Seleksi ketiga klub itu baru bisa diikuti oleh Nathalia saat pulang sekolah karena ketiganya dipanggil ke ruang guru.
Nathalia mengikuti seleksi ketiganya dan langsung lulus. Bahkan dia dipuji karena sangat ahli.
Ketiga seniornya itu langsung memasukkan Nathalia ke dalam grup dan memberi tahu jadwal klub mereka.
Musik, hari Senin dan Selasa. Renang, hari rabu. Sastra, hari Kamis. Dilaksanakan jam 16.00-18.00.
Jadwal yang begitu padat dan menguntungkan bagi Nathalia karena intensitas pertemuannya dengan kedua penghianat akan bertambah. Akan semakin mempermudah rencana Pembalasan dendamnya.
"Nat, kami pulang dulu ya." Pamit Lia mewakili Kinan dan Rasya.
"Oke, kak. Makasih untuk hari ini."
Ketiganya mengangguk. Lalu, berjalan mendahului Nathalia yang tengah duduk di bawah pohon sambil minum capppucino dingin.
Gadis cantik itu menatap kepergian ketiganya dengan tatapan iri. Dia bisa merasakan pertemanan ketiganya sangat lah tulus dan erat. Tidak seperti pertemanannya dengan Rere.
"Kapan aku bisa mendapatkan teman sebaik dan setulus mereka?" Gumamnya pelan.
Kepalanya mendongak. Menatap langit sore yang sangat indah. Rambut pirang sebahunya dimainkan oleh angin. Wajahnya tampak polos dan tenang seolah tidak menyimpan dendam dan kesedihan sedikit pun.
Gadis itu tampak tersentak kaget kala merasakan bulu kuduknya merinding lagi, seperti tadi siang.
Suasana di sekolah terasa sedikit mencekam. Mungkin karena hari sudah semakin sore.
Tanpa pikir panjang, dia langsung pergi ke tempat parkiran. Memasuki mobilnya dan menghidupkan mobil. Lalu, mulai mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang.
Nathalia menghela nafas kesal saat terjebak macet. Yah, begitu lah suasana jalanan di sore hari. Begitu padat karena banyaknya orang yang pulang kerja.
Sembari menunggu jalan tidak macet lagi, ia melahap beberapa cemilan yang disediakannya.
Tatapannya bermain ke segala arah. Melihat situasi dan kondisi sore hari ini.
Nathalia tersedak keripik kentang kala melihat sosok penampakan duduk di belakang jok motor seorang pria. Persis di sebelah mobilnya.
Tatapan penampakan itu terlihat penuh kebencian pada si pria. Merasa penasaran, Nathalia pun menatap si pengendara motor. Ternyata anak sekolahan seperti dirinya.
Nathalia mulai menerka-nerka alasan sosok penampakan itu dalam membenci si pria. Namun pada akhirnya dia bersikap tidak peduli.
Setelah menunggu lumayan lama, akhirnya mobil Nathalia bisa sampai di rumah. Gadis cantik itu menghela nafas lega dan langsung keluar dari mobil. Saat masuk pertama kali ke dalam rumah, ia langsung dicegat oleh suara sang Daddy.
"Kemana saja kamu, Nathalia?"
Nada suara Richard terdengar begitu dingin dan penuh penekanan. Seperti sedang menahan amarah.
Nathalia tersenyum polos. Kemudian mendekati Richard tanpa merasa takut sedikit pun.
Tidak mempedulikan ibu tiri dan adik tiri yang sedari tadi menatapnya dengan tatapan mencemooh dan senang dirinya akan dihukum sang Daddy.
"Natha tadi ikut seleksi klub musik, sastra, dan renang Daddy."
Richard mengerjap kaget. Tidak menyangka anaknya yang sangat introvert mulai mengikuti kegiatan di sekolah. Rasa marah dan jengkel yang dirasakannya tadi bahkan langsung menghilang seketika akibat mendengar jawaban Nathalia.
"Sejak kapan kau tertarik dengan hal seperti itu, honey?"
Nathalia menyengir. "Natha lupa daddy karena sudah sangat lama."
"Dan sejak kapan kamu bisa bermain alat musik? Alat musik apa saja yang kamu bisa mainkan, honey?" Richard begitu penasaran. Kemudian berpikir dalam diam apakah dia terlalu cuek pada anaknya selama ini hingga ia tak tahu apapun. Rasanya ia menjadi ayah yang sangat buruk untuk putri kecilnya.
"Banyak, dad. Natha bisa bermain alat musik apa saja, terutama piano."
"Kapan kamu belajar piano?"
"Sejak dulu. Hanya saja Natha belajar dari yutub."
"Kenapa tidak minta Daddy untuk membelikan mu piano? Daddy pasti akan membelikannya untukmu kalau kamu tertarik memainkannya, honey."
Nathalia meringis. "Natha takut merepotkan Daddy."
"Astaga, honey. Kamu tidak merepotkan Daddy sama sekali. Apapun yang kamu minta, pasti Daddy akan membelikannya untukmu."
Nathalia tersenyum lebar. "Benarkah?"
Richard mengangguk.
"Terima kasih, Daddy."
"Tidak perlu berterima kasih, honey."
Tania (ibu tiri) tiba-tiba berdehem. "Jangan lupa, sayang. Kita menunggu Nathalia untuk menanyakan apa yang kita tonton tadi," katanya mengingatkan.
Richard tersentak. Hampir saja dia lupa kalau tidak diingatkan. Tatapan pria itu kembali terlihat tegas pada Nathalia. Mengambil hp, memutar video, dan memperlihatkannya ke Nathalia. "Apa maksud dari video ini?" Tanyanya dingin.
Tania dan Letta tersenyum penuh kemenangan akibat mengira Nathalia akan gemetar ketakutan. Akan tetapi, apa yang mereka dapatkan sungguh mencengangkan. Nathalia tidak terlihat takut sama sekali. Gadis cantik itu malah menyandarkan punggung ke sandaran sofa sambil menatap Richard santai.
"Seperti yang ayah lihat. Natha menghajar Yuka habis-habisan karena dia duluan yang mencari masalah dengan Natha. Dulu Yuka selalu membully Natha sampai Natha terluka tapi Natha diam saja tapi tadi, Natha sudah tidak tahan menghadapi bullyannya. Makanya Natha melawan dan membuat dia kapok supaya gak berani melawan Natha lagi. Natha gak salah 'kan, Daddy?" Tanyanya dengan nada lemah.
Penjelasan panjang lebarnya membuat Richard bersimpati padanya. Dia yang tadinya marah karena Nathalia menghajar teman sekolahnya, berbalik marah mendengar Nathalia selalu dibully.
Richard semakin merasa menjadi ayah yang buruk untuk putri kandungnya itu. Selama ini dia memang tidak terlalu peduli pada Nathalia karena terlalu mementingkan pekerjaannya. Dia jarang punya waktu untuk Nathalia, bahkan hampir tidak pernah. Dia menyerahkan segala urusan Nathalia ke Tania. Tidak disangka putri kesayangannya bisa bernasib seperti ini.
"Kamu tidak salah sama sekali, honey. Bagus lah kamu berani melawannya dan kamu tenang saja, setelah ini Yuka akan meminta maaf padamu dan dikeluarkan dari Global High School."
Ibu tiri dan kakak tiri Nathalia tercengang mendengar perkataan Richard yang tak sesuai dengan ekspetasi mereka. Ekspetasi mereka adalah Nathalia dimarahi habis-habisan oleh Richard dan mendapatkan hukuman karena membuat Yuka terluka parah.
"Ini ada surat panggilan dari guru BK." Nathalia memberikan surat itu pada Richard sambil menyengir.
Richard tertawa geli. "Untuk pertama kalinya Daddy di panggil sekolah karena masalah ini." Ujarnya sambil geleng-geleng kepala.
"Hehe."
"Berapa hari kamu di skors, honey?"
"Tiga hari, Daddy."
Richard menangkup wajah Nathalia dan menatap wajah putrinya penuh kasih sayang. "Selama ini Daddy telah sering mengabaikan mu. Daddy tidak pernah tahu kamu mendapatkan bully dari teman-teman sekolah mu. Maafkan Daddy, honey."
Nathalia memegang tangan Richard dan tersenyum lembut. "Tidak apa-apa, dad."
"Untuk menebus rasa bersalah Daddy selama ini, bagaimana kalau Daddy membawamu liburan ke negara lain? Terserah negara manapun yang kamu inginkan, honey."
Mata Nathalia berbinar bahagia dalam sekejap. "Benarkah, Daddy? Daddy tidak bohong 'kan?"
"Beneran, sayang. Daddy tidak bohong."
"Kalau begitu Natha ingin berlibur ke Korea. Natha ingin melihat musim semi di sana secara langsung. Selain itu, Natha ingin membuat banyak kenangan dengan Daddy di sana."
Richard mengangguk setuju.
"Daddy, aku juga ingin ikut."
Nathalia menatap Letta datar. "Tidak boleh! Kamu tidak boleh ikut dengan kami karena ini waktu khusus ayah dan anak. Apakah kamu tidak suka melihatku menghabiskan banyak waktu dengan ayah kandungku sendiri sehingga ingin ikut dengan kami?"
Letta cemberut. Menatap Richard dengan tatapan memelas. Sama sekali tidak peduli dengan ucapan Nathalia. "Daddy.."
Richard berdehem. "Kita jalan-jalan lain waktu saja. Sekarang Daddy ingin berjalan-jalan dengan Natha saja."
Wajah Letta pias sedangkan Nathalia melayangkan senyuman mengejek pada Letta tanpa Richard sadari. Betapa puasnya dia melihat Letta mati kutu dan iri dengan dirinya. Ini baru permulaan untuk Letta, selanjutnya ia akan membuat adik tirinya itu lebih iri lagi.
-Tbc-