“Apa yang terjadi?” Ucap Dylan yang baru saja sadar. Laki-laki itu mendapati ketiga temannya sedang duduk bersama disebuah meja. Aruna, Agra dan Tomi menatap Dylan dengan wajah serius, sedangkan Sarah masih terbaring tak sadarkan diri diatas sofa tua akibat serangan dahsyat dari Beatriz tadi siang.
“Ada apa? Kenapa Sarah tak sadarkan diri?” Ucap Dylan lalu duduk bergabung bersama mereka.
“Beatriz. Dia ada di pihak istana.” Jelas Agra.
“Tidak. Beatriz hanya diperalat. Kita bisa mengembalikan kesadarannya jika berhasil mengambil chip sialan itu dari dalam kepalanya.” Ucap Aruna.
“Kau tak apa? Kau terlihat pucat.” Ucap Dylan namun di abaikan Aruna.
“Tidak ada waktu lagi. Kita hanya punya 3 hari untuk melawan Arka. Satu-satunya hal yang harus kita persiapkan adalah sekutu.”
“Aku akan kembali ke The Unknown.” Ucap Tomi tiba-tiba sambil menatap Sarah dari kejauhan.
“Oh, lihat si pengecut ini.” Ucap Agra.
“Aku tidak bermaksud untuk kabur. Ada yang ingin aku kerjakan disana. Dan aku membutuhkan buku ini.” Ucap Tomi sambil mengambil buku kekuatan dari tangan Agra.
“Apa maksudmu? Kau pikir karena aku membiarkan kau tinggal disini berarti aku sudah mempercayai mu sepenuhnya? Jangan salah sangka Tomi.”
“Hentikan. Kau hanya memperlambat pekerjaan kita. Kalian tidak perlu mengkhawatirkan aku. Rasa benci ku terhadap Arka, sama besarnya dengan kalian, Sarah tau tentang itu. Yang harus kalian lakukan sekarang adalah menggunakan kemampuan Dylan. Aku pergi dulu.”
“Lagipula pistol kesayangan ku ada denganmu, aku tidak akan meninggalkan benda yang lebih ku sayangi dibanding nyawa ku sendiri pada orang gila seperti mu.” Ucap Tomi serius. Agra tersenyum dan membiarkan Tomi pergi.
“Aku suka gaya teman mu itu.” Ucap Agra.
“Dia menyukai Sarah, jangan berharap lebih.” Ucap Dylan.
“Aku tidak menyukainya seperti yang kau pikirkan bodoh!” Ucap Agra emosi.
“Jadi kau mau aku meretas komputer istana huh?”
“Tidak, aku mau kau meretas semua media yang tersiar di tiap distrik.”
“Untuk apa? Kau mau memperlihatkan dirimu?”
“Aku akan membongkar kebusukan Istana dihadapan rakyat.”
“Bagus! Itu yang aku tunggu-tunggu dari kemarin!”
“Besok adalah hari sabtu, semua orang akan pergi ke balai kota untuk mengambil pasokan makanan. Kalian ingat layar raksasa yang biasanya menampilkan wajah menjijikkan Arka? Aku akan meretas layar itu dan menampilkan wajah kalian disana.”
Seorang laki-laki berambut panjang dengan setelan hitam yang menempel dibadannya mengendap-endap menuju markas The Unknown. Kakinya bagaikan berjalan diatas angin, cepat dan tidak bersuara, setelah berhasil masuk ke dalam. Sambil mengecek keadaan sekitar, Tomi masuk kedalam kamarnya dan mengambil semua senjata api miliknya lalu memasukkannya kedalam sebuah tas jinjing berukuran besar. Dengan tingkat kewaspadaan yang tinggi Tomi kembali keluar dari kamarnya dan menyembunyikan senjata-senjata itu didalam tanah didekat sebuah pohon rambutan. Setelah semuanya aman Tomi kembali lagi ke kamarnya dan mulai mengerjakan semua rencana yang telah di pikirkannya sedari tadi.
Tomi membaca semua informasi yang ada didalam buku itu. Dimulai dari cairan kimia yang direkayasa oleh Arka sendiri sampai keterangan tentang Health Point dan Mana Point yang ada pada setiap Specimen.
“Health Point berasal dari tenaga dan daya tahan tubuh spesimen, setiap serangan yang melukai tubuh specimen akan mengurangi jumlah HP milik spesimen.”
“Mana Poin berasal dari cairan kimia yang di suntikkan saat tes berlangsung, cairan tersebut akan masuk kedalam tubuh spesimen dan mengubah DNA spesimen sesuai dengan kemampuannya, MP adalah tenaga yang dipakai oleh spesimen saat ingin menggunakan kekuatan mereka. Jika MP terkuras habis, spesimen tidak akan bisa menggunakan kekuatan mereka dan merasa sangat lemas selama beberapa saat. Hm.. Menarik.” Gumam Tomi.
Tomi beranjak dari tempat tidurnya dan hendak menuju gudang penyimpanan tempatnya biasa membuat sesuatu, didalam benaknya, alat yang akan dia buat ini sudah pasti akan sangat berguna untuk Sarah dan spesimen lainnya.
“Siapa kau? apa yang kau lakukan disini?” Ucap Tomi pada seorang perempuan dengan rambut pendek dan luka goresan di alis kanannya.
Perempuan itu menatap Tomi dengan cukup lama, berbeda dengan anggota-anggota The Unknown yang lain. Perempuan ini terlihat sama sekali tidak takut dengan Tomi.
“Aku baru pertama kali melihat mu disini, kau anak baru? Pantas saja kau berani melihat ku selama itu. Perkenalkan-” Ucap Tomi terpotong dengan tangan kanannya yang terdiam menunggu untuk disalam.
“Estomihi Bornslav. Satu-satunya Marksman yang ada di organisasi ini.” Ucap perempuan itu santai sambil menyalakan sebuah rokok.
“Bagaimana bisa anak-anak seperti mu merokok? Berapa usiamu? 15? 16?”
“Aku? 13 tahun. Kenapa rupanya? Kau sendiri sudah merokok sejak usia mu 12 tahun kan?”
“Darimana kau tau soal itu?”
“Perkenalkan. Aku Elisabeth Bornslav. Adik mu.” Ucap Elisa sambil memukul pelan pundak abangnya itu.
“Jangan kaget seperti itu, kau tau ayah kita seperti binatang. Dia menebar benihnya ke semua perempuan di tiap distrik. Tapi sayangnya, hanya kau yang di akui oleh ayah. Sedangkan aku dan anak-anaknya yang lain harus tinggal sendirian dan berjuang untuk bertahan hidup tanpa bantuan siapapun. Bagaimana rasanya hidup mewah selayaknya bangsawan?”
“Jangan bicara sembarangan pada ku. Kalau kau tidak mau mati sebaiknya kau keluar. Aku tidak mau mendengar omong kosong yang keluar dari mulut mu itu.”
“Kau mau apa? Membuat sebuah alat yang berkaitan dengan HP dan MP spesimen? Oh maaf. Sepertinya itu rahasia ya?” Ucap Elisa sambil tertawa mengejek.
“Hei aku tau kau Marksman yang handal tapi jangan remehkan kemampuan adik mu ini dalam menyelidiki sesuatu.” Dengan emosi Tomi hendak mencekik perempuan didepannya ini. Terlepas perkataan perempuan itu yang mengatakan kalau dia adalah adik tirinya. Tomi tetap menganggap Elisa adalah sebuah ancaman.
“Aku juga tau dimana kau menyimpan semua senjata mu. Aku sudah memindahkannya.” Ucap Elisa dengan susah payah sambil menahan cekikan Tomi menggunakan tangannya.
“Apa mau mu?” Ucap Tomi sambil melepaskan perempuan itu. Entah kenapa dia tidak tega untuk membunuhnya.
“Aku akan membawa mu ke Markas ku. Kau bisa membawa teman-temanmu juga kesana, kalian bisa bersembunyi dan berlatih sesuka yang kalian mau tanpa takut di temukan oleh pihak Istana.” Ucap Elisabeth, Tomi hanya terdiam sambil menatapnya mencari tahu apakah ada kebohongan disana.
“Apa kau lihat-lihat? Singkirkan tatapan mu itu dari ku sebelum aku menusukmu dengan pisau ini.”
“Apa yang bisa ku bantu? Aku mahir membuat teknologi yang menggunakan nano machine.”
“Nano machine? AH! Kenapa tidak terpikir dari tadi!” Sahut Tomi.
“Apa yang mau kau buat?” Ucap Elisa penasaran.
“Aku akan membiarkan mu membuat sebuah alat yang bisa membaca HP dan MP yang ada di tubuh hostnya. Sedangkan aku akan membuat alat yang lain.”
“Okey, aku mengerti. Biar aku saja yang mencari bahan-bahannya di gudang penyimpanan, kau tunggu disini. The Unknown sudah tidak sama seperti dulu.”
“Maksud mu?”
“Entah apa yang terjadi di dalam divisi Elite, tapi semenjak Adam menjadi pemimpin, mereka mengeluarkan beberapa orang yang terkenal membenci Arka. Bukan hanya mengeluarkan, mereka bahkan membunuhnya.” Ucap Elisa.
“Dari hasil penyidikanku. Mereka juga mencatat nama mu dan seseorang bernama Dylan. Jangan bilang kau tidak tau soal ini?”
“Baik aku mengerti, sekarang kumpulkan alat-alat yang ku catat ini, lalu bawa kemari. Kita akan menyelesaikan alat itu malam ini. Setelah itu kau ikut denganku”” Ucap Tomi serius.
“Wow, kau sudah percaya dengan ku sekarang?”
“Sepertinya kau memang adik ku, baru kali ini aku merasa ragu untuk membunuh seseorang.”
“Apa aku harus tersanjung mendengar itu?” Ejek Elisa lalu pergi mencari alat-alat dengan selembar kertas yang diberikan oleh Tomi.
Perempuan berparas cantik itu tersenyum bahagia mengingat bahwa dia tidak sendirian lagi sekarang.