bc

keep reading yeah

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
dark
love-triangle
firefighter
sweet
mythology
pack
chubby
like
intro-logo
Blurb

Happy reading, hope you like it

chap-preview
Free preview
Chapter 1
Malam itu, kabut tipis merayap di antara pepohonan pinus yang menjulang tinggi di Hutan Pine Ridge. Di dekat perkemahan sekolah, tawa riang teman-teman sekelas Maya terdengar menghangatkan udara yang menusuk tulang, tetapi Maya merasakan kejanggalan yang tak kasat mata. Sejak tenda pertama didirikan sore tadi, ia merasa ada sepasang mata liar yang terus mengawasi setiap gerak-geriknya dari balik kegelapan rimba. Ketika kayu bakar mulai menipis, Maya berinisiatif mengambil beberapa ranting kering di batas area tenda. Mengabaikan larangan pembina kemah, ia melangkah beberapa meter lebih jauh ke dalam bayang-bayang pepohonan. Sunyi mendadak menyergap, menenggelamkan tawa teman-temannya menjadi dengungan samar. Bunyi ranting patah di belakangnya.Membuat Maya takut dan tiba tiba badannya membeku. Dari balik pohon besar tua, sesosok makhluk raksasa berbulu abu-abu gelap dengan mata keemasan menyala perlahan keluar dari kegelapan. Itu bukan serigala biasa, tubuhnya menjulang tinggi, kekar dengan struktur separuh manusia, memancarkan aura buas yang mematikan. Namun, bukannya menerkam atau mengoyak, makhluk buas itu justru mendekat dengan langkah pelan dan sangat berhati-hati, seolah takut membuat Maya lari ketakutan. Napas hangat makhluk itu menyapu wajah Maya, membawa aroma tanah basah dan pinus liar. Jantung Maya berdegup kencang hingga terasa sakit di dadanya, tetapi ia terpaku saat cakar hitam tajam yang sanggup merobek baja itu terangkat perlahan—hanya untuk menyelipkan seuntai rambut Maya ke belakang telinganya dengan sentuhan yang luar biasa lembut. Tatapan mata emas sang monster sarat akan obsesi yang mendalam dan protektif. Makhluk itu sudah mengenali aromanya jauh sebelum kemah ini dimulai, mengintainya dari perbatasan kota, dan kini akhirnya menemukan momen untuk mendekatinya. Tangan berbulu tebal itu menggenggam lembut pergelangan tangan Maya, meletakkan sebuah liontin batu giok kuno yang terasa hangat di telapak tangannya. Teriakan teman-temannya yang memanggil nama Maya dari kejauhan memecah keheningan. Makhluk itu menegakkan tubuhnya, mendengus pelan dengan geraman rendah yang terdengar seperti janji, lalu melompat ke dalam pekatnya hutan tanpa suara. Maya berdiri mematung di tengah dinginnya malam, menyadari bahwa ia baru saja ditandai oleh penguasa rimba yang tak akan pernah melepaskannya. Maya buru-buru menyembunyikan liontin batu giok hangat itu ke dalam saku jaketnya tepat saat sorot lampu senter menyapu semak-semak. Teman sekelasnya, Rian, muncul dengan napas terengah-engah bersama dua orang lainnya, mengomel tentang betapa berbahayanya keluyuran sendirian di batas hutan saat malam buta. Maya hanya mengangguk linglung, membiarkan dirinya ditarik kembali ke kehangatan api unggun, sementara jari-jarinya di balik saku terus menggenggam erat permukaan giok yang seolah berdenyut seirama dengan detak jantungnya. Malam semakin larut, dan perkemahan akhirnya tenggelam dalam keheningan total. Semua orang terlelap di dalam tenda masing-masing, kelelahan setelah seharian beraktivitas. Namun, Maya tidak bisa memejamkan mata. Udara di dalam kantong tidurnya terasa pengap, dan sensasi terbakar pada liontin di sakunya kian menguat. Gesekan halus di dinding luar tenda membuatnya sontak menahan napas. Bayangan siluet raksasa terpantul jelas dari cahaya bulan temaram yang menembus kain tenda. Makhluk itu tidak pergi, ia melingkarkan tubuh besarnya tepat di luar tenda Maya, menjaganya bagai harta paling berharga. Suara hembusan napas berat dan geraman rendah yang terdengar posesif bergetar lembut menembus kain tipis, meredam rasa takut Maya menjadi rasa ingin tahu yang aneh. Ketika Maya memberanikan diri membuka sedikit ritsleting pintu tenda, ia terkesiap. Wujud serigala raksasa itu telah memudar, digantikan oleh sosok pemuda bertubuh tegap dengan tato cakar samar di lehernya. Kulitnya pucat di bawah sinar bulan, namun mata keemasan yang sama menatap lurus ke dalam pupil Maya. "Kau tidak seharusnya berada sejauh ini dari kota, Maya," bisik pemuda itu dengan suara serak yang bergetar penuh damba. Senyum tipis terukir di bibirnya saat jemarinya menyentuh ujung ritsleting tenda. "Tapi sekarang hutan ini tahu aromamu... dan kawananku tahu kau milik siapa." Maya terperangah, tenggorokannya tercekat hingga tak sanggup mengeluarkan satu kata pun. Angin malam berhembus dingin menyusup lewat celah tenda, tetapi hawa panas yang memancar dari tubuh pemuda itu justru mengikis rasa menggigilnya. "Si... siapa kau?" bisik Maya akhirnya, suaranya bergetar tipis di tengah deru dedaunan pinus. Pemuda itu berlutut lebih rendah, menyejajarkan tatapannya dengan Maya. Sorot matanya yang keemasan tampak berkilat lembut di bawah pendar rembulan, menatap Maya bukan seperti mangsa, melainkan sesuatu yang telah ia cari sepanjang hidupnya. "Namaku Kael," jawabnya dengan suara berat yang menenangkan sekaligus mengintimidasi. Jemarinya yang hangat dan kokoh perlahan menyentuh liontin giok yang masih digenggam Maya, membuat getaran aneh merambat cepat ke d**a gadis itu. "Dan batu itu adalah janji. Selama kau mengenakannya, tak ada satu pun makhluk buas di hutan ini yang berani menyentuhmu." Sebelum Maya sempat mencerna semuanya, suara lolongan panjang bergema dari puncak bukit di seberang jurang. Kael tersentak pelan, rahangnya mengeras dan aura liarnya kembali berkobar dalam hitungan detik. Ia menoleh ke arah kegelapan pekat, lalu kembali menatap Maya dengan tatapan posesif yang tak terbantahkan. "Kawananku mulai mencari ku," bisik Kael tergesa. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, mengecup dahi Maya dengan sangat lembut sebelum gadis itu sempat menarik diri. "Tidurlah. Besok bus sekolahmu akan membawamu pulang ke kota, tapi jangan berpikir ini adalah akhir." Kael berdiri, melangkah mundur perlahan ke dalam pelukan bayang-bayang pohon pinus. Tubuhnya mulai diselimuti kabut tebal, dan dalam sekejap mata, siluet serigala raksasa kembali terbentuk di antara pepohonan. "Ke mana pun kau pergi, aku akan selalu mengawasi mu, Maya," geraman rendah itu terdengar langsung di benak Maya, tepat saat sosok serigala perkasa itu melesat lenyap ke dalam rimba yang pekat, meninggalkan aroma pinus dan jejak cakar yang dalam di atas tanah basah. Pagi hari tiba terlalu cepat, disambut oleh kabut dingin yang perlahan terangkat oleh sinar matahari fajar. Suasana perkemahan kembali riuh saat para siswa mulai membongkar tenda dan memasukkan tas ransel ke bagasi bus. Maya berjalan seperti orang linglung, membiarkan teman-temannya sibuk mengobrol tentang malam terakhir mereka yang membosankan tanpa menyadari bahwa hidup Maya telah berubah total semalam suntuk. Di bawah kerah jaketnya, liontin giok pemberian Kael terasa hangat menempel di kulit dadanya, memancarkan denyut ritmis yang aneh namun menenangkan. Saat Maya menaiki bus dan duduk di dekat jendela baris belakang, mesin bus mulai menderu kencang dan perlahan bergerak meninggalkan area perkemahan. Jalanan berliku membelah lebatnya pepohonan pinus. Pandangan Maya terpaku menatap ke luar jendela, mencari-cari keberadaan sosok buas yang semalam meruntuhkan logika berpikirnya. Tiba-tiba, di atas tebing batu karang yang menjulang tinggi di pinggir jalan raya, Maya melihatnya.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Gairah Lama Kembali Membakar

read
1.6K
bc

Putri Haram Konglomerat untuk Tuan Muda Cacat

read
11.9K
bc

Orang Ketiga

read
36.5K
bc

Kuliah Malam Bersama Dosen Hot

read
156.1K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pilihan Hatimu

read
113.9K
bc

Babysitter Canduku

read
19.8K
bc

Benih Mantan Kekasih

read
11.8K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook