Chapter 3

1047 Words
Pakai ini," Kael menyodorkan helm kepada Maya, sebelum menatap lurus ke dalam matanya dengan nada posesif yang mutlak. "Mulai hari ini, tidak ada yang boleh mendekatimu selain aku. Aku akan membawamu ke suatu tempat di mana kau bisa melihat duniaku yang sebenarnya." Maya menatap jalanan yang membentang menuju perbatasan hutan di kaki bukit. Liontin giok di dadanya berdenyut kian hangat, seakan menegaskan bahwa hidup normalnya sebagai gadis SMA biasa telah berakhir, digantikan oleh takdir baru di bawah kekuasaan sang serigala penguasa rimba. Motor hitam besar itu menderu membelah jalanan aspal yang perlahan berganti menjadi jalan setapak berbatu di kaki bukit. Udara perkotaan yang bising tersapu oleh hembusan angin sejuk yang sarat akan aroma dedaunan basah dan lumut liar. Maya memeluk pinggang Kael erat-erat, merasakan getaran tenaga luar biasa dari otot punggung pemuda itu saat ia mengendalikan laju motor menembus kabut tipis di batas rimba. Mereka berhenti di sebuah dataran tinggi tersembunyi yang dikelilingi oleh pilar-pilar batu kuno yang tertutup lumut. Di tengah hamparan tersebut berdiri sebuah pondok kayu besar bernuansa megah dan kokoh, menghadap langsung ke arah jurang berhutan lebat di bawahnya. Kael turun lebih dulu, melepaskan helm Maya dengan kelembutan yang sangat kontras dengan pembawaannya yang buas. "Selamat datang di wilayah teritori ku, Maya," bisik Kael. Sebelum Maya sempat merespons, semak-semak lebat di sekeliling pilar batu mulai bergemerisik. Dari balik pepohonan, muncul beberapa serigala berukuran raksasa dengan warna bulu beragam—putih perak, cokelat kemerahan, hingga hitam legam. Geraman rendah terdengar saat serigala-serigala itu menatap tajam ke arah manusia asing di hadapan mereka, melangkah maju dengan sikap waspada. Maya tersentak mundur, namun Kael bergerak cepat merengkuh pinggangnya dan menariknya merapat ke dadanya. Kael mengarahkan tatapan dingin ke arah kawanannya. Matanya berkilat keemasan menyala, dan dari tenggorokannya terdengar geraman Alpha yang begitu dominan dan menggetarkan tanah hingga dedaunan kering di sekitarnya tersentak. Seketika itu juga, kawanan serigala buas tersebut menundukkan kepala mereka ke tanah, menunjukkan kepatuhan mutlak tanpa ada yang berani melawan. Kael kembali menunduk menatap Maya, menyentuh lembut liontin giok yang masih hangat di leher gadis itu. "Mulai detik ini, mereka tahu siapa ratu mereka," bisik Kael, suaranya sarat akan obsesi yang kini diakui oleh seluruh penguasa rimba. "Kau tidak akan pernah bisa melarikan diri dariku lagi, Maya." Kael menuntun Maya menaiki tangga kayu pondok megah tersebut, sementara kawanan serigala di halaman tetap bersimpuh tunduk hingga pintu depan tertutup rapat. Begitu berada di dalam, kehangatan perapian menyambut mereka, memancarkan cahaya temaram ke dinding kayu yang berhiaskan artefak kuno dan kulit hewan buruan. Maya melepaskan genggaman tangannya perlahan, melangkah mundur ke tengah ruangan yang luas itu. Jantungnya berdegup tak beraturan saat menyadari betapa terisolasinya tempat ini dari peradaban manusia. "Kael, ini gila," bisik Maya, suaranya bergetar menahan luapan emosi yang campur aduk antara takut dan pesona yang tak bisa ia sangkal. "Aku punya keluarga, sekolah, dan kehidupan di kota. Kau tidak bisa seenaknya membawaku ke puncak bukit ini dan menamaiku ratu kawananmu!" Kael tidak marah. Langkah kakinya mendekat tanpa suara, memangkas jarak di antara mereka hingga Maya bisa merasakan panas tubuh dan deru napas liar pemuda itu. "Kau tidak mengerti, Maya," ucap Kael lirih, jemarinya terangkat menyentuh tengkuk Maya, menelusuri garis lehernya dengan kelembutan yang memabukkan. "Sejak malam pertama aromamu menyentuh angin di Pine Ridge, jiwaku sudah terikat. Serigala di dalam diriku tidak akan pernah membiarkan pasangannya kembali ke kawanan manusia yang lemah." Kael meraih liontin giok di d**a Maya, mengangkatnya sedikit hingga batu itu memancarkan kilau hijau keemasan yang selaras dengan pupil matanya. "Batu ini bukan sekadar pelindung, tapi segel pengikat ikatan kita," bisik Kael, menatap lurus ke dalam bola mata Maya dengan binar obsesi yang kian pekat. "Dunia manusiamu sudah berakhir, Maya. Di sini, kau aman. Di sini... kau milik sang Alpha selamanya Maya terdorong mundur hingga punggungnya menyentuh pilar kayu di dekat perapian. Hawa panas dari api unggun di belakangnya tak sebanding dengan intensitas tatapan Kael yang menguncinya tanpa celah. "Kau tidak bisa memaksaku, Kael," ujar Maya, berusaha mempertahankan ketegasan meski suaranya bergetar. "Ikatan ini... kau yang menentukannya sendiri tanpa persetujuanku." Senyum tipis yang penuh percaya diri kembali terbit di bibir Kael. Alih-alih membantah, ia justru menundukkan kepalanya, mendekatkan bibirnya ke telinga Maya hingga hembusan napas hangatnya membuat bulu kuduk gadis itu meremang. "Tubuhmu tidak berkata demikian, Maya," bisik Kael rendah. Jemari Kael yang kokoh perlahan menuntun tangan Maya untuk menyentuh dadanya sendiri. Di balik kemeja seragam yang mulai kusut itu, Maya bisa merasakan detak jantung Kael yang berdegup sangat kencang dan kuat—berdenyut dalam ritme yang persis sama dengan denyutan liontin giok di dadanya. Getaran itu merambat melalui pembuluh darah Maya, menciptakan gelombang kehangatan yang melumpuhkan rasa takutnya secara perlahan. Tiba-tiba, suara ketukan keras memecah keheningan di dalam pondok. Pintu depan sedikit terbuka, dan sesosok pria paruh baya bertubuh tegap dengan sorot mata abu-abu tajam melangkah masuk. Dari posturnya, jelas bahwa ia adalah salah satu tetua kawanan. Pria itu membungkuk hormat sekilas pada Kael, namun raut wajahnya tampak tegang. "Alpha," lapor pria itu dengan nada serius. "Patroli perbatasan mendeteksi pergerakan di kaki bukit. Bau kawanan serigala liar dari wilayah utara... mereka mencium aroma manusia yang baru kau bawa masuk." Sorot mata Kael seketika berubah gelap dan dingin. Aura dominan terpancar kuat dari tubuhnya, menandakan insting membunuh sang predator puncak yang terusik. Kael melirik Maya sekali lagi, menutupi tubuh gadis itu di balik punggungnya yang bidang sebelum menatap tajam ke arah pintu keluar. "Bawa senjata perak dan jaga gerbang utama," perintah Kael dengan suara dingin yang sarat ancaman maut. "Tak ada satu pun serigala liar yang boleh menginjakkan kaki di tanah ini, apalagi mengincar apa yang sudah menjadi milikku." Tetua itu mengangguk patuh lalu bergegas keluar, membiarkan pintu tertutup dengan dentuman berat. Di luar, suara lolongan panjang kawanan utara mulai bersahut-sahutan di kejauhan, membelah malam bukit yang sunyi dan menyebarkan teror ke udara dingin. Kael berbalik menghadap Maya. Rahangnya yang tegas mengeras, tetapi sorot matanya yang liar melembut saat jemari hangatnya menangkup pipi gadis itu. Hawa panas dari tubuhnya kian pekat, seolah insting bertarungnya yang terpicu ikut memanaskan darah serigala di dalam nadinya. "Tetap di dalam pondok ini, Maya. Jangan keluar apa pun yang kau dengar," bisik Kael dengan suara serak yang berat. Jemarinya meraba liontin giok di leher Maya sekali lagi, memastikan pelindung itu tetap menempel erat di kulitnya. "Liontin ini akan menyamarkan keberadaan mu dari penciuman mereka jika mereka berhasil mendekat."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD