Bab 8

942 Words
Setelah beberapa saat, di mana aksi kulumnya membuat Versus hampir tak tahan, Lia akhirnya melepas dengan suara plop kecil. "Sekarang gue," kata Lia sambil naik kembali ke atas Versus, kali ini posisinya berlutut di atasnya. Tangannya memegang batang Versus dan mengarahkannya ke bawah tubuhnya. Ketika Versus merasakan ujungnya menyentuh 'bibir' kelembaban Lia, mereka berdua menghela napas. "Sekarang..?" tanya Versus untuk terakhir kalinya, tangannya menggenggam pinggul Lia erat-erat, mulai sulit menolak. Lia mengangguk, matanya gelap. "Udah lama banget gue mikirin ini," akunya sebelum perlahan menurunkan tubuhnya, mengambil Versus masuk ke dalamnya. Versus menahan napas ketika Lia perlahan menurunkan p****t sepenuhnya, tubuhnya yang hangat dan ketat menyelimuti batang Versus dengan sempurna. "Hgg..." Versus mengerang ketika Lia mulai bergerak perlahan di atasnya. Tangannya meraih pinggul Lia, membantunya menemukan ritme yang tepat. "Ha-- Aaah.." Lia mendesah ketika Versus akhirnya mulai mendorong dari bawah, memenuhi liang dengan setiap dorongan. "Mmhhh, pelan-pelan," pejam Lia sambil tangannya menekan d**a Versus. Rasanya terlalu banyak, terlalu dalam, tapi ketika Versus memperlambat gerakannya, Lia segera menggeleng. "Nggak, ja.. jangan berhenti. Gue bisa. Hhh, hh." Dan ketika Versus mulai bergerak lagi, dengan ritme yang stabil, Lia menghentak kepala ke belakang, rambutnya yang hitam menjuntai di punggung yang melengkung. "Ha.. AHH. Mh." Versus tidak bisa melepaskan pandangannya dari Lia di atasnya, dari cara dadanya naik turun, dari bibirnya yang terbuka mengeluarkan desahan-desahan kecil, dari cara tangannya mencengkeram d**a Lia sendiri. Ketika dorongan Versus semakin cepat, Lia menjatuhkan tubuhnya ke depan, mencium Versus dengan penuh gairah sambil tangannya meraih tangan Versus dan memimpinnya ke antara pahanya. "Sentuh di sini," bisiknya ke mulut Versus. Versus dengan patuh menggosok k******s Lia dengan ujung jarinya sambil terus mendorong ke dalamnya. Lia mulai mengerang lebih keras sekarang, tubuhnya bergetar di atas Versus. "Gue mau--" Versus bisa merasakan tubuh Lia mulai mengencang di sekelilingnya. Ia mempercepat gerakannya, tekanannya pada k******s Lia semakin kuat. Ketika Lia akhirnya mencapai o*****e, tubuhnya melengkung dan tangannya mencengkeram erat bahu Versus. "Veri..!!" Perasaan Lia yang mengerut di sekelilingnya membuat Versus juga mencapai klimaksnya. Ia mendorong dalam-dalam ke dalam Lia sambil mengerang keras, tangannya menggenggam pinggul Lia erat-erat saat ia mengeluarkan semua yang ada di dalamnya. Setelah beberapa saat bernapas berat, Lia akhirnya runtuh di atas Versus, wajahnya terkubur di lehernya. Versus dengan malas mengelus punggung Lia yang basah oleh keringat, masih mencoba menenangkan napasnya sendiri. "Lo.. hhh, hh.. beneran nggak nyangka?" tanya Lia setelah beberapa saat, suaranya masih serak. Versus menggeleng. "Nggak. Tapi.. hh, hhh.. gue nggak pernah berharap lebih." Lia mengangkat wajahnya, matanya berbinar. "Sekarang.. hh, hhh.. lo bisa ngarep lebih. Ini n***e banget." Dan ketika Lia menciumnya lagi, kali ini dengan lembut, Versus tahu ini baru permulaan. --- Pagi datang dengan cahaya matahari yang menyusup lemah melalui tirai tipis kamar Lia. Versus membuka mata perlahan, merasakan kehangatan tubuh yang masih menempel di sampingnya. Lia tertidur dengan kepala di d**a Versus, rambutnya yang biasanya rapi kini acak-acakan, pita biru mudanya sudah lepas entah ke mana. Napasnya pelan dan teratur. Versus menatap langit-langit kamar, masih agak sulit percaya semalam benar-benar terjadi. Tangan kanannya secara otomatis mengusap tubuh Lia yang polos di bawah selimut tipis. Kulit gadis itu masih terasa hangat. Lia bergumam pelan, lalu menggeliat. Matanya terbuka setengah, langsung bertemu dengan mata Versus. “Pagi…” suaranya serak karena baru bangun. “Pagi,” balas Versus sambil tersenyum kecil. “Masih pegal?” Lia tertawa pelan, menyembunyikan wajahnya di lekuk leher Versus. “Masih… tapi enak. Lo nggak usah pulang dulu ya hari ini. Kak Tiwi bilang dia baru bisa pulang siang atau sore.” Versus mengangguk. “Oke. Tapi gue harus balik ke kos bentar buat ambil seragam besok.” Lia mendongak, matanya berbinar nakal. “Sebelum itu… gue mau minta sesuatu.” “Apa lagi?” tanya Versus sambil mengangkat alis. Lia menggigit bibir bawahnya sebentar, lalu berbisik, “Lo rekam gue mandi.” Versus langsung terdiam. Jantungnya berdegup lebih kencang. “Serius?” “Iya,” Lia tersenyum malu-malu tapi jelas ada godaan di sana. “Cuma rekam aja. Nggak usah munculin muka lo. Gue pengen… liat nanti bareng lo. Kayak kenangan pribadi kita.” Versus menelan ludah. Ini jauh lebih berani dari yang ia bayangkan. Tapi melihat wajah Lia yang memerah dan mata yang penuh harap, ia tak bisa menolak. “…Oke. Tapi lo yang atur kameranya. Gue cuma pegang hp.” Lia langsung bangkit duduk, selimut meluncur turun memperlihatkan tubuhnya yang polos. Ia meraih ponsel Versus di meja samping kasur, membuka kamera, lalu mengatur mode video. Setelah itu ia menyerahkan ponsel ke tangan Versus. “Rekam dari sini aja,” arah Lia sambil menunjuk sudut kasur. “Gue mandi di kamar mandi dalam. Pintunya gue biarin agak terbuka.” Lia berjalan telanjang menuju kamar mandi kecil di sudut kamarnya. Ia sengaja tidak menutup pintu sepenuhnya, hanya menyisakan celah sekitar 30 sentimeter. Suara keran air langsung terdengar, diikuti gemericik air hangat yang menyiram tubuhnya. Versus duduk di tepi kasur, ponsel di tangan kanannya. Layar menampilkan gambar Lia yang samar-samar terlihat melalui celah pintu. Air mengalir membasahi rambut panjangnya, mengikuti lekuk punggung, pinggang ramping, hingga ke b****g yang basah mengkilap. Lia sengaja bergerak pelan, membelakangi pintu, lalu memutar badan sedikit agar Versus (dan kamera) bisa melihat sisi tubuhnya dengan jelas. Versus merasa tenggorokannya kering. Tangan kirinya mencengkeram sprei, sementara tangan kanannya menjaga ponsel tetap stabil. Lia mengambil sabun, mengusapkannya perlahan ke tubuhnya sambil sesekali melirik ke arah pintu dengan senyum kecil. “Ver… lo masih rekam?” tanya Lia dengan suara yang sengaja dibuat manja. “Iya…” jawab Versus parau. Lia tertawa pelan, lalu memutar tubuhnya sepenuhnya menghadap celah pintu. Tangan kanannya mengusap sabun di d**a, gerakannya lambat dan menggoda. Air terus mengguyur, membuat kulit gadis itu mengkilap seperti permata basah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD