"Oh ya, nanti malam apakah kamu mau ikut dengan Daddy ke pesta?"
Tania dan Letta terkesiap. Tidak biasanya Richard mengajak Nathalia setelah sekian lama karena biasanya gadis itu selalu menolak.
Mereka melototi Nathalia. Berharap di dalam hati Nathalia tidak akan menerima tawaran Richard.
Tania ingin hanya anaknya yang menjadi pusat perhatian media di dalam keluarga Richard, bukannya Nathalia yang menjadi pusat perhatian.
Begitu pun dengan Letta, ia ingin hanya dia lah yang menjadi pusat perhatian dan dikenal banyak orang sebagai putri kesayangan keluarga Richard. Keluarga terkaya di Indonesia.
Letta tidak ingin kehadiran Nathalia merusak segalanya. Merebut perhatian dan pujian yang seharusnya tertuju pada dirinya. Sungguh, Letta tidak ingin itu terjadi!
Letta tidak ingin pamornya turun karena seorang Nathalia. Jujur saja, Letta merasa Nathalia lebih cantik dan menarik dibandingkan dirinya.
"Hei, kenapa melamun?"
Nathalia tersentak mendengar pertanyaan Richard. Dia terlalu sibuk menikmati wajah tidak suka ibu tiri dan kakak tirinya. Lantas ia pun tersenyum manis ke arah Richard.
"Pesta apa Daddy? Apakah pestanya menyenangkan? Yah, Daddy tahu sendiri lah. Natha belum pernah mengikuti suatu pesta. Selama ini Natha terlalu larut dalam dunia Natha sendiri sampai tidak pernah mau tahu dunia luar."
Richard tersenyum geli mendengar perkataan penuh semangat sang putri. "Pesta ulang tahun perusahaan, putriku, dan pestanya pasti akan sangat menyenangkan karena kamu bisa bertemu banyak orang di sana."
"Tapi Nathalia takut Daddy." Sahut Nathalia lesu.
Kening Richard mengernyit heran. "Takut apa, honey?"
"Natha takut membuat Daddy malu karena Natha tidak pernah mengikuti pesta."
Richard terkekeh geli. Kemudian mengusap puncak kepala Nathalia gemas. Usapan yang menghantarkan rasa hangat ke d**a Nathalia. Baru kali ini dia merasakan kasih sayang seorang ayah.
Di kehidupannya sebagai Nathali, ayahnya terlalu cuek dan sibuk dengan pekerjaan. Ayahnya hanya berbicara dengannya untuk menanyakan nilainya. Begitu pun dengan ibunya.
Ayah dan ibunya jarang sekali di rumah dan sekalinya di rumah, mereka hanya menanyakan perkembangan akademik Nathali. Tidak pernah menanyakan apa yang dia sukai, siapa temannya, kegiatan menyenangkan apa yang dia lakukan, atau pun memeluk dan mencium Nathali penuh kasih sayang.
Di kehidupan barunya sebagai Nathalia membuat dia merasakan kasih sayang seorang ayah yang sangat nyata dan dia merasa sangat beruntung akan hal tersebut.
"Kamu tenang saja, honey. Nanti saat pesta berlangsung Daddy akan selalu di sampingmu."
Tania tiba-tiba berdehem pelan hingga pandangan Richard dan Nathalia tertuju padanya. "Nathalia denganku saja nanti, sayang. Kami sama-sama perempuan dan pastinya obrolan kami akan nyambung sehingga Nathalia tidak akan kebosanan selama pesta berlangsung."
Letta terkikik geli. "Yang mommy katakan benar, ayah. Kan kasihan kakak dilanda kebosanan karena mendengar percakapan ayah dengan rekan ayah."
Richard terdiam. Kemudian berpikir apa yang dikatakan mereka ada benarnya juga.
Nathalia yang melihat kebimbangan Daddy nya mulai beraksi. "Natha tidak akan bosan selama ada Daddy di samping Natha. Lagipula Natha ingin membantu Abang nantinya melanjutkan perusahaan Daddy. Sudah seharusnya bukan Natha mulai belajar dari sekarang?"
Semua orang terkejut mendengar ucapan Nathalia.
Richard sampai melotot terkejut. "Honey, kamu serius ingin membantu abangmu melanjutkan perusahaan? Sejak kapan kamu punya ketertarikan pada bisnis? Bukannya dulu kamu tidak tertarik pada bisnis sedikit pun?"
Dulu Richard memang ada bertanya pada Nathalia asli tapi Nathalia menjawab tidak tertarik atas ancaman ibu tirinya.
Tania ingin Nathalia tidak ikut campur dalam perusahaan supaya Letta punya peluang besar untuk menguasai perusahaan.
Tapi, sekarang, Nathalia tidak akan pernah membiarkan Letta punya peluang sedikit pun untuk menguasai perusahaan daddynya.
Serta cepat atau lambat, dia akan mengusir Letta dan ibu tirinya dari keluarga Richard. Dia tidak suka melihat parasit menempeli Daddy nya.
"Sekarang Natha tertarik pada bisnis, Daddy. Natha ingin membantu Abang menjalankan perusahaan nantinya."
Richard tersenyum senang. "Kalau kamu memang tertarik pada bisnis, nanti ayah akan menyuruh seseorang mengajarimu secara langsung supaya kamu bisa menjadi pemimpin di salah satu perusahaan ayah."
"Eh, Natha tidak ingin menjadi pemimpin, Daddy. Natha hanya ingin membantu Abang."
"Eitss, tidak terima protesan. Kamu harus menjadi pemimpin. Kalian berdua harus menjadi pemimpin di perusahaan yang Daddy bangun susah payah dengan ibu kandungmu."
Nathalia tersenyum polos. "Baiklah kalau begitu, dad."
"Sekarang kembali lah ke kamarmu untuk bersiap-siap. Kita akan berangkat ke pesta jam 7 malam. Kalau tidak ada gaun, suruh sopir mengantarmu ke butik. Kamu juga boleh pergi ke salon untuk mempercantik dirimu, honey." Richard mengelus puncak kepala Nathalia lembut.
Nathalia tersenyum dan mengecup pipi Richard sekilas namun menghadirkan senyum bahagia dari pria itu. "Natha ke atas dulu, dad." Richard mengangguk.
Tatapan pria itu beralih pada Tania dan Letta. "Kalian juga bersiaplah."
****
Jam 7 malam.
Seperti yang dikatakan Richard sebelumnya, mereka akan segera pergi ke tempat pesta.
Mereka semua sudah berkumpul di lantai bawah, terkecuali Nathalia. Tania dan Letta merenggut kesal akibat dibuat menunggu sedangkan Richard tetap menunggu dengan setia.
"Kakak kenapa lama banget sih?" Celetuk Letta.
"Mungkin dia masih sibuk berdandan, sayang. Bersabar lah sebentar." Kekeh Tania.
"Tapi lama banget, mom. Aku sudah bosan menunggunya."
"Coba kamu panggil dia, Letta." Titah Richard. Semakin membuat Letta merenggut kesal.
"Tunggu apalagi? Cepat panggil kakakmu." Suruh Tania.
Letta menghentakkan kakinya kesal. "Aku capek, mom. Dari tadi aku sibuk bolak balik untuk mempersiapkan diri. Mom saja yang memanggil kakak."
"Tidak perlu memanggilku." Kekeh Nathalia.
Semua pandangan tertuju pada asal suara. Mereka mengerjap terkejut melihat Nathalia yang sangat berbeda daripada biasanya.
Nathalia terlihat sangat cantik dalam balutan dress selutut dan make up naturalnya. High heels membuat penampilan gadis itu semakin anggun.
Richard tersenyum haru. Semakin lama, dia merasa anaknya sangat mirip dengan mendiang istrinya.
"Maaf lama, dad. Tadi Natha ketiduran." Ringis Nathalia merasa tak enak hati.
Richard terkekeh geli sedangkan Tania dan Letta hampir meledak mendengar alasan terlambat Nathalia. Namun, mereka hanya bisa memendam amarah mereka.
"Tidak apa-apa, honey. Daddy paham."
Nathalia tersenyum polos. Sementara itu, Letta dan Tania semakin kepanasan mendengar alasan menyebalkan gadis cantik itu.
Richard mengajak keluarga kecilnya masuk ke dalam mobil. Nathalia duduk di samping sang Daddy karena beralasan tidak suka duduk di belakang. Tania dan Letta yang duduk di belakang terus menghunuskan tatapan tajam pada gadis cantik itu.
Tak membutuhkan waktu lama, mereka akhirnya sampai di hotel tempat pesta diadakan. Mereka membaur dengan tamu, sedangkan Nathalia terus memeluk lengan ayahnya.
Nathalia juga turut berbicara dengan rekan bisnis ayahnya karena banyak orang yang merasa penasaran dengan dirinya.
Selain itu, rekan bisnis Richard selalu memuji Nathalia dan ingin menjodoh-jodohkan anak mereka dengan Nathalia.
Intinya, Nathalia menjadi pusat perhatian di pesta hari ini.
Hal tersebut semakin membuat kebencian Letta pada Nathalia makin membesar. Dia merasa perhatian itu harusnya hanya tertuju pada dia, bukan pada Nathalia. "Menyebalkan." Geramnya sembari meremas kuat gelasnya. Melampiaskan emosinya pada benda tak bersalah itu.
-Tbc-