“Keluarkan aku dari sini!” Sahut Beatriz yang terikat diatas tempat tidur.
Perempuan itu memandang sekitarnya, dia sedang berada didalam sebuah ruangan bernuansa putih dengan kamera cctv di sudut ruangan yang mengarah pada tempat tidur Beatriz. Didepan Beatriz terdapat dua buah jendela kaca berukuran besar dengan bayangan orang-orang yang sedang menatap kearahnya.
“Hei! Keluarkan aku!” Sahut Beatriz sambil berusaha menyambar sekitarnya, namun tak berhasil. Beatriz melihat kearah telapak tangannya yang terbungkus oleh sarung tangan sintetis.
“Sarung tangan itu mampu menahan serangan mu, hebat bukan?” Ucap Arka melalui mic yang tersambung dengan pengeras suara didalam ruangan tempat Beatriz berbaring.
“LEPASKAN AKU!” Teriak Beatriz dengan penuh amarah. Dengan sekuat tenaga ia mengeluarkan listrik dari tangannya, sampai sarung tangan itu terbakar habis.
Arka terpaku melihat hal itu. Seluruh perhatiannya tertuju pada Beatriz yang sedang melepaskan ikatan tangannya.
“Yang mulia, kalau terus dibiarkan dia bisa kabur.” Ucap Adam pada Arka.
“Tunggu sebentar.” Ucap Arka sambil memperhatikan Beatriz.
Beatriz melompat dari tempat tidurnya lalu menatap Arka dibalik jendela dengan mata merah yang sangat menyeramkan. Perempuan itu menunjukkan aliran listrik yang bercahaya dari telapak tanganya, Arka menatap ciptaannya itu dengan kagum sampai akhirnya ia dikejutkan oleh serangan yang dilakukan Beatriz ke arahnya. Untung saja jendela ini terbuat dari kaca yang tidak mudah dihancurkan, dengan mata berbinar Arka menatap Beatriz. Baru kali ini ada seseorang yang mampu meretakkan kaca didepannya, bahkan peluru panas saja tidak mampu menggores kaca ini.
“Kalian semua, masuk dan lumpuhkan dia.” Perintah Arka.
Sebanyak 20 tentara masuk kedalam ruangan itu untuk melumpuhkan Beatriz. Stamina perempuan itu sudah sangat terkuras dari sejak ia tertangkap tadi pagi, karena itu setiap Beatriz mengeluarkan serangan, hidungnya mengeluarkan darah.
Dengan sekuat tenaga Beatriz melawan tentara-tentara itu sendirian, sampai akhirnya dia terjatuh tak sadarkan diri setelah berhasil membunuh 20 tentara dengan darah yang bercucuran keluar dari hidung, telinga dan matanya.
Arka tersenyum lalu beranjak masuk kedalam ruangan itu, dengan lembut Arka menggendong tubuh Beatriz ke atas tempat tidur, laki-laki itu menyuntikkan Beatriz dengan sebuah cairan lalu mengikat badannya diatas tempat tidur.
“Tidurlah yang nyenyak, besok aku akan buat kau menjadi boneka ku.” Ucap Arka sambil berjalan keluar menghampiri Adam, pengawalnya.
“Buang mayat-mayat tentara itu ke gudang. Dan jangan lupa untuk mengunci pintu ruangan ini. Kalau perempuan itu sampai hilang. tubuh mu dan seluruh keluarga mu akan kumasukkan kedalam gudang itu.” Ucap Arka lalu beranjak pergi ke Istananya.
***
Aruna membuka matanya dan dengan susah payah mengatur nafas, lagi-lagi ia memimpikan kejadian aneh yang selalu menghantui tidurnya. Sarah menghampiri Aruna saat melihat perempuan itu sedang duduk ketakutan diatas batu besar tempatnya tidur. Setelah kejadian penculikan Beatriz, mereka memutuskan untuk bermalam disini, dan tidak kembali ke gua.
“Hei, ada apa?” Ucap Sarah. Aruna menggeleng sambil tersenyum.
“Hanya mimpi buruk.” Ucap Aruna.
Dari atas langit, Agra datang dan mendarat didepan teman-temannya itu.
“Kau tidak tidur lagi?” Ucap Sarah.
“Aku takut tentara-tentara itu mencari lagi saat tengah malam.”
“Kita harus pergi. Mereka pasti akan mencari kita lagi hari ini” Ucap Sarah. Agra mengangguk.
“Ya, aku tadi melihat mereka sedang menuju kemari.”
“Dengan persenjataan yang lebih lengkap dibanding kemarin.” Sambung Agra.
“Tapi mau kemana?” Ucap Aruna.
“Kita akan ke Distrik ku.” Ucap Sarah.
“Bagaimana kalau kita juga dicari disana?” Ucap Agra.
“Mereka hanya mengenal aku, dan aku bisa mengubah wajah ku dengan mudah, sedangkan kalian tidak dikenal di Distrik ku, bahkan Arka pun tidak tau bagaimana rupa kalian, kita akan aman disana.”
“Bagaimana dengan rumahnya? Kita tidak mungkin luntang-lantung dijalanan, Kerajaan pasti akan memperhatikan kita.”
“Kita akan tinggal di rumah teman ku.”
“Dan memberitahunya tentang kekuatan kita? Tentu saja tidak bisa Sarah, itu terlalu berbahaya.” Ucap Agra.
“Kita tidak punya pilihan lain Agra, Dylan adalah satu-satunya orang yang bisa kita harapkan, lagi pula aku yakin dia pasti akan membantu kita.”
“Oh jadi sekarang kau memamerkan pacar mu didepan kami? Kau serius Sarah? Bisa-bisanya kau, disaat genting seperti ini.”
“Oke, sekarang kau terlihat seperti orang gila Agra. Kau bisa berbicara kalau kau punya saran yang lebih baik.” Ucap Aruna kesal karena kedua temannya itu terlalu lama berunding.
“Apa saran mu? Kita menyerang Istana sekarang tanpa ada persiapan sedikitpun?” Ucap Sarah mengejek Agra.
Perempuan dengan gaun putih itu menarik nafasnya pasrah, Sarah benar, Dylan adalah harapan mereka satu-satunya untuk saat ini, tapi entah kenapa Agra sangat sulit untuk mempercayai orang lain selain mereka bertiga, semenjak Beatriz tertangkap, perempuan itu semakin takut kalau salah satu dari Sarah atau Aruna direbut lagi darinya.
“Baiklah, aku setuju kita tinggal di Distrik 1, dengan satu syarat.” Ucap Agra.
“Kalau ternyata Dylan tidak bisa membantu kita, aku akan membunuhnya ditempat. Dan kau akan merubah bentuk mu menjadi bentuk pacar mu itu.” Ucap Agra yang dibalas dengan anggukan pasrah oleh Sarah.
Agra menggendong tubuh mungil Aruna dan membawanya terbang menuju Distrik 1. Sedangkan Sarah pergi menuju Distrik 1 dengan menggunakan kereta api, perempuan dengan kekuatan shape shifter itu merubah bentuk dirinya menjadi salah satu petinggi kerajaan agar bisa menggunakan fasilitas yang memang hanya bisa digunakan oleh bangsawan.
Nusantara. Distrik 1, 10 Januari 2302.
“Siapa kalian?!” Sahut Dylan ketakutan saat dirinya didorong paksa masuk kedalam rumahnya oleh Agra.
“Serius Sarah? Kau suka dengan laki-laki penakut seperti ini?” Ucap Agra pada Sarah yang masih berwujud sebagai petinggi kerajaan, dalam hitungan detik, perempuan berambut pirang itu kembali ke wujud aslinya.
“Sarah?!” Sahut Dylan tak percaya.
“Hai anak kecil.” Ucap Sarah sambil memeluk Dylan.
“Makhluk apa kau ini! Apa yang terjadi denganmu?” Sahut Dylan.
“Aku akan menjelaskannya nanti, sekarang aku butuh kau untuk membantu ku.”
“Bantu apa?”
“Biar aku yang bicara.” Ucap Agra sambil menarik tangan Dylan ke sofa dengan kasar.
“Aw!”
“Jadi kami butuh rumah mu ini sebagai tempat persembunyian kami, dan kau akan memberikannya tanpa ada syarat apapun.” Ucap Agra sambil menatap Dylan seperti ingin membunuhnya.
“Aku tidak suka dengan perempuan ini!” Ucap Dylan pada Sarah.
“DENGARKAN AKU!” Bentak Agra sangat menyeramkan namun membuat Dylan jadi ingin memukulnya. Memang sebelumnya Dylan takut karena seorang petinggi kerajaan dan 2 perempuan ini tiba-tiba ada didepan terasnya. Tapi setelah mengetahui orang-orang ini bukanlah siapa-siapa melainkan teman Sarah yang dibawanya dari Distrik 5, Dylan sama sekali tidak takut.
“Kau yang bodoh!” Balas Dylan sambil memukul dahi Agra dengan telapak tangannya. Aruna tertawa terbahak-bahak, baru kali ini dia melihat seseorang berani melawan Agra.
“Aku sudah pasti akan membantu kalian jika Sarah meminta itu, kau bisa mempercayaiku, dan tak perlu mengancam ku seperti ini.” Ucap Dylan. Agra menatap Dylan cukup lama sampai tiba-tiba mimik wajahnya berubah menjadi aneh.
“Ew!” Sahut Agra meluapkan semua rasa jijiknya terhadap Dylan dan Sarah.
“Aku benci pasangan ini!” Ucap Agra lalu masuk kedalam sebuah ruangan yang ternyata adalah kamar Dylan.
“Hei, sedang apa kau disana?” Ucap Dylan tidak senang sambil bangkit berdiri.
“Mulai hari ini. Kamar ini. Menjadi kamar ku.” Ucap Agra penuh penekanan.
“Apa orang seperti dia punya teman di Distrik 5?” Ucap Dylan sambil menatap sinis ke arah Agra yang berada di kamarnya.
“Hai, aku Aruna, kau bisa memanggil ku Ara.” Ucap Aruna sambil menjabat tangan Dylan lalu beranjak menuju dapur untuk memasak sesuatu.
“Cantiknya.” Gumam Dylan.
“Hei! Apa yang terjadi pada mu? Apa di Distrik 5 mereka mengajari mu caranya jadi penyihir?” Sahut Dylan semangat.
“Dasar bodoh!” Ucap Agra pada Dylan sambil keluar dari kamar dan beranjak ke taman belakang.
“Duduk lah, aku akan menceritakan semuanya pada mu.” Ucap Sarah pada Dylan yang sedang menatap Agra penuh kebencian.
“Aku rasa taman ini cukup luas untuk kita berlatih.” Ucap Agra.
“Ya, ku rasa juga begitu. Dimana kau letakkan buku itu?” Ucap Aruna
“Ada di kamar.” Ucap Agra sambil mencabut sebatang pohon ketapang cukup besar yang ada di tengah taman. Perempuan itu memfokuskan kekuatannya dan menghancurkan pohon itu menjadi berkeping-keping.
“Sekarang kau punya stok kayu bakar yang banyak.” Ucap Agra, Aruna menghela nafasnya.
“Kita memasak pakai gas sekarang. Kau kira kita masih tinggal di hutan hah? Dasar bodoh.”
“Oh iya aku lupa.” Agra menumpuk kepingan pohon itu menjadi satu diujung taman.
“Setidaknya, tempat ini menjadi lebih lapang karena ku.” Ucap Agra lalu beranjak masuk meninggalkan Aruna sendirian.
“Kenapa kau?” Ucap Agra pada Dylan saat sedang mendengar cerita Sarah mengenai eksperimen gila Arka yang dilakukan pada mereka.
“Diam lah! Kenapa kau begitu menyebalkan?”
“Kau terlihat sedih, jadi aku tanya kau kenapa, apa ada yang salah tentang itu?” Balas Agra.
“Kalau ingin menangis, ya nangis aja, aku tau kau itu cengeng, jadi gak usah malu-malu.” Sambung Agra lalu masuk kedalam kamar.
“Dasar gak punya sopan santun.”
“Mereka berhasil menangkap salah satu dari kami.” Ucap Sarah meneruskan ceritanya.
“Siapa? Apa kekuatannya?”
“Namanya Beatriz. Listrik” Jawab Sarah.
“Cantik seperti Aruna?” Tanya Dylan semangat. Sarah menggeleng sambil menatap Dylan malas.
“Kau mau tau bagaimana wajahnya?” Ucap Sarah, Dylan mengangguk.
Perempuan itu bangkit berdiri dari tempat duduknya lalu merubah bentuknya menyerupai Beatriz.
“KAU TERLIHAT SERAM!” Sahut Dylan sambil menutup matanya.
“BEATRIZ!” Sahut Aruna sambil tersenyum.
“Tidak, ini aku.” Sarah merubah bentuknya kembali seperti semula.
“Oh.” Ucap Aruna kembali murung.
“Aku hanya menunjukkan pada Dylan bagaimana rupa Beatriz.”
“Untuk apa? Tidak ada gunanya juga dia tau tentang Beatriz.”
“Aku akan ikut kalian mencari Beatriz.” Ucap Dylan serius.
“Hahaha, bisa apa kau?” Ucap Agra.
“Tidak usah repot-repot, dengan memberikan tempat tinggal seperti ini saja sudah sangat membantu kami.” Ucap Aruna.
“Tidak, aku juga ingin menyerang Arka, aku akan membalaskan dendam teman-teman ku yang dibunuh olehnya kemarin malam.”
“Teman-temanmu? Siapa?”
“Jonathan, Andreas dan Grayson. Mereka menghilang sejak kemarin malam, tanpa mengabari ku, benar-benar aneh, pasti ada sesuatu yang dilakukan pihak Kerajaan terhadap mereka.”
“Tapi kenapa kerajaan mau membunuh mereka? Bukannya nyawa setiap rakyat penting bagi Arka untuk eksperimennya?” Tanya Aruna.
“Tiga hari yang lalu mereka membuat kekacauan karena curiga terhadap tes kerajaan. Pasti karena Arka merasa terancam ketahuan dan takut akan terjadi kekacauan di Distrik lainnya, dia menyuruh anak buahnya untuk membunuh Jonathan, Andreas, dan Grayson.” Jelas Dylan.
“Aku akan membunuhnya. Dan kau. Kau gak punya hak untuk melarang ku.” Ucap Dylan dengan tegas sampai tidak bisa dibantah oleh Agra.
“Wow, ini pertama kali aku melihat mu menurut dengan seseorang?” Bisik Aruna, dengan kesal Agra masuk kedalam kamar untuk mengambil buku tebal yang di curi Sarah dari Istana Arka kemarin lalu duduk bersama mereka di ruang tamu.
“Sekarang, kita akan mengembangkan kekuatan Aruna, mau bagaimanapun kekuatan Aruna adalah yang paling kita butuhkan saat menyerang Istana nanti.” Ucap Agra sambil membuka bab ke 2 didalam buku itu yang menjelaskan tentang kekuatan Shield and Heal milik Aruna.
“Darimana kau mendapatkan ini?” Ucap Dylan.
“Ruang kerja Arka.”
“Kau mencurinya sendirian?!” Sahut Dylan. Sarah mengangguk.
“KEREN!” Teriaknya.
“Kau bisa pergi dari sini kalau kau tidak bisa diam.” Ucap Agra.
“Hei, sejak kapan rumah ini jadi rumahmu?” Ucap Dylan
“Aku masih bingung kenapa Arka memilih buku untuk menyimpan data penting seperti ini. Kenapa tidak menyimpannya kedalam komputer, bukannya buku terlalu jadul untuk jaman sekarang?” Ucap Agra.
“Dia takut terjadi kebocoran informasi, saat ini sudah banyak hacker yang tersebar di seluruh Nusantara. Arka pasti sadar tidak semua orang berpihak padanya. Menurut ku cara paling cerdas adalah menyimpan data-data penting ke dalam sebuah buku.”
“Dan aku berhasil mencurinya.” Ucap Sarah bangga.
“Liat ini, Regenerasi? Apa maksudnya?” Ucap Aruna sambil menunjuk isi buku itu.
“Mengembalikan organ tubuh yang menghilang. Berlaku pada diri sendiri dan orang lain, tidak berlaku pada orang yang sudah mati.” Gumam Agra sambil membaca buku itu.
Semua orang menatap Aruna dengan takjub.
Berbeda dengan Agra, Sarah dan Dylan yang takjub dengannya, Aruna malah merasa sangat ketakutan, dia merasa seolah tubuhnya ini bukanlah miliknya lagi. Apa yang sudah dilakukan Arka terhadap dia?