DELAPAN

2044 Words
Sarah duduk didepan teras rumah Dylan sambil memandang sekitarnya. Setelah hampir 10 hari dia tinggal disini, baru hari ini dia bisa memandangi orang-orang di Distrik 1 beraktifitas dengan santai bersama dengan sebatang rokok disela jarinya. “Sejak kapan kau merokok?” Ucap seorang perempuan didepan Sarah. Dia kenal dengan perempuan ini, namanya Febriani. Perempuan berumur 15 tahun yang disukai Dylan dari dulu. “Aku tau kau pasti sedih karena kepergian Sarah. Tapi kau tidak bisa merusak tubuh mu sendiri hanya karena hal itu.” Ucap Febri sambil merebut puntung rokok itu lalu menginjaknya. “Hei!” Sahut Sarah dengan suara Dylan. “Kau berani membentakku?” “Maaf.” Ucap Sarah tidak tulus, bagaimana bisa dia mengatakan maaf pada orang yang sudah merusak kebahagiaannya pagi hari ini. “Kenapa kau kesini?” Ucap Sarah. “Aku ingin memberikan sup jamur kesukaan mu.” Ucap Febri sambil memberikan sebuah kotak makanan pada Sarah. “Terimakasih.” “Aku juga ingin memberitahu mu sesuatu.” Ucap Febri sambil tersenyum. “Apa itu?” Balas Sarah dengan perasaan tidak enak. Febri mendekatkan wajahnya ke wajah Sarah lalu membisikkan sesuatu. “Sebentar lagi kau akan menjadi ayah.” Bisik perempuan itu lalu tertawa bahagia. Sekujur tubuh Sarah membeku, bagaimana bisa seorang Dylan yang selalu sibuk dengan dunianya sempat untuk melakukan hal itu dengan perempuan ini? “Kenapa diam saja? Kau tidak senang?” “Oh, ti-tidak, aku sangat senang mendengarnya, aku hanya memikirkan sesuatu yang lain.” “Kau pasti memikirkan tentang tes itu kan? Aku tau, tahun depan adalah giliran mu untuk mengikutinya.” “Hahah, iya aku memikirkan itu. Aku hanya punya waktu yang sedikit untuk mengenal anak ku.” Ucap Sarah dengan menggelikan. “Hei, aku tau kau laki-laki yang kuat, dan aku yakin kau pasti akan kembali. Demi anak kita.” Ucap Febri sambil mengarahkan tangan Sarah ke arah perutnya. Dengan cepat Sarah menarik tangannya kembali dan menggaruk-garuk kepalanya. “Sebaiknya kau pulang, sepertinya akan datang badai.” “Kenapa aku tidak masuk ke rumah mu saja? Sudah lama kita tidak bermesraan di dalam.” “OH JANGAN!” “Hei kenapa kau harus berteriak seperti itu? Apa ada yang kau sembunyikan dariku? Dua hari yang lalu juga kau melarang ku untuk mengunjungi mu.” “Bukan seperti itu. Rumah sedang dalam keadaan sangat kotor, nanti—” “Aku sudah biasa membereskan rumah mu. Kau tidak perlu malu seperti itu Dylan.” Ucap Febri sambil beranjak masuk kedalam rumah, dengan cepat Sarah menarik tangan Febri lalu mencium bibirnya. Kalau bukan karena Agra dan Aruna yang sedang tertidur di dalam, Sarah lebih baik mati daripada harus melakukan hal ini. “Aku sangat bahagia mengetahui bahwa kau sedang mengandung anak kita. Namun aku sadar kalau aku hanya memiliki waktu 1 tahun lagi untuk bisa bersamamu, di waktu yang singkat itu aku ingin menunjukkan kebaikan ku pada mu Feb, aku tidak mau kau melihat sisi buruk ku.” Ucap Sarah mau muntah. “Oke, aku mengerti. Baiklah aku akan pulang sekarang. Awan sudah gelap sekali.” Ucap Febri lalu pergi meninggalkan Sarah. Sesaat Febri pergi, Sarah langsung berlari menuju kamar mandi untuk mengelap bibirnya. Dia benar-benar akan membunuh Dylan. Karena laki-laki itu, dia terpaksa memberikan ciuman pertamanya untuk seorang perempuan. Lagipula, bagaimana bisa Dylan menghamili anak kecil seperti itu?! Dasar tidak punya hati. “Kau kenapa?” Ucap Agra dengan wajah khas bangun tidur.” “Jangan tanyakan hal itu pada ku. Atau kau akan ku bunuh.” Jawab Sarah penuh kekesalan, seharusnya ia tidur saja dari tadi. “Hei kau ini kenapa? Pagi-pagi sudah emosi seperti ini.” “Sudah ku bilang jangan bertanya!” Ucap Sarah dengan kepalan tangan yang siap mendarat diwajah Agra. “Hei, teman-teman.” Ucap Aruna santai menghentikan aksi Sarah. “Ada yang aneh dengan awan di luar.” “Apa yang aneh dari mendung?” “Aku tidak pernah melihat awan segelap ini.” Ucap Aruna. “Mungkin akan datang badai besar. Ayo tutup semua pintu dan jendela.” “Tapi kemarin malam kabar cuaca mengatakan kalau hari ini akan cerah.” “Kau percaya itu?” Ucap Agra. “Hei bisa jadi ini kode dari Beatriz,” “Kau gila.” “Beatriz bukan pengecut seperti ku Agra, dia tidak akan diam saja di Istana. Aku yakin awan ini adalah ulah Beatriz. Dia mencari kita.” “Oke-oke, aku akan kembali ke hutan pinus untuk mencari Beatriz, kalian tunggu disini.” Ucap Agra. “Tidak, kau tetap disini dan latih Aruna, aku yang akan menjemput Beatriz.” Ucap Sarah. “Setidaknya resiko ku untuk ketahuan sangatlah kecil, kita tidak tau apa itu benar-benar Beatriz atau ulah Arka untuk menjebak kita.” “Ya, Sarah benar.” Ucap Aruna. “Setidaknya kalau aku tertangkap, Arka hanya mendapatkan seekor bunglon.” “Jangan sampai tertangkap, rencana kita tidak akan berhasil tanpamu” Ucap Agra. “Bawa ini.” Agra memberikan sebuah telepon genggam pada Sarah. “Kalau ada apa-apa, hubungi aku. Aku akan langsung menjemput mu.” Sarah mengangguk dan beranjak pergi menuju stasiun.   *** Sambil mengendap-endap, Dylan masuk ke dalam buah batang pohon yang telah di rombak menjadi pintu masuk markas rahasianya. Laki-laki itu melompat kedalam sebuah ruang bawah tanah yang berisikan alat-alat canggih yang mereka dapat dari hasil penjualan rahasia-rahasia pemerintah ke para bangsawan. “Hai boss!” Ucap seorang pria berambut gondrong dengan janggut yang terkepang. “Tomi!” Sahut Dylan sambil memukul pelan lengan teman yang sudah lama tidak ia jumpai. “Terakhir kali aku melihatmu, kau belum mempunyai janggut.” “Aku memakai krim penumbuh rambut.” Ucap Tomi. Tomi adalah seorang Marksman yang dimiliki oleh The Unknown, kemampuannya dalam menggunakan segala jenis senjata api membuat Tomi sangat disegani oleh anggota-anggota lainnya, hanya Dylan lah yang bisa berbicara dengan santai padanya. Sebelum menjadi seorang Marksman, Tomi berpangkat sebagai seorang Shadow, sama seperti Dylan, dan karena itulah mereka menjadi dekat seperti sahabat sampai sekarang. “Kau tau, aku sudah berhasil membunuh kepala keamanan Distrik mu.” Ucap Tomi sambil tertawa puas. “Libero Bornslav?” Ucap Dylan. “YA! HAHAHA. Aku menembak kepalanya saat dia mencium seorang p*****r di atas tempat tidurnya.” “Tidak mungkin!” Sahut Dylan semangat. “Kau meragukan kemampuan ku huh?” “Kau bisa membuktikannya pada kepala ku.” “Kau tau aku tidak akan bisa melakukan itu kawan.” “Hahaha, dasar lemah.” “Jangan memancingku Dylan, kau bisa mati betulan.” “Jadi bagaimana perkembanganmu?” Ucap Tomi penasaran dengan divisi Shadow. “Ya, kau tau aku tidak seperti mu. Aku tidak bekerja sendirian Tom, jangan buat Shadow-Shadow yang lain merasa seperti mayat.” “Ya aku tau itu. Tapi jangan bertingkah seolah orang-orang itu bekerja dengan baik, aku sudah paham betul apa saja yang terjadi didalam divisi mu. Hanya kau yang bekerja keras disana.” Jawab Tomi yang berhasil membuat Dylan tertawa miris, ya memang benar apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu, walaupun divisi Shadow di isi oleh 15 orang. Hanya Dylan lah yang mengerjakan semua pekerjaan disana. “Aku mempunyai berita besar.” Bisik Dylan. “Aku tidak bisa menghubungi mu selama ini, apa kau terlalu sibuk dengan listmu?.” Ucap Dylan mengingat daftar nama orang-orang yang akan dibunuh Tomi begitu banyak. “Ada apa?” “Aku menemukan 3 orang spesimen yang berhasil.” “Spesimen? Apa itu?” “Kau belum mengetahuinya? Ayo ikut aku ke ruang utama, aku juga harus menjelaskan tentang ini ke divisi yang lain.” Dylan masuk kedalam sebuah ruangan raksasa dengan kursi yang disusun melingkar bertingkat seperti tangga. Tomi dan Dylan duduk berdampingan di kursi khusus orang-orang inti dalam organisasi ini. The Unknown adalah sebuah organisasi rahasia dengan empat divisi. Divisi terendah adalah Divisi Defender, biasanya orang-orang yang berpangkat Defender ini adalah orang-orang dengan kemampuan berkelahi yang sangat baik, bahkan beberapa mantan pengawal atau tentara kerajaan yang dipecat, ada di dalam Divisi ini. Ada sekitar 200 orang yang menjadi anggotanya. Selanjutnya divisi Marksman, divisi ini berada setingkat diatas divisi Defender, orang-orang yang masuk kedalam divisi ini adalah orang-orang terbaik dari divisi lain dan mampu membunuh seseorang tanpa berkedip sedikitpun, hanya pembunuh berdarah dingin lah yang mampu mendapatkan pangkat ini. Estomihi Bornslav adalah satu-satunya orang yang berhasil mendapatkan lencana tersebut. Yang ketiga adalah divisi Shadow, divisi ini berbeda dengan divisi lainnya, kalau divisi lain lebih mengandalkan otot, orang-orang di divisi Shadow lebih mengandalkan otaknya. Divisi ini diisi oleh hacker-hacker terbaik yang berasal dari seluruh distrik bahkan dari kerajaan. Tidak banyak yang mampu masuk kedalam divisi ini sehingga sampai sekarang hanya ada 15 anggota yang tersisa didalam, 2 orang dari pihak kerajaan dan 13 dari pihak distrik. Dua tahun yang lalu Tomi sempat menjadi seorang Shadow, namun karena kemampuannya yang kurang dalam bidang peretasan, Tomi terpaksa di pindahkan ke divisi Defender. Semua Shadow memandangnya rendah waktu itu. Bahkan tak sedikit pula Defender yang merisaknya di awal ia masuk kedalam divisi tersebut. Hanya Dylan lah yang mau berteman dengan Tomi dan selalu mendukungnya dari dulu sampai sekarang. Setelah 5 bulan berada didalam divisi tersebut, Tomi berubah menjadi monster yang sangat menyeramkan, tubuhnya benar-benar lincah dan cepat saat berkelahi, dan diantara semua anggota hanya Tomi yang mempunyai kemampuan menembak paling baik dibanding anggota yang lain. Setelah membunuh 20 orang Defender yang terus menerus merisaknya dulu, tanpa pikir panjang para petinggi The Unknown, atau yang dikenal sebagai Elite, mengangkat Tomi menjadi seorang Marksman. Dan yang terakhir adalah Elite dan The Unknown itu sendiri. Divisi ini berisi orang-orang pertama yang membangun organisasi The Unknown, selain mengangkat jabatan para anggota dari divisi lain, Elite juga berperan pengawas sekaligus hakim dari organisasi ini, mereka dapat membunuh seorang anggota jika orang tersebut melanggar peraturan-peraturan organisasi. Tidak ada seorangoun yang mengetahui identitas para Elite, namun yang pasti orang-orang tersebut adalah kaum bangsawan kerajaan. The Unknown adalah sebutan untuk orang pertama yang memimpin organisasi ini, tidak ada yang mengetahui wujud dan identitasnya bahkan para Elite sekalipun tidak memiliki informasi apa-apa tentangnya, namun yang pasti sebelum melaksanakan segala sesuatu keputusan dari Elite, mereka harus mendapatkan persetujuan dari The Unknown terlebih dahulu. Seluruh anggota dari berbagai divisi masuk kedalam ruang rapat tersebut dan mengambil kursinya masing-masing. Saat semuanya sudah duduk dengan rapi, seseorang dengan topeng hitam muncul dan langsung berdiri diatas mimbar. Tanpa aba-aba seluruh anggota divisi Defender berkumpul dan mengelilingi laki-laki bertopeng itu. “Siapa kau?” Ucap Tomi dengan suara yang menggelegar. “Salah satu Elite.” “Untuk apa seorang Elite datang ke pertemuan ini?” Ucap Dylan. “Aku akan menyampaikan berita duka, jadi aku harap kalian semua duduk dengan tenang.” Ucapnya dengan tenang namun sangat mengintimidasi. Para Defender kembali ke bangkunya masing-asing dan mendengarkan berita yang akan disampaikan oleh laki-laki bertopeng tadi dengan keadaan siap siaga. “The Unknown. Telah meninggal.” Ucap laki-laki itu singkat namun berasil menyerap semua perhatian anggota organisasi didalam ruangan ini. “Bagaimana bisa? Apa tidak ada orang yang menjaganya?” Ucap Tomi tidak terima. “The Unknown tidak butuh seorangpun untuk menjaganya. Kematiannya terjadi atas dasar kemauannya sendiri. Karena identitasnya yang sudah mulai di curigai oleh kerajaan.” “Bagaimana bisa? Kami sendiri bahkan tidak tau identitas aslinya.” Laki-laki itu menyalakan layar raksasa yang terletak ditengah tengah ruangan dengan remot ditangannya. Layar itu menunjukkan seorang petinggi kerajaan yang sangat berpengaruh di Istana. “Kalian pasti sudah mengenal aku, Fransiscus Alvero, panglima Tentara Nusantara. Aku adalah The Unknown. Aku tau saat ini posisi ku sudah cukup membahayakan organisasi karena Arka sudah meragukan kesetiaan ku. Satu-satunya cara agar organisasi ini selamat adalah mengorbankan nyawa ku sendiri. Sebelum aku melakukan hal itu, aku sudah mempersiapkan seseorang untuk menjadi penerus jabatan ku dalam organisasi ini. Dia adalah Adam Bornslav, cucu ku.” Ucap Frans melalui sebuah video. “Tidak mungkin.” Gumam Dylan sambil menatap Adam yang sedang membuka topengnya. “Bagimana bisa seorang Bornslav menjadi cucu dari Fransiscus Alvero?!” Sahut salah seorang anggota Defender. “Ibu ku adalah Annelisse Alvero. Mendiang putri semata wayang dari Fransiscus Alvero. Apa ada pertanyaan lagi?” Ucap Adam, semua orang terdiam saat merasakan aura mencekam yang keluar dari suara laki-laki itu. Beberapa saat setelahnya, hanya dengan satu tembakan Adam berhasil membunuh Defender tersebut dan membiarkannya tergeletak kaku diatas kaki teman-temannya. “Aku harap kalian sadar akan derajat kalian dan mampu berkerja sama dengan ku sebaik mungkin.” Ucap Adam dari atas mimbar dengan tegas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD