Semua terasa sulit bagi Ammar kini. Seharusnya ini menjadi hari yang membahagiakan untuknya. Tapi nyatanya tak semua orang ikut berbahagia atas langkah baru yang diambil untuk kelanjutan hidupnya sendiri. Ada orang lain yang bahkan terluka karena keputusannya yang telah memilih Davika sebagai pendamping hidup. Zafiah, gadis itu tak pernah sehancur seperti tadi. Ammar tak pernah sedikit pun berniat menyakiti Zafiah. Ammar tak akan menyalahkan Zafiah karena memiliki perasaan dan harapan lebih pada dirinya. Sebab dirinya pun sadar bahwa perasaan itu memang datang meski kita tak meminta. Menghalau pun akan percuma, saat perasaan itu tumbuh subur dalam hati. Hanya saja, Ammar tak bisa membayangkan bagaimana hubungan baik yang selama ini telah mereka jalin akan berlanjut. Ammar yakin semua tidak akan lagi sama.
Ammar kembali ke dalam rumah dengan wajah murung. Sang nenek tak mendapati keberadaan Zafiah. “Fiah sudah pulang, mar?”
Ammar mengangguk, tak ada sepatah kata yang keluar dari bibirnya.
“Ya, sudah. Kamu sudah siap kan? Sebentar lagi kita berangkat. Itu angkot yang kita sewa juga sudah datang. Persiapan oleh-oleh dan lain-lainnya juga sudah siap.” Nenek menepuk bahu Ammar dan melangkah keluar untuk mengecek yang ada di depan.
Ammar meraih peci hitam yang berhiaskan dengan sulaman benang berwarna keemasan yang tergantung di tembok kamarnya. Pemuda itu segera mengenakannya. Dia menenangkan diri, benar, ini adalah hari yang seharusnya dia sukuri. Wajar jika rasa tak enak hati atas apa yang terjadi dengan Zafiah tadi masih bersarang di perasaannya. Namun Ammar yakin lambat laun gadis itu akan mengerti bahwa perasaan cintai itu tidak bisa dipaksakan.
Ammar tersenyum menatap pantulan dirinya sendiri. Awal kebahagiaan dan hidup yang baru akan segera dimulai. Ya, semua akan baik-baik saja.
*
Sementara itu di kediaman keluarga Davika, suasana tampak sepi dan tak ubahnya bagaikan hari-hari biasanya. Bukan tak ada persiapan, namun semua telah dipersiapkan tanpa perlu membuang tenaga. Tak ada dekorasi apa pun untuk menyambut Ammar dan keluarganya. Makanan telah di pesan melalui katering. Para wanita dari lingkungan elit tak akan merusak kuku jari mereka untuk urusan sederhana seperti itu. Bukankah ini hanya pertemuan biasa?
Davika menoleh saat pintu kamarnya tiba-tiba terbuka. Gadis itu tengah menyisir rambutnya yang kali ini dicat warna kecoklatan. Kedua matanya menangkap sosok sang mama yang merangsek masuk dengan wajah tergesa.
“Dav,” sebutnya sambil duduk di depan Davika yang masih menyisir dan memoleskan make up di wajahnya.
“Ya, ma, ada apa?” sahutnya tanpa mengalihkan pandangannya dari pantulan dirinya di cermin.
“Sayang, apa kamu yakin sama keputusan kamu ini? Maksud mama, pemuda itu beneran nggak cocok sama anak mama yang cantik ini.” Raut wajah sang mama tampak kecewa sekaligus penuh harap.
Ingin rasanya Davika menjelaskan tentang rencananya yang sebenarnya pada sang mama. Namun akal sehatnya melarang. Gadis itu tak akan mengambil risiko.
“Memangnya kenapa sih, ma? Ammar orangnya baik kok.”
“Bukan masalah baik atau tidak, tapi kamu lihat juga dong, bibit bobot bebetnya. Dav, kamu nggak kasihan sama mama? Apa kata teman-teman mama nanti kalau tahu menantu mama dari keluarga miskin, Cuma buruh gudang. Mau di taruh di mana muka mama, Dav?”
Wanita itu mendesah, benar-benar tak habis pikir oleh pemikiran suami dan putrinya. Berbicara dengan sang suami pun tak ada hasilnya, kecuali berakhir pada perdebatan yang tak berujung. Wajar bukan, bila dirinya merasa pendapatnya tak dihargai? Bagaimana Davika kan juga anaknya juga. Seorang ibu mana pun pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Tapi sang suami yang keras kepala dan tak terbantahkan itu tetap kukuh dengan pendiriannya. Ammar pemuda yang memiliki akhlak dan bisa menjadi pembimbing Davika. Selalu seperti itu yang menjadi jawaban sang suami.
“Memangnya kenapa sih ma kalau Ammar Cuma buruh? Yang penting dia nggak nyuri, gak maling kan?”
Sejujurnya Davika sangat tahu kegelisahan hati sang mama. Ya, kalau boleh memilih dia pun ingin nantinya memiliki suami yang keren. Mapan, tampan dan perhatian.
Tapi tak mungkin baginya untuk menceritakan perihal Ammar untuk saat ini pada sang mama.
“Mama benar-benar nggak paham sama cara berpikir kamu, Dav. Mama tahu kamu seperti apa, tapi kenapa kali ini kamu beneran bikin mama pusing. Dav, mama tahu kamu nggak suka dengan keputusan papa untuk menjodohkan kamu dengan anak temannya. Dan saat kamu bilang ke papa untuk memutuskan sendiri calon kamu, mama yakin pilihan kamu nggak akan salah, tapi kenapa justru kayak gini? Ammar itu....” mamanya tak sanggup lagi berkata-kata.
Davika yang tadinya menatap pada cermin sambil berhias saat berbicara pada sang mama, kemudian berbalik. Duduk berhadapan dengan mamanya, memegang kedua tangan sang mama dan menatap kedua bola mata wanita paruh baya yang tersirat kekecewaan itu.
“Ma, mama percaya kan sama aku? Aku nggak akan sia-sia in hidupku dengan sesuatu yang nggak aku suka. Mama pasti tahu aku ini seperti apa, kan. Jadi tolong mama percaya sama keputusan aku kali ini. Soal Ammar, mama nggak perlu menjelaskan siapa Ammar sebenarnya ke teman-teman mama. Beres kan?”
Sekali lagi wanita paruh baya itu mendesah, tak ada gunanya berdebat jika itu melawan sang suami dan sang putri. Dia akan selalu kalah. Sepasang bapak dan anak ini memang sangat keras kepala. Itu sebabnya setiap kali keduanya bertengkar pasti akan ngotot satu sama lain. Tapi untuk pertama kalinya bapak dan anak ini memiliki keputusan yang sama. Dan tak akan ada yang bisa berdebat tentang hal itu, termasuk sang mama. Wanita itu hanya mampu pasrah, meski dalam hati tak sudi untuk menerima Ammar sebagai menantunya kelak.
‘tok tok tok’ pintu kamar Davika diketuk.
“Non, itu tamunya sepertinya sudah datang,” teriak asisten rumah tangga Davika yang bernama bik Narti dari luar kamarnya.
Davika bangkit dari duduknya dan berjalan membuka pintu kamar. “Kenapa bik?”
“Itu non, sepertinya tamunya sudah datang, ada angkot di luar,” jawabnya.
“Angkot?” tanya sang mama dengan suara meninggi. “astaga,” gumamnya sambil memijat keningnya yang mendadak pusing.
“iya nyah, itu sepertinya ramai juga yang datang,” jawabnya lagi sambil buru-buru undur diri untuk turun ke bawah dan menyiapkan minuman di dapur.
“Tuh mah, mereka udah datang, yuk turun,” ucap Davika mengajak sang mama.
“Ya tuhan, Dav.” Mamanya tak mampu berkata-kata lagi. Ini lebih buruk dari yang bisa dia bayangkan. Menantu udik yang berasal dari kampung. Adakah hal yang lebih memalukan lagi dari ini?
“Ayo dong mah, kita turun. Calon suami aku udah dateng tuh, kasihan papa di bawah sendirian.” Davika tersenyum, jujur saja hatinya geli sendiri saat mengucapkan Ammar adalah calon suaminya. Tapi ekspresi sang mama yang lemas justru membuatnya ingin menggoda. Dasar anak tidak tahu diri.
“Astaga Davika, kamu bikin mama pusing kalau kaya gini. Ampun deh, Dav.” Wanita itu terus menggumam, namun bangkit juga dari duduknya mengekori sang putri untuk turun menemui calon menantu dan juga besannya dari kampung. Oh tuhan yang benar saja.