Pernyataan Cinta

2338 Words
Joseph dan Daniel bercerita bergantian menjelaskan semua hal yang mereka ketahui pada Kiara. Dia benar benar shock mendengar penuturan mereka. “Apa maksudnya calon ratu? Apa pula perubahan fisik? Apa nanti Aku akan punya sayap? Hahhh hal apa lagi itu.” Kata Kiara jengah. "Aku tidak mau percaya. Kalian pasti berbohong." Lanjut Kiara dengan bingung. "Benar. Kalian pasti berbohong. Ini jaman modern. Mana ada yang namanya peri atau apapun itu. Sekarang Kiara sudah aman disini. Jangan ungkit hal konyol itu lagi." Hardi terlihat cemas sekaligus marah. Dia seperti antara percaya  dan tak percaya pada cerita Daniel dan ayahnya. "Kiara.. Kamu sudah lihat sendiri kan peri itu seperti apa?" kata Daniel. Kiara  terdiam. Lagi lagi dia teringat pada Veon. "Nak, Apa benar Kamu melihat peri?" Tanya Hardi "Benar pa, Aku bahkan pernah terbang bersamanya." Jawab Kiara penuh senyum. Mata Hardi langsung membesar mendengar jawaban Kiara. “Apa ini...? Tanganku panas. Liontin ini bereaksi lagi.” Kiara menoleh pada Daniel ingin mengatakan hal yang dirasakannya, Tapi cahaya putih itu keburu keluar dari kalung ini. Sempat dirasakan ada tangan yang menggenggam tangan Kiara erat, entah siapa. Cahaya putih itu sudah menelan sekeliling Kiara. Dalam sekejap Kiara sudah berada di dunia peri lagi. "Ini kan... Rumah Veon... Kenapa tidak di padang rumput seperti dulu? Apa pintunya berpindah pindah ya?" Kiara mencari Veon kemana-mana tapi tidak menemukannya. Akhirnya dia memutuskan untuk duduk di ruang tamu menunggu Veon pulang. “Tapi... Tadi yang memegang tangangku siapa ya? Apa Daniel? Tapi kenapa dia tidak ada disini? Apa cuma perasaanku saja ya?” Kiara bergumam pelan. ********     "Daniel??" Caith langsung menyapa Daniel saat dia tiba di hadapannya. Tapi.... “Kenapa Kiara tak ada di sampingku???” Daniel belum pernah melewati gerbang bersama orang lain. Jadi dia tidak tahu kenapa bisa begini. "Kenapa wajahmu gelisah begitu Daniel?" Caith tampak tidak sabar karena Daniel hanya diam saja sejak tiba disana. "Aku.. Tadi Aku bersama seseorang, tapi kenapa dia tidak bersamaku disini?" Tanya Daniel. "APA?" Caith tiba tiba berteriak. "Kenapa Kamu berani mengajak orang asing melewati gerbang antar dunia? Kamu bisa di hukum Daniel!" Wajah Caith tampak cemas. Mereka bertiga para pemegang kunci, Daniel, Caith dan Alden, pemegang kunci dunia gelap memang sudah seperti saudara. Sangat dekat. "Dia bukan orang asing Caith, sudahlah, nanti saja ku ceritakan. Sekarang kita cari dia dulu." Ucap Daniel. "Mau mencari kemana? Berkeliling dunia peri? Dunia ini sangat luas Daniel, lagipula temanmu itu bisa ada dimana saja." Jawab Caith. "Aku juga tahu itu, tapi Aku tidak bisa hanya diam disini menunggunya pulang." Daniel mendudukan dirinya di salah satu kursi di taman itu.  Caith sering sekali berada di taman depan paviliunnya. Setiap Daniel mengunjunginya, dia selalu ada disini. "Ah, Aku ada ide!" Tiba-tiba saja Caith berteriak kegirangan. Caith memang mempunyai sifat yang paling berbeda di antara Daniel dan Alden. Dia sedikit kekanak-kanakan dan manja. Mungkin karena dia adalah seorang pangeran. Daniel sedikit lebih pendiam dan Alden yang paling tegas di antara mereka. "Ide apa?" Tanya Daniel. "Kita ke duniamu dulu." Jawab Caith. "Untuk apa Caith? Kiara ada di dunia peri, bukan di dunia manusia." Kata Daniel tak mengerti. "Kiara? Jadi orang asing itu namanya Kiara?" Kata Caith lagi. "Iya." Jawab Daniel pendek. "Ahh,,, Apa dia kekasihmu?? Sampai kamu rela melanggar hukum untuk membawanya kesini?" Caith tersenyum jahil kepada Daniel. "Bukan. Ayo cari ide lain." Kata Daniel sambil memalingkan muka. Daniel tidak mau Caith melihat wajahnya yang bersemu merah karena candaannya. "Tadi Aku belum selesai bicara Daniel... Kita ke dunia manusia dulu, lalu kita kembali kesini sambil menyebut nama Kiara, maka kita akan sampai ke hadapan Kiara, benar kan?” Jelas Caith. "Ahh, benar juga. Bagus, adik kecil." Jawab Daniel balik menggodanya. "Sudah ku bilang jangan memanggil aku adik kecil." Bentak caith. "Hahahaha." Di antara mereka bertiga, Caith memang memiliki tubuh yang paling kecil. Entah bagaimana, kenapa seorang pangeran tubuhnya kurus seperti itu, padahal makanannya sangat terjamin kan? “Sudahlah, ayo kita ke duniamu dulu.” Caith berkata sambil cemberut. Daniel dan Caith lalu menggenggam liontin bintang milik Caith yang sama persis dengan milik Daniel. Dalam sekejap cahaya putih langsung membawa mereka ke dunia manusia. ********     "Ahh.. Ada yang membuka pintu depan, pasti Veon." Kiara langsung berlari keluar kamar dan menuju pintu depan. Benar saja, si ganteng berwarna coklat itu tengah berjalan lesu menuju kursi di ruang tamu. "Veon." Kiara memanggilnya dengan nada riang. Kelihatan sekali kalau dia sangat senang bisa bertemu dengannya lagi. Veon menatap Kiara dalam. Dengan wajahnya yang masih terlihat lesu. Lama... Lalu, dia berjalan mendekat. Masih diam tak mengeluarkan sepatah katapun. Kemudian.... .... dia...... Menarik Kiara ke dalam pelukannya. Pelukan yang sangat erat. seakan takut Kiara bisa lepas dan hilang dari hadapannya lagi. "Jangan pergi dariku lagi." Akhirnya Veon berbicara setelah lama berdiam memeluk Kiara. "Ve?? Kamu kenapa? Aku bahkan tak ada sehari pergi dari sini." Tanya Kiara. "Ku pikir Aku tak pernah melihatmu lagi Kiara..." Isak Veon. "Aku juga sempat berpikir begitu." Kiara berkata sambil mencoba melepaskan pelukan Veon. Veon memeluk Kiara sangat erat sampai dia sulit bernafas. Tapi bukannya terlepas Veon malah memeluknya semakin erat. "Jangan pernah pergi tanpa pamit seperti tadi, kamu membuatku hampir mati ketakutan. Bagaimana hidupku jika kamu tak pernah kembali." Ungkap Veon tanpa bisa ditahan. "Ve? Ada apa denganmu?" Tingkah Veon benar benar membuat Kiara bingung. "Aku jatuh cinta padamu Kiara." Penuturan Veon sukses membuat Kiara tersentak kaget. *********     Danieal dan Caith tiba di kamar Daniel saat cahaya putih itu sudah lenyap. "Sekarang kita kembali ke dunia peri lagi. Siapa nama pacarmu tadi?" Tanya Caith yang tak bosan menggoda Daniel. "Kiara. Tapi dia bukan pacarku." Jawab Daniel. Mereka berdua kembali menggenggam Liontin itu. Sambil memikirkan Kiara, cahaya putihpun membawa mereka ke dunia peri. Saat mereka tiba di dunia peri, Daniel dapat melihat dengan jelas,,, Kiara.. sedang berpelukan dengan seseorang. "Aku jatuh cinta padamu Kiara." Daniel berharap telinganya salah dengar. Tapi sepertinya tidak. Melihat keterkejutan di wajah Kiara, sepertinya orang yang sedang memeluk Kiara itu memang sedang menyatakan cinta padanya. Hal yang seharusnya dilakukan Daniel sejak dulu namun dia terlalu pengecut untuk mengakuinya. "Veon?" Caith, tiba-tiba bersuara. Wajahnya terlihat sangat kacau. Antara kaget, bingung dan... sedih? "Kakak?" Veon yang sedang memeluk kiara langsung melepas pelukannya dan bicara dengan sangat gugup. "Apa maksud perkataanmu barusan Ve? Bukankah dia manusia? Kamu jatuh cinta pada manusia?" Tanya Caith dengan intonasi yang sangat tegas. Sanksi dengan apa yang baru saja dia dengar. Hening sejenak, Veon kini terlihat bingung, Tapi sejurus kemudian tatapannya berubah penuh keteguhan. "Ya, Aku mencintainya kak." Veon berkata mantap sambil menatap lurus langsung ke mata Caith. Kiara terlihat bingung dengan apa yang ada di depannya. Daniel terlihat begitu gelisah. Rasanya menyesakkan melihat orang yang dicintainya berada di pelukan orang lain. Apalagi dia menyatakan cinta pada Kiara. "Bisakah kalian jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi?" Kiara akhirnya bersuara. Wajahnya penuh dengan tanda tanya. Daniel tak dapat menyembunyikan kecemburuannya saat melihat tangan Kiara dan Veon bergandengan. "Aku akan jelaskan padamu." Daniel angkat bicara. Wajahnya terlihat aneh. Karena menahan marah dan cemburu. "Lebih baik kamu panggil Alden sekalian. Biar tak perlu menjelaskan berulang ulang." Sahut Caith. "Baiklah, aku jemput Alden dulu. Kiara mana liontinku." Pinta Daniel. Kiara menyerahkan liontinnya tanpa mengatakan apapun. Seketika Daniel menghilang bersamaan dengan cahaya putih. "Kita duduk saja dulu." Kata Caith sembari mendudukkan dirinya di kursi terdekat. Veon mengikuti instruksinya dan langsung duduk di kursi di depan Caith. Dan Kiara memilih duduk di sebelah Veon. Dia merasa lebih "aman" duduk di sebelah orang yang dikenalnya. Veon jadi lebih pendiam sejak kedatangan Caith. Wajahnya terlihat murung. "Jadi Kamu yang namanya Kiara?" Tanya Caith mencoba memulai percakapan. "Iya." Jawab Kiara singkat sembari tersenyum sopan. "Apa kamu pacar Daniel?" Tanya Caith lagi dengan senyum jahil yang membuat wajahnya semakin menggemaskan. "Ah,, tidak." Jawab Kiara sedikit malu. "Ve? Kenapa kamu tersentak? Kaget?" Tanya Caith yang sekarang menatap tajam Veon. Meskipun kata katanya terdengar ringan, tatapannya benar benar menusuk. "Bukankah sudah kukatakan Aku menyukai gadis ini kak." Sahut Veon lirih, dia menundukkan wajah seperti terdakwa yang sedang mengakui kesalahannya. "Berhentilah melakukan kebodohan! Dia manusia Ve! MANUSIA!!!" Kata Caith dengan suara meninggi. "Ada apa ini?" Tanya cowok bersuara bass yang tiba tiba ada di ruangan ini. "Oh, kalian sudah datang." Kata Caith dengan nada suara yang kembali normal. "Siapa dia?" Tanya Alden –cowok bersuara bass yang baru datang-  sambil menunjuk ke arah Kiara. "Ini yang ingin ku jelaskan pada kalian." Kata Daniel dengan suara berwibawa. "Ya sudah, duduk dan mulai bercerita." Perintah Caith. "Kiara, sebelumnya Aku sudah pernah jelaskan padamu kan tentang pemegang kuncikan?" Tanya Daniel kepada Kiara. Kiara menggangguk. "Sekarang Aku perkenalkan satu per satu. Aku, Daniel, pemegang kunci dari dunia manusia." Kata Daniel sambil menundukkan kepalanya memberi hormat. Kiara merasa jengah dengan sikapnya. "Dia, Caith, pemegang kunci dari dunia peri." Lanjut Daniel. "Dan ini Alden, pemegang kunci dari dunia gelap." Sambungnya sambil menunjuk orang yang tadi datang bersamanya. "Caith, Alden, Veon, ku perkenalkan pada kalian, ini Kiara." Jeda sejenak, Ketiga pria tampan itu menatap Daniel menunggu penjelasan selanjutnya. "Kiara adalah calon Ratu." Kata Daniel sambil menatap lurus ke arah Kiara. Mata ketiga orang itu seketika membesar karena kaget. Serempak mereka langsung menoleh ke arah Kiara dan menatapnya tak percaya. Kiara hanya diam tak bereaksi, tak bisa menyangkal, tapi juga tak mau mengiyakan. "Apa kamu yakin dengan apa yang kamu katakan Dan?" Tanya Alden pada Daniel. "Tentu. Kakek yang mengatakannya padaku. Lagipula, liontin ini bereaksi di tangannya. Bukankah seharusnya hanya kita bertiga yang dapat menggunakannya?" Kata Daniel. "Benarkah?" Tanya Alden lagi. Caith tidak secerewet tadi. Dia lebih banyak memandang Veon. Entah apa yang sedang di pikirkannya. "Iya. bukan hanya sekali, tapi tiga kali." Ucap Daniel. "Wahhh, berarti kita beruntung. Tidak semua pemegang kunci bisa bertemu dengan sang ratu." Kata Alden sambil tersenyum pada Kiara. Semua gadis pasti bertekuk lutut jika melihat senyum memikatnya itu. "Ve?" Kata Caith yang akhirnya berbicara. Yang dipanggil hanya menunduk. Veon terlihat takut pada kakaknya ini. "Apa sejak awal kamu tahu kalau dia adalah calon ratu? Makanya kamu bersikap baik padanya bahkan menyatakan cinta segala?" Tanya Caith masih dengan tatapan "membunuh"nya. "Apa maksud kakak?" Tanya Veon tak percaya, bagaimana bisa kakaknya mengucapkan kata kata menyakitkan seperti itu. "Walaupun kamu bukan pemegang kunci, tapi kamu tahu semuanya tentang ketiga dunia, termasuk tentang ratu. Bukankah dulu kita selalu belajar bersama? Apa kamu lupa kenapa kamu sampai di usir dari istana? Itu karena kamu merengek memintaku membawamu melihat ketiga dunia lain. Bahkan saat aku bilang tidak, kamu nekat memegang tanganku saat aku akan pergi ke dunia manusia." "Kakak! Kamu tahu aku bukan orang seperti itu! Bagaimana bisa kakak berkata begitu? Dulu aku hanya penasaran kak. Ingin melihat sendiri hal hal yang selama ini hanya k*****a dalam buku." Kata Veon hampir menangis. "Sudahlah Caith, kenapa kamu selalu memarahi adikmu ketika kalian bertemu? Kasihan dia." Kata Alden menengahi. "Jadi, apa rencanamu untuk sang ratu Dan?" Tanya Caith pada Daniel. Orang ini, suasana hatinya benar benar bisa berubah dengan sangat cepat. Barusan marah marah sekarang sudah normal lagi. "Aku akan membantunya mempelajari tentang 3 dunia. Dia dari duniaku, jadi dia tanggung jawabku." Jawab Daniel dengan penuh berwibawa. Dia terlihat sangat berbeda dengan Daniel yang biasa. "Baiklah, sesekali waktu kami akan membantumu mengajari Kiara, bagaimanapun dia adalah ratu kita, jadi ini tugas kita bersama." Kata Alden. Daniel hanya menjawabnya dengan anggukan sambil tersenyum hangat. Kiara mengamati keempat cowok yang sedang berada di hadapannya itu. Sepertinya aku akan sering bersama dengan keempat orang ini. Kiara baru sadar, sejak tadi Veon terus memandanginya. "Kenapa Ve?" Tanya Kiara agak gugup. Bukannya menjawab pertanyaan Kiara, Veon malah menatap kakaknya. "Kak, kalau benar dia adalah Ratu, nanti dia akan punya sayap kan?" Tanya Veon pada kakaknya. "Iya benar, lalu?" Tanya Caith masih tak paham dengan maksud Veon. "Bukankah nanti akan terlihat pada sayapnya, dia orang yang tepat atau bukan?" Kata Veon lagi, "Lancang sekali kamu Ve! Beraninya Kamu membandingkan Ratu dengan peri biasa." Kata Caith kembali marah. Kiara sendiri tidak paham apa maksud kata kata Veon. "Apa yang sedang kalian bicarakan?" Tanya Alden. Kelihatannya orang ini memang punya rasa ingin tahu yang tinggi. "Veon! Dia jatuh cinta pada sang Ratu." Jawab Caith terdengar sedikit geram. "Apa?" Alden tersentak kaget. "Tapi awalnya Aku tidak tahu kalau dia itu ratu kak." Kata Veon mencoba membela diri. "Sekalipun dia bukan ratu, kamu tetap tidak boleh jatuh cinta padanya. Dia itu manusia dan KAMU! Peri." Kata Caith penuh emosi. Sekalipun dari tadi Caith terus marah marah pada Veon, tapi dapat terlihat dengan jelas. Kasih sayang kakak terhadap adiknya. Caith marah hanya karena tak ingin Veon berada dalam masalah. "Berhentilah membentaknya Caith." Kata Alden. "Lagipula dia ada benarnya juga kan?" Lanjut Alden. Seakan melihat kebingungan Kiara, Caith mencoba menjelaskannya secara Detail. "Begini Ratu, bagi kami, para peri, hanya jatuh cinta sekali seumur hidup. Jatuh cinta pada jodoh kami. Jodoh para peri bisa di lihat dengan jelas yaitu dengan melihat sayap masing masing. Kami yang berjodoh selalu memiliki sayap yang sangat mirip. Kami hanya perlu menemukannya, jatuh cinta, menikah, lalu hidup bahagia." Kata Caith panjang lebar. "Tapi, bagaimana jika kalian jatuh cinta pada peri yang memiliki sayap berbeda?" Tanya Kiara. "Entahlah, tapi selama ini belum pernah terjadi hal seperti itu. Ini seperti hukum alam di dunia peri. Selalu seperti itu selama beribu ribu tahun." Lanjut Caith. "Bagaimana dengan Veon? Aku bahkan tak punya sayap. Bagaimana bisa dia jatuh cinta padaku." Tanya Kiara sehati-hati mungkin agar tidak melukai perasaan Veon. "Dia selalu seperti ini dari dulu. Melanggar aturan. Hanya itu yang bisa di lakukannya sejak kecil." Kata Caith sambil membuang muka. "Aku akan menunggunya." Kata Veon tiba tiba. "Apa maksudmu Ve?" Tanya Caith. "Bukankah kamu sudah dengar Kiara, peri hanya jatuh cinta sekali seumur hidup. Dan Aku sudah jatuh cinta padamu. Aku akan menunggu, sampai sayapmu keluar. Agar bisa kita tahu, kamu jodohku atau bukan." Kata Veon pelan. Kiara hampir menangis mendengar ucapannya. “Sedalam itukah perasaanmu padaku?” Tanya Kiara pelan. Belum selesai kekacauan perasaan Kiara mendengar ucapan Veon, tiba tiba Daniel menarik tangannya. "Sudah hampir gelap. ayo kita pulang." Kata Daniel tanpa tersenyum sedikitpun. Ekspresi wajahnya sulit diartikan. "Ahh,, Dan..." Kiara tak sempat bicara apapun, cahaya putih sudah keluar dari liontin Daniel dan membawa mereka kembali ke dunia manusia. ********* -To be Continue-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD