikian, Arshaka selalu memastikan timnya bekerja dengan ketelitian dan fokus tinggi. Di matanya, tugas ini adalah panggilan kehormatan yang tidak bisa ia abaikan, terlepas dari apapun yang terjadi di dalam hidup pribadinya. Saat mereka melangkah keluar menuju kendaraan lapis baja yang akan membawa mereka ke lokasi, Arshaka melirik sekilas ke langit yang biru namun diselimuti awan gelap akibat asap dari ledakan yang terjadi beberapa hari sebelumnya. Suara tembakan dan ledakan di kejauhan menjadi pengingat konstan akan bahaya yang mengintai di setiap sudut. Di dalam kendaraan, Arshaka duduk sambil memandangi pemandangan kota yang sudah hancur akibat perang. Gedung-gedung yang dulu megah kini hanya tersisa reruntuhan, jalanan yang biasanya ramai kini lengang dan penuh dengan puing-puing. Kehidupan yang dulu ada di tempat ini seakan lenyap dalam sekejap, digantikan oleh ketakutan dan keputusasaan. “Semua baik-baik saja, Kapten?” tanya Letnan Malik, salah satu rekannya yang duduk di samping Arshaka. Arshaka menoleh, menyadari bahwa ia belum sepenuhnya keluar dari pikirannya sendiri. “Ya, semuanya baik,” jawab Arshaka singkat, meski jauh di dalam dirinya, ada perasaan yang tak sepenuhnya bisa ia abaikan. Pernikahannya dengan perempuan yang tiba-tiba tak dikenalnya bahkan fotonya pun belum pernah ia lihat dan kepergiannya yang mendadak tanpa sempat berkomunikasi lebih jauh, menyisakan rasa sedikit bersalah. Namun, Arshaka tahu bahwa dalam misi seperti ini, ia harus menyingkirkan semua gangguan emosional dan tetap fokus pada tugasnya. Perjalanan menuju zona merah terasa semakin tegang saat mereka mendekati daerah konflik. Suara tembakan terdengar semakin jelas, dan radio komunikasi mulai ramai dengan laporan dari tim lain yang sudah lebih dulu berada di lapangan. Ketegangan terasa di udara, namun Arshaka tetap memimpin dengan tenang. Ia tahu bahwa timnya bergantung pada ketenangannya untuk menghadapi situasi berbahaya ini. Sesampainya di lokasi, mereka langsung dihadapkan dengan pemandangan yang memilukan—warga sipil yang ketakutan, rumah-rumah yang terbakar, dan anak-anak yang menangis mencari perlindungan. Arshaka segera memberikan instruksi kepada timnya untuk memulai evakuasi. Dengan koordinasi yang teratur, mereka berhasil mengevakuasi sejumlah warga ke tempat yang lebih aman, meski ancaman dari kelompok bersenjata masih terasa dekat. Di tengah-tengah misi, Arshaka sesekali menghela napas panjang. Ini adalah dunia yang ia pilih—dunia di mana ia harus menghadapi kekacauan dan risiko demi menjaga perdamaian. Namun, di balik semua ini, ada kehidupan lain yang kini menunggunya, kehidupan yang melibatkan seseorang yang mungkin belum sepenuhnya ia pahami. Dengan setiap langkah di medan konflik, Arshaka menyadari bahwa perjalanan hidupnya kini berada di dua tempat berbeda: satu di medan perang yang nyata, dan satu lagi di medan perasaan yang rumit dan belum terpecahkan. Dan di antara ledakan dan suara senapan, Arshaka hanya bisa berharap bahwa suatu hari nanti, ia akan menemukan cara untuk menyatukan kedua dunia itu. Bersambung....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD