Nathalia sampai di kantin dengan nafas terengah-engah. Jantungnya terasa sesak akibat berlari. Untungnya sosok hantu itu tidak mengejarnya sampai ke sini.
Gadis cantik itu mengelus dadanya. Berharap rasa sesak di dadanya menghilang. Kala dirasa sudah baikan, ia beralih mengusap keningnya yang berkeringat dengan tisu. Kemudian mengipasi wajahnya dengan tangan. "Untung saja aku tidak jantungan karena penampakan tadi." Gumamnya.
Sebenarnya, Nathalia bukan lah gadis penakut. Ia berlari-larian seperti tadi karena terlampau terkejut akibat melihat penampakan sosok hantu untuk pertama kalinya selama hidup. Siapa yang tidak akan kaget jika sosok itu tiba-tiba muncul di belakangnya dan memanggil namanya dengan nada nada lirih.
Nathalia bergidik ngeri. Ternyata di sekolah elit ini ada sosok hantu yang bergentayangan. Dia pikir Global High School bebas dari hal berbau mistis, tapi ternyata tidak.
Gadis cantik itu meringis ketika merasakan belakang kepalanya berdenyut nyeri. Lantas mengusap belakang kepalanya dengan bibir mengerucut. "Untung saja aku tidak sampai koma karena berguling-guling di tangga." Gumamnya pelan.
Nathalia berdehem pelan dan sok-sok An memperbaiki rambutnya kala ibu kantin menghampirinya. "Mau pesan apa, nak?"
"Mie ayam sama teh es, Bu."
"Baik, nak. Tunggu sebentar."
"Oke, bu."
Ibu kantin meninggalkannya. Nathalia kembali sendirian. Gadis cantik itu meletakkan wajahnya di meja, kemudian memejamkan mata indahnya. Mengistirahatkan dirinya sejenak sampai pesanannya datang.
Otaknya bercabang. Memikirkan masalah pembalasan dendamnya untuk Gevan dan Rere.
Ia tidak akan pernah membiarkan kedua orang itu hidup dengan tenang setelah membunuh dan merampas hartanya. Ia akan membuat mereka sengsara dan tersiksa. Baik tersiksa secara fisik maupun tersiksa secara batin.
Namun, untuk sekarang sepertinya untuk sekarang alangkah baiknya menyiksa batin mereka terlebih dahulu. Membuat mereka ketakutan atas pembunuhan yang mereka lakukan dulu. Misalnya dengan mendekati mereka dan mengungkit-ngungkit kematian Nathali.
Nathalia tersenyum miring. Gadis cantik itu telah menemukan cara yang tepat untuk membalas mereka. Ia ingat, Gevan dan Rere ikut kegiatan ekstrakurikuler. Dengan mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang sama, tentu saja bisa menambah intensitas pertemuan mereka.
Gevan ikut klub musik sedangkan Rere ikut klub sastra. Gevan dan Rere juga ikut klub renang. Dia akan mengikuti ketiga klub itu supaya bisa berinteraksi dengan mereka.
Tawa puas muncul di bibirnya ketika membayangkan apa yang akan dilakukannya nanti. Rasanya ia sudah tak sabar untuk merusak mental mereka.
'Gevan dan Rere, kalian tunggu saja pembalasanku.' katanya dalam hati penuh ambisi.
Nathalia menegakkan tubuhnya. Kebetulan dia melihat ketua klub memasuki kantin yang sama dengannya. Kemudian, duduk di kursi seberangnya.
"Untung aja Bu Ija gak masuk kelas. Jadi bisa jajan di kantin deh kita."
"Iya. Apalagi perut gue udah lapar banget."
"Sama."
"Lo mau pesan apa?"
"Kayak biasa aja."
Itu lah perbincangan mereka yang dapat di dengar Nathalia. Gadis kecil itu tersenyum kala melihat ibu kantin menghampirinya. "Maaf sedikit lama, nak."
"Oh iya, gapapa kok Bu." Nathalia memberikan selembar uang seratus ribu. "Kembaliannya ambil aja, Bu."
Ibu kantin tersenyum lebar. "Makasih, nak."
Nathalia mengangguk. Sementara itu, ibu kantin menghampiri orang di sebrang Nathalia. Ketika mereka sudah selesai memesan, Nathalia mengangkut makanannya ke meja mereka. "Hai, kak. Gue Nathalia. Boleh bergabung dengan kakak-kakak gak? Ada sesuatu yang mau gue bahas dengan kalian."
Gadis berambut pendek tersenyum. "Boleh."
Kedua teman gadis itu pun juga memperbolehkan. Kebetulan mereka memang senior yang baik sehingga siapapun akan betah masuk ke dalam klub mereka.
Mereka adalah Rasya, ketua klub musik. Lia, ketua klub sastra. Dan Kinan, ketua klub renang putri.
Ketiga orang itu bersahabat dekat dan satu kelas. Mereka terkenal sebagai senior paling baik hati dan ramah. Selain itu, mereka juga cantik sehingga memiliki banyak fans.
Tak jarang banyak siswa yang ingin ikut klub mereka tapi sayang sekali, mereka tidak lolos seleksi. Hanya beberapa yang lolos seleksi.
"Jadi, gue ingin masuk ke klub musik, sastra, dan renang. Apakah masih bisa, kak?" Tanya Nathalia langsung.
"Bisa tapi seperti biasa. Ada seleksi dulu." Jawab Lia.
Akibat banyak yang mendaftar itu lah, harus diadakan seleksi bagi setiap siswa yang ingin bergabung.
Siswa tidak dibatasi untuk ikut bergabung. Siapapun boleh bergabung asal lolos seleksi.
"Apa seleksinya, kak?"
"Seleksi sastra membuat cerpen atau puisi." Jelas Tere.
"Seleksi musik memainkan salah satu alat musik." Jelas Rasya.
"Seleksi renang adalah mempraktekkan gaya renang yang Lo kuasai." Jelas Kinan.
Nathalia memasang wajah memelas andalannya yang mampu membuat siapapun luluh. "Seleksinya boleh hari ini juga gak, kak? Gue pengen banget ikutan klub dari dulu tapi baru sekarang gue berani untuk ikutan."
Ketiga kakak kelasnya itu tersenyum gemas melihat wajah imut Nathalia. "Tentu saja. Nanti setelah makan, kita langsung seleksi aja."
"Yeeyy! Makasih kakak-kakak cantik." Sorak Nathalia kesenangan.
Ketiga kakak kelasnya itu hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah ceria Nathalia.
"Oh ya dek, gue masih penasaran. Kok bisa ya wajah Lo dan Nathali sama? Kalian kembar?" Celetuk Rasya.
"Jangan-jangan Lo dan Nathali kembar tapi dipisahkan oleh seseorang. Kayak di dalam sinetron-sinetron gitu." Kekeh Kinan.
"Bisa jadi sih. Tapi pertanyaannya, siapa yang orangtua kandung mereka? Tuan Alexander atau Tuan Richard?" Imbuh Lia.
Rasya bertopang dagu. Menatap Nathalia intens. "Besok-besok Lo harus coba tes DNA, Nat. Terus hasilnya kasih tahu ke kami biar kami gak penasaran lagi."
Lia mengangguk membenarkan. "Tenang aja, kami bisa menjaga rahasia kok."
Nathalia menggaruk kepalanya yang tidak gatal melihat kekepoan para kakak kelasnya.
"Hush, lupain aja deh. Kasihan Nathalia tertekan karena kita." Celetuk Kinan.
"Ih, tapi gue kepo." Rengek Rasya dan Lia kompak.
"Permisi, nak. Ini pesanan kalian."
Kedua orang itu kompak menoleh ke ibu kantin dan tersenyum lebar. Apa yang mereka tunggu-tunggu akhirnya datang. Tanpa basa basi ketiganya langsung membayar makanan dan melahapnya rakus seolah sangat kelaparan.
Nathalia hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah lucu ketiga kakak kelasnya.
Andaikan saja setiap kakak kelas seperti ini, betapa menyenangkannya sekolah.
Tidak ada senioritas. Tidak ada bullying. Tidak ada perkelahian. Yang ada hanya lah saling menghormati dan menyayangi.
Akan tetapi, realita kehidupan sekolah terkadang tidak seperti yang diharapkan. Terutama untuk sekolah ini. Masih ada senioritas, bullying, perkelahian, dan tawuran.
Nathalia tersenyum kecil melihat tingkah lucu ketiganya. Tak hanya itu, mereka juga membawa Nathalia ke dalam obrolan. Bukan hanya mereka bertiga yang bercerita.
Dari pertemuan singkatnya dengan ketiga kakak kelas itu, ia yakin, jalannya untuk masuk klub tidak akan susah. Apalagi dia bisa menguasai seluruh alat musik terutama piano. Dia juga bisa berenang dan bisa menulis cerpen atau pun puisi.
'gevan dan Rere. Kalian tunggu saja pembalasanku.' bisik Nathalia dalam hati.
-Tbc-