Bab 7

900 Words
"Gue... pengen coba sesuatu. Lo juga, boleh kok bilang nggak, kalo emang--" "Sesuatu apa?" Versus mengerut dahi. Lia tersenyum, acaranya mencolek-colek berhenti, ujung jarinya tak mengelus-elus lagi, ia menunjuk Versus. Telunjuk itu kemudian dimasukkan ke kepalan tangan kiri, dan terakhir Lia menunjuk pada dirinya sendiri. "Gue pengen.. lo tidur di sini, semaleman. Giniin gue." Lia mengulang, jarinya masuk dan terlonggar bergerakan di kepal tangan kiri seperti menggambarkan sesuatu yang tak terlihat di antara mereka. Matanya berbinar, tapi ada kegugupan di baliknya. Versus terdiam sejenak, otaknya mencerna ulang kalimat Lia, abai isyarat gesture tangan siswi 17 tahun itu. Tengah celana Versus kembali ditelusuri ujung telunjuk Lia dan tiba-tiba terasa panas lagi, seperti ada arus listrik kecil mengalir di antara kulit mereka. Versus menelan ludah sebelum akhirnya bisa bicara lagi. "Lo beneran pengen.. gue n***e lo?" "Ih, anjir.. Shhh! Pelanin.. Hihi.. Pelan-pelan.. anjir." Lia menutup mulut Versus dengan tangan, pipinya memerah. Matanya melirik ke pintu kamar seolah memastikan Tiwi tidak tiba-tiba pulang. "Sesuatu itu apa?" tanya Versus lagi. "Bukan gitu maksudnya, Veri! Gue cuma bilang lo tidur di sini aja. Biar..." Lia langsung meringis sebal tanpa sesal, berhenti bicara untuk mencari kata. "Biar apa?" "Biar nggak kehujanan pulang." "Oh, itu.. Ya udah," jawab Versus sambil ujung jarinya balas mengusap-usap kulit siku Lia. "Iya." Dan Lia tidak melepas pandangan. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya mengeluarkan suara, lebih pelan dari sebelumnya. "Sebenernya..." Jari Lia berhenti mengusapi ereksi Versus, beralih memainkan kain sarung bantal. "Gue nggak mau lo cuma tidur di lantai atau kursi. Kasian.. titidnya.." Versus pelan mendekati Lia, naik ke arah paha dan menempatkan sembul celananya di lutut dengan mata mengawasi reaksi gadis itu. Lia masih diam menatap, mata berbinar dan bibir sedikit terbuka, sementara Versus mulai menekan tempurung lutut lebih dalam lagi. "Iya maksud gue.. lo kayak gini. n*****t gue, Ver." "Semaleman?" serak Versus. Lia mengangguk pelan, persetujuan yang membuat jantung Versus mungkin meledak. Versus diam memandang Lia yang kini mulai berbaring di tempat tidur, rok sekolahnya sedikit terangkat, memperlihatkan kulit paha yang halus. "Lo yakin?" tanya Versus, duduk kembali dengan suara seraknya. Ia merasa perlu memastikan sekali lagi, meski tangan kirinya sudah bergerak sendiri menyentuh pinggul Lia. Lia menjawab, mengangkat tubuhnya sedikit untuk menarik kerah Versus dan rebahan lagi, mendekatkan wajah mereka. Nafas Lia hangat di indera penciuman Versus. "Dari tadi gue ngomong apa, sih? Kak Tiwi pergi sama bang Rafi sampe pagi, Ver." Lia menarik napas dalam-dalam sebelum tangan kanannya bergerak ke kancing seragamnya sendiri. Jarinya gemetar sedikit saat melepaskan kancing pertama, lalu kedua. Versus menjarak wajah dengan pelan sambil menahan napas saat melihat seragam Lia perlahan terbuka, memperlihatkan tank top putih tipis di bawahnya yang sudah agak basah oleh keringat. "Lo... nggak perlu buru-buru," gumam Versus, tapi matanya tak bisa lepas dari gerakan tangan Lia. Lia menggeleng, wajahnya merah, mata berbinar. "Gue udah mikirin ini sejak lo masuk kamar," aku Lia dengan jujur. Tangannya sekarang membuka kancing ketiga dan keempat, membuat seragamnya terbuka lebar. Versus mengulurkan tangan, menyentuh tubuh Lia melalui bahan tank top yang tipis. Ia bisa merasakan kulit hangat Lia di baliknya, juga detak jantungnya yang cepat. "Kita..." Lia menggigit bibir bawah ketika tangan Versus mulai naik perlahan ke rusuknya. "...nggak bakal bisa pura-pura lagi.. habis ini.. cuma buat terapi biasa." Tangan Versus berhenti di bawah p******a Lia. "Emang harus pura-pura?" Versus melabukan mulutnya ke bibir Lia. Ketika bibir mereka akhirnya bersentuhan, rasanya seperti menyelesaikan sesuatu yang sudah lama tertunda. Ciuman pertama mereka berantakan, terlalu cepat, terlalu dalam, tapi Lia mendesah puas ketika Versus segera menemukan ritme yang tepat. Tangan Versus dengan yakin meraba p******a Lia di balik tank top, jempolnya menggosok p****g yang sudah mengeras. "Nhh.." Lia mengerang pelan ke mulut Versus, tangannya meraih kemeja Versus dan mulai melepas kancing-kancing itu dengan tergesa. Ketika akhirnya baju mereka berserakan di lantai, Lia mendorong Versus untuk berbaring dan naik di atasnya. Rambut Lia yang biasanya diikat rapi tergerai di bahu, wajah merah tapi matanya penuh tekad. "Gue mau lo lihat gue." Lia bicara sambil perlahan menarik tank top atas kepalanya. Versus menghela napas ketika Lia akhirnya telanjang di atasnya. Tubuhnya yang ramping terlihat sempurna di bawah lampu kamar yang redup, kulitnya mulus kecuali beberapa tanda lahir kecil di paha kanannya. "Lo cantik banget," gumam Versus dengan suara serak. Tangannya meraba naik dari pinggul Lia ke pinggangnya yang ramping. Lia tersenyum malu sebelum membungkuk untuk menciumnya lagi. Kali ini lebih pelan, lebih dalam. Versus bisa merasakan seluruh berat tubuh Lia menekannya ke kasur, kehangatan kulit tubuh Lia yang telanjang. Ketika tangan Versus meraba ke bawah, menemukan kelembaban di antara paha Lia, gadis itu mendesah panjang di telinganya. "Ver... jangan lama-lama," bisik Lia sambil menggesekkan tubuhnya ke bawah. "Gue udah nggak sabar." Versus mengangguk, tangannya mencari celana pendeknya sendiri yang masih menahan ereksi yang menyakitkan. Tapi sebelum ia sempat melepasnya, Lia sudah turun dari atasnya dan dengan gesit menarik celana itu sampai ke mata kaki. "Gue juga pengen liat lo," gumam Lia sambil matanya menelusuri tubuh Versus yang sekarang sepenuhnya telanjang. Tangannya menyentuh d**a Versus, lalu perlahan ke bawah, hingga akhirnya menggenggam erat batang yang sudah keras. Versus mengerang ketika Lia mulai menggerakkan tangannya naik turun dengan tekanan sempurna. "Tunggu, " Versus menarik napas dalam-dalam ketika Lia tiba-tiba membungkuk dan tanpa peringatan memasukkan ujungnya ke mulutnya yang hangat. "Haduh, Li!" Lia mengangkat matanya sambil terus mengulum batang Versus, lidahnya bermain-main di bagian bawah kepala. Rasanya terlalu baik, terlalu cepat, dan Versus harus menahan pinggulnya agar tidak mendorong lebih dalam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD