TIGA

2292 Words
“Sudah puas menggosongkan pohon?” Sindir Agra pada Beatriz yang baru saja pulang. “Diam kau.” Balas Beatriz. Beatriz melepaskan jubah hitamnya dan mulai menguliti dua ekor kelinci yang ia dapatkan di hutan tadi. Berbeda dengan hutan di tiap Distrik. Hutan pinus dikerajaan kaya akan hewan-hewan seperti kelinci, rusa, beruang, harimau, ular, dan segala jenis unggas. Bagi para bangsawan binatang-binatang itu hanya menjadi penghias tempat tinggal mereka. Namun bagi spesimen-spesimen ini, binatang-binatang tersebut adalah sumber makanan. “Masak ini Aruna, aku ingin mandi.” Ucap Beatriz. “Kau mau mandi disungai malam-malam begini?” Ucap Aruna. “Aku benci melihat anggota kerajaan masuk kedalam gua kita.” Dengan penuh kekesalan Beatriz memandang wajah Sarah yang masih terbaring di tempat tidur. “Dia Spesimen, sama seperti kita.” Ucap Agra. “Oh ya? Terus apa kekuatanya? Merepotkan spesimen lain?” Sarah membuka matanya sambil terbatuk-batuk. Dengan membawa sepotong kain,  Aruna menghampiri Sarah lalu mengelap bercak darah ditelapak tangan perempuan itu. “Oh tidak!” Ucap Beatriz dengan cepat mengambil pisau bekas kelincinya diatas meja. Perempuan berambut hitam panjang itu berlari kearah Sarah lalu mengiris pergelangan tangan perempuan itu untuk mengambil alat pelacak yang tertanam disana. “Kalian membiarkan alat ini tetap tertanam di tubuhnya?! Kalian mau mati?” Bentak Beatriz sambil menginjak pelacak tersebut itu agar rusak. “Kau gila?! Sepertinya dari tadi kau berambisi untuk membunuh ku ya?” Bentak Sarah dengan suara yang sama persis dengan suara Beatriz. Beatriz membalikkan badannya dan menatap kearah seorang perempuan yang sangat mirip dengannya. Bahkan sama persis. “Siapa kau?!” “Hah? Dasar pikun, Aku ini Sarah! harus berapa kali lagi aku memperkenalkan diri?” Ucap Sarah. Aruna dan Agra hanya terdiam dan terpaku pada Sarah. Sampai akhirnya Aruna bergerak untuk mengambil cermin di dinding. “Lihat diri mu.” Ucap Aruna sambil memberikan cerminnya pada Sarah. “Kenapa wajah ku berubah jelek seperti ini?!” Jerit Sarah yang membuat Beatriz naik darah. “Apa kau bilang?!” “Kalian apakan wajahku?!” Sahutnya. “Hei shape shifter bodoh! Kau tidak sadar dengan kekuatan mu?” Ucap Agra yang mulai stres dengan teriakan kedua perempuan didepannya ini. “Sini tanganmu” Ucap Aruna lalu menyembuhkan luka irisan pisau Beatriz tadi. Tak sampai semenit, luka itu tertutup tanpa meninggalkan bekas sedikitpun. “Wow! Kalian punya healer disini? Kalau di game, kau akan menjadi support yang keren.” Ucap Sarah dengan suara Beatriz. “Hei.” Tegur Beatriz namun di abaikan oleh Sarah. “Aku juga bisa jadi tank. Ayo serang aku.” Ucap Aruna. Sarah melayangkan tinjunya tanpa ragu kearah Aruna. Mata Sarah berbinar-binar saat melihat sebuah kilauan dinding transparan yang menahan pukulannya mengelilingi tubuh Aruna. “Dasar perempuan kurang ajar! Cepat kembali ke wujud asli mu!” Teriak Beatriz sambil mencekik Sarah. “He-i le-pas-kan!” Ringis Sarah. “Beatriz hentikan.” Ucap Agra sambil menahan emosinya namun tidak digubris oleh Beatriz. “Aku bilang hentikan!” Agra melemparkan tubuh Beatriz ke arah kursi kayu dengan kekuatannya. “Jaga sikap mu Beatriz, aku tidak mau menyakiti mu lebih dari ini.” Beatriz bangkit berdiri sambil menahan sesak akibat terhempas tadi. “Maaf.” Ucapnya. “Dan kau Sarah, aku ingin kau belajar untuk mengendalikan kekuatan mu mulai besok. Jika kau tidak bisa melakukannya, maka kau harus pergi dari tempat ini. Kami tidak akan menampung orang yang tidak berguna.” Ucap Agra dengan tegas lalu pergi keluar gua. “Tunggu disini, aku akan memasakkan sup kelinci untukmu” Ucap Aruna. “Agra kurang ajar.” Desis Beatriz. “Hei, coba ubah bentuk mu kembali.” Ucap Beatriz pada Sarah. “Bagaimana caranya?” “Ya mana aku tahu, bodoh.” “Aku juga tidak tau. Dan aku tidak bodoh, dasar tidak sopan.” “Hei aku lebih tua satu tahun daripada mu.” “Hentikan, suara kalian bisa memanggil Agra kembali kesini.” Ucap Aruna sambil mengaduk sup kelinci. “Coba bayangkan wajah mu.” “Udah.” Balas Sarah namun tak ada perubahan yang terjadi. “Yang serius lah bodoh!” “Iya iya!” Sarah memejamkan matanya dan berfokus pada bayangan dirinya dipikiran perempuan itu. Tak lama Sarah merasakan sensasi aneh dari tubuhnya, rasanya seperti sedang merinding, tubuhnya terasa dingin dan sesaat kemudian, rasanya kembali sama seperti semula. “Wow.” Gumam Beatriz. “Oke, aku akui, kekuatan mu cukup keren.” “Beatriz, apinya padam, kayu bakarnya habis.” Beatriz beranjak mendekati Aruna dan meletakkan kayu bakar yang baru lalu menyambarnya. “Agra kemana?” Ucap Sarah. “Dia selalu keluar untuk mengintai lalu kembali saat pagi.” “Ya, demi keamanan kita.” Ucap Beatriz. Aruna meletakkan panci berisi sup kelinci itu diatas meja. Setelah menyantap makan malam mereka, Sarah, Aruna dan Beatriz memutuskan untuk tidur. Sedangkan Agra, perempuan berusia 24 tahun itu sedang duduk di batang pohon pinus tertinggi hutan ini. Memandangi bintang dan mengingat hari dimana ia kembali ke Istana untuk pertama kalinya. Nusantara. Istana Negara, 01 Januari 2299. Agra berlari ke arah seorang perempuan yang terbaring lemas di ujung ruangan ini. “Bertahanlah aku akan menolong mu. Kau masih kuat berjalan?” Perempuan itu menggeleng. “Tunggu disini, aku akan mencari jalan keluar.” Ucap Agra. Perempuan itu berjalan menyusuri ruangan gelap ini, mencari jalan keluar untuk kedua kalinya. Langkahnya terhenti, lagi-lagi ide gila muncul di otaknya. Agra memutuskan tangan salah satu mayat yang ada didalam gudang itu lalu menuliskan ‘DISTRIK 5’ di dinding. Setelah itu dengan kekuatannya, dia mengikis dinding marmer tersebut dan mencetak sebuah pesan. Jika kau masih hidup setelah masuk ruangan ini. Selamat kau adalah spesimen yang berhasil. Sama seperti ku. Di ujung ruangan ini ada sebuah lubang di dinding yang bisa membawa mu keluar. Temui aku di hutan pinus bagian timur kerajaan. Aku akan menunggu mu disana. Agrapana Cundamani. Setelah mengabadikan karyanya itu di dalam kepala, Agra kembali mencari jalan keluar selama berjam-jam. Ruangan ini sangat gelap dan berbentuk seperti kotak hitam tak bercela, tapi dengan adanya tikus dan beberapa jenis serangga diruangan ini, membuat Agra yakin bahwa ada sebuah celah yang membuat tikus-tikus itu bisa masuk kemari. Seketika suhu ruangan terasa sedikit memanas, sambil mengusap keringatnya, Agra melihat gumpalan asap membumbung diantara tumpukan mayat. “Mereka akan membakar tempat ini!” Gumam Agra lalu berlari kembali ke tempat perempuan tadi. Agra berpikir dengan keras bagaimana dia bisa membawa perempuan ini keluar tanpa ketahuan penjaga. Dengan mengarahkan tangannya ke tembok Agra menghancurkan tembok itu sedikit dan membuat lubang disana. Tanpa ketahuan seorang pun, mereka berdua berhasil kabur dari gudang mayat. Sambil menggendong tubuh perempuan tadi, Agra melesat terbang menuju hutan pinus tempatnya tinggal. Agra membawa perempuan itu menuju sungai untuk membersihkan dirinya didalam air. Perempuan itu terlihat cantik dengan rambut panjang berwarna coklat, dan iris mata biru. “Siapa namamu?” Ucap Agra. “Aruna.” “Dineshcara.” Sambung Aruna. “Distrik?” “Dua.” Aruna naik ke permukaan lalu memakai pakaian yang telah disediakan oleh Agra. “Terimakasih.” Ucapnya. Agra melihat ke arah pergelangan tangan Aruna yang masih memiliki alat pelacak. “Kau harus membuang itu.” Ucap Agra sambil memberikan pisau dari dalam tasnya. Aruna mengambil pisau tersebut dan mengiris pergelangan tangannya, perempuan itu mengambil chip pelacak dari dalam tangannya lalu membuang benda itu ke sungai. “Telekinesis huh?” Ucap Aruna dengan kagum, tanpa mempedulikan darahnya yang mengalir dari lukanya. “Jadi apa kekuatanmu?” Ucap Agra penasaran. “Healing.” Jawab Aruna. “Maksudmu?” “Seperti ini.” Ucap Aruna sambil menunjukkan luka dipermukaan kulitnya yang menutup dengan sendirinya. “Wah!” “Sekarang coba sembuhkan aku.” “Aku tak tau bisa atau tidak.” “Coba saja.” Ucap Agra sambil mengiris pergelangan tangannya lumayan dalam. “Kau mengirisnya terlalu dalam! Bagaimana kalau aku tidak bisa menyembuhkannya?” “Selamatkan nyawa ku.” Ucap Agra sedikit panik. Aruna berusaha untuk fokus dengan mengarahkan tangannya ke luka di tangan Agra. Luka itu mulai tertutup namun tidak sempurna. “Bagus! Aku berhutang nyawa pada mu. Jadi mulai sekarang aku akan merawat, dan menjaga mu sama seperti adik ku sendiri. Perkenalkan, nama ku Agrapana Cundamani. Kau bisa memanggil ku Agra.” “Usiamu?” Tanya Aruna. “21 tahun.” “Jadi kau sudah 3 tahun hidup sendirian disini?” Agra mengangguk sambil tertawa miris. “Setidaknya sekarang aku sudah tidak sendirian lagi.” Ucap Agra. “Kekuatan ku tidak hanya itu.” “Kau punya kekuatan lain?!” Sahut Agra semangat. “Iya, seperti tameng, kau tidak akan bisa menyakiti ku.” “Baik, ayo kita coba.” Agra bangkit berdiri di ikuti oleh Aruna. “Mundur lah 10 langkah.” Ucap Agra, Aruna melangkahkan kakinya mundur 10 langkah. “Mari kita tes seberapa kuat tameng mu itu.” Agra mengangkat sebatang kayu pinus berukuran besar dengan kekuatannya. “Siap?” Ucap Agra, Aruna mengangguk dan Agra melempar kayu itu dengan keras sampai tameng Aruna pecah, dan membuat perempuan itu terjatuh tak sadarkan diri. Agra berlari ke arah Aruna dan bergegas membawanya ke dalam gua. *** Didalam istana Arka sedang duduk di taman bunga matahari miliknya sambil meminum segelas anggur. Laki-laki itu tampak frustasi sambil membaca laporan-laporan hasil eksperimen yang dilakukannya seminggu yang lalu. Ditangannya tergenggam selembar kertas yang berisikan data seorang perempuan dengan nama Sarah Bornslav. Perempuan biasa yang berasal dari Distrik 1 itu berhasil memenuhi pikiran Arka, bagaimana bisa ia bertahan didalam kapsul selama 19 menit? Seandainya waktu itu Arka tidak menunggu sampai 20 menit, mungkin saat ini dia sudah mengadakan pesta besar-besaran atas keberhasilan eksperimennya. “Permisi yang mulia.” Ucap Adam Bornslav, salah satu orang kepercayaan Arka yang bertugas untuk mengawalnya hari ini. “Ada apa?” “Saat ini terjadi kekacauan di Distrik 1, masyarakat disana mulai curiga dengan tes fisik kerajaan yang terkesan ditutup-tutupi, mereka menuntut untuk di bawa ke Distrik 5.” “Ya sudah, kalau memang mereka ingin dibawa kesana, bawa saja mereka ke Distrik 5.” Ucap Arkan sambil menyesap anggurnya. “Tapi yang mulia, Distrik 5 itu tidak ada.” “Kenapa aku harus memikirkan hal tidak penting seperti ini?! Aku sudah cukup stres karena eksperimen ku selalu tidak berhasil! Kekacauan di Distrik itu bukanlah hal yang pantas untuk masuk ke otak ku.” Ucap Arka sambil melempar gelas anggurnya hingga hancur berkeping-keping. “Bunuh orang-orang yang memicu kerusuhan itu, dan berikan pasokan daging kesana. Aku yakin masyarakat akan langsung memuji ku kembali setelah itu.” “Baik yang mulia.” “Ya sudah, apa ada hal lain yang mau kau sampaikan?” “Tentang tentara yang diserang dihutan pinus seminggu yang lalu. Dia sudah sadar, yang mulia.” Mendengar hal itu, Arka bangkit dari tempat duduknya dan beranjak menuju tempat tentara itu dirawat. Semua orang yang dilewatinya dengan sigap membungkukkan badan untuk memberi hormat namun tidak dipedulikan oleh sang Raja. Selain Sarah, penyerangan tentara di hutan itu juga menjadi salah satu hal yang mengganggu pikirannya. Bagaimana bisa seseorang tersambar petir di pagi yang cerah? “Yang mulia.” Ucap tentara itu berusaha bangkit untuk memberikan hormat pada Raja nya. “Tidak perlu memberi hormat, berbaringlah. Bagaimana keadaanmu?” “Siap, saya sudah baik-baik saja yang mulia, suatu kehormatan bisa dijenguk oleh yang mulia, seperti ini.” “Syukur lah kalau begitu. Sekarang, bisa kau ceritakan apa yang terjadi di hutan pinus waktu itu?” Arka duduk di sebuah kursi yang ada disamping tempat tidur tentara itu. Dengan lambaian tangannya Arka menyuruh semua orang yang ada didalam ruangan untuk keluar, dan menyisakan dirinya dan tentara itu berdua saja. “Waktu itu saya sedang berpatroli menjaga Istana seperti biasa, yang mulia, saat saya sedang menyusuri sisi timur Istana, dari jauh saya melihat seorang perempuan berlari menuju hutan pinus, karena saya merasa ada yang tidak beres, saya mengikuti perempuan itu.” “Kau melihat wajahnya?” Tanya Arka penasaran. “Iya, yang mulia. Saya melihatnya.” “Adam!” Teriak Arka memanggil pengawalnya itu. “Siap!” Sahut Adam setelah memasuki ruangan. “Ambil kertas laporan yang tadi kupegang.” Ucap Arka. “Aku tidak ingin menunggu lama.” Sambungnya. “Siap yang mulia!” Adam berlari menuju taman dan mengambil laporan yang berisi tentang seorang perempuan bernama Sarah Bornslav. Tak sampai 10 menit Adam kembali ke ruangan tempat tentara itu dirawat walaupun letaknya cukup jauh dari taman. Laki-laki bertubuh kekar itu memberikan laporan tersebut kepada sang Raja, lalu beranjak pergi keluar dan berjaga disana. “Apa wajahnya seperti ini?” Ucap Arka sambil menunjukkan foto Sarah. “Benar, yang mulia.” Jawab tentara itu sambil mengangguk semangat. Sekujur tubuh Arka merinding saat mendengarnya. Bagaimana bisa perempuan itu hidup kembali? Dia ingat sekali perempuan itu benar-benar sudah mati setelah mengikuti tes di laboratorium seminggu yang lalu. “Apa kau diserang olehnya?” Tanya Arka penuh harap. “Tidak, yang mulia, seseorang dengan jubah hitam dan cadar yang menyerang ku. Orang ini benar-benar aneh, dia bisa mengeluarkan petir dari tangannya, seperti penyihir.” “Orang lain? Ada berapa orang yang kau lihat?” “Ada tiga orang, yang mulia, satu perempuan yang saya ikuti, satu memakai gaun putih, dan satu lagi yang menyerang saya dengan petir itu.” Jawab sang tentara. “Tiga?” “Iya, yang mulia.” “Baik, terima kasih karena kau sudah memberitahu ku informasi ini, beristirahatlah. Semoga lekas sembuh.” Sambil tertawa Arka keluar dari kamar tempat tentara itu dirawat. Akhirnya usahanya membuahkan hasil, bahkan lebih baik dari hasil yang ia harapkan. Karena informasi yang diberikan oleh tentaranya itu, Arka mengetahui bahwa ada 3 spesimennya yang berhasil tanpa sepengetahuannya. “Kerahkan semua pengawal dan tentara yang ada di Istana ini, dan mulai pencarian di hutan pinus. Temukan perempuan ini.” Ucap Arka pada Adam sambil menempelkan kertas laporan itu ke dadanya. “Siap! yang mulia.” Dengan senyuman dibibirnya, Arka kembali ke Istana Raja miliknya dan tertidur dengan sangat nyenyak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD