THE QUENN?

2403 Words
“Apa yang terjadi? Kenapa liontin itu bisa bereaksi ditangan Kiara? Bukankah seharusnya hanya pemegang kunci yang bisa menggunakan benda itu? Meskipun hanya sedetik tapi Aku dapat melihatnya dengan jelas. Cahaya putih keluar dari dalam liontin. Itu menandakan gerbang antar dunia terbuka. Bagaimana hal ini bisa terjadi?” Daniel bergumam sendirian. “Aku harus menanyakan hal ini pada Ayah.” Daniel langsung berlari meninggalkan lapangan basket. Dia tidak peduli lagi pada pertandingan. Hal ini jauh lebih penting dari sekedar pertandingan antar sekolah. Semua orang di lapangan itu di buat kebingungan dengan kepergian Daniel. Terutama Sarah. Yang notabene mulai naksir sama Daniel yang menurut Kiara super jutek itu. Daniel terus berlari walau anak-anak terus berteriak memanggilnya. "Eh ra, itu Daniel kenapa sih. Kok seperti baru lihat setan aja larinya sampai begitu." Sarah yang belum sadar kalau Kiara sudah tidak ada di sampingnya terus mengoceh sambil matanya terus menatap Daniel sampai menghilang di gerbang sekolah. "Ra, elo kok diem a... Lho? ra? Kiara? elo dimana sih?" Sarah celingak-celinguk mencari sosok sahabatnya yang tiba tiba "raib" dari sisinya. Vani pun ikut mencari sosok Kiara yang menghilang tiba tiba. "Hilang kemana sih tu anak." Vani yang mulai putus asa karena tak menemukan Kiara di kerumunan orang itu mulai mengeluh sebal. "Kita cari ke sekitar sekolah yuk, Kiara nggak biasanya ngilang tanpa kabar begini. Mungkin ada sesuatu yang terjadi." kata Sarah. Kedua sahabat itupun mencari Kiara di seluruh bagian sekolah. Mereka sudah berputar-putar tapi hasilnya nihil. Handphonenya pun tidak aktif. Putus asa, mereka mencoba menelepon ke rumah kiara. Siapa tahu dia sudah di rumah. Tapi hasilnya pun sama. Nihil. "Kita cari ke tempat-tempat nongkrong kita yuk, kali aja Kiara kesana." Sarah mulai terlihat khawatir karena hari sudah beranjak sore. Mereka berdua paham betul, Kiara tidak bisa bernafas kalau gelap.   ************     "Ibu, Ayah dimana?" Teriak Daniel begitu dia sampai dirumah. “Kenapa disaat seperti ini Ayah tidak ada di rumah.” Kata Daniel frustasi. Ayah Daniel pasti tahu tentang keanehan ini. Karena Ayah Daniel adalah pemegang kunci sebelumnya. Jadi dia lebih pengalaman. Kemampuan ini di wariskan turun temurun dari leluhur mereka. Setiap anak pertama di keluarga itu pasti mewarisi kemampuan untuk membuka gerbang antar dunia. Saat usia mereka menginjak sepuluh tahun, mereka mulai di ajari apa saja yang harus  dilakukan sebagai pemegang kunci. Sampai akhirnya mereka dirasa mampu menjalankan tugas sendiri. Sudah lebih dari lima tahun Daniel menjadi pemegang kunci. Tapi baru kali ini ada hal yang di luar aturan. Selama ini begitu damai. Karena perang antar dunia sudah lama berakhir. Tugasnya hanya sesekali mampir ke dunia peri atau dunia kegelapan untuk sekedar berbincang dengan pemegang kunci dari dunia yang lain. "Ibu? Ayah?" Daniel berteriak memanggil orang tuanya.  “Kenapa sepi sekali, kemana Ayah dan Ibu?” Daniel melangkahkan kakinya ke dapur. Ibunya selalu menempelkan pesan di kulkas jika mereka pergi mendadak tanpa memberi tahu sebelumnya. P.S. Daniel sayang, ayah dan ibu pergi menemani adikmu. Hari ini pertunjukan ballet pertama Jean. Untuk makan siang, kamu bisa buat omelet sendiri kan. Nanti kami kembali sore. Sebuah Post Script tertempel dipintu kulkas. “ahhh, kenapa harus di saat seperti ini mereka pergi!” Kemudia Daniel dengan tergesa menelepon Ayahnya. tuut.... tuut... tuut.... “Ayo cepat angkat Ayah. Temanku mungkin dalam bahaya sekarang.” Gumam Daniel. "tuut.. tuut... Halo?" "Ayah cepat kembali, ada hal penting yang terjadi!" Kata Daniel begitu telepon tersambung. "Ada apa? Ayah sedang menonton konser Jean. Ayah tidak bisa meninggalkannya." Jawab Ayah Daniel. "Ayah! Ini sungguh gawat. Temanku hilang! Mungkin masuk ke dunia peri atau dunia kegelapan!" Teriak Daniel. "Bagaimana hal itu bisa terjadi?" Suara ayah Daniel terdengar mulai panik. "Aku juga tidak tahu. Cepatlah pulang." Pinta Daniel. "Baiklah, Ayah pulang sekarang. Tutt “ sambungan terputus.   **********     Daniel begitu gelisah menunggu Ayahnya yang tak kunjung pulang. “Kiara... Apa kamu baik baik saja sekarang? Gadis ceroboh sepertimu, apa yang bisa Kamu lakukan di dunia yang asing sama sekali.” Daniel bergumam penuh khawatir. "Daniel! Bagaimana kejadiannya?" Ayah Daniel yang baru tiba langsung berseru sambil menghampiri anaknya. Daniel yang sedang melamun bahkan tidak mendengar deru mobil ayahnya  masuk pekarangan rumah. "Tadi rantai kalungku putus saat Aku sedang bermain basket Ayah, jadi Aku titipkan pada temanku. Tapi selang beberapa menit, tiba-tiba gerbang antar dunia terbuka. Walaupun sekilas, Aku bisa melihat cahaya putih keluar dari liontin itu. Jadi Aku yakin sekali temanku sekarang sedang ada di dunia lain." Jelas Daniel. "Kenapa hal seperti ini bisa terjadi." Wajah ayah Daniel terlihat sangat keruh. Kentara sekali dia juga bingung dengan kejadian ini. "Kenapa liontin itu bisa bereaksi pada orang lain Ayah? Bukankah seharusnya hanya Aku yang bisa menggunakannya? Bahkan Ayah yang dulu juga pemegang kunci, sekarang sudah tidak dapat menggunakan liontin itu lagi kan?" Tanya Daniel. "Ayah juga tidak tahu tentang masalah ini. Sebaiknya Kita ke rumah Kakek sekarang. Mungkin beliau tahu sesuatu." Usul Ayah Daniel. "Baiklah." Mereka berdua langsung berangkat ke rumah kakek yang ada di luar kota. Sekitar dua jam perjalanan dari Jakarta. “Kiara... Kenapa harus gadis ceroboh itu!”   **********     "Kiara... lo dimana sih! Sudah semua tempat kita datangi tapi lo nggak ada dimana mana." Vani yang biasanya sangat tenang pun mulai putus asa mencari sahabatnya. "Mana sudah gelap lagi. Gue takut dia kenapa kenapa." Kali ini sarah, yang biasanya suka berantem sama Kiara pun terlihat sangat cemas. "Kita ke rumah Kiara saja, siapa tahu dia sudah pulang." Vani memberi ide. "Tapi gimana kalau ternyata Kiara juga nggak ada di rumah? Om sama tante pasti khawatir jadinya." Sarah terlihat bimbang. "Kita nggak punya pilihan lain." Sambung Vani.   *************   Daniel dan Ayahnya sampai di rumah kakek saat hari sudah gelap. Kakek dan nenek Daniel tinggal di kota kecil bersama anak bungsu mereka. Adik kedua dari ayah Daniel. "Oh,, cucuku, ayo masuk sini nak." Sambut nenek dengan hangat. "Kakek dimana nek?" Joseph -Ayah Daniel- terlihat tidak sabar lagi untuk membahas masalah ini. "Kakek ada di kamar, biar nenek panggil ya. Ayo duduk dulu." Jawab nenek. Tidak berapa lama, Philip -kakek Daniel- muncul di ruang tamu diikuti nenek yang membawa minum dan cemilan untuk mereka. "Ada apa? Kenapa kalian terlihat cemas?" Tanya kakek setelah duduk di hadapan Joseph dan Daniel. "Ada hal aneh terjadi kek. Ada orang selain Daniel yang bisa menggunakan liontin itu. Sekarang kemungkinan dia ada di dunia lain." Tutur Joseph langsung ke pokok masalah. "Bagaimana mungkin? Siapa dia?" Tanya kakek penuh heran. "Temanku kek. Tadi kalungku putus, lalu Aku menitipkannya pada teman. Tapi diluar dugaan gerbang antar dunia tiba-tiba terbuka." Daniel menjelaskan kronologisnya pada Philip. Dia terlihat berpikir. Alisnya bertaut, matanya menerawang jauh. "Kek? Bagaimana caranya agar Aku bisa menolong temanku? Kasihan dia. Pasti sekarang dia sangat ketakutan." Daniel terlihat tidak sabar menunggu kakeknya yang tak kunjung bicara. "Apa temanmu itu perempuan?" Tanya kakek tiba tiba. "Iya kek. Namanya Kiara." Jawab Daniel. "Ehmm.. Begitu rupanya." Kakek bergumam pelan menanggapi jawaban Daniel. "Kenapa kek? Apa pengaruhnya kalau dia perempuan?" Wajah Daniel yang sudah keruh, terlihat lebih menyedihkan lagi. Pikiran-pikiran buruk sempat melintas di kepalanya. "Kemungkinan dia adalah calon Ratu." Jawab kakek datar. "Apa?" Daniel dan Ayahnya berteriak bersamaan. Mereka benar benar terkejut dengan jawaban kakek.   ********** Sarah dan Vani tidak bisa berkata apapun di depan mama dan papa Kiara. Mereka shock berat ketika mengetahui Kiara menghilang entah kemana. Apalagi sekarang sudah malam. Liana -mama Kiara- hanya bisa menangis membayangkan kemungkinan terburuk yang mungkin menimpa anak semata wayangnya. "Om akan lapor polisi, agar bisa lebih cepat menemukan Kiara. Kalian pulang saja dulu. Ini sudah malam." Kata Hardi -papa Kiara- kepada Sarah dan Vani. Mereka langsung patuh dan beranjak pergi keluar. Tidak ada satupun yang bicara. Badan dan pikiran mereka terlalu lelah. Kecemasan menguasai seluruh kesadaran mereka.   ***********       "Apa yang harus ku lakukan?" Kiara berkata bingung. "Bagaimana kalau Veon hanya pura pura baik padaku. Lebih baik Aku kabur sekarang mumpung aku sendirian." "Tapi....." "Mau kabur kemana? Aku bahkan tidak tahu daerah sini. Tidak ada seorangpun yang bisa ku mintai tolong. Bisa-bisa Aku malah mati konyol di luar sana." Kiara terlihat frustasi. "Sebaiknya Aku coba percaya pada si coklat itu. Dia satu satunya harapanku." Dia memantapkan hatinya untuk percaya pada Veon, satu-satunya orang yang dikenalnya di tempat antah berantah itu. Rumah Veon sangat sederhana. Hanya ada furniture seperlunya saja. Di ruang tamu hanya ada meja panjang dengan empat kursi kayu. Lemari buku kecil dan vas bunga besar yang di dalamnya ada bunga putih seperti yang ada di kamar, hanya saja yang disini bentuknya lebih besar. Di dapur pun hanya ada peralatan masak seadanya. Lantainya juga terbuat dari batu. Sepertinya batu adalah komoditas paling penting di dunia peri. "Apa Veon orang miskin ya? Rumahnya sederhana sekali." "Atau memang rumah semua peri seperti ini. Cuma ada perabotan seadanya." Kata Kiara. "Huhh, aku lapar.. Tapi cemilan yang ada bentuknya aneh semua. Apa ini bisa di makan?" Cemilan itu Bentuknya seperti buah cheri, tapi warnanya coklat. Yang satu lagi seperti roti kering tapi sangat keras. “Sudahlah, kumakan saja daripada mati kelaparan.”   **********     "Daniel? Tumben pagi pagi begini sudah bangun nak? Ini kan hari Libur." Ibu Daniel yang baru selesai memasak terheran-heran melihat anak sulungnya sudah duduk melamun diteras sepagi ini. Semalaman Daniel tidak bisa tidur memikirkan apa yang di katakan kakeknya.   " Kemungkinan dia adalah calon ratu." "Apa maksud kakek?"Tanya Daniel. "Maaf, kakek belum sempat bercerita sebelumnya, karena kakek pikir, sang Ratu belum akan muncul sekarang."Kata Kakek. "Lanjutkan kek, jangan bertele tele."Pinta Joseph. "Setiap 1000 tahun sekali, akan muncul seorang Ratu yang akan memimpin ketiga dunia. Tugasnya adalah menjaga keseimbangan ketiga dunia agar tidak terjadi kesenjangan antar dunia. Dia akan merubah peraturan dan tugas para pemegang kunci agar lebih sesuai dengan perubahan zaman."Philip mulai bercerita. "Jadi dengan kata lain dia adalah pemimpin kami." Tanya Daniel. "Benar. Saat dia sudah menginjak kedewasaan, dia bahkan bisa membuka gerbang antar dunia tanpa menggunakan kunci. Dia juga akan memiliki bentuk fisik yang mewakili makhluk dari ketiga dunia."Lanjut Philip. "Fisiknya akan berubah?"Tanya Daniel lagi. "Iya. Tapi bukan itu yang harus kalian risaukan."Kata Philip dengan air muka serius. "Ada hal lain lagi kek? Ini saja sudah membuatku pusing."Ungkap Daniel. “ Akan ada saatnya nanti sang Ratu harus memilih pendamping hidup. 1000 tahun lalu, hal ini yang menyebabkan perang antar dunia. Karena setiap dunia menginginkan sang ratu agar dunianya jadi lebih kuat. Perempuan itu mudah dipengaruhi. Jadi siapapun yang jadi suami sang Ratu bisa saja mempengaruhi sang Ratu agar membuat kebijakan yang menguntungkan satu dunia saja. Karena keputusan Ratu tidak bisa dibantah." "Lalu, apa yang terjadi seribu tahun lalu?"Kali ini Joseph yang bertanya. "Seribu tahun lalu, sang ratu terpilih berasal dari dunia peri. Dia punya kekasih yang juga dari dunia peri. Tapi, pemegang kunci dari dunia manusia dan dunia kegelapan tidak setuju, menurut mereka, sang Ratu harus menikah dengan salah satu pemegang kunci. Karena dianggap lebih pantas untuk mendampingi Ratu. Walaupun sebenarnya tidak ada peraturan seperti itu. Itu hanya karena mereka takut kalau dunia peri memanfaatkan sang ratu. Sampai akhirnya suatu hari kekasih sang ratu meninggal dunia. Tidak ada seorangpun yang tahu apa penyebab kematiannya. Tapi sang Ratu menuduh pemegang kunci dunia kegelapan yang membunuhnya. Karena mereka bisa sihir. Dunia kegelapan tidak terima dengan tuduhan Ratu, dan pecahlah perang itu. Ratu benar benar lepas kendali dan memerintahkan dunia peri dan dunia manusia menghancurkan dunia kegelapan. Tak ada yang bisa membantah perintah Ratu." kakek menghela nafas panjang. "Sampai akhirnya sang Ratu sadar kalau perbuatannya salah. Dia hanya menuduh tanpa bukti. Ratu menghentikan perang dan akhirnya bunuh diri." Daniel benar benar shock mendengar cerita kakek. Seberat itukah beban menjadi seorang ratu. "Seluruh dunia berkabung dengan kematian sang Ratu. Sejak kejadian itu di buat kesepakatan agar tidak mencampuri urusan pasangan hidup ratu. Pemegang kunci tidak boleh menikahi Ratu. Lebih baik Ratu di biarkan menikah dengan orang biasa dan menutupi identitasnya sebagai Ratu." "Pemegang kunci tidak boleh menikahi Ratu?” "Daniel sayang, kenapa melamun. Di ajak ngobrol kok diam saja." Ibu membuyarkan lamunan Daniel. Raut cemas mulai tergurat di wajah senja ibunya. “Apakah suatu hari nanti aku juga bisa seberuntung ayah? Mendapatkan seseorang yang bisa menerima takdir kami sebagai pemegang kunci. Jaman sekarang, peri saja di anggap dongeng. Bagaimana ada cewek yang mau percaya siapa aku sebenarnya. Aturannya juga susah. Pemegang kunci tak boleh mengajak orang lain untuk melewati gerbang antar dunia sekalipun itu keluarganya sendiri. Kecuali, anak pertama yang nantinya akan menjadi pemegang kunci berikutnya.” "Daniel? Apa sedang ada masalah nak?" Mata ibu Daniel  benar benar sangat teduh. "Iya bu, masalah besar. Apa ayah belum cerita?" "Belum nak, ayahmu juga terlihat sangat stres." Lalu Daniel menceritakan semuanya pada ibunya. "Apa tak ada yang bisa di lakukan untuk membawa temanmu kembali kesini nak? Keluarganya pasti sangat kuatir sekarang." “Ahh iya, kenapa aku sama sekali tidak terpikir dengan keluarga Kiara. Mereka pasti sangat panik sekarang. Sudah sehari semalam anak mereka menghilang tanpa kabar.” "Tidak ada bu, aku tak bisa membuka gerbang tanpa kunci itu. Sekarang kuncinya hilang bersama Kiara." Ibu Daniel mengelus elus punggung anaknya menenangkan. “Aku harus menghubungi keluarga Kiara. Sebaiknya aku temui Sarah atau Vani. Mereka kan sahabat dekat.” "Bu, Daniel keluar dulu ya." Daniel langsung menyambar kunci mobil dan tancap gas. Aku harus memberi kabar pada keluarga Kiara lalu aku akan membaca buku-buku panduan antar dunia agar aku bisa mendapat petunjuk untuk membawa Kiara Kembali. "tuut tuut, Halo?" "Van ketemuan yuk, aku ada perlu, sekalian ajak Sarah ya. Aku tunggu di lapangan bola depan sekolah sekarang." "Okay." ******   "Ada apa ngajak ketemu? Kita lagi sibuk." Vani tampak acuh, bukan karena nggak suka sama Daniel. Tapi memang karena mereka benar benar sibuk mencari Kiara kesana kemari. "Nggak usah jutek gitu dong Van." Sarah kelihatan sekali rasa sukanya sama Daniel. "Kalian lagi nyari Kiara kan?" Tanya Daniel to the point yang sukses membuat 2 sahabat ini memajukan badannya merapat ke Daniel. "Lo tahu dimana Kiara Dan?" "Ehmm, nggak juga sih." jawab Daniel bingung merangkai kata. "Yahh, kirain." Jawab mereka berdua serempak. "Tapi bukan nggak tahu juga." Jawab Daniel "masih" bingung merangkai kata yang tepat. "Maksud lo apa sih. Jangan mainin kita gini deh." Vani dari tadi kelihatan tak sabaran. "Yang jelas sekarang Kiara ada di bawah tanggung jawab gue. Kalian nggak usah khawatir, sampaikan juga ke keluarga Kiara, Gue akan berusaha bawa dia pulang sesegera mungkin." Kedua sahabat itu melongo mendengar penuturan Daniel. Tapi, belum sempat mereka mengajukan pertanyaan atas kata kata Daniel, dia sudah tancap gas dan pergi meninggalkan Sarah dan Vani. "Apa maksudnya coba?" Vani terlihat masih "nyaman" dalam kekagetannya. "Setidaknya ada kemajuan sedikit. Sekarang kita bisa cari tahu keberadaan Kiara lewat Daniel." Sarah terlihat sedikit cemburu. "Ayo kita kabari om sama tante." ajak Vani. ******   -TO BE CONTINUE-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD