Keesokan harinya, Hilya memulai hari dengan rasa campur aduk. Setelah berjuang melawan ketidakpastian dan berbagai tantangan emosional kemarin malam, Hilya memutuskan untuk mengunjungi rumah orang tua Arshaka. Ini adalah langkah penting dalam proses meminta restu untuk tugasnya yang akan datang, dan Hilya ingin melakukannya dengan baik.
Hilya mengemasi semua barang yang diperlukan, berpakaian dengan sopan dan rapi, serta menyiapkan diri untuk menghadapi orang tua Arshaka dengan penuh rasa hormat. Setelah menghubungi mereka sebelumnya dan memberitahukan kedatangannya, Hilya meninggalkan rumah orang tuanya dan menuju ke rumah mertuanya yang terletak tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya. Tak lupa ia singgah di toko kue untuk membeli buah tangan untuk mertuanya.
Setibanya di rumah orang tua Arshaka, Hilya disambut dengan hangat oleh mereka. Rumah tersebut tampak megah dan nyaman, dengan dekorasi yang mencerminkan kehangatan keluarga dan status mereka. Hilya merasa sedikit canggung saat melangkah masuk, namun senyuman ramah di wajah orang tua Arshaka segera menghapuskan sebagian besar kecemasannya.
Mamanya Arshaka, Bu Nabila, yang merupakan wanita paruh baya dengan wajah lembut dan ramah, menyambut Hilya dengan pelukan hangat. “Ah, Nak Hilya! Kami sangat senang akhirnya kamu bisa datang berkunjung. Kami sudah lama ingin bertemu denganmu.”
Hilya tersenyum dan membalas pelukan itu dengan rasa hangat. “Terima kasih, Tante Nabila. Saya juga senang bisa akhirnya datang ke sini.”
Bu Nabila merasa keberatan dengan panggilan Hilya terhadapnya. “Kok tante sih? Panggil mama ya seperti Shaka.”
Hilya tersenyum canggung. “Baik, ma”
Bu Nabila sangat senang akan panggilan dari menantunya itu.
Sementara itu, Papanya Arshaka, Pak Hendra, dengan postur tubuh tegap dan wajah yang menunjukkan sikap bijaksana, mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. “Selamat datang, Nak Hilya. Kami sudah mendengar banyak tentangmu. Ini adalah kesempatan yang bagus untuk kita saling mengenal lebih baik.”
Hilya berjabat tangan dengan Pak Hendra, merasa sedikit lebih tenang setelah sambutan hangat dari orang tua Arshaka. Mereka mempersilakannya duduk di ruang tamu yang nyaman, sambil menawarkan minuman dan camilan.
Setelah beberapa saat berbincang santai dan saling bertukar kabar, Hilya memutuskan untuk mengungkapkan maksud kedatangannya. Ia merasa ini adalah waktu yang tepat untuk membahas tugas yang dihadapinya dan meminta restu dari orang tua Arshaka.
“Sebenarnya, ada sesuatu yang ingin saya bicarakan dengan Mama dan Papa,” kata Hilya, menatap mereka dengan serius namun penuh hormat. “Saya baru-baru ini menerima tugas dari rumah sakit untuk terlibat dalam misi medis ke negara konflik. Ini adalah kesempatan yang penting untuk membantu banyak orang yang membutuhkan bantuan.”
Bu Nabila menatap Hilya dengan mata penuh perhatian, sementara Pak Hendra menunjukkan ekspresi yang serius. “Misi medis di negara konflik?” tanya Pak Hendra, tampak mempertimbangkan informasi itu dengan cermat.
“Ya, Pa. Saya dan Dr. Reza, rekan kerja saya, dipilih karena kami memiliki pelatihan khusus berbasis militer yang diperlukan untuk misi ini,” jelas Hilya dengan sabar. “Namun, sebelum saya dapat melanjutkan, saya perlu mendapatkan izin dari Mama dan Papa, sebagai orang tua Mas Shaka.”
Bu Nabila menghela napas, tampaknya sedang memikirkan hal ini dengan serius. “Kami mengerti betapa pentingnya pekerjaanmu, Nak Hilya. Tapi ini adalah misi yang sangat berbahaya. Kami tahu betapa sulitnya hal ini, apalagi kamu baru saja menikah dengan Shaka. Kami khawatir tentang keselamatanmu.”
Pak Hendra mengangguk setuju. “Kami memang telah mendengar tentang pekerjaan dan dedikasi kamu sebagai dokter. Ini adalah keputusan yang tidak mudah. Kami ingin memastikan bahwa kamu benar-benar siap dan memahami risiko yang ada.”
Hilya menatap mereka dengan penuh harapan, “Saya memahami risiko yang ada, Pa. Namun, ini adalah bagian dari tanggung jawab saya sebagai seorang dokter. Saya percaya bahwa misi ini adalah kesempatan untuk memberikan kontribusi yang berarti. Dan saya akan selalu berusaha menjaga keselamatan diri saya dengan sebaik mungkin.”
Bu Nabila dan Pak Hendra saling bertukar pandang, seolah mencari keputusan bersama. Hilya merasa jantungnya berdegup kencang menunggu jawaban mereka. Akhirnya, Pak Hendra mengangguk perlahan, menatap Hilya dengan tatapan penuh pengertian.
“Kami menghargai komitmen dan dedikasi kamu, Nak Hilya,” kata Pak Hendra dengan suara yang tegas namun lembut. “Kami ingin kamu aman dan berhasil dalam misi ini. Kami memberikan restu kami, dengan harapan kamu selalu berhati-hati dan menjaga keselamatan.”
Bu Nabila juga menambahkan dengan nada lembut, “Kami akan selalu mendukung keputusan kamu selama kamu merasa ini adalah hal yang benar untuk dilakukan. Tapi ingatlah, kamu selalu punya keluarga di sini yang peduli dan mendoakan keselamatanmu.”
Hilya merasa lega dan sangat bersyukur mendengar keputusan mereka. “Terima kasih banyak, Ma, Pa. Saya sangat menghargai dukungan dan restu kalian. Saya akan memastikan untuk selalu menjaga keselamatan dan menghubungi kalian secara berkala.”
Dengan restu dari orang tua Arshaka, Hilya merasa lebih siap dan tenang untuk melanjutkan langkah berikutnya. Setelah perbincangan itu, mereka melanjutkan makan siang bersama dengan suasana yang lebih hangat dan penuh kekeluargaan. Hilya merasa semakin terhubung dengan keluarga suaminya, meski masih banyak yang harus ia kenal dan pahami.
Setelah mengucapkan selamat tinggal, Hilya meninggalkan rumah orang tua Arshaka dengan perasaan lega dan siap menghadapi tantangan yang akan datang. Ia tahu bahwa dukungan mereka adalah hal yang sangat penting dalam perjalanan ini, dan ia bertekad untuk menjalani misi ini dengan sepenuh hati.
********
Di Yaman, negara yang dilanda konflik perang, Arshaka dan timnya bekerja tanpa henti di tengah kekacauan yang melanda. Kegiatan mereka berfokus pada penyelamatan warga sipil yang terjebak dalam zona konflik, berusaha memberikan bantuan medis dan perlindungan yang sangat dibutuhkan. Setiap hari adalah perjuangan untuk bertahan hidup, dan setiap menit membawa risiko baru.
Arshaka, dengan pelatihan dan pengalaman militer yang dimilikinya, memimpin timnya dengan keberanian dan keterampilan yang luar biasa. Ia dikenal sebagai sosok yang tenang dan tegas di lapangan, menghadapi situasi yang sangat berbahaya dengan ketenangan yang mengagumkan.
Pada suatu hari, saat matahari terbenam di cakrawala yang memerah akibat asap dan debu, Arshaka dan timnya menemukan sebuah desa kecil yang hancur akibat serangan. Rumah-rumah yang hancur dan jalanan yang penuh puing-puing menunjukkan betapa parahnya kerusakan yang terjadi. Para warga sipil yang selamat terlihat terluka dan kelelahan, dan beberapa di antaranya terlihat sangat membutuhkan pertolongan medis segera.
“Tim, kita harus bergerak cepat,” Arshaka memerintahkan sambil mengarahkan timnya ke lokasi yang membutuhkan bantuan. “Kita harus memeriksa setiap korban dan memberikan bantuan yang diperlukan.”
Arshaka dan rekan-rekannya mulai bekerja dengan sigap, memberikan perawatan pertama kepada korban yang terluka, mendirikan pos medis sementara, dan memastikan bahwa semua orang yang terlibat mendapatkan perhatian yang mereka butuhkan. Beberapa warga sipil yang terjebak di reruntuhan dibantu keluar dengan hati-hati, dan Arshaka memastikan bahwa mereka mendapatkan perawatan medis secepat mungkin.
Di tengah-tengah kekacauan tersebut, Arshaka mendapati seorang anak kecil yang terbaring di antara puing-puing. Anak itu tampak sangat ketakutan dan terluka. Arshaka bergegas mendekat, hati terasa tertekan melihat penderitaan anak tersebut.
“Jangan khawatir, Nak,” kata Arshaka dengan lembut saat ia memeriksa luka anak itu. “Kami di sini untuk membantu.”
Saat Arshaka memberikan perawatan kepada anak tersebut, salah satu rekannya, Jaka, melaporkan situasi terkini kepada Arshaka.
“Kita membutuhkan lebih banyak bantuan medis. Beberapa dari mereka butuh evakuasi segera, dan kita sudah kehabisan persediaan obat-obatan.”
Arshaka mengangguk, mengerti bahwa situasinya semakin mendesak. Ia segera berkoordinasi dengan markas dan meminta bantuan tambahan, sambil terus memberikan perawatan kepada para korban yang ada. Setiap menit terasa seperti waktu yang terbuang, dan Arshaka tahu bahwa mereka harus bergerak cepat untuk menyelamatkan sebanyak mungkin nyawa.
Sementara itu, suasana di markas menjadi semakin tegang. Dengan komunikasi yang terbatas dan sumber daya yang semakin menipis, tim medis dan militer berjuang keras untuk mengatasi keadaan. Hilya, yang telah memulai pelatihan intensif dan persiapan untuk keberangkatannya ke zona konflik, mengikuti berita perkembangan situasi dari jauh, merasa cemas dan khawatir tentang keselamatan tim dan warga sipil.
Bersambung.....