SEBELAS

1701 Words
“Apa itu Marksman?” Ucap Sarah dengan sekaleng bir di tangannya. “Pembunuh bayaran? Sniper? Bodyguard? Entahlah, aku bisa menjadi apapun.” “Aku lihat di berita. Libero Bornslav mati tertembak di kamarnya.” Ucap Sarah. “Itu ulah mu?” Tomi mengangguk sambil meminum anggur miliknya. “Aku menembaknya dari jarak 2,5.” “Meter?” “Kilo meter.” “Bagaimana bisa?” “Sama dengan kekuatan super yang terletak di kulitmu, aku juga punya kekuatan super disini.” Ucap Tomi sambil menunjuk matanya yang beriris hitam. “Hei, mau coba sesuatu?” Ucap Tomi. “Apa?” “Selama ini kau membutuhkan baju untuk menyamar kan?” Sarah mengangguk. “Bagaimana jika kau mengubah bentuk tubuh mu sekalian dengan bajunya?” “Apa maksudmu?” “Aku tau, selama ini kau hanya berpatokan dengan tinggi dan bentuk badan korban mu. Bukan dengan tampilannya. Sekarang, coba ubah bentuk mu sekalian dengan bajunya.” “Aku tidak mengerti.” “Coba saja.” Ucap Tomi. Sarah memfokuskan dirinya dan berubah menjadi tiruan Tomi dengan baju kaus yang melekat ketat di tubuh Sarah. “Ini maksud ku.” Ucap Tomi sambil melihat dirinya yang terlihat seperti bencong. “Kau hanya berfokus dengan tubuh ku. Tanpa memperdulikan apa yang ku pakai.” “Cobalah fokus pada tampilan ku.” Sarah menutup matanya, dengan susah payah dia mengubah bentuknya menyerupai tampilan Tomi yang ada dibayangannya. “Bagus!” Sahut Tomi sambil tertawa. Sarah membuka matanya dan mendapati tubuhnya seperti sedang memakai dua baju. “Wow!” “Bahkan bahannya terasa sama dengan kain biasa.” Ucap Tomi sambil menyentuh kerah baju Sarah. “Dengan begini kau tidak perlu mencari baju lagi untuk menyamar. Ya kan?” Sarah mengangguk sambil tertawa. “Terimakasih.” Ucap Sarah lalu mengembalikan bentuk tubuhnya seperti semula. Kedua orang itu terdiam cukup lama sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. “Bagaimana bisa kalian masuk ke The Unknown?”  Ucap Sarah memecah keheningan. “Oh? Aku kira kau tidak akan penasaran.” Tomi merubah posisi duduknya menghadap ke arah Sarah, dengan posisi itu dia dapat dengan puas memandangi wajah cantik perempuan didepannya ini. “Aku berasal dari distrik 4.” “4? Kau sama seperti Agra.” Ucap Sarah. “Aku tinggal bersama ibu ku sampai aku berumur 4 tahun, lalu kemudian pindah ke kerajaan.” “Pindah?” “Ayah ku salah satu perdana menteri disana. Ibu ku melahirkan ku di usia 14 tahun, saat dia pergi mengikuti tes kerajaan. Anak buah ayah ku membawa ku ke Istana” “Aku di sekolahkan selayaknya bangsawan, dan selalu mendapat peringkat satu di sekolah. Sampai saat aku berumur 15 tahun, Ayah membawa ku masuk kedalam The Unknown.” “Bagaimana bisa?” “Dia salah satu Elite yang menjabat di organisasi itu. Semua orang tidak tau soal ini. Bahkan Dylan. Mereka hanya tau aku berasal dari distrik 4.” “Kenapa kau memberitahuku?” “Entahlah, aku merasa kau pasti akan menjaga rahasia ku.” “Bagaimana jika aku membeberkannya?” “Aku tau kau tidak akan melakukannya.” “Hahaha, kau tidak boleh gampang percaya dengan orang lain seperti ini.” “Aku langsung di terima menjadi Shadow dan bertemu dengan Dylan.” “Kau sempat di Shadow?” “Ya, bagian ku adalah membuat alat-alat baru sedangkan Dylan berada di bagian peretasan.” “Semua nya berjalan lancar sampai Ayah ku di tembak mati oleh Arka setelah seminggu aku ada di The Unknown. Aku tidak bisa melihat Ayahku di detik-detik terakhirnya, jangankan itu, untuk menemuinya di makamnya aja tidak bisa. “Kenapa?” “Mereka membuang jasad ayah ku di gudang tempat pembuangan mayat lalu mengolahnya menjadi kompos.” “Setelah kematian ayah, aku tidak tau harus berbuat apa, semua orang di divisi Shadow mencemooh ku dan akhirnya aku di pindahkan ke divisi Defender karena keberadaan ku sudah tidak menguntungkan lagi di divisi itu. Selama beberapa bulan aku mempelajari cara menggunakan semua jenis senjata api, aku ingin menembak kepala Arka sama seperti dia menembak kepala Ayah ku. Setelah mempraktekkannya pada orang-orang yang merendahkan ku dulu, aku diangkat menjadi seorang Marksman.” Sarah terdiam saat mendengar cerita dari Tomi, satu sisi dia merasa kagum dengan laki-laki bertekad kuat yang duduk didepannya ini, namun disisi lain dia juga merasa takut seolah aura kegelapan menyeruak dari dalam tubuh Tomi, laki-laki itu selalu terlihat seperti seekor serigala yang siap menerkam siapapun yang mengusiknya. “Ayo pulang, kau tidak boleh lama-lama diluar kan?” Ucap Tomi sambil menggenggam tangan Sarah yang membuat perempuan itu tersentak kaget. Sarah mengangguk pelan lalu mengikuti Tomi. Entah Satah merasa ia bisa mempercayai laki-laki ini. “Sarah!” Sahut Aruna panik saat Sarah kembali bersama Tomi. “Ada apa?” “Beatriz!” Dengan terburu-buru Sarah, Aruna dan Tomi masuk kedalam lumbung dan melihat Beatriz terikat diatas meja dengan listrik yang menyambar keluar dari tangannya. Kalau bukan karena tameng milik Aruna, sudah pasti lumbung ini terbakar hangus sekarang. “Aku tidak tau apa yang terjadi, saat itu kami sedang berbicara, lalu Beatriz tiba-tiba saja berubah, dia terlihat kesakitan, mata, hidung dan telinganya mengeluarkan darah, lalu dia mengamuk seperti ini.” Jelas Aruna. “Dimana Dylan?” Ucap Sarah. “Dia terkena serangan Beatriz, aku sudah mengobatinya tapi dia masih belum sadar.” Sarah berjalan mendekati Beatriz. Perempuan itu menatap Sarah dengan penuh kebencian lalu mengeluarkan kekuatannya dengan tidak terkontrol.” “Hei, ini aku Sarah, kau tidak mengenalku?” “Pulangkan aku! Aku ingin kembali ke Istana.” “Hei Beatriz! Ada apa denganmu?!” Beatriz mengerahkan seluruh kekuatannya menciptakan sebuah ledakan yang berhasil menghancurkan tameng milik Aruna. Sarah yang berdiri disampingnya terpental jauh menabrak dinding kayu hingga tak sadarkan diri. Tomi dengan cepat berlari ke arah Sarah untuk mengecek keadaan perempuan itu. Tomi mengecek kepala Sarah dan menemukan bercak darah dibalik kepalanya lalu dengan lembut laki-laki itu menggendong Sarah dan membawanya berbaring diatas sebuah sofa tua. “Biar aku yang mengurusnya.” Ucap Aruna dengan hidung yang berdarah. “Kau tidak apa?” “Aku rasa hancurnya shield tadi mempengaruhi HP milik ku.” Ucap Aruna. “Kau bisa menyembuhkannya?” Ucap Tomi. “Biar aku yang urus Sarah, kau urus Beatriz.” Ucap Aruna sambil melihat Beatriz yang beranjak turun dari mejanya. Tomi mengeluarkan revolver miliknya dan dengan sekali tembakan dia berhasil melumpuhkan Beatriz dengan peluru panas yang bersarang di kaki perempuan itu. Sambil tertatih Beatriz kembali berdiri dan menatap dingin ke arah Tomi. “Kendalikan dirimu, atau aku tidak akan segan-segan meledakkan kepala mu itu.” Geram Tomi tak kalah menyeramkan. Mata merah milik Beatriz menyusuri seluruh ruangan dan kembali ke arah kakinya yang tengah bersimbah darah. “b******n!” Geramnya lalu dengan cepat menyambar Tomi, untung saja Aruna melindungi laki-laki itu tepat waktu. “Ada apa ini?!” Ucap Agra yang baru saja kembali dari berburu. “Apa yang terjadi denganmu?” Ucap Agra pada Beatriz. “Agra! Menjauh darinya!” Sahut Aruna bersamaan dengan serangan yang di keluarkan oleh Beatriz. Agra menjatuhkan 4 ekor kelinci dari tangannya dan melesat terbang menghindari serangan Beatriz. Dengan cepat Agra memeluk tubuh Beatriz dan membawanya keluar dari lumbung. “Kita tidak bisa membiarkan mereka berdua bertarung lebih lama lagi. Orang-orang disekitar bisa mengetahui keberadaan kita.” Ucap Aruna. “Aku akan membantu Agra.” Ucap Tomi lalu berlari keluar mendapati Beatriz dengan listrik yang menyala-nyala di tangannya dan Agra yang melayang di atas langit. Laki-laki itu sadar, pertarungan ini berada sangat jauh lebih tinggi dari levelnya. Tak lama setelah Tomi berdiri memperhatikan kedua perempuan menyeramkan itu bertarung, Tomi melihat mobil-mobil box milik istana datang mendekati lumbung padi tempat mereka tinggal. “Agra!” Sahut Tomi dari bawah. “Kalau kau tidak bisa membantuku! Setidaknya jangan mengganggu!” Sahut Agra dengan sebatang pohon pinus yang dilayangkannya ke arah Beatriz. Beatriz berlari menghindari pohon itu dibalik sebuah batu besar, pohon tersebut akhirnya terjatuh dan menimpa sebuah mobil kerajaan hingga hancur. Menyadari hal itu. Agra mendarat disamping Tomi, kedua orang tersebut terdiam saat melihat Arka turun dari mobil untuk membantu Beatriz berdiri. “Seharusnya pohon itu menimpa mobilnya tadi.” Gumam Tomi. “Aku akan pergi dari sini, aku tidak bisa membeberkan wajah ku.” Ucap Tomi lalu bergegas pergi. “Sudahlah Tom. Aku sudah tau semua tentang mu. Bahkan The Unknown juga sudah di pegang oleh tangan kanan ku. Seharusnya, kau sekarang sudah paham betul siapa tuan mu yang sebenarnya.” Ucap Arka. Langkah Tomi terhenti dan kembali berdiri disamping Agra. Baru kali ini Tomi melihat seorang perempuan yang tidak memiliki ekspresi takut sedikitpun. “Apa yang kau lakukan padanya?” Ucap Agra pada Arka. “Aku hanya menanamkan sebuah chip yang bisa mengatur seluruh tubuhnya seperti robot, dan sebuah alat pelacak di pergelangan kakinya. Seharusnya kemarin kau memotong kakinya juga.” Ucap Arka sambil melemparkan potongan tangan Beatriz yang tertinggal di rumah Dylan waktu itu. “Sepertinya kalian sudah mulai mengembangkan kekuatan yang ku berikan. Bagus. Aku tidak perlu bersusah payah untuk melatih prajurit-prajurit kebanggaan ku.” “Jangan mimpi. Lebih baik kami mati daripada bekerja untukmu!” Ucap Agra. “Oh ya? Aku bisa saja membunuh mu sekarang juga.” “Jangan remehkan aku Arka. Kau tau sendiri bagaimana kemampuan ku. Aku bisa mematahkan leher mu itu tanpa menyentuhnya sedikitpun.” Ucap Agra serius. Beatriz beranjak berdiri didepan Arka untuk melindungi sang Raja sambil menatap tajam ke arah Agra dengan mata merahnya. “Lihat siapa yang ku punya. Spesimen dengan kekuatan tertinggi diantara spesimen-spesimen lainnya. Kau yakin bisa membunuhku?” “Aku bukan Raja yang kejam seperti yang kalian pikir. Akan ku beri kalian 3 hari untuk membuat keputusan. Pintu Istana ku akan terbuka lebar saat kalian datang.” “Tapi jika lewat dari 3 hari kalian tidak datang ke Istana. Jangan harap kalian bisa menghirup udara segar di negara ini lagi.” Ucap Arka lalu pergi bersama Beatriz. “Kenapa kau tidak membunuhnya?” Ucap Tomi. “Terlalu gegabah kalau aku membunuhnya sekarang, tapi aku pastikan pada mu. Aku akan mengambil nyawanya nanti. Cepat atau lambat.” Ucap Agra penuh penekanan. “Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang?” “Rahasia sudah terbongkar, kita tidak perlu bersembunyi lagi. Sekarang kita harus mencari sekutu untuk membunuh Arka.” “Dan Beatriz.” Sambung Agra dengan suara bergetar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD