“Pergilah,” perintah Arum. “Aku ini seorang yang egois. Sekali aku memberimu kesempatan, maka nggak ada jaminan apakah aku bisa lepas dan jauh darimu setelahnya. Lebih baik, kamu pergi sekarang.” Suaranya tercekat. Arum tetap membuang muka. Tak ingin Juna melihat wajahnya yang sembab karena air mata. “Aku memberimu kesempatan untuk pergi sekarang juga. Menjauhlah. Menghindarlah sejauh-jauhnya dari jangkauanku. Aku akan coba hidup damai dan bahagia tanpa kamu. Akan kucoba.” Arum terisak di sela-sela perkataannya. Sama seperti Juna yang juga terus menggumamkan kata terakhirnya berulang kali. Suaranya terdengar pilu dan putus asa. “Ya, mungkin benar kalau kamu memang gadis yang egois. Kamu hanya memikirkan dirimu sendiri. Terus, gimana dengan aku? Aku nggak yakin bisa hidup damai dan bahagi

