“Yang mulia, kami menemukan 10 kapal asing yang memasuki wilayah lautan Nusantara.” Ucap Adam pada Arka dengan terengah-engah.
“Kapal asing? Bagaimana bisa? Hanya Nusantara yang bertahan dari perang dunia.” Ucap Arka sambil bergegas menuju ruang radar dan mendapati kapal-kapal tersebut bergerak dengan cepat menuju Istana.
“Kami menunggu perintah dari mu yang mulia.” Ucap Adam.
“Beri peringatan.” Ucap Arka.
“Boeing 18 FA 22 Raptor, luncurkan tembakan peringatan dalam 3, 2, 1.” Ucap Adam bersamaan dengan ledakan dari rudal yang ditembakkan oleh pesawat tempur Nusantara.
Kapal-kapal tersebut berhenti dan mengibarkan bendera berwarna putih, setelah mendengar kabar tersebut dari sang pilot, Adam dan Arka beranjak menuju pelabuhan untuk menjumpai orang-orang dari negara yang tidak diketahui itu.
***
“Dia mulai kehabisan darah” Ucap Sarah sambil membaringkan tubuh Beatriz dilantai.
“Aruna.” Panggil Sarah.
“Tidak, aku tidak bisa menyembuhkannya.” Ucap Aruna.
“Apa maksudmu?! Jadi kau mau membiarkan tangannya buntu seperti ini?” Aruna terdiam. Perempuan itu mengumpulkan keberaniannya dan mulai menyembuhkan tangan Beatriz. Daging di tangan Beatriz mulai bergerak dengan sendirinya beriringan dengan jeritan Beatriz yang memenuhi ruangan.
“Siapa kau?!” Bentak Agra pada Tomi.
“Estomihi Bornslav, teman Dylan.” Ucap Tomi santai sambil menatap Sarah dari jauh.
“Kalau aku sedang berbicara dengan mu. Perhatikan aku!” Ucap Agra sambil mencekik leher Tomi.
“Wow! Jaga sikap mu didepan ku nona!” Sahut Tomi. Dengan penuh amarah Agra mengangkat tubuh Tomi ke udara.
“Kau yang harus menjaga sikap mu didepan perempuan-perempuan ini Tom, mereka bukan orang biasa.”
“Baik! Baik. Aku akan menjaga sikap ku didepan mu. Sekarang, turunkan aku!” Ucap Tomi, Agra menurunkan tubuh Tomi kembali kedaratan.
“HENTIKAN! SAKIT!” Jerit Beatriz sambil menangis. Daging-daging dilengannya mulai bergerak dengan sendirinya membentuk sebuah tangan yang masih seukuran tangan bayi.
“Aku akan menjawab semua pertanyaan kalian. Asalkan perempuan berambut pirang itu yang bertanya.” Ucap Tomi lalu beranjak menghampiri Sarah, Aruna, dan Beatriz.
“Kenapa dia terasa lebih seram daripadamu?” Ucap Agra.
“Sebaiknya kau hilangkan sifat overprotektif mu itu.”
“Apa maksudmu? Aku akan melakukan apapun untuk melindungi mereka.”
“Sama seperti yang kau lakukan dengan Beatriz?” Ucap Dylan membungkam Agra.
“Aku tau niat mu baik, tapi kita butuh orang lain untuk menjatuhkan Arka, jika kau terus-terusan seperti ini. Membunuh Arka hanya akan menjadi mimpi indah bagi mu.”
“Orang-orang seperti Tomi?”
“Ya.”
“Memangnya apa yang bisa dia lakukan? Hahaha.”
“Dia bisa membolongkan otak mu yang t***l itu jika kau lengah sedetik saja.” Ucap Dylan sambil memandang Tomi yang tanpa Agra sadari saat ini sudah menodongkan senjatanya dengan laser merah yang menandai tengah-tengah kepala Agra.
Pembicaraan Agra dan Dylan akhirnya berhenti saat Aruna terjatuh tak sadarkan diri setelah berhasil memulihkan tangan Beatriz dengan sempurna, laki-laki berwajah oriental itu berlari untuk mengecek keadaan Aruna.
“Aku rasa MPnya terkuras drastis.” Ucap Dylan sambil berusaha membangunkan Aruna dengan minyak kayu putih.
“MP?” Tanya Tomi.
“Siapa kau?” Ucap Sarah yang baru sadar dengan kehadiran Tomi.
“Aku sudah dari tadi disini dan kau baru sadar sekarang?”
“Dia Tomi, teman ku di The Unknown, seorang marksman.” Ucap Dylan dengan kepala Aruna yang terbaring diatas kakinya.
Dengan kesal Sarah menghampiri Dylan lalu menampar pipi kanannya. Perempuan itu menarik Aruna dari dekapan Dylan dan membopongnya menuju sebuah meja dengan bantuan Tomi.
“Ada apa denganmu? Apa aku berbuat salah?!” Sahut Dylan yang dibalas dengan tamparan keras dari Sarah di pipi kirinya.
“HEI!”
“Bagaimana bisa kau menghamili anak kecil?!” Sahut Sarah penuh amarah.
“Anak kecil? SIAPA?!”
“Febri?!”
“Wah, ternyata kau seorang penjahat kelamin.” Ucap Tomi pada Dylan.
“Diam kau.” Ucap Dylan.
“Aku tidak pernah melakukan hal itu dengan siapapun, kau sendiri tau, aku selalu sibuk dengan dunia ku. Ya aku memang berpacaran dengan Febri. Tapi selama ini aku hanya menciumnya! Aku tidak berani melakukan hal yang lain.”
“Dan kau pikir aku akan percaya dengan mu setelah kau mengatakan ini?” Ucap Sarah.
“Sarah, aku tidak pernah berboho—”
“Mulai hari ini jaga jarak mu dari Aruna, kalau kau ada didekatnya kurang dari 2 meter. Kau akan berhadapan denganku!” Ucap Sarah lalu pergi meninggalkan lumbung dengan rupa Dylan.
“Dia bisa berubah?!” Sahut Tomi terkejut.
“Dasar nenek sihir!” Teriak Dylan frustasi sambil menjambak rambutnya.
Badan Tomi tersentak saat semua senjata yang menempel dibadannya melayang dengan sendirinya di udara dan bergerak menuju Agra.
“2 Desert Eagle, 3 Revolver dan 3 granat nanas. Kau benar-benar berani menempelkan semua ini dibadanmu?” Ucap Agra.
“Kembalikan.” Ucap Tomi menahan emosinya.
“Dari 4 pistol ini, mana yang paling kau sayang?”
“Aku bilang kembalikan!”
“Jawab aku!”
“Ruger Blackhawk.” Jawab Tomi dengan sabar.
“Yang mana satu? Aku cuma tau Desert Eagle.”
“Revolver dengan gambar burung gagak di gripnya.” Agra menyimpan seluruh senjata milik Tomi dan hanya mengembalikan Desert Eagle padanya.
“Mau kau apakan itu?”
“Aku akan membagikan senjata mu dan menyita pistol kesayangan mu sebagai jaminan.”
“Kenapa jadi kau yang mengatur senjata-senjata ku?”
“Aruna hanya bisa menyembuhkan dan melindungi kami, sedangkan Sarah hanya bisa mengubah bentuknya. Mereka tidak punya kekuatan menyerang seperti aku dan Beatriz, jadi menurut ku mereka butuh kemampuan lain untuk melindungi diri.” Ucap Agra.
“Terus kenapa kau ambil 4?”
“Dylan? Kita tidak mungkin membuang waktu untuk menjaganya saja nanti. Lebih bagus si bencong ini bisa menjaga dirinya sendiri.”
“Hei!” Protes Dylan sambil melihat Agra pergi keluar lalu terbang ke udara.
“Kau pasti menderita tinggal bersama si gila itu.” Ucap Tomi membicarakan Agra pada Dylan.
“Bagaimana bisa dia melakukan ini?” Ucap Beatriz sambil menatap tangannya yang kembali seperti sedia kala.
“Kau baik-baik saja?” Ucap Dylan
“Ya.”
“Kau bisa menggunakan tanganmu?” Tanya Tomi, Beatriz menggerakkan jari-jari tangannya dan menyambar sebuah lampu dengan tangan barunya itu. Beatriz mengangguk sambil tersenyum lega.
“Wow.” Gumam Tomi.
“Perkenalkan, aku Dylan. Aku sudah banyak mendengar tentang mu dari Sarah.”
“Aku Tomi, aku belum tau apa-apa, bagaimana kalau kalian menjelaskan semuanya sekarang?”
“Duduklah, ada yang ingin ku tunjukkan juga pada kalian.” Ucap Dylan dengan sebuah buku ditangannya.
“Kau membawanya?” Ucap Aruna yang sudah tersadar.
“Kau tidak apa?” Dylan bergegas menghampiri Aruna dan membantu perempuan itu turun dari meja.
“Sudah ku bilang jauhi dia!” Ucap Sarah yang tiba-tiba berdiri didepan lumbung lalu melempar Dylan dengan seekor rusa hasil buruannya.
“Dia baru sadar! Aku hanya mengecek keadaannya!”
“Aku tidak peduli!”
“Ayolah Sarah! Kau bahkan tidak mau mendengar penjelasan ku tadi!”
“Hentikan. Aku tidak suka keributan.” Ucap Agra.
“Buku apa ini?” Ucap Tomi.
“Ah! Untung saja ada yang ingat membawa buku ini.” Ucap Sarah.
“Terimakasih Dylan.” Ucap Dylan.
“Diam kau.”
“Baik silahkan duduk nona-nona.”
Dylan menggenggam buku itu. Lalu menjelaskan tentang kekuatan Agra, Aruna, Beatriz, dan Sarah pada Tomi.
“Kita sudah berhasil mengembangkan kekuatan milik Aruna, sekarang kita akan berlanjut ke kekuatan Agra. Sepertinya kau bisa melatih kecepatan mu saat terbang dan mengatur MP mu disaat yang sama.” Ucap Dylan.
“Aku rasa tidak perlu. Menurutku, Agra dan Beatriz dapat melatih kekuatan mereka sendiri tanpa bantuan kita.” Ucap Tomi.
“Sebaiknya kita mengembangkan kekuatan Sarah.” Ucap Tomi.
“Apa maksud mu. Sudah ku bilang tadi jangan dekati kakak ku!”
“Kau ini kenapa? Aku tidak punya maksud lain. Disini tertulis kekuatan Sarah adalah menyalin.”
“Terus kenapa kalau menyalin?” Ucap Sarah.
“Itu berarti setiap sel di tubuh mu bisa berubah bentuk sesuai dengan keinginan mu kan?” Tanya Tomi. Sarah mengangguk.
“Bagaimana jika kau bisa mengubah bentuk mu menjadi benda mati?”
“Pantas saja kau dikeluarkan dari divisi Shadow.” Sindir Dylan.
“Kau tidak mengerti maksudku!”
“Nanti akan ku jelaskan, aku sudah paham betul arti dari semua tulisan dibuku ini. Aku akan kembali nanti malam.”
“Kau mau pergi kemana?” Ucap Sarah.
“Mencuri minuman di gudang pangan.”
“Minuman?”
“Entahlah anggur? Bir? Vodka, apa saja yang ada disana.”
“Ikut.” Ucap Sarah semangat lalu mengubah bentuknya menjadi Dylan.
“Wow. Jangan ubah bentukmu, aku tak ingin minum berdua dengan Dylan palsu.” Sarah mengubah bentuknya kembali seperti semula lalu pergi bersama Tomi.
“Jangan pergi dengan wujud aslimu, kau bisa saja—”
“Aku akan menjaganya dengan nyawa ku sendiri.” Ucap Tomi sambil memutar-mutar Revolver dijarinya.
“Bagaimana bisa Sarah semudah itu akrab dengan Tomi?” Ucap Beatriz.
“Itu karena Sarah belum melihat sisi gelap Tomi.”
“Kenapa dari tadi kau berbicara seolah Tomi adalah orang yang sangat berbahaya?” Ucap Aruna.
“Nanti kalian akan melihatnya sendiri.”