Langkah Menuju Restu

1051 Words
Hilya menarik napas dalam-dalam. Ada kekhawatiran dalam dirinya, namun di saat yang sama, ia merasa terpanggil. Hilya ingat alasan awal ia memilih profesi ini—untuk berada di garis depan, membantu orang-orang yang tidak bisa membantu diri mereka sendiri. Meski ragu, ia tahu bahwa ini adalah bagian dari sumpah yang ia pegang sebagai dokter. “Saya juga siap, Pak,” akhirnya Hilya berkata dengan suara yang tegas. “Saya akan melakukan yang terbaik.” Kepala Rumah Sakit tersenyum lega mendengar jawaban mereka. “Baik, saya akan mengatur semua yang diperlukan untuk keberangkatan kalian segera. Ini tidak akan mudah, tapi saya yakin dengan kemampuan kalian. Bersiaplah, dan jaga diri baik-baik.” Setelah pertemuan itu selesai, Hilya dan Reza keluar dari ruangan dengan perasaan yang berbeda. Reza tampak bersemangat, sementara Hilya masih tenggelam dalam pikirannya sendiri. Mereka berdua akan berangkat ke zona konflik, dan Hilya tahu bahwa ini adalah misi yang akan mengubah hidupnya, baik sebagai seorang dokter maupun sebagai seorang individu. Di perjalanan menuju ruang praktiknya, Hilya teringat pada Arshaka yang kini berada di tempat yang sama—di tengah konflik yang berbahaya. Pikiran itu membuat Hilya terdiam sejenak. Seandainya Arshaka mengetahui bahwa Hilya akan terlibat dalam misi ini, apa yang akan ia katakan? Hilya tidak tahu apakah mereka akan bertemu di sana atau justru berada di tempat yang berbeda. Namun satu hal yang pasti, langkah ini akan membawanya lebih dekat pada jawaban yang selama ini ia cari tentang hidupnya sendiri. ******* Malam itu, Hilya pulang ke rumah orang tuanya, rumah yang masih menjadi tempat tinggalnya meski sudah berstatus sebagai seorang istri. Sejak pernikahannya dengan Arshaka, Hilya memang belum pernah tinggal di rumah pengantin yang telah disediakan oleh orang tua Arshaka. Alasannya sederhana namun mendalam—ia merasa terlalu kesepian. Rumah itu terlalu besar untuk ditinggali sendiri, dan Hilya merasa belum siap untuk memulai hidup baru di sana tanpa kehadiran suaminya yang belum ia kenal sepenuhnya. Saat jam makan malam tiba, Hilya bergabung dengan ayahnya, Pak Hadi, dan ibu tirinya, Bu Nurul, di meja makan. Suasana makan malam selalu canggung sejak ibu tirinya masuk dalam kehidupan mereka, terutama karena Bu Nurul tidak pernah benar-benar menyukai Hilya. Hilya tahu bahwa ibu tirinya selalu merasa terganggu dengan kehadirannya, terutama karena Hilya lebih cantik dan pintar daripada putri Bu Nurul yang sedang kuliah di luar negeri. Hilya mengambil napas dalam sebelum memulai pembicaraan yang sudah ia rencanakan. “Ayah. Hilya ingin menyampaikan sesuatu yang penting,” kata Hilya dengan nada hati-hati. Pak Hadi menoleh, menatap putri pertamanya dengan raut wajah yang sedikit cemas. “Ada apa, Nak? Kenapa suaranya serius begitu?” “Hilya dapat tugas dari rumah sakit, Ayah. Mereka membutuhkan dokter yang pernah mengikuti pelatihan khusus berbasis militer untuk ditugaskan ke negara konflik,” Hilya menjelaskan sambil mengamati reaksi ayahnya. “Dan Hilya, bersama Dokter Reza, terpilih untuk misi ini.” Pak Hadi terdiam sejenak, memasang ekspresi terkejut. Sementara Bu Nurul langsung menatap Hilya dengan tatapan tajam, seolah-olah menemukan kesempatan untuk memperkeruh suasana. “Kamu serius, Nak?” Pak Hadi bertanya dengan nada khawatir. “Negara konflik itu bukan tempat yang aman. Ini bukan misi biasa. Ayah nggak setuju kalau kamu pergi ke sana, Nak. Ini terlalu berbahaya.” Hilya sudah menduga bahwa ayahnya akan menolak, tapi ia mencoba tetap tenang. “Ayah, ini bagian dari pekerjaan Hilya. Hilya sudah bersumpah untuk membantu orang-orang yang membutuhkan, di mana pun itu. Hilya tahu risikonya, tapi ini adalah kesempatan untuk benar-benar membuat perbedaan.” Pak Hadi menggelengkan kepala, tampak bimbang. Di saat Hilya mencoba membujuk ayahnya, Bu Nurul yang sedari tadi diam tak mau ketinggalan menambahkan bahan bakar pada api keraguan. “Kamu ini bagaimana sih, Hil? Sudah menikah tapi masih saja bertindak sesuka hati. Sekarang mau pergi ke tempat yang berbahaya pula. Apa kamu nggak memikirkan perasaan suamimu? Apa kamu mau membuat malu keluarga kita?” ujar Bu Nurul dengan nada tajam. Hilya menahan diri agar tidak terpancing emosi. “Tante, ini bukan soal ingin bertindak sesuka hati. Ini soal kewajiban saya sebagai dokter. Dan tentang Arshaka, saya akan memberitahunya jika ada kesempatan. Tapi ini adalah keputusan saya, dan saya ingin Ayah mendukung saya.” Pak Hadi terlihat semakin gelisah. Bu Nurul melanjutkan, “Arshaka itu tentara, sudah biasa dengan bahaya. Tapi kamu? Apa kamu yakin bisa bertahan di sana? Jangan sampai kamu malah jadi beban buat yang lain!” Hilya menghela napas panjang, berusaha tetap tenang meskipun hatinya mulai panas. Dia tahu ibu tirinya selalu mencari alasan untuk menjatuhkan dirinya, tapi kali ini Hilya tidak ingin mundur. Pak Hadi akhirnya berbicara, dengan nada yang lebih tenang namun tegas. “Nak, Ayah paham kalau ini penting buat kamu, tapi Ayah nggak mau kamu pergi tanpa ada restu dari keluarga Arshaka. Kalau kamu memang ingin pergi, kamu harus minta izin dari orang tua Arshaka juga. Ayah nggak akan tenang kalau kamu pergi tanpa persetujuan mereka.” Hilya terdiam sejenak, menyadari betapa sulitnya meyakinkan ayahnya. Namun, ia juga tahu bahwa permintaan Ayahnya masuk akal. Restu dari orang tua Arshaka bukan hanya soal izin formal, tapi juga tentang menghormati keluarga yang kini sudah menjadi bagian dari hidupnya. “Baik, Ayah,” Hilya akhirnya menyetujui. “Hilya akan bicara dengan orang tua Arshaka. Hilya harap mereka mengerti dan mendukung keputusan Hilya.” Pak Hadi mengangguk, meski masih terlihat ada keraguan di wajahnya. “Ayah cuma mau yang terbaik buat kamu, Nak. Kita hanya ingin kamu aman.” Hilya tersenyum tipis. Meski sulit, ia menghargai kekhawatiran ayahnya. Dan ia tahu, langkah berikutnya adalah yang paling sulit—bertemu dengan orang tua Arshaka dan meminta izin mereka. Hilya sadar, ini bukan hanya tentang menjalani tugas sebagai dokter, tapi juga tentang menghormati ikatan yang belum sempat ia bangun sepenuhnya dengan keluarga suaminya. Hilya kembali ke kamarnya malam itu dengan pikiran yang bercampur aduk. Ia tahu bahwa tugas ini adalah panggilan hatinya, namun ia juga tidak ingin mengabaikan tanggung jawabnya sebagai istri. Dalam hatinya, Hilya berharap Arshaka bisa memahami dan mendukung pilihannya, meski mereka belum sempat bertemu dan berbicara layaknya pasangan suami istri. Keputusan ini bukan hanya miliknya, tapi juga bagian dari hidup yang kini harus ia bagi dengan orang lain. Dengan tekad yang kuat, Hilya berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menyerah. Ia akan berbicara dengan orang tua Arshaka, dan apapun yang terjadi, Hilya siap menghadapi semuanya demi menjalani tugas yang menurutnya adalah panggilan tertinggi dalam hidupnya sebagai seorang dokter. Bersambung....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD