Masa Lalu

2251 Words
"Apa maksud kata kata kalian? Siapa Daniel? Apa dia menculik dan menyembunyikan anakku?" Hardi kelihatan sangat murka. "Seenaknya saja bilang Kiara ada di bawah tanggung jawabnya. Dia pikir bisa seenaknya begitu menyembunyikan anakku?" "Daniel nggak mungkin menculik Kiara om, dia anak baik kok. Lagipula dia juga tidak tahu dimana tepatnya keberadaan Kiara." Sarah berusaha membela Daniel. "Kalau ada penculik yang mau mengaku, penjara sudah penuh sekarang!" Hardi benar benar lepas kendali. Liana hanya terdiam dalam tangis. Dia hanya ingin secepatnya bisa memeluk putrinya. "Antar om dan tante ke rumah Daniel." Perintah Hardi tanpa bisa di bantah kedua sahabat itu.   "Kiara..." Wajah Daniel terlihat sangat menderita. "Bagaimana keadaanmu sekarang. Ku mohon bertahanlah. Jangan mati dulu sebelum aku menemukanmu." "Ahhh, kamu benar benar membuatku gila." Daniel berteriak sendirian. Tak peduli dengan sekitarnya. "Kenapa kamu terlihat sangat stres nak?" Suara lembut ibunya mencoba menenangkan Daniel. "Ayah, ibu.. Bagaimana nasib temanku sekarang? Aku benar benar menghawatirkannya." Ucap Daniel sedikit merajuk pada kedua orang tuanya, "Ini baru 2 hari, tak usah risau, dia pasti baik baik saja." Tutur ayah ikut menenangkan anak pertamanya itu. "Dia itu sangat ceroboh yah, duri kecil saja bisa jadi benda yang sangat berbahaya baginya." "Sudahlah jangan di bawa stres seperti itu." "Bagaimana aku tidak stres yah, temanku entah ada dimana sekarang dan aku tak dapat melakukan apapun untuk menolongnya!" Daniel sangat emosional. kristal bening terbentuk di ujung matanya yang langsung di sembunyikan dari kedua orang tuanya. "Apa kamu lupa? sebentar lagi kan purnama. Waktunya pertemuan antar pemegang kunci. Kamu bisa meminta tolong pada pemegang kunci lain untuk mencari sang ratu." "Ah,, benar. Semua kekacauan ini membuatku lupa jadwalku sendiri. Tapi purnama masih 3 hari lagi yah. Aku bisa mati gelisah menunggu selama itu." Daniel tetep kekeuh dengan kecemasannya. "Sabarlah sedikit, tak ada yang bisa kita lakukan tanpa kunci itu. Lebih baik sekarang kamu kumpulkan semua referensi tentang 3 dunia." "Untuk apa yah?" "Kamu harus mengajari sang ratu untuk lebih mengenal ketiga dunia. Agar beliau jadi ratu yang bijaksana. Sang ratu terpilih kali ini berasal dari dunia manusia. Jadi dia berada di bawah tanggung jawabmu." Daniel hanya mengangguk mengerti mendengar ucapan ayahnya. "Ingat satu hal Daniel. Meskipun dia temanmu, tapi dia adalah calon ratu. JADI..." Daniel menatap ayahnya menunggu lanjutan kalimat yang menggantung itu. "Jadi, jangan jatuh cinta padanya! Ingat peraturannya. Pemegang kunci tidak boleh menikah dengan sang ratu." Daniel hanya menjawab kata kata ayahnya dengan senyum. "Terlambat ayah." Bisiknya lirih. Tak terdengar.   "Hei Daniel!! Tunggu sebentar...." Terdengar suara kiara yang terengah engah mengejar teman sekelasnya. "hem?? kenapa?" Jawab Daniel dengan wajah cool nya yang selalu tersenyum. "Ehmm,, kamu bawa mobil nggak? sekarang sudah sore, jalan menuju komplek ku kalau malam gelap. Aku takut gelap. Antar aku pulang ya." Rengek Kiara manja. Dia memang terbiasa manja dengan siapapun. "Aku tidak pernah bawa mobil ke sekolah, sudah biasa naik angkot." Jawab Daniel yang tak sadar dengan ketakutan di wajah Kiara. "Bagaimana ini, angkot cuma nyampe di jalan besar. Sedang komplek rumahku masuknya cukup jauh ke dalam. Aku pasti pingsan." Kiara bicara sambil mulai terisak. Daniel tersenyum simpul melihat tingkah gadis di depannya. "Anak sebesar ini masih segitu takutnya sama gelap. hahaha. Gadis menggemaskan." pikirnya. “ Naik taksi saja, gampang kan?" Usul Daniel. "Aku lupa nggak bawa dompet sama handphone, di tas cuma ada uang receh." Kiara masih terisak "Pakai duitku dulu saja." "Nggak ah, kita kan baru kenal, masa mau pinjem duit sih. Nggak enak." Jawabnya merajuk. "Ya sudah, aku anterin sampai rumah, gimana?" Jawab Daniel menenangkan. "Bener? Oh hatimu benar benar sebaik malaikat." Mata Kiara langsung berbinar dengan indahnya. Daniel lagi lagi tersenyum geli melihat tingkah "gadis kecil" itu. Setelah turun dari angkot, mereka masih harus berjalan agak jauh untuk sampai ke komplek perumahan tempat tinggal Kiara. Jalanan gelap tanpa lampu, senja sudah meninggalkan langit. Kiara berjalan secepat yang dia bisa sambil "menyeret" Daniel. "Kan sudah aku temenin, kok masih takut banget gitu?" Tanya Daniel dengan nada protes karena di tarik tangannya agar berjalan cepat. "Bukan takut, tapi aku nggak suka gelap." Nafas gadis itu mulai memburu. “Nggak ada apa apa disini, ga' usah takut." Daniel yang belum paham dengan situasi masih mencoba menenangkan Kiara. Nafas Kiara mulai sesak, padahal komplek masih jauh. " Daniell,,," "Kamu kenapa ra?" "Aku.. hehh hehh gelap.. hehh sesak..hehh naf.. heh fas.." Brukkk.. "Kiara..." "Kiara,, " "Bangun ra... Kiara..." "Anak ini.. kenapa seenaknya pingsan di depan orang lain." "Kau mengacaukan detak jantungku Kiara." Daniel langsung membopong kiara dan berlari menuju cahaya terdekat. "Kenapa tidak bilang dari awal kalau kau tidak bisa bernafas saat gelap? Dasar gadis ceroboh." ... ... ... "Gadis ini..." “Wajahnya terlihat sangat rapuh." "Membuat orang ingin melindungi gadis ini." "Aku akan menjagamu Kiara." *******   "Kamu yang namanya Daniel?" Tiba tiba orang tua Kiara muncul di rumah Daniel di ikuti Sarah dan Vani. "Iya saya Daniel." Jawab Daniel dengan ekspresi sedewasa mungkin. Sepertinya dia sudah bisa membaca situasi. "Kamu sembunyikan dimana anak saya hah? Cepat kembalikan Kiara pada kami." Hardi yang emosi bicara dengan kasar sambil menarik kerah baju Daniel. "Hentikan! Apa apaan kalian seenaknya main ribut di rumah saya." Joseph ikut emosi melihat anaknya di perlakukan dengan kasar. "Dimana anakku?” sekarang Joseph yang jadi sasaran amukan Hardi. "Kita duduk dulu, marah marah tak akan menyelesaikan masalah." Ibu Daniel berusaha mendamaikan suasana yang makin tak terkendali. "Benar pa, mama juga nggak yakin anak ini menculik Kiara." Liana setuju dengan usul ibu Daniel. Joseph menceritakan panjang lebar tentang hilangnya Kiara. Mereka cepat atau lambat memang harus tahu tentang keberadaan Kiara sebagai calon ratu. "Hahh,, kalian mau membohongiku dengan cerita sampah seperti itu?" CEPAT KATAKAN DIMANA ANAKKU!" Hardi kembali naik darah. "Kami sudah menceritakan yang sebenarnya. Sekarang kami juga tidak tahu dimana Kiara." "OMONG KOSONG APA ITU!" "Sudah pa, jangan marah marah terus, ini rumah orang." "Tapi ma,," "Tiga hari lagi om," Daniel memotong omongan Hardi. "Apanya yang tiga hari?" "Tiga hari lagi mungkin saya bisa membawa pulang Kiara." "Tiga hari lagi ada pertemuan rutin antar dunia, kami bisa mencari tahu dimana Kiara." Jelas Joseph "Bagaimana kalau sampai terjadi apa apa pada anakku. Dia punya penyakit. Bagaimana bisa kalian menyuruhku menunggu tiga hari." Hardi yang dari tadi terlihat marah mulai melunak dan menangis tanpa suara. "Sekarang kami tak bisa melakukan apapun om." Daniel berkata tak kalah putus asa dengan Hardi. Dan ruangan itupun di selimuti dengan perasaan sedih yang mendalam. ******   "Oh, sedang tidur rupanya. Pantas rumahku jadi tenang kembali. Manusia ini... Wajahnya sangat manis. Rambut hitam legamnya sangat serasi menempel di wajahnya yang putih. Mata, hidung dan bibirnya terlukis indah di wajahnya yang kecil itu.” “Tapi, saat matanya terpejam seperti ini, membuatnya terlihat sangat rapuh, membuat setiap orang yang melihatnya ingin melindunginya.” "Kiara...  nama yang cocok untukmu." Veon tak bosan-bosannya memandangi wajah tidur Kiara. "Kiara... "             Wajah Veon mendekat ke arah Kiara dan.... di kecupnya bibir Kiara sekilas "Bibirnya sangat manis.” *******   "Ehhmm.." Kiara terbangun dari tidurnya. "Eh, putri tidur kita sudah bangun rupanya." Veon tiba – tiba saja menyembulkan kepalanya dari balik pintu.             "Ve? Apa peri mandi di sungai? Kenapa aku tak melihat ada kamar mandi di rumahmu?" Kiara merasa sangat tidak nyaman karena sudah 2 hari belum mandi "Oh,, kamu mau mandi? Nggak di sungai kok." "Syukurlah, badanku sudah gatal dari kemarin belum mandi." "Kamu memang gadis jorok." Veon terus saja menjahili Kiara. "Ayo.” Veon kembali menggendong Kiara dalam dekapannya. Wajah Veon begitu diliputi oleh senyum. Veon mulai mendarat di tanah lapang. Tetapi disana tidak ada bangunan yang namanya "kamar mandi". "Mana kamar mandinya?" Tanya Kiara sambil melihat sekelilingnya. "Itu." Jawab Veon sambil menunjuk lingkaran pot pot besar. Aku ulangi, BESAR. tingginya melebihi tinggi tubuh Kiara. Di dalamnya ada bunga bunga berwarna lavender yang tinggi dan melengkung. "Kamu masuk lewat pintu itu, itu pintu darurat untuk peri peri yang sayapnya terluka. Aku tidak bisa mengantar kesana karena itu khusus perempuan. Yang laki laki di sebelah sana." Kata Veon sambil menunjuk deretan pot yang sama dengan yang ini. "Nanti kita ketemu lagi disini ya." Kata Veon sambil terbang ke "kamar mandi" laki-laki. Sepeninggalan Veon, Kiara merasa begitu asing. Baru kali ini dia berkeliaran sendiri di luar tanpa Veon. Meskipun dia berada tak jauh dari Veon, tapi tetap saja menakutkan. “Bagaimana kalau ada yang menyadari kalau aku ini manusia?” Tanpa sadar, Kiara terus menggenggam erat kalung Daniel yang sedikitpun tak pernah di tingalkannya. Dan hal yang selalu di tunggunya terjadi. Kalung itu bereaksi lagi, tangan Kiara terasa panas, tapi terus saja digenggam kalung itu dengan erat. "Ini...  Kalung ini bereaksi lagi,," "Rumah.. Aku sangat merindukan rumahku...  Mama, papa... " Dan cahaya putih yang keluar dari kalung itu langsung menyelimuti Kiara. Tak terlihat apapun lagi, hanya putih yang menyilaukan. "Veon... Aku belum sempat berpamitan padanya. Maafkan aku Veon. Mungkin kita tak akan pernah bertemu lagi." Perlahan, cahaya putih itu mulai memudar. Kiara mulai bisa melihat sekelilingnya. “Ini.... Ini kamarku!!!!!” “Kyaaaaa..... Akhirnya aku pulang. Mamaaaa. papa... Kiara kangen." Tapi rumah Kiara terlihat lengang dan sepi. “Mama dan papa dimana ya? Apa sempat mereka jalan jalan padahal anak mereka ngilang?” "Ah, mbok yem.. mama sama papa pada kemana sih?" "Non Kiara? si non sudah pulang. Ya Allah mbok khawatir banget sama non, apalagi nyonya sama tuan. Nyonya tiap hari nangisss terus kerjaannya." "Iya, Kiara minta maaf mbok. Tapi mama sama papa kemana? Kiara kangen banget." "Tadi tuan sama nyonya pergi sama non Sarah sama non Vani. Katanya mau nyari non ke tempat orang yang sudah nyulik non Kiara.” "Ha? Nyulik?" "Iya, namanya... Dani kalau nggak salah non." “Daniel...” "Kiara pergi dulu mbok." Gawat, mereka mengira aku di culik. Huft.. Wajar sih, aku menghilang lebih dari 24 jam, mereka pasti khawatir. "Taksi." “Entah ini perasaanku saja atau memang supir taksi itu memandang dengan tatapan "ini orang aneh banget". Sebodo amat. Sekarang bukan saatnya memikirkan hal sepele seperti itu. Papa pasti sedang marah besar di rumah Daniel. Aku juga harus menanyakan tentang kalung ini.” ******   "Papa?" Baru kali ini Kiara melihat papanya menangis. "Kiara..!!!" semua orang di ruangan itu serempak meneriakkan namanya. "Kiara.. Dari mana saja kamu nak.,,?" Liana dan Hardi langsung memeluk Kiara sambil menangis haru. "Maafkan Kiara, ma.. pa.. " "Lo ngilang kemana sih ra? Kita hampir botak muter muter nyariin lo." Kedua sahabat setia Kiara itu tak kalah khawatir padanya. Kiara langsung memeluk mereka berdua sebagai tanda permintaan maaf. Perhatian Kiara teralihkan pada sosok yang sedari tadi tak pernah melepaskan pandangannya darinya. "Daniel..." Kiara  melepas pelukan kedua sahabatnya dan menghampiri Daniel. "Kalungmu..... Kenapa bisa jadi begini?" Kiara terlihat bingung merangkai kata kata. Tiba tiba... Daniel memeluk Kiara erat. “Apa... ini... kenapa... cowok jutek ini...” "Kenapa kamu tak pernah berhenti membuatku khawatir Kiara?!” Daniel berkata pelan. "Maafkan aku...” Lanjutnya. "Ehhmm lo kenapa sih Dan?" Tanya Kiara yang heran dengan sikap Daniel. "Sebaiknya kita duduk dulu, biar kami jelaskan padamu yang mulia ratu." Kata Joseph menengahi. "Yang... yang mulia ratu??" Kiara kebingungan. "Duduklah dulu nak." Liana mencoba menenangkan anaknya.             Dan mereka pun mengambil tempat di masing masing kursi di ruang tamu itu. Hening... Tak ada yang memulai pembicaraan. "Dan? Sebenarnya apa yang terjadi?" Kiara yang tak sabar menunggu bertanya pada Daniel. Daniel tampak gelisah. Bingung menjelaskannya pada Kiara. Hening lagi... Kiara mulai jengah dengan semua hal membingungkan itu. "Ra? Gue baru sadar, baju yang lo pake aneh banget sih." Vani dengan usilnya tiba tiba angkat bicara. Tak mempedulikan ketegangan di udara malah menanyakan hal yang tidak penting seperti itu. Daniel yang seperti tersadar akan sesuatu langsung menatap Kiara dari atas sampai bawah. "Ini pakaian para peri. Jadi kamu ada di dunia peri?" "Iya. Kebetulan ada orang baik yang menolongku." Jawab Kiara tersenyum miris. “Veon,, Aku ingin bertemu dengannya sekali lagi. Aku bahkan belum mengucapkan terima kasih atas kebaikannya.” "Yang mulia ratu, boleh saya mulai bercerita kepadamu?" "Silahkan om." Kiara sudah tak ambil pusing dengan panggilan Joseph. Dia hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. ******   "Hemmm segar sekali rasanya setelah mandi." "Tapi... Dimana manusia itu? Apa belum selesai? Huhh dasar perempuan. Mau manusia mau peri semuanya sama. Apa apa serba lama." Veon menggerutu pelan lalu menunggu Kiara di depan kamar mandi. "Veon? Apa yang kamu lakukan disini?" Peri perempuan bersayap hijau terlihat bingung melihat Veon berdiri di depan kamar mandi wanita. "Ehh,, iya.. Sedang menunggu temanku. Dia sedang mandi di dalam." Jawab Veon sambil menunjuk arah kamar mandi. "Aku juga baru saja mandi. Tapi sudah tak ada siapa-siapa di dalam. Aku yang terakhir keluar." “Apa?? Jadi Kiara dimana?” "Ya sudah, Aku tinggal dulu ya." Tak perlu menunggu lama Veon langsung terbang ke atas kamar mandi wanita. Benar, tidak ada siapapun disana. "Hei, apa yang Kamu lakukan di atas kamar mandi wanita. Mau mengintip?" Peri tua bersayap biru tiba tiba menghardik Veon. "Maaf, Aku salah jalan." Veon tak menghiraukannya dan langsung terbang pulang ke rumah. "Kiara,,, pergi kemana Kamu!" Veon sudah mencari di setiap sudut rumah tapi Kiara tak ada dimanapun. Veon mencoba terbang berputar putar di kota tapi tetap tak bertemu dengan sosok yang dicarinya. "Apa yang terjadi padamu Kiara... Dimana kamu sekarang." "Apa dia ketahuan kalau dia ini manusia? Tapi tadi tidak ada keributan apapun disana. Aku pasti tahu kalau Kiara ketahuan." "Atau..." "Kamu sudah kembali ke duniamu Kiara?" Veon terdiam. Tiba-tiba saja dadanya terasa nyeri. Dadanya terasa sesak membayangkan kalua dia tak akan bertemu dengan Kiara lagi. Gadis dengan beragam ekspresi yang membuatnya lupa akan penderitaanya sendiri. "Hahh.. Apa apaan aku ini.. Hiks.. Bisa bisanya Aku menangisi manusia itu. Biar saja kalau dia pulang. Itu bagus kan..." "Kenapa air mataku keluar terus... Kamu bodoh Veon..." Veon terus berbicara sendiri. ***********
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD