Bab 9

1071 Words
Versus merekam hampir tiga menit penuh sebelum Lia mematikan keran dan melilitkan handuk putih di tubuhnya. Gadis itu keluar dari kamar mandi dengan rambut basah meneteskan air, wajahnya masih merona. “Kirim ke gue ya nanti,” katanya sambil naik kembali ke kasur dan mencium pipi Versus. “Jangan dihapus.” “Gila lo,” gumam Versus sambil menyimpan video itu ke folder tersembunyi di ponselnya. Lia hanya tertawa kecil dan merebahkan kepalanya di bahu Versus lagi. --- Sekitar pukul 07.40, suara motor terdengar memasuki halaman. Tak lama kemudian pintu rumah terbuka. “Li! Lo udah bangun belum? Gue bawa bubur ayam!” seru Tiwi dari ruang bawah. Lia dan Versus saling pandang. Wajah Versus langsung tegang. “Tenang,” bisik Lia sambil cepat memakai kaos longgar dan celana pendek. “Gue yang ngomong.” Mereka berdua keluar dari kamar, turun dan ruang yang mereka dapati sudah tak ada orang. "Dapur," kata Lia melangkah duluan ke arah dalam. Versus sudah memakai kemeja dan celana yang semalam, rambutnya masih acak-acakan. Di meja makan, Kak Tiwi sudah duduk dengan dua bungkus bubur ayam masih mengepul. Ia menoleh, lalu alisnya langsung terangkat tinggi saat melihat Versus berdiri di belakang adiknya. “Wah… ada tamu pagi-pagi,” katanya dengan nada bercanda yang jelas. “Dinda… atau Versus?” Lia mendesah. “Kak, jangan mulai deh.” Tiwi tertawa lepas sambil membuka bungkus bubur. “Gue pulang jam segini malah nemu adek gue lagi sama cowok di rumah. Lo berdua semalem… Ngapain aja ya?” Versus merasa pipinya panas. Ia hanya bisa menggaruk tengkuknya, tidak tahu harus jawab apa. Lia duduk di kursi dan menarik Versus agar ikut duduk. “Kak, ini Versus. Teman sekelas gue. Dia… nemenin gue semalem karena hujan deras.” “Nemenin,” ulang Tiwi sambil menyeringai lebar. “Nemeniin sampe pagi, pake baju kusut, rambut acak-acakan, dan bau sabun yang gue tau banget baunya dari kamar lo. Hmm… menarik.” Lia melempar serbet ke arah kakaknya. “Kak! Jangan godain mulu. Kita cuma… ngobrol sampe malam.” “Um. Oke. Ngobrol,” Tiwi mengangguk-angguk pura-pura mengerti. “Ngobrol sambil pijat, terus ngobrol sambil mandi bareng, terus ngobrol sambil—” “Erh.. Kak Tiwi!!” potong Lia sambil tertawa malu. Versus akhirnya ikut tersenyum canggung. Tiwi ternyata tipe orang yang santai dan suka menggoda, tapi tidak terlihat marah sama sekali. “Udah, makan dulu,” kata Tiwi sambil mendorong satu bungkus bubur ke arah Versus. “Lo makan yang banyak ya, Ver. Keliatan capek semalem. Buburnya enak, tambah kecap, sambel, dan kerupuk.” Mereka bertiga akhirnya sarapan bersama di meja kecil itu. Suasana jadi santai setelah godaan awal Tiwi. Tiwi bercerita tentang malamnya bersama Rafi, sesekali masih menyisipkan godaan kecil ke arah Lia dan Versus, tapi tidak berlebihan. “Pokoknya,” kata Tiwi sambil menyuap bubur, “kalau lo berdua mau ketemu lagi di sini, bilang aja ke gue. Gue bisa kasih kode biar nggak ganggu. Tapi… jangan sampe ketahuan di sekolah ya. Gue nggak mau adek gue digosipin.” Lia mengangguk, pipinya masih agak merah. “Iya, Kak. Makasih.” Versus hanya diam sambil menikmati bubur ayam hangat. Sesekali ia melirik Lia yang duduk di sebelahnya. Gadis itu sesekali menyenggol Versus di bawah meja, memberi isyarat kecil yang membuat d**a hangat. Setelah sarapan, Tiwi bangkit dan meregangkan tubuh. “Gue mau tidur dulu. Capek semalem. Lo berdua… bebas aja, tapi jangan berisik ya,” katanya sambil mengedipkan mata sebelum masuk ke kamarnya sendiri. Begitu pintu kamar Tiwi tertutup, Lia langsung mendekat ke Versus dan berbisik di telinganya. “Video tadi… lo kirim ke gue ya sekarang. Nanti kita tonton bareng.” "Ck.." Versus menggelengkan kepala sambil tersenyum. “Lo emang bahaya, Li.” Lia hanya tertawa pelan dan mencium pipi Versus sekilas. “Baru sadar?” --- Pukul 07.15, Versus sudah berdiri di teras rumah Lia sambil mendorong motornya pelan keluar pagar. Lia muncul dari dalam rumah dengan seragam putih-abu yang sudah rapi, tas sekolah tergantung di bahu, dan rambutnya dikuncir lagi dengan pita biru muda favoritnya, wajah merona. “Naik aja,” kata Versus sambil menepuk jok belakang motor. Lia melirik ke kanan-kiri gang yang masih sepi, lalu naik ke boncengan. Tangannya memegang pinggang Versus dengan pelan, tidak terlalu erat agar tidak terlihat mencolok kalau ada yang lewat. Motor melaju pelan menyusuri Jl. Melati Dalam menuju jalan raya utama. Lia mendekatkan wajahnya ke punggung Versus dan berbisik pelan. “Lo beneran nggak apa-apa jalan kaki dari kos?” “Biasa aja,” jawab Versus sambil tersenyum kecil. “Lagian lebih aman gini. Kalau kita masuk bareng dari gerbang, besok-besok Budi langsung interogasi.” Lia tertawa pelan. “Iya sih. Gue juga nggak mau jadi bahan gosip pagi-pagi.” Sesampainya di ujung gang yang menghubungkan ke jalan besar menuju sekolah, Versus memperlambat motor dan berhenti di balik pohon trembesi besar yang biasa menjadi tempat parkir ojek online. Jarak ke gerbang sekolah masih sekitar 150 meter — cukup jauh agar tidak ada yang curiga. “Ini aja,” kata Versus sambil mematikan mesin. “Lo turun di sini, jalan kaki masuk sendiri. Gue balik ke kos dulu ganti seragam, terus jalan kaki.” Lia mengangguk. Sebelum turun, ia meremas pinggang Versus sebentar dan berbisik, “Hati-hati ya. Jangan telat.” “Iya. Lo juga.” Lia turun dari motor, merapikan rok seragamnya, lalu berjalan menuju gerbang tanpa menoleh lagi. Versus menatap punggungnya sebentar, pita biru itu kembali terlihat mencolok di antara seragam putih-abu siswa lain yang mulai berdatangan. Begitu Lia sudah cukup jauh, Versus memutar motor dan melaju cepat kembali ke kosannya. --- Di kamar kos yang sempit, Versus buru-buru mandi air dingin, mengganti seragam yang sudah disetrika semalam, lalu menyambar tas. Jam dinding menunjukkan pukul 07.35. Ia harus bergegas. Sambil berjalan kaki menyusuri trotoar perum, ponselnya bergetar. Lia: Udah sampe gerbang. Antri pemeriksaan rambut lagi 😂 Lo mana? Versus: Masih jalan kaki. Baru lewat warung Pak Dar. Lo masuk kelas aja duluan. Lia: Oke. Nanti di kelas pura-pura biasa ya. Jangan senyum-senyum aneh ke gue. Versus: Gue yang harus bilang gitu ke lo. Kemarin lo kasih catatan Fisika sambil cuekin gue. Hari ini jangan kebalik. Lia: Hahaha iya deh. Tapi susah loh pura-pura cuek setelah semalem… Versus: Sama. Gue juga masih inget video mandi lo. Lia: ANJIR!! Jangan bahas di chat sekolah!! Hapus kalau udah dibaca!! Versus: 😂 Tenang. Gue simpen di folder rahasia. Lia: Lo juga gila. Cepet sampe ya, nanti Pak Hartono masuk duluan. Versus: Siap, Nyonya. ---
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD