Versus tiba di sekolah tepat saat bel pertama hampir berbunyi. Ia melalui gerbang dengan antri sebentar untuk pemeriksaan, lalu langsung menuju kelas XI IPA 2.
Begitu masuk kelas, suasana sudah ramai seperti biasa. Budi sudah duduk di bangku mereka, boring mood menggambar sesuatu di buku catatan.
“Ver! Lo dari mana? Gue kira lo ijin sakit,” sapa Budi begitu Versus meletakkan tas.
“Kos dulu. Ketinggalan buku lagi,” jawab Versus datar sambil duduk.
Mata Versus fokus ke depan. Lia sudah duduk di bangkunya yang biasa, punggung tegak, sedang mengobrol ringan dengan teman perempuannya di sebelah. Pita biru masih terpasang rapi.
Lia sesekali melirik ke belakang, tapi hanya sekilas, seperti biasa. Versus pun berusaha menjaga ekspresi tetap biasa.
Tidak ada senyum lebar, tidak ada pandangan lama. Mereka kembali menjadi dua murid biasa di mata semua orang.
Budi menyikut Versus.
“Lo tau nggak? Dia keliatan cerah gini. Rambutnya kinclong.”
Versus pura-pura acuh. “Biasa aja kali. Lo kebanyakan mikir.”
“Serius. Kemarin dia nih agak dieman, sekarang malah cengar-cengir sendiri. Lo nggak nyadar?”
“Gue bukan detektif, Bud.”
Budi mengangkat bahu.
“Ya udah. Ngomong-ngomong, tugas makalah lo udah nulis belum? Gue yang bagian presentasi udah bikin slide kasar.”
“Baru outline,” jawab Versus sambil membuka buku. “Nanti sore kita ketemu di perpustakaan aja.”
Di depan mereka, Lia tertawa kecil mendengar cerita temannya. Suaranya terdengar jelas.
Versus merasa dadanya hangat, tapi ia cepat-cepat menunduk ke buku paketnya.
Ponsel di dalam tas Versus bergetar pelan sekali. Ia mengintip dengan akting book on table (baca buku).
Lia:
Lo duduknya tegang banget. Santai dong 😂
Gue juga susah nahan senyum kalo inget semalem.
Versus:
Lo-nya santai. Budi udah curiga lo “keliatan cerah”.
Lia:
Hahaha biarin. Lagian emang cerah kan abis “pijat” semalem 😉
Versus:
Li… stop. Gue bisa ketahuan nih senyum sendiri.
Lia:
Oke oke. Pura-pura biasa sekarang.
Tapi ntar istirahat gue mau pura-pura balikin catatan Fisika. Langsung di kelas atau di luar?
Versus:
Di kelas aja. Jangan lama-lama.
Lia:
Deal.
Bel masuk berbunyi nyaring. Pak Hartono masuk dengan langkah tegas seperti biasa. Seluruh kelas langsung hening.
Versus membuka buku catatan namun pikiran melayang ke video tersimpan di ponselnya, ke aroma di kamar Lia, dan pada suaranya yang memanggil.
Di depan, Lia duduk tegak, pena bergerak rapi di atas kertas. Dari belakang, ia terlihat seperti murid teladan yang biasa saja.
Hanya mereka berdua yang tahu, di balik seragam putih-abu dan wajah biasa itu.
---
Jam menunjukkan pukul 21.40 ketika Versus mematikan mesin motor di parkiran kosan. Badannya terasa pegal setelah hampir dua jam memijat klien ibu-ibu yang bahunya sangat tegang.
Saat masuk ke kamar, Versus melempar tas kerja ke sudut, lalu langsung duduk di tepi kasur lesehan sambil menghela napas panjang.
Ponsel bergetar. Chat dari Lia.
Lia:
Udah beres? Gue masih ngerjain soal Bio bab 5. Ribet banget 😩
Versus:
Baru sampe kos. Capek. Lo masih belajar? Jangan begadang mulu.
Lia:
Harus. Try out deket. Lo gimana tugas makalahnya?
Versus:
Baru setengah. Tadi kliennya lama, jadi ketunda. Nanti gue lanjutin.
Mereka terus saling balas chat sambil masing-masing mengerjakan tugas.
Lia mengeluh soal diagram sistem pernapasan, Versus membalas dengan foto coretan makalahnya yang sudah mulai rapi.
Obrolan yang berlangsung membuat Versus merasa tak sendirian lagi meski lelah.
Pukul 22.25, Versus akhirnya menutup buku. Tugas makalah sudah selesai. Ia meregangkan tubuh, lalu merebahkan diri di kasur.
Pikiran Versus melayang ke video yang tersimpan di galeri ponselnya.
Tanpa banyak pikir, Versus membuka galeri, mencari folder rahasia, dan memutar video mandi Lia.
Layar ponsel menampilkan gambar Lia di bawah guyuran air. Tubuh si molek basah mengkilap, tangan mengusap sabun perlahan di d**a, pinggang, dan turun ke pinggul.
Suara air mengalir bercampur dengan gumaman kecil Lia yang sengaja menggoda kamera.
Versus merasa napasnya mulai berat. Tangannya mulai turun ke dalam celana pendek, mengelus pelan sambil terus menatap layar.
Gerakan tangan Versus semakin cepat seiring tayangan video, membayangkan kembali sentuhan kulit Lia semalam, aroma lavender, dan suara desah gadis itu.
“Hhh…” desahnya pelan, mata setengah terpejam.
Tangan Versus terus bergerak, semakin cepat, hingga akhirnya mencapai pelepasan dengan tubuh yang menegang sesaat.
Napas tersengal, Versus duduk membersihkan diri dengan tisu, lalu berbaring sebentar sambil menatap langit-langit.
Ponsel bergetar lagi.
Lia:
Udah beres tugas lo? Gue masih ada 3 soal lagi.
Versus:
Udah. Gue istirahat bentar. Lo mau gue ke situ sekarang?
Lia:
Boleh. Kak Tiwi lagi keluar sama bang Rafi, baru pulang subuh katanya. Bawa martabak dong, gue laper.
Versus:
Oke. Tunggu 20 menit.
---