Hari-hari berlalu, dan kehidupan Hilya di rumah sakit kembali berjalan seperti biasa, meski ada satu hal yang berbeda—statusnya sebagai seorang istri. Meski pernikahannya dengan Arshaka masih terasa seperti bayangan samar, Hilya mencoba untuk tidak terlalu memikirkan hal tersebut dan fokus pada pekerjaannya. Menjadi seorang dokter umum di rumah sakit terkenal di Jakarta membuat Hilya selalu sibuk, dan ia berharap kesibukannya bisa menjadi pelarian dari kebingungan yang menghantui benaknya.
Namun, kesibukan itu tidak serta-merta menghapus semua yang Hilya rasakan. Setiap kali ia berhenti sejenak di tengah aktivitasnya, pikirannya sering melayang kembali ke hari pernikahannya yang singkat dan tergesa-gesa. Arshaka yang belum sempat ia kenal, hanya meninggalkan jejak berupa rasa penasaran dan sedikit perih di hati. Belum ada kabar sejak kepergian Arshaka, dan Hilya merasa seperti terombang-ambing di antara perasaan yang ia sendiri tidak sepenuhnya pahami.
Di tengah rutinitas yang melelahkan, Hilya sering kali bertemu dengan Dokter Reza, yang sepertinya selalu punya alasan untuk berada di dekatnya. Reza, dengan pesonanya yang mudah membuat orang nyaman, kerap kali berusaha mendekati Hilya dengan cara yang halus. Ia tidak pernah terang-terangan menunjukkan perasaannya, tetapi perhatian kecilnya dan cara dia memandang Hilya sudah cukup membuat beberapa perawat mulai bergosip pelan tentang kemungkinan hubungan mereka.
Suatu siang, di kantin rumah sakit, Hilya sedang menikmati makan siangnya sendirian saat Reza muncul dan langsung duduk di depannya. Ini sudah menjadi pemandangan yang biasa, dan Hilya tidak lagi terkejut dengan kehadiran Reza yang selalu tepat waktu.
“Dokter Hilya, kamu nggak bosan makan sendirian terus?” tanya Dokter Reza sambil tersenyum, mencoba mencairkan suasana. Sebelumnya, Hilya menyetujui untuk tidak terlalu sopan dengan panggilan Anda dan Saya saat mereka berduaan saja atas permintaan dari Reza.
Hilya menatapnya sebentar lalu tersenyum kecil. “Nggak juga, kok. Aku menikmati waktuku sendiri.”
Reza terkekeh, tidak menyerah. “Kamu ini terlalu sibuk dengan pekerjaan sampai-sampai nggak ada waktu buat bersosialisasi. Kalau terus-terusan gini, nanti bisa sakit, lho.”
Hilya hanya tersenyum, berusaha menutupi kegelisahan yang sering muncul saat Reza mulai bicara seperti ini. Ia tahu bahwa Reza bermaksud baik, tapi Hilya merasa tidak ingin terlalu dekat dengan siapa pun saat ini, terutama karena status pernikahannya yang belum ingin ia ceritakan kepada banyak orang.
“Aku baik-baik saja, Dokter Reza. Lagipula, kita semua sibuk, kan? Kamu juga,” jawab Hilya, mencoba mengalihkan topik.
Reza mengangguk, tetapi tatapan matanya tetap tertuju pada Hilya dengan penuh perhatian. Di antara obrolan ringan mereka, Hilya merasakan ada ketulusan dari Reza yang sulit diabaikan. Reza bukan hanya sekedar rekan kerja yang baik, ia juga seorang teman yang selalu ada di saat Hilya membutuhkan. Namun, di balik sikap Reza yang penuh perhatian itu, Hilya tahu bahwa ada perasaan yang tidak diungkapkan.
Sementara itu, Reza terus berusaha mendekati Hilya dengan berbagai cara. Ia sering mengajak Hilya untuk istirahat sejenak di tengah kesibukan, atau sekadar menawarkan minuman di sore hari saat mereka berdua kebetulan ada di shift yang sama. Reza mencoba menciptakan momen-momen kecil bersama Hilya, meski hanya sekadar untuk melihat Hilya tersenyum atau tertawa.
Namun, Reza juga sadar ada jarak yang Hilya ciptakan di antara mereka. Meskipun Hilya selalu ramah dan sopan, ada dinding yang tak terlihat yang selalu menghalangi Reza untuk masuk lebih jauh ke dalam kehidupan Hilya. Bagi Reza, ini adalah tantangan yang harus ia hadapi dengan kesabaran. Ia tidak ingin memaksa Hilya, dan hanya berharap bahwa suatu hari, Hilya akan membuka dirinya lebih lebar.
Di sisi lain, Hilya sering kali merasa bersalah dengan perhatian yang Reza berikan. Bukan karena ia tidak menyukai Reza, tapi karena ia merasa tidak layak menerima perasaan itu. Hilya yang masih terikat dalam pernikahan dengan Arshaka, meski pernikahan itu terasa seperti hanya ada di atas kertas, merasa tidak adil jika ia memberikan harapan kepada Reza yang diam-diam terus berusaha mendekatinya.
Dalam keheningan kantin yang mulai sepi, Hilya melihat jam tangannya dan menyadari bahwa waktunya hampir habis untuk kembali ke ruang praktik. Ia berdiri, diikuti oleh Reza yang masih menatapnya dengan senyum lembut.
“Dokter Hilya, kalau kamu butuh apa-apa, kamu tahu aku selalu ada di sini, kan?” Reza berkata, menatap Maya dengan penuh harap.
Hilya mengangguk sambil tersenyum kecil. “Aku tahu, Dokter Reza. Terima kasih.”
Hilya meninggalkan kantin dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, ia bersyukur memiliki teman seperti Reza yang selalu ada untuknya, namun di sisi lain, ia merasa semakin terjebak dalam kebingungan tentang hidupnya sendiri. Arshaka masih belum menghubunginya, dan Hilya tidak tahu apakah ia harus menunggu atau melanjutkan hidupnya tanpa melihat ke belakang. Setiap hari terasa seperti teka-teki baru yang harus ia pecahkan sendiri, sementara perasaan Reza yang semakin jelas hanya menambah lapisan pada masalah yang sudah rumit.
*******
Hilya dipanggil ke ruang kantor Kepala Rumah Sakit. Sambil melangkah, ia bertanya-tanya dalam hati ada urusan apa yang membuatnya dipanggil secara mendadak. Setibanya di depan pintu, Hilya mengetuk pelan dan mendengar suara dari dalam yang mempersilakannya masuk.
Saat Hilya membuka pintu, ia langsung melihat Reza yang juga duduk di sana dengan wajah serius. Kepala Rumah Sakit, seorang pria paruh baya dengan rambut yang mulai memutih, duduk di balik meja kerjanya sambil menatap Hilya dan Reza bergantian. Raut wajahnya menunjukkan urgensi, membuat Hilya merasakan ada sesuatu yang penting.
“Silakan duduk, Dokter Hilya,” ujar Kepala Rumah Sakit dengan nada tegas namun ramah.
Hilya duduk di samping Reza, masih belum memahami alasan pertemuan ini. Ia melirik Reza yang hanya membalas dengan senyuman tipis, seolah ingin menenangkan.
“Terima kasih sudah datang, kalian berdua,” Kepala Rumah Sakit memulai. “Saya panggil kalian karena ada misi penting yang membutuhkan bantuan kita. Seperti yang kalian tahu, di beberapa negara saat ini sedang terjadi konflik yang melibatkan banyak korban sipil. Ada permintaan khusus dari lembaga kesehatan internasional untuk mengirimkan tim medis yang memiliki pengalaman atau pelatihan khusus, terutama yang berbasis militer.”
Hilya merasakan jantungnya berdegup lebih kencang. Ia mulai memahami arah pembicaraan ini, dan perasaannya bercampur aduk. Sejak mengikuti pelatihan khusus berbasis militer dua tahun yang lalu, Hilya tidak pernah membayangkan akan benar-benar diterjunkan ke medan konflik. Pelatihan itu berat, tapi ia berhasil menyelesaikannya, membuktikan bahwa ia bisa bertahan dalam situasi ekstrim. Namun sekarang, dengan statusnya yang baru sebagai istri, meski terasa belum sepenuhnya nyata, Hilya ragu apakah ia siap untuk misi ini.
Kepala Rumah Sakit melanjutkan, “Setelah meninjau catatan dan kualifikasi, kami menemukan bahwa kalian berdua—Dr. Hilya dan Dr. Reza—adalah kandidat terbaik untuk misi ini. Saya tahu ini tidak mudah, dan kalian pasti memiliki pertimbangan masing-masing. Tapi ini adalah kesempatan untuk membantu mereka yang benar-benar membutuhkan.”
Reza menoleh ke arah Hilya, dan Hilya bisa melihat keseriusan dalam tatapannya. Reza tampak seolah sudah siap menerima tugas ini, sementara Hilya masih berusaha mencerna semuanya. Dalam hatinya, Hilya bertanya-tanya apakah ini adalah keputusan yang benar, terutama dengan keadaan pribadinya yang belum jelas. Namun, Hilya juga tahu bahwa ini adalah panggilan profesinya—membantu dan menyelamatkan nyawa di mana pun dibutuhkan.
Kepala Rumah Sakit memberikan waktu sejenak bagi Hilya dan Reza untuk berpikir sebelum mengambil keputusan. “Kalian tidak perlu menjawab sekarang. Pikirkan baik-baik. Ini adalah keputusan besar yang akan mempengaruhi kalian secara profesional dan pribadi.”
Reza mengangguk dengan mantap, “Saya siap, Pak. Ini adalah kesempatan yang langka, dan saya merasa terhormat bisa membantu.”
Bersambung....