SEMBILAN

1621 Words
Adam berbicara di mimbar sambil menjelaskan strategi-strategi dan peraturan-peraturan baru miliknya. Mulai dari identitas Elite yang tidak disembunyikan lagi, sampai penambahan Shadow dari kerajaan, semuanya dibahas dengan rinci untuk meningkatkan kinerja organisasi ini. Setelah dua jam membahas tentang semua hal itu, para anggota The Unknown keluar dari ruangan tersebut, sedangkan Adam pulang ke Istana. “Kenapa kau tidak jadi mengatakan soal spesimen itu dimimbar tadi?” Tanya Tomi. “Aku tidak dapat mempercayai Adam.” Jawab Dylan. “Ya, kalau aku tau pemimpin kita dulu adalah Fransiscus Alvero, aku juga tidak akan mau menjadi Marksman terbaik di organisasi ini.” “Memang cuma ada satu Marksman kan?” “Ya karena aku terbaik kan?” “Ya ya.. menurut mu kenapa Frans membangun organisasi ini? Dia juga membenci Arka?” “Entahlah aku tidak bisa menebak apa isi otaknya, bahkan aku sendiri kaget kalau ternyata dia adalah The Unknown. Tapi setahuku, hanya rakyat biasa yang menyukai Arka, karena jika mereka mengetahui sifat busuk Arka, aku yakin tak ada seorang pun di Distrik yang menyukai psikopat itu” Ucap Tomi. “Ya, kau benar, bahkan dirumah ku ada tiga orang perempuan gila yang menginginkan kepala Arka.” “Spesimen-spesimen itu perempuan?” Tanya Tomi dengan semangat. “Yap. Memangnya kau sudah mengerti apa itu spesimen?” “Aku mengira kalau kerajaan mengadakan tes tersebut untuk bereksperimen terhadap manusia.” “Ya kau benar. Ternyata otak mu itu masih berfungsi juga.” “Jadi apa yang terjadi pada mereka bertiga?” “Berubah menjadi aneh.” Ucap Dylan. “Aneh seperti apa?” “Kau tidak bekerja? Setahu ku deadlist mu selalu penuh.” “Tidak, aku sudah menghabiskannya kemarin malam.” “Jadi kau pengangguran sekarang?” “Ya aku sedang beristirahat sekarang.” “Kau mau membantu ku mencari tahu soal distrik 5?” “Distrik 5? Kau ngayal? Lebih baik aku bertemu dengan ketiga teman mu itu. Aku ingin bantu mereka menggorok leher Arka.” “Aku juga belum tau pasti, tapi aku menemukan beberapa dokumen kerajaan yang membahas tentang pembangunan distrik 5.” “Benarkah? Ayo kesana.” Ucap Tomi tiba-tiba semangat. “Aku akan menemui divisi ku dulu.” “Untuk apa?” “Membahas tentang spesimen ini.” “Kau kira mereka ada gunanya?” “Semalam aku sudah bilang akan membahas sesuatu yang penting dengan mereka.” “Terus? Bagaimana respon mereka?” “Sepertinya mereka setuju.” Jawab Dylan. “Apa yang mereka katakan?” “Mereka bilang lakukan saja apa yang menurut ku benar.” “Kau ini bodoh atau t***l? Mereka mengatakan itu bukan karena mereka setuju dengan rencana mu, mereka mengatakan itu karena mereka tidak mau repot membantu.” Ucap Tomi kesal. “Lebih baik kita kembali ke rumah mu.” Ucap Tomi. “Untuk apa?” “Aku ingin melihat spesimen-spesimen itu.” “Terus distrik 5?” “Itu bisa nanti.” Ucap Tomi labil. “Ya sudah, ayo.” *** Seorang perempuan berambut ikal dengan setelan berwarna merah darah keluar dari dalam kereta api, perempuan itu adalah Sarah yang sedang menyamar sebagai seorang dokter yang bekerja untuk kaum bangsawan. Dengan santai perempuan itu memesan taksi untuk mengantarnya ke hutan pinus. Setelah memasuki hutan pinus tersebut, Sarah merubah wujudnya kembali seperti semula, perempuan itu melihat ke atas langit yang sangat gelap dan dipenuhi oleh kilatan cahaya petir. “Beatriz! Dimana kau?” Teriak Sarah memanggil temannya itu. “Ini aku Sarah!” Sarah berjalan menyusuri hutan itu perlahan sampai akhirnya dia menemukan Beatriz berdiri di pinggir sungai dengan tangan yang mengarah keatas langit. Dengan cepat Sarah berlari dan memeluk tubuh Beatriz yang sudah berlumuran darah, diwaktu yang sama tubuh Beatriz terjatuh tak sadarkan diri, hidung, mata dan telinganya mengeluarkan darah dengan begitu deras. “Hei, Beatriz, bangun.” Ucap Sarah sambil menepuk-nepuk pipi Beatriz untuk membangunkannya. Setelah memeriksa keamanan sekitar, dengan cepat Sarah mengambil handphone di sakunya untuk menelepon Agra. Setelah mendengar penjelasan dari Sarah, Agra dengan cepat terbang menuju hutan pinus untuk menjemput sahabatnya itu. “Apa yang terjadi dengannya?” “Aku juga tidak tau, aku rasa dia terlalu memaksa kekuatannya.” “Luka-luka apa ini?” Tanya Agra lagi membuat Sarah geram. “Aku memanggil mu kesini bukan untuk menjawab semua pertanyaan mu. Bawa dia ke Aruna sekarang juga!” Agra mengangkat tubuh Beatriz dan Sarah dengan kekuatan telekinesisnya, dan membawa mereka terbang menuju rumah Dylan. “Apa yang dilakukannya padamu?” Gumam Agra bertanya pada Beatriz. Sesampainya dirumah, Aruna berlari menghampiri Agra dengan senyuman lebar di bibirnya. Namun dalam sepersekian detik senyuman itu menghilang saat Aruna melihat sahabatnya terbaring lemas dengan darah dan luka-luka yang menyelimuti tubuhnya di atas tempat tidur Dylan. Dengan sigap Aruna mengerahkan kekuatannya untuk menyembuhkan Beatriz, tak perlu waktu lama, luka-luka yang menganga itu akhirnya tertutup, wajahnya yang terlihat pucat berangsur segar kembali, butuh waktu 10 menit bagi Aruna, untuk menyadarkan Beatriz dari komanya. “Syukurlah kau tidak apa-apa.” Ucap Agra dengan sangat bahagia. “Hei kawan.” Tegur Sarah sambil tersenyum, Aruna meneteskan matanya sambil memeluk Beatriz dengan sangat erat. “Berhentilah menangis, aku tidak apa-apa.” “Aku kira kau sudah mati.” Sahut Aruna dengan tangisan yang semakin keras. “Aku tau kau akan menyelamatkan nyawa ku. Thanks Ara.” Aruna melepaskan pelukan eratnya, dan membiarkan Beatriz bernafas dengan lega. “Tempat apa ini?” Ucap Beatriz sambil beranjak menyusuri rumah Dylan. “Rumah pacarnya Sarah. Sehari setelah kau di tangkap, kami tinggal disini.” “Hei, Dylan bukan pacar ku. Harus berapa kali ku katakan?” “Kenapa kalian tidak mencariku?” Ucap Beatriz menahan amarahnya. “Jangan begitu, percayalah, selama ini, kami berusaha untuk menyelamatkan mu dari Istana.” Ucap Agra. “Terus kenapa aku tidak menemukan kalian disana? Usaha apa yang kalian lakukan? Duduk santai disini sambil bercanda-tawa, sedangkan aku disana dicambuk dan ditebas dengan pedang setiap hari?” “Beatriz—” Ucap Sarah namun di potong oleh Beatriz. “Tutup mulut mu itu. Hanya demi sebuah pisau tanpa pikir panjang kau berani menyusup ke dalam Istana. Sedangkan aku? Kalian sama sekali tidak peduli. Apa aku tidak lebih berharga dibanding pisau ayah mu itu, Sarah?” “Beatriz, tenangkan diri mu.” Ucap Aruna. “Bagaimana aku tidak marah? Setiap malam aku berdoa sambil menangis. Berharap kalian datang. Kalau saja aku tidak menyetujui perjanjian dengan Arka, aku yakin aku sudah mati sekarang.” Ucap Beatriz. “Perjanjian? Perjanjian apa?” “Kalian tidak perlu tau tentang itu sekarang. Aku akan menyiapkan semuanya terlebih dahulu.” “HENTIKAN TINGKAH ANEH MU INI!” Teriak Agra dengan penuh Amarah sambil mencekik Beatriz. “Cepat katakan. Perjanjian apa yang kau setujui?!” “LEPASKAN!” Balas Beatriz tak kalah seramnya. Dengan mudah perempuan bermata merah itu melepaskan cekikan Agra dan menyambar temannya itu dengan listrik dari tangannya. “Beatriz!” Jerit Aruna. “Kau akan mati!” Geram Agra lalu mengarahkan kekuatannya kearah Beatriz untuk menghancurkan tubuh temannya itu. “HENTIKAN!” Teriak Aruna dengan ledakan kekuatan yang berasal dari tubuhnya. Perempuan itu berdiri dengan iris mata yang berubah menjadi warna putih, dengan aliran darah yang mulai menyucur keluar dari hidungnya. Aruna bertahan ditempat nya dengan kedua tangan yang menciptakan tameng pelindung di tubuh Agra dan Beatriz yang berniat untuk saling membunuh. “Kalian mau tau apa isi perjanjianku dengan Arka?” “Aku berjanji akan membawa kalian semua ke kerajaan untuk hidup mewah disana sebagai bangsawan dan kebal terhadap segala hukum. Kita bisa hidup bahagia disana. Kita tidak perlu memikirkan soal perut untuk esok hari, dan lagi, kita bisa hidup dengan orang yang terpaksa kita tinggalkan dulu. Seumur hidup.” Ucap Beatriz sambil menatap Aruna. Perlahan iris mata Aruna berubah menjadi seperti semula, tameng yang diciptakannya pun perlahan menghilang. “Apa benar bisa begitu?” Ucap Aruna penuh harap. “Tentu saja tidak!” Sahut Sarah. “Satu-satunya cara agar kita bisa hidup bebas seperti itu adalah dengan membunuh Arka!” “Kalian tidak mengerti!” “Aku tidak menyangka kau bisa berubah menjadi seorang i***t dalam waktu kurang dari dua minggu!” “Tapi—” “Beatriz stop! Aku tau kau ketakutan. Tapi dengan menyerahkan diri kita ke istana, tidak akan membuat kekejaman Arka berakhir. Menyetujui permintaannya sama saja dengan mendukung rencananya untuk terus bereksperimen dengan rakyat biasa. Sekarang aku mengerti kenapa ayah ku lebih memilih hidup miskin daripada dianggap sama dengan iblis seperti Arka.” Ucap Sarah. “Sudah terlambat. Mereka menanam chip pelacak didalam tanganku—” tanpa aba-aba Agra dengan cepat mengoyak pergelangan tangan Beatriz untuk mengeluarkan chip tersebut. “CHIP ITU TERTANAM DI TULANGKU!” Ucap Beatriz. “Bagaimana bisa?!” “Mereka sudah tau tempat ini, mereka akan menangkap kita sebentar lagi.” Ucap Beatriz menahan aliran darah yang mengalir dari tangannya. “Tidak! Kita tidak akan menyerahkan diri! Kita akan kabur dari sini.” Geram Sarah. “Kita tetap akan ketauan karena Beatriz.” Ucap Aruna. Sarah mengayunkan sebuah kapak yang didapatnya entah darimana lalu memotong lengan Beatriz tanpa rasa bersalah sedikitpun. “Sekarang sudah tidak lagi. Ayo pergi dari sini!” “APA YANG KAU LAKUKAN?!” Teriak Beatriz menahan sakit. “ADA APA INI?!” Sahut Dylan bersamaan dengan teriakan Beatriz. “Siapa yang kau bawa itu?!” Sahut Agra saat melihat Tomi. “Kita tidak punya waktu lagi, ayo pergi. Pihak kerajaan pasti akan datang kemari sebentar lagi.” Ucap Sarah. Mau gak mau semua orang disana mengikutinya dan kabur menuju sebuah gedung kosong bekas lumbung padi yang terletak cukup jauh dari rumah Dylan. “Aku suka gaya perempuan berambut pirang itu.” Bisik Tomi pada Dylan sambil berlari mengikuti Sarah. “Jangan harap! Sarah itu kakak ku.” “Sarah? Berarti pemimpin. Nama yang indah.” Ucap Tomi membuat bulu kuduk Dylan berdiri. Menggelikan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD