Kiara mulai membuka matanya saat matahari pagi mulai menyusup melalui celah-celah jendela kamar tempat ia terbaring sekarang. Sambil mengerjapkan matanya, dia melihat sekelilingnya. Yang dia tahu, ini sebuah kamar. Meskipun di dalam ruangan ini hanya ada satu ranjang dengan kasur tipis, satu meja kecil usang dan satu pot berisi bunga putih segar. Di sisi kiri ranjang ada jendela kecil. Dan tidak jauh dari situ ada daun pintu yang sedikit terbuka.
Kiara membuka jendela membiarkan angin segar masuk ke dalam ruangan itu. Dia melihat rumah-rumah yang berjejer dari balik jendela. Semuanya bergaya eropa kuno.
"Jadi Aku masih di tempat aneh ini." Dia hanya diam menikmati pagi, seakan belum sadar sepenuhnya dengan keadaan di sekitarnya.
"huuufttttttt"
Terdengar helaan nafas kiara yang dalam dan berat. Dia masih tetap diam. Tiba tiba sebulir kristal bening mengalir dari sudut matanya. Dia mulai terisak
“Aku lelah! Tempat apa ini sebenarnya. Bagaimana caranya Aku pulang?”Kiara berkata pelan disela isakannya.
“Gara gara kalung sekecil itu, sekarang Aku berada dalam masalah besar.” Tiba-tiba Kiara terkesiap kaget.
"Ah,,, KALUNGNYA. Dimana kalungnya. Seingatku semalam Aku menggenggam erat kalung dan handphoneku.” Tapi sekarang kedua benda itu tidak ada. Di meja dan di kasur pun tak ada.
"Tunggu!! Ini rumah siapa? Kenapa Aku bisa ada di sini? Semalam kan Aku pingsan di padang rumput?" Kiara semakin panik.
"Kenapa pagi pagi Kamu sudah ribut nona? Aku masih mengantuk." Laki-laki berperawakan tinggi besar tiba-tiba keluar dari balik pintu kamar. Mata coklatnya terlihat masih sangat mengantuk.
"Ka..kau siapa?" Tanya Kiara agak terbata.
"Kamu tidak ingat? Aku yang menolongmu semalam. Kamu tergeletak di luar perbatasan."
"ahh, begitu.. Te.. Terima kasih." Ucap Kiara sambil memaksakan diri untuk tersenyum. Dia bukan orang yang cepat “nyaman” dengan orang asing. Apalagi disituasi yang seperti ini. Meski orang yang ada dihadapannya sekarang ini tidak terlihat seperti orang jahat.
"ehm maaf, tapi apa Kamu melihat kalung dan handphone ku? Semalam Aku masih memegangnya tapi sekarang sudah tak ada." Tanya Kiara dengan sopan.
"Aku tidak melihat barang apapun. Mungkin terjatuh saat Kamu pingsan." Jawabnya acuh.
“Bagaimana ini? Kalung itu satu-satunya petunjuk yang bisa membawaku pulang.” Kiara mulai kebingungan. Itu satu-satunya petunjuk untuk bisa keluar dari tempat aneh ini.
"Tapi, apa Kamu bisa mengantarku ke tempatku semalam? Aku sangat membutuhkan barang-barangku itu." Kata Kiara dengan tampang memelas.
"Baiklah ayo." Dia langsung beranjak keluar, Kiara mengikutinya dari belakang.
"Semoga saja bisa ketemu." Ucap Kiara.
"Tenang saja nona, jarang ada orang yang pergi ke luar perbatasan, apalagi sepagi ini. Jadi barangmu pasti masih ada di sana." Jawab lelaki itu.
Sampai di depan rumah, Kiara tidak melihat kendaraan apapun. Ya memang tidak mungkin ada mobil disana, tapi setidaknya ada kuda atau apalah.
"ehmm,, apa Kita mau jalan kaki kesana?" Tanya Kiara.
"Tentu saja tidak, tempatnya agak jauh. Melelahkan kalau berjalan kaki." Kata lelaki itu sambil tersenyum simpul.
"Terus? Kita naik apa? " Tanya Kiara sambil celingak-celinguk mencari "kendaraan". Lelaki itu menatap Kiara keheranan.
"Kenapa? Apa Kamu terluka sampai tidak bisa terbang?" Tanyanya yang semakin membuat Kiara tak mengerti.
"Terbang?" Tanya Kiara bingung. Apa lagi yang dia maksud? Apa mau naik helikopter?
Lelaki itu hanya geleng-geleng kepala menanggapi pertanyaan Kiara. Mungkin menurutnya Kiara sedang bercanda.
Lalu sesuatu muncul dari balik punggungnya. Warnanya cokelat muda bercampur sedikit warna hijau tosca dan kuning, membentuk corak yang indah. Bentuknya seperti sayap peri di buku-buku dongeng. Kemudian dia.........
TERBANG !
Dia benar-benar terbang!! Apalagi ini?!
“Cowok bermata coklat itu terbang? Bukan pakai pesawat atau super jet. Tapi pakai sayap! kalian dengar? S.A.Y.A.P!”
“SAYAP!!!” Kiara terlihat shock.
Di kerjapkannya matanya berkali-kali berharap ada yang salah dengan penglihatannya. Tapi nihil. Lelaki itu bener bener "terbang" dengan sayap cokelatnya yang menawan.
Oh God? Sebenarnya Aku terdampar di dunia Mu yang sebelah mana?
Rupanya lelaki tegap yang sedang melayang di depan Kiara itu juga tidak kalah bingung dengan reaksi Kiara saat melihatnya melayang. Dia kembali turun ke tanah dan menghampiri Kiara. Sayapnya masih bertenger cantik di belakang punggungnya.
"Apa Kamu manusia?" Tanyanya dengan tatapan menyelidik.
Kiara hanya diam tak menyahut. Dia masih terkejut melihat ada orang yang bisa terbang.
"Hei, Aku bertanya padamu. Apa Kamu manusia? atau Iblis? Kenapa diam saja?" Kali ini matanya sedikit lebih lembut.
"Tentu saja Aku manusia, memangnya Aku kelihatan seperti Iblis apa?" Jawab Kiara sewot.
"Ahh, maaf. Aku baru pertama kali melihat manusia, jadi aku tidak tahu. Aku selalu membayangkan manusia itu bertubuh kecil dengan kaki pendek dan rambut kasar. Karena di-buku buku dongeng manusia selalu di gambarkan seperti itu. Tapi ternyata Kamu tidak jauh berbeda dengan Kami." Dia berkata dengan penuh senyum seolah sedang menceritakan pengalaman lucu. Padahal bagi Kiara ini sama sekali tidak LUCU!
"Apa maksudmu Kamu baru pertama kali melihat manusia? " tanya Kiara setelah dapat menguasai diri.
"Iya. Karena di sini tidak ada manusia. Jadi ya, Kamu ini yang pertama Aku lihat. Yang sering bertemu dengan manusia cuma Pangeran. Karena dia pemegang kunci." jawabnya masih dengan nada "enteng" seolah yang di katakannya adalah hal biasa. Sekarang tanda tanya didalam kepala Kiara makin banyak.
"Terus, Kamu itu apa kalau bukan manusia?" Tanya Kiara.
"Aku? Peri. Kamu tahu peri kan? Kamu kan sudah lihat sayapku. Setahuku manusia tidak ada yang punya sayap kan?" Jawabnya lancar masih dengan nada enteng. Kepala Kiara berdenyut-denyut tak karuan. Semua ini membuatnya pusing.
"Bisakah Kamu beritahu tempat apa ini? Kenapa semua yang ada disini tidak masuk akal bagiku." Tanya Kiara dengan penuh putus asa.
"Disini? Ini dunia peri. Tepatnya di depan rumahku. Ini bukan duniamu, tentu saja Kamu bingung. Manusia tidak seharusnya ada disini. Kecuali Kamu ini pemegang kunci sama seperti pangeran. Untung Kamu bertemu peri yang baik hati sepertiku. Kalau tidak mungkin sekarang Kamu sudah mati." Jawabnya dengan senyum jahil. Dia terlihat sangat menikmati setiap ekspresi yang dibuat Kiara. So cute.
"Ah, katanya Kamu mau mencari sesuatu yang hilang?" Tanya lelaki bermata coklat itu menyadarkan Kiara. Semua ketegangan ini membuatnya lupa kalau dia harus menemukan kunci dan handphonenya.
"Ah iya, ayo kita pergi. Ehm.. bagaimana Aku bisa memanggilmu?" Kiara merasa beberapa waktu ke depan dia akan sangat membutuhkan orang baik ini. ups, tepatnya PERI baik ini.
"Veon. Kalau namamu?"
"Kiara." Jawabnya tersenyum.
"Ayo sini." Kata Veon kemudian sambil mencoba memeluk Kiara.
"Apa yang mau Kamu lakukan?" Kiara langsung mundur beberapa langkah menghindarinya.
"Heh manusia. Kamu pasti berpikir yang tidak-tidak kan? Aku mau menggendongmu, Kamu kan tidak bisa terbang. Bagaimana cara kita ke perbatasan kalau Kamu tidak ku gendong? Terlalu jauh kalau mau jalan kaki." Tutur Veon panjang lebar dengan sebal.
"Oh." hanya itu kata yang keluar dari mulut Kiara. Dia malu setengah mati karena telah berpikir yang tidak-tidak pada Veon.
"Ayo cepat, keburu siang, nanti barang-barangmu bisa hilang." Kiara tidak berkata apa apa, hanya mendekat kepada Veon.
Veon merengkuh Kiara ke dalam pelukannya -kedalam gendongan tepatnya-. Tangan kirinya menopang bahu Kiara, tangan kanannya menopang kakinya. Lalu dia mulai mengepakkan kedua sayap coklatnya yang cantik. Dan merekapun terbang. Semakin lama semakin tinggi. Tubuh Kiara gemetar, dia takut berada di ketinggian tanpa pengaman apapun.
"Kalau takut pegangan padaku." Veon berkata sambil menatap Kiara. posisi ini membuat wajah mereka sangat dekat. Wajah Veon yang tampan terlihat semakin tegas dari dekat. Dia benar benar mempesona. rahangnya yang kokoh, bibirnya yang tipis memerah begitu serasi dengan kulit coklatnya. Mata dan rambut coklatnya lebih menegaskan ketampanannya. Hidungnya juga sangat sempurna. Dia seperti patung pahatan karya seniman handal. Benar-benar sempurna. Apa semua peri setampan ini ya?
Kiara lalu melingkarkan tangannya di leher Veon. Jantung Kiara berdetak semakin cepat. Matanya sedikitpun tidak dapat beralih dari wajah tampan Veon. Ketakutannya akan ketinggian hilang sudah. Seakan terhipnotis oleh mata coklat nan indah milik Veon.
"Kenapa menatapku terus manusia? Belum pernah lihat pria tampan ya?" Veon berkata sambil tersenyum jahil. Benar benar memikat.
"Eh? Apa maksudmu? Aku tidak memandangimu." Jawab Kiara mengelak.
"Kalau Kamu bersikap begitu, malah lebih kelihatan kalau Kamu sedang salah tingkah manusia." Veon berkata penuh percaya diri.
"Hei!! Kenapa Kamu terus memanggilku manusia, manusia, Kamu kan sudah tahu namaku, KIARA." Kiara sengaja menggerutu untuk menutupi kegugupannya.
Veon hanya tersenyum mendengar protes Kiara. Andai saja Veon tahu setiap dia tersenyum jantung Kiara bekerja tiga kali lebih cepat dari seharusnya.
Veon melambatkan kepakan sayapnya dan mulai turun ke tanah. "Semalam aku menemukanmu di sekitar sini. mungkin barang barangmu terjatuh disini. Cari saja." Kata Veon sambil menurunkan Kiara dari dekapannya. Kiara sedikit enggan untuk menjauh darinya. Ketampanan Veon sudah membius Kiara dengan sempurna
"Seperti apa barangmu biar Aku bantu mencari." Kata veon.
"Sebuah kalung dengan liontin bintang. Yang satu lagi benda kotak tipis berwarna putih." Kiara yakin kalau Veon tidak akan mengerti kalau dia menyebut kata “handphone”.
Tak perlu waktu lama, Kiara melihat benda berkilat-kilat tertimpa cahaya matahari. Dia yakin itu pasti handphone miliknya. Kiara langsung menghampirinya. Dan benar saja, kalung dan handphonenya tergeletak cantik diantara rerumputan. Sungguh berbeda dengan di dunia manusia. Coba saja taruh HP di jalan. Tidak perlu semalaman. Lima menit saja pasti sudah hilang entah kemana.
"Veon, sudah ketemu nih." Kata Kiara sambil menunjukkan barang-barangnya yang ditemukan.
"Baguslah. Ayo kembali ke rumah."
Veon kembali merengkuh Kiara ke dalam pelukannya dan terbang kembali ke rumah. Debar debar aneh itu kembali menyerang d**a Kiara.
Mereka sampai di gerbang desa. Veon menurunkan Kiara di luar pagar. Kota peri itu sudah mulai ramai dengan aktifitas masing masing penduduknya.
"Dari sini kita jalan saja ya, bisa gawat kalau ada yang tahu kamu ini manusia. Bersikaplah biasa, peri juga biasa jalan kaki kok. Cobalah membaur senatural mungkin." Veon terlihat sangat bijaksana dan dewasa. Semua yang dilakukannya penuh perhitungan.
"Tapi... Bagaimana dengan bajuku? Apa peri juga ada yang pakai seragam sekolah seperti ini?" Tanya Kiara.
Veon lalu melepas rompi luar bajunya dan memakaikannya pada Kiara. Dan Kiara semakin dibuat salah tingkah dengan perlakuan Veon.
"Sementara pakai ini dulu. Cukup untuk menyamarkan pakaianmu." Kata Veon lembut.
Mereka berjalan santai menuju rumah Veon. Sepanjang perjalanan banyak orang yang berjualan. Di dekat gerbang memang digunakan sebagai pasar. Semua yang mereka butuhkan dijual disini. Veon berhenti di depan sebuah toko, tanpa berkata apa-apa, dia langsung menarik Kiara kedalam.
"Hei, apa yang kau lakukan?” Tanya Kiara panik.
"Kamu butuh pakaian kan? Kita beli disini. Ayo pilih mana yang kamu suka." Kiara melihat sekeliling toko. Semuanya pakaian wanita. Dan modelnya semua seperti pakaian lady abad pertengahan. Memang gaun gaun itu sangat cantik, tapi pasti sangat ribet memakainya.
"psstt psstt sini." Kiara memanggil Veon dengan suara sepelan mungkin.
"Apa?" jawab Veon tak kalah pelan.
"Kenapa pakaiannya semua seperti ini? Apa kalian bisa terbang dengan baju ribet begini?" Kiara bertanya masih dengan bisikan agar percakapan mereka tidak di dengar oleh yang lain.
"Tentu saja tidak, ini semua baju pesta." Veon lalu tertawa lebar merasa berhasil mengerjai Kiara.
“Hahhh!!! benar benar menyebalkan!” Kiara tak habis pikir dengan kejahilan Veon.
Mereka melanjutkan perjalanan. Kiara masih sebal dengan tingkah Veon tadi. Namun Veon dengan senangnya tertawa riang melihat ekspresi Kiara.
"Itu ada toko pakaian, ayo kesana." Kata Veon setelah dapat menghentikan tawa senangnya.
"Mau mengerjaiku lagi?" Kiara menatapnya dengan tatapan "membunuh".
"Kali ini serius, ayo masuk." Veon kembali ke pribadinya yang dewasa. Kiara mengekorinya masuk ke toko. Di toko ini sangat lengkap, dari pakaian balita sampai kakek nenek ada. Bahkan pakaian dalam juga ada. Kiara mengambil beberapa yang terlihat ringan dan nyaman di pakai. Veon lalu membayar pada yang punya toko dengan... BATU???
“Dia membayar dengan batu? Apa apaan itu? Apa disini batu berfungsi seperti uang? Wahhh, aku bisa kaya mendadak disini.” Pikir Kiara heran.
Sisa perjalanan mereka habiskan dalam diam. Perjalanannya cukup jauh, semakin kesini sudah tidak ada lagi toko-toko berjajar, hanya ada rumah-rumah penduduk.
"Lelah ya? Tenang sebentar lagi juga sampai rumah." Kata Veon memecah hening. Veon benar-benar tahu bagaimana cara memperlakukan wanita. Kiara hanya tersenyum menanggapi kata-katanya.
Semua rumah disini hampir sama. Model bangunan eropa kuno, dengan batu alam asli dan tidak ada satupun yang di cat. Atapnya juga dari batu, entah bagaimana mereka membangunnya. Veon berbelok di depan rumahnya. Lalu dia mempersilahkan Kiara masuk dan meninggalkannya di ruang tamu. Saat kembali dia membawa nampan berisi minuman dan cemilan untuk mereka berdua. Benar benar pengertian.
"Ini makanlah, laparkan?" Veon mempersilahkan.
"Iya, terima kasih." Kiara menyeruput minuman yang diberikan kepadanya.
"Aku ada urusan sebentar. Aku tinggal sendiri tidak apa apakan? Kamu tidur saja. Anggap rumah sendiri." Kiara hanya menatapnya. Menunggu Veon melanjutkan kata-katanya.
"Jangan bukakan pintu pada siapapun. Bahaya kalau ada yang tahu keberadaan manusia disini. Aku akan bawa kunci jadi Aku bisa masuk tanpa mengetuk pintu. Kamu mengerti kan?" Kiara hanya mengangguk yakin tanpa menanyakan apapun padanya.
Veon langsung melangkah keluar dan terbang menjauh. Kiara menutup pintu lalu menguncinya.
Sendirian di rumah itu, Kiara mulai merasa takut.
“Kenapa Aku semudah itu percaya dengan orang yang baru ku kenal. Ah, bahkan dia bukan orang. Bagaimana jika dia berniat jahat padaku? Bagaimana kalau sekarang dia sedang melaporkan keberadaanku pada pemerintahan dunia peri? Apa Aku akan di penjara? Atau bahkan di bunuh?”
“Ahhhh nggak tahu ah!!” Pikiran Kiara kacau...
***********
-to be conitune-