Saat fajar menyingsing, Agra kembali ke gua mendapati Sarah dan Beatriz sedang berlari sambil bertengkar. Perempuan berjubah hitam itu menyambar Sarah dengan listriknya, sedangkan Sarah melompat-lompat untuk menghindari serangan itu.
Seminggu telah berlalu, kemampuan Sarah berangsur-angsur lebih baik, perempuan itu sudah mampu merubah bentuk tubuhnya sesuai dengan yang ia mau dalam hitungan detik saja. Sekarang Sarah hanya perlu mengembangkan kemampuannya untuk berkelahi agar bisa menjaga diri.
“Mati kau!” Teriak Beatriz lalu menyambar Sarah hingga pingsan.
“Hei! Apa yang kau lakukan?” Sahut Agra terkejut dengan kelakuan kurang ajar Beatriz.
“Santai lah Agra, kau lupa? kita punya Aruna.”
“Ara! Kau punya kerjaan disini!” Sahut Beatriz memanggil Aruna yang ada didalam gua.
“Aku akan pergi berburu.” Ucap Beatriz lalu pergi sambil memakai cadarnya.
“Kenapa lagi ini?” Tanya Aruna sambil menguap. Agra mengangkat Sarah dengan kekuatannya, dan menerbangkan perempuan itu ke atas tempat tidur.
“Beatriz.” Jawab Agra singkat namun sudah mampu menjelaskan semua yang terjadi tadi pada Aruna.
Matahari mulai terik dan Sarah terbangun dari tidurnya. Perempuan itu mencari Agra dan Aruna yang ternyata sedang duduk diluar sambil memakan apel.
“Bagaimana kondisimu?” Ucap Aruna.
“Tidak pernah lebih baik.” Jawab Sarah.
“Dimana Beatriz?” Tanya Sarah penuh dendam.
“Sedang berburu, kau bisa membunuhnya nanti saat dia pulang.”
Sarah duduk diatas sebuah batang kayu untuk bergabung dengan teman-temannya itu, sebenarnya ada hal yang ia ingin sampaikan dari semalam, tapi ia takut akan membuat mereka marah.
“Ada apa?” Ucap Agra karena melihat kegelisahan Sarah.
“Aku ingin pergi ke Istana.”
“Untuk apa?” Tanya Agra dengan nada tinggi menahan amarahnya.
“Kau ingin mati Sarah?” Ucap Aruna.
“Aku ingin mengambil benda kesayangan ku yang tertinggal di mess.”
“Benda apa?” Tanya Aruna.
“Sebuah pisau kecil, peninggalan ayah ku satu-satunya.”
“Kami bisa membuatkan mu ratusan pisau baru. Jangan pergi kesana.” Ucap Agra.
“Kau tau, tidak akan ada pisau yang bisa menggantikan pisau ayah ku.”
“Tidak bisa Sarah, pergi ke Istana adalah hal yang sangat membahayakan. Aku tidak ingin keberadaan kita terancam hanya demi sebuah pisau.” Ucap Agra dengan tegas.
“Tapi—” Ucapan Sarah terhenti saat Aruna memukul lengan nya pelan, Aruna menatap mata Sarah dengan tajam, memberikan kode padanya untuk diam, karena bisa repot kalau Agra mengamuk.
Agra menatap Sarah dengan sinis lalu terbang pergi meninggalkan Sarah dan Aruna berdua saja.
“Puluhan pohon pinus bisa tumbang kalau Agra mengamuk.”
“Agra pernah mengamuk?”
“Ya, enam bulan yang lalu, karena Beatriz.”
“Karena apa?”
“Entahlah aku juga tak tau, yang pasti karena Beatriz membangkang.”
“Aku akan tetap pergi.” Ucap Sarah serius.
“Kau gila? Bagaimana—”
“Aku tak bisa kehilangan satu-satunya benda peninggalan ayah ku.” Ucap Sarah yang membuat Aruna menghela nafas pasrah.
“Pulanglah sebelum matahari tenggelam, jadi Agra tidak tau kalau kau pergi.” Ucap Aruna.
“Baik. Terimakasih Ara.” Ucap Sarah sambil tersenyum, Aruna mengangguk.
“Jaga diri mu. Jangan mati.”
Sarah beranjak pergi menuju Istana dengan sebuah seragam tentara milik Agra, dari jauh ia melihat tentara yang sedang berjaga dibagian timur, lalu mengubah bentuk dirinya menjadi seperti tentara itu.
Dari sisi barat Sarah menyelinap dan berhasil masuk kedalam Istana tanpa dicurigai oleh seorang pun. Dia bergegas masuk kedalam mess Distrik 1 lalu mencari pisau kecil kesayangannya itu. Dengan teliti ia mencari benda kesayangannya itu setelah bebrapa menit, akhirnya Sarah mendapatkan pisau kecil dengan ukiran Bornslav pada gagangnya itu.
Dengan hati-hati Sarah berjalan keluar, langkahnya terhenti saat melihat fotonya tampil di layar pengumuman kerajaan.
Di cari kriminal kerajaan.
Bagi yang menemukannya diberikan hadiah senilai 100.000.000 rupiah.
Karena penasaran tentang apa yang terjadi, Sarah mengubah arah jalannya dan berjalan menuju Istana Raja tempat Arka bersemayam. Tempat ini begitu mewah, ruangan bercat putih dengan ukiran Jepara pada setiap interiornya ini berbanding terbalik dengan rumah-rumah yang ada di Distrik 1. Setelah selesai mengagumi Istana itu, Sarah kembali fokus untuk mencari dokumen tentang dirinya yang sudah pasti tersimpan di Istana tersebut.
Tubuh Sarah berhenti didepan sebuah pintu raksasa berwarna hitam. Perempuan itu merasa heran karena entah kenapa, Istana ini hanya terisi oleh beberapa pelayan tanpa adanya seorang pengawal pun yang berjaga.
Apa Arka sedang tidak ada di istana?
“Permisi, Apa ada yang bisa saya bantu?” Ucap seorang pelayan pada Sarah sambil menunjukkan sedikit belahan dadanya. Sarah memandang perempuan itu dengan tatapan jijik, lalu perlahan masuk kedalam ruang kerja sang Raja.
Sama seperti dugaannya. Arka sedang pergi dari Istana ini, karena itulah tidak ada pengawal yang berjaga di Istananya. Dengan cepat Sarah membuka sebuah loker dokumen peserta tes yang terbagi berdarkan tahun-tahun didepannya.
Sarah membuka loker dengan nomor tahun 2302, dengan teliti perempuan itu mencari dokumen tentangnya disana, namun tak berhasil menemukannya.
Sarah berpindah ke loker tahun 2301 mencari data tentang Beatriz, setelah berhasil menemukan dokumen itu, Sarah melihat dengan sekilas foto Beatriz sebelum melakukan tes dengan iris mata yang berwarna hitam. Ya setidaknya dia terlihat seperti wanita normal difoto ini, berbeda dengan Beatriz yang sekarang terlihat seperti setan dengan mata merahnya itu.
Setelah berhasil mendapatkan dokumen Aruna dan Agra, Sarah beranjak dari ruangan ini, sudah terlalu lama ia berada di tempat berbahaya ini, sebaiknya dia bergegas pulang, sebelum ketahuan orang kerajaan ataupun ketahuan oleh Agra.
Baru saja ingin membuka pintu, perhatian Sarah terpaku pada sebuah buku bertuliskan The Book Of Strengths.
“Buku apa ini?” Gumam Sarah sambil membuka buku itu. Baru membuka halaman pertama, tubuh Sarah bergetar saat melihat penjelasan tentang eksperimen yang bertujuan untuk memberikan kemampuan telekinesis pada manusia tertulis disana.
Dengan cepat Sarah memasukkan dokumen-dokumen dan buku itu kedalam sebuah tas yang tersembunyi di seragam kebesarannya lalu bergegas keluar. Walaupun tidak mendapatkan dokumen tentang dirinya yang dia cari, setidaknya Sarah menemukan sebuah buku yang sudah pasti bisa menjelaskan tentang apa yang terjadi dengannya dan teman-temannya yang lain.
“Reza!” Sahut seseorang dari belakang Sarah. Dengan buru-buru Sarah meninggalkan tempat itu, namun sialnya, orang tadi berhasil mengejarnya. Sarah mencoba untuk mengeluarkan suaranya, namun yang keluar bukannya suara laki-laki, melainkan suara asli miliknya. Untung saja dia tidak berbicara dengan pelayan yang menggodanya tadi, jika tidak, dia pasti sudah mati karena ketahuan menyusup ke ruang Raja.
“Kenapa kau ada disini? Kau tidak ikut mencari spesimen-spesimen itu?” Ucap laki-laki berseragam tentara yang sama dengannya. Sekujur tubuh Sarah bergetar saat mendengar perkataan laki-laki disampingnya ini. Dengan cepat Sarah menggeleng untuk menjawab pertanyaan tentara itu.
“Kau cari mati? Hahaha, sebaiknya kau segera menyusul mereka, kalau kau ketahuan bermalas-malasan disini, kau akan terpenggal besok pagi.” Sarah mengangguk dan langsung berlari menuju hutan pinus.
Tubuh Sarah bergetar ketakutan saat melihat para tentara kerajaan sudah memenuhi hutan pinus, bagaimana dengan nasib teman-temannya itu? Apa mereka selamat?
Sarah menyembunyikan dirinya dibalik sebuah batu besar sambil mengintai kegiatan tentara-tentara itu.
“Hei! Mereka menemukan satu.” Sahut seorang tentara yang berlari menghampiri tentara-tentara lainnya.
“LEPASKAN AKU!” Jerit Beatriz dengan listrik yang menyambar dari kedua tangannya. Tubuh Sarah membatu saat melihat temannya terjatuh dan berhasil di lumpuhkan oleh puluhan tentara di sekelilingnya.
Dari jauh Sarah melihat Arka datang dengan senyuman lebar di wajahnya.
“Baiklah! hari ini sudah cukup baik, sekarang kita pulang dulu, berpesta, lalu besok kita lanjut mencari 2 spesimen lagi.” Ucap Arka sambil tertawa.
“Baik! Yang mulia.” Sahut tentara-tentara itu bersamaan lalu membawa tubuh Beatriz yang sudah tak sadarkan diri kedalam Istana.
Saat semua orang telah pergi, Sarah keluar dari persembunyiannya. Sambil menangis perempuan itu kembali ke gua tempat mereka tinggal. Namun gua itu sudah hancur, dan teman-temannya sudah menghilang.
Tubuh Sarah terjatuh, perempuan itu menangis terisak-isak dengan penuh penyesalan, seandainya ia tidak pergi, dia tidak akan mungkin terpisah dari teman-temannya seperti ini.
Sarah menghabiskan malamnya di pinggir sungai, sudah hampir 10 jam ia mencari Aruna dan Agra, namun tak berhasil menemukan mereka. Langkah Sarah terhenti saat melihat sedikit pergerakan dari daun-daun pohon pinus diatasnya.
“Agra?” Sahut Sarah.
Secepat kilat Agra mendarat didepan Sarah, lalu mencekik Sarah dengan kekuatannya. Dengan penuh kekesalan Agra mengangkat tubuh Sarah dan berniat membunuhnya. Menurut Agra, karena keegoisan Sarah yang kembali ke Istana hanya untuk mengambil pisaunya, Beatriz menjadi korban dan dibawa oleh Arka.
Semua yang telah dijaga oleh Agra, hancur dalam sehari karena perempuan itu.
Dari jauh Aruna berlari menuju sumber keributan, matanya membelalak saat menemukan Agra yang tanpa keraguan hendak membunuh Sarah.
“Agra! Hentikan!” Sahut Aruna ketakutan.
“Diam Aruna!, Karena anak ini, Beatriz menjadi korban.”
“Biarkan dia menjelaskan apa yang terjadi, kau tak bisa main hakim sendiri.” Ucap Aruna.
“Kumohon.” Sambung Aruna.
Dengan berat hati, Agra menjatuhkan tubuh Sarah, perempuan itu langsung menarik nafas panjang dan menahan rasa sakit di lehernya. Aruna berjalan menghampiri Sarah, setelah menyembuhkan memar di lehernya, dengan sangat keras Aruna menendang wajah Sarah.
“Itu untuk membocorkan rahasia kita ke Kerajaan!” Sahut Aruna lalu menyembuhkan wajah Sarah.
“Aku tidak membocorkan apapun! Bagaimana bisa kalian menganggap ku seperti penghianat?!” Sahut Sarah.
“Mereka bahkan tidak melihat ku sama sekali, semua berjalan dengan aman saat aku masuk kesana. Bahkan berjalan dengan sangat baik, yang terjadi pada Beatriz tak ada hubungannya denganku!” Ucap Sarah jujur.
“Jangan bohong!”
“Aku tidak bohong! Buat apa aku membocorkan tentang kita? Aku juga membenci orang-orang gila itu sama seperti kalian!”
“Jadi bagaimana mereka bisa tau tentang kita dan hutan pinus ini?” Ucap Aruna.
“Aku melihat foto ku di layar pengumuman kerajaan, aku bingung entah bagaimana mereka bisa tau aku masih hidup.”
“Kan benar! Semua ini terjadi karena kau! Mereka menemukan kami disini karena sedang mencari mu.” Sahut Agra.
“Agra! Stop. Bertengkar tidak akan menyelesaikan masalah ini.”
“Aku tak tau ini semua salah ku atau tidak, yang pasti mereka tau kalau spesimen yang berhasil hanya ada 3.” Ucap Sarah.
“Kenapa 3? Kita kan berempat.” Ucap Aruna.
“Aku tau kenapa mereka bisa mengira hanya 3 spesimen yang berhasil.” Ucap Agra.
“Beatriz menyerang salah satu tentara saat kami berdua menyelamatkanmu” Ucap Agra pada Sarah.
“Aku rasa tentara itu masih hidup, dan membocorkan semuanya pada Arka.”
“Dasar bodoh!” Gerutu Aruna.
Sarah mengeluarkan dokumen-dokumen dan buku yang tadi dicurinya dari ruang kerja milik Arka.
“Apa ini?” Ucap Agra saat melihat dokumen miliknya.
“Aku mengambil dokumen-dokumen tentang kalian dari ruang kerja Arka—”
“KAU GILA?! Kau bisa saja mati ditempat, kalau ketahuan.” Bentak Agra.
“Oh lihat lah, orang yang baru saja ingin membunuhku, ternyata bisa mengkhawatirkan ku.” Ucap Sarah.
“Maaf.”
“Santai, anggap saja aku sudah tidak punya hutang nyawa lagi dengan mu, Kita impas sekarang.” Ucap Sarah.
“Jika mereka tau tentang 3 spesimen yang berhasil, dan hanya mendapatkan Beatriz. Sekarang kau dan Aruna masih aman, kalian bisa kabur dari sini, dan melanjutkan hidup kalian dengan tenang.” Ucap Sarah.
“Atau, kalian ikut dengan ku, dan bersama-sama kita selamatkan Beatriz.” Sambungnya.
“Bagaimana caranya? Teknologi pertahanan disana sangatlah canggih, dan juga ada ratusan tentara serta pengawal yang akan membunuh kita dengan mudah. Sangat mustahil untuk bisa menyelamatkan Beatriz.” Ucap Aruna.
“Tidak mustahil jika kita menggunakan ini.” Ucap Sarah sambil menunjukkan sebuah buku.
“The book of strengths?” Ucap Agra.
“Semua kemampuan kita terangkum disini, kita bisa mengembangkan kekuatan kita dengan buku ini.” Ucap Sarah, dengan cepat Agra merebut buku itu dari tangan Sarah, matanya berbinar saat melihat penjelasan tentang kekuatannya ada dihalaman pertama.
Perempuan itu membaca buku tersebut dengan sekilas, hanya ada 4 kekuatan yang ingin diciptakan oleh Arka. Pada bab pertama menjelaskan tentang kekuatan telekinesis dan levitasi milik Agra. Bab ke dua menjelaskan tentang kemampuan elektrisitas milik Beatriz. Bab ke tiga menjelaskan tentang kekuatan shape shifter milik Sarah, sedangkan bab terakhir menjelaskan tentang kekuatan milik Aruna.
“Kita pasti bisa menyelamatkan Beatriz dengan buku ini.” Ucap Agra penuh keyakinan.
“Tidak hanya menyelamatkan Beatriz.” Ucap Sarah penuh dendam.
“Kita juga akan membunuh iblis bernama Arka itu.” Sambungnya yang membuat Aruna dan Agra tersenyum tipis.
“Kita juga akan membunuh iblis bernama Arka itu.” Sambungnya yang membuat Aruna dan Agra tersenyum tipis.