Part.14

1259 Words
Davika dan sang mama turun tepat saat rombongan Ammar berjalan menuju pintu utama rumah keluarganya tersebut. Terlihat Ammar bersama sepasang suami istri yang sudah cukup sepuh, dua orang lelaki lainnya yang Davika belum pernah temui. dan juga dua orang wanita yang berumur dan berbadan gempal. Mereka semua berpakaian layaknya berada pada acara hajatan kampung. Para lelaki mengenakan batik dan peci di kepala mereka. Sementara nenek Ammar mengenakan baju kurung model lama dengan selendang sebagai penutup kepalanya. Benar-benar seperti orang yang berasal dari peradaban lain. Mereka terlihat membawa banyak sekali buah tangan, ada satu tandan buah pisang seperti yang Ammar bawa tempo hari, beberapa ikat jagung yang sudah dikeringkan. Terdapat pula kardus bekas mie instan yang berisi beberapa bahan pangan lainnya. Sementara para wanita yang bersama nenek Siti masing-masing membawa bungkusan kue, kue talam dan juga kembang goyang. Seorang lelaki yang cukup berumur di samping sang kakek membawa ayam yang masih hidup yang dalam sebuah keranjang ayam atau biasa disebut kiso. Semua pemandangan itu membuat mama Davika syok setengah mati, hingga tak tahu harus bersikap seperti apa. Kepala sang mama benar-benar pening tak tertahankan. “Rombongan sirkus,” gumamnya dalam hati dengan putus asa. “Assalamu’alaikum,” mereka mengucapkan salam hampir bersamaan. “Wa’alaikum salam.” Baik sang papa dan Davika menjawab salam itu dengan baik, kecuali sang mama tentu saja. “Mari silakan,” sambut pak Arman dengan baik. Orang-orang itu menunduk, para pria bersalaman dengan papa Davika. Sementara nenek Siti dan dua orang wanita lainnya menyalami Davika dan sang mama. Davika bersikap begitu manis menyambut mereka siang itu, berbanding terbalik dengan sang mama yang memasang wajah masam dan tersenyum penuh paksaan dan pura-pura. Terlebih saat satu persatu oleh-oleh yang dibawa oleh ‘calon besannya’ itu diserahkan kepadanya. Setelahnya sang papa mempersilakan mereka semua untuk duduk. Penampilan kedua keluarga ini benar-benar kontras. Sang papa yang mengenakan kemeja lengan pendek memang selalu terlihat berwibawa dan elegan. Sementara Davika mengenakan dress selutut berwarna peach dengan rambut kecoklatan yang dibuat bergelombang. Riasan yang tegas namun cukup manis, Davika benar-benar cantik maksimal. Dan sang mama mengenakan blus berwarna putih dan celana tiga per empat berwarna biru muda. Rambutnya yang berpotongan sebahu dibiarkan tergerai begitu saja. Tak ada persiapan yang spesial dari pihak keluarga Davika, sebab mereka berpikir bahwa ini hanya akan menjadi pertemuan keluarga yang membahas tentang kelanjutan hubungan anak-anak mereka. Tapi ternyata Ammar datang bahkan membawa orang-orang lain di samping keluarganya dengan segala hal yang mereka bawa. “Sebelumnya, perkenalkan Saya Arman, papanya Davika. Dan itu istri saya, Rita.” Papa Davika memperkenalkan diri. Orang-orang yang bersama Ammar mengangguk-angguk. Kemudian salah seorang dari mereka mulai menegakkan duduknya dan berdehem, bersiap memulai kata. “Saya Natsir, pak, kebetulan saya ketua RT di desa kami. Beliau pak Rahman, kakek dari nak Ammar. Dan yang sebelahnya, Bu Siti, istri beliau,” ucap lelaki yang mengaku ketua RT di mana keluarga Ammar tinggal sambil menunjuk dan mengenalkan satu per satu rombongan yang bersamanya. Beberapa pembicaraan basa-basi yang terasa sedikit canggung mewarnai menit-menit pertama pertemuan penting itu. “Jadi, maksud dari kedatangan kami kemari adalah untuk bersilaturahmi kepada keluarga bapak. Dan bermaksud untuk membicarakan niatan baik antara nak Ammar dengan putri bapak, yaitu mbak Davika.” Lelaki itu mulai berbicara pada intinya, meski berasal dari lingkungan yang berbeda, namun dapat terlihat jelas bagaimana santunnya ketua RT itu berbicara mewakili keluarga Ammar. Papa Davika mendengarkan dengan seksama tanpa menyela. Di sisi lain sang mama menahan rasa muak dan entah apa namanya terhadap semua lelucon ini. Andai bisa berharap, wanita itu akan senang jika kejadian ini hanyalah sebuah mimpi semata. Bagaimana bisa anak gadis satu-satunya yang sangat dia sayangi akan berjodoh dan menjadi menantu dari keluarga kelas rendahan seperti ini. Mamanya memang tak pernah terlalu peduli dan ikut campur masalah jodoh dan kekasih Davika sebelum ini. Tapi ini diluar bayangannya, ini sudah sangat keterlaluan dan tidak masuk akal. “Jika diizinkan, kami mewakili Ammar Permadi untuk meminang, meminta putri bapak yang bernama Davika Azzura untuk menjadi pasangan hidup nak Ammar permadi. Untuk menjalankan perintah agama, mengarungi kehidupan baru dalam ikatan suci pernikahan dengan ridho Allah yang maha esa.” Tatapan Ammar beberapa kali bersirobok dengan mata Davika, namun setiap kali pula Ammar akan menunduk dan beristighfar dalam hati. Kecantikan Davika yang belum resmi menjadi istrinya secara sah adalah godaan dan cobaan tersendiri bagi Ammar. Jika sebelumnya tak seperti itu adanya, namun ikatan yang terjalin dengan jelas beberapa waktu terakhir ini membuat Ammar memandang Davika berbeda dan jauh lebih berhati-hati menjaga mata dan sikapnya. “Saya sangat menghargai niat baik dari Ammar dan keluarga untuk meminang putri saya satu-satunya, Davika. Untuk menjalankan perintah agama. Memang adalah hak saya untuk menjawab pinangan dari Ammar, namun sebagai seorang ayah saya akan meminta putri saya menjawab lamaran ini, sebab dirinya lah yang akan menjalani semuanya.” Arman menjawab dengan sangat bijaksana, lelaki itu menoleh pada sang putri yang tak tampak gugup sekalipun. Sebab bagi Davika, ini semua hanyalah lelucon dan kepura-puraan. Jelas saja tak akan butuh waktu lama untuk Davika menjawab pertanyaan ini. Bagaimanapun inilah yang memang diharapkan olehnya. Ketika semua orang masuk dalam perangkapnya. Ammar yang malang serta sang papa yang bisa dikelabuhi dan tak sepintar biasanya. Sampai pada titik ini Davika merasa dirinya telah menang. Berbeda dengan Davika, Ammar menunggu jawaban dari mulut Davika dengan jantung yang berdebar tidak karuan. Gugup setengah mati, antara bersemangat dan juga khawatir dalam satu waktu. Bagaimana kalau akhirnya Davika berubah pikiran? Bagaimana kalau gadis itu mendadak mengatakan tidak. Tangan Ammar mendadak berubah dingin. Baru saja Davika ingin membuka mulutnya, sang mama memegang lengan gadis itu, membuat Davika menoleh. Sang mama mendekatkan mulutnya pada telinga sang putri semata wayang itu. Wanita paruh baya yang masih sangat cantik itu berbisik, “Dav, pikirkan baik-baik, ini semua menyangkut masa depan kamu. Kamu bisa cari lelaki lain yang lebih baik selain anak itu. Mama mohon pikirkan lagi, kamu tidak akan bahagia dengan pilihan kamu yang ini. Mama jamin.” Davika tak menjawab, namun hanya tersenyum. Saat mamanya mengatakan tentang memikirkan masa depan, justru hal itu semakin membuat Davika yakin akan keputusannya. Dia melakukan semuanya sampai sejauh ini karena memang memikirkan tentang masa depannya. Terjebak dengan lelaki pilihan papanya akan jauh lebih sulit dibanding terjebak sementara dengan pemuda kampung yang polos ini, yang dengan mudah bisa ia perdayai. “Davika bersedia menikah dengan Ammar, pa.” Tegas, Davika menjawab tanpa perlu berpikir dua kali. Gadis itu tersenyum, bukan senyum bahagia layaknya seorang gadis yang menerima pinangan dari kekasih yang dicintainya, melainkan senyum kemenangan. Pancaran kebahagiaan tersirat dengan sangat jelas pada tatapan mata Ammar dan keluarganya.  Sementara sang papa tersenyum puas, inilah yang dia inginkan, seorang lelaki yang bisa menjadi pembimbing dan pelindung Davika untuk menjadi lebih baik. Dan sang mama hanya bisa terduduk lemas, usahanya menyadarkan sang putri benar-benar sia-sia dan tak di dengar. Sebenarnya apa yang membuat putrinya yang cerdik itu menjadi sangat bodoh seperti saat ini. Mama Rita mengutuki dalam hati, entah apa yang telah Ammar lakukan, hingga membuat Davikanya seperti ini. Semua orang di ruangan itu bahagia dengan pemikiran dan tujuan masing-masing, kecuali sang mama tentu saja. “Alhamdulillah.” Ucapan syukur itu bergema. Nenek Siti bangkit berdiri dan mendekat pada mama Rita. Wanita sepuh itu meraih tangan sang mama, membuat wanita cantik itu terkejut karena terlalu mendadak. “Alhamdulillah bu, semoga anak-anak kita diberikan kebahagiaan dan kelancaran. Semoga kita bisa menjadi keluarga yang baik,” ucap nenek Siti dengan bijaksana. Mama Davika hanya mengangguk dan tersenyum canggung. Wanita tua itu mengelus dengan hangat kedua tangan mama Davika, terasa seperti usapan lembut dari seorang ibu. Tatapan wanita tua itu begitu lembut dan tulus, membuat Rita salah tingkah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD