Sarah membuka matanya dan langsung menutup hidungnya saat aroma busuk menyeruak masuk kedalam indra penciumannya.
Dengan susah payah Sarah mengangkat 3 mayat suster yang menimpanya, tubuhnya gemetaran saat ia berdiri dan mendapati dirinya berada dalam sebuah gudang raksasa yang berisi ratusan mayat manusia dengan tikus, ulat, dan binatang-binatang lainnya yang sedang menggerogoti tubuh mayat-mayat disana.
“Tolong!” Sahut Sarah ketakutan.
Perempuan berambut pirang itu menyusuri sekitar untuk mencari jalan keluar, sampai dia menemukan sebuah tulisan yang tertulis dengan darah di dinding.
“Distrik 5.” Gumamnya membaca tulisan di dinding itu.
Sarah memuntahkan semua isi perutnya karena sudah tidak mampu lagi menahan bau busuk dalam ruangan ini. Saat ia hendak pergi, langkahnya terhenti karena tulisan kecil yang terletak di dinding bagian bawah.
Jika kau masih hidup setelah masuk ruangan ini. Selamat kau adalah spesimen yang berhasil. Sama sepertiku, di ujung ruangan ini ada sebuah lubang di dinding yang bisa membawamu keluar. Temui aku di hutan pinus bagian timur kerajaan. Aku akan menunggumu disana.
Agrapana Cundamani.
Dengan terburu-buru Sarah mencari lubang tersebut, selama hampir satu jam dia mencari, hasilnya tetap saja nihil. Dengan penuh emosi dia menendang tulang belulang yang ada didekatnya, sampai setitik cahaya masuk kedalam ruangan tersebut.
Sarah menggali tulang-belulang didepannya dan akhirnya menemukan lubang kecil tersebut. Susah payah Sarah memasukkan tubuhnya kedalam lubang itu untuk keluar dari dalam ruangan ini.
Saat berhasil keluar, Sarah menarik nafas panjang, memenuhi paru-parunya dengan udara segar yang berasal dari hutan pinus Istana.
“Agra!” Sahut Sarah memanggil nama seseorang yang dianggapnya mampu untuk menolongnya.
“Tolong aku!”
Langkah Sarah terhenti saat dia melihat seseorang dengan jubah hitam berdiri diantara dua pohon pinus. Perempuan berjubah serba hitam itu menutup wajahnya dengan cadar dan hanya menampakkan matanya yang berwarna merah. Benar-benar menyeramkan.
“Agra?” Ucap Sarah merasa sedikit takut. Perempuan itu hanya diam menatap Sarah dengan mata merahnya.
“Pergi!” Sahutnya sambil melepaskan sarung tangannya.
“Kumohon tolong aku, jika orang-orang Istana tau aku masih hidup mereka pasti akan membunuhku.”
“Aku bilang pergi!” Sahut perempuan berjubah hitam itu sambil berusaha menyambar Sarah dengan listrik yang keluar dari tangannya.
Sarah melompat kaget menghindari sengatan listrik tersebut.
“Makhluk apa kau ini?!” Sahutnya terheran-heran.
“Cukup Triz!” Ucap seorang perempuan dengan wajah khas Pribumi.
“Spesimen kali ini benar-benar tidak berguna.” Ucap perempuan berjubah hitam itu sambil membuka cadarnya lalu menyambar tubuh Sarah. Untungnya dengan cepat tubuh Sarah terangkat ke udara sehingga tidak tersambar oleh aliran listrik Beatriz. Sarah melihat perempuan pribumi dibawah yang sedang mengarahkan tangannya ke udara, tepatnya ke arah Sarah.
“Kau gila?!” Ucap perempuan itu sambil menggerakkan tangannya kebawah, diwaktu yang bersamaan juga tubuh Sarah turun kembali ke darat.
“Kau yang gila! Bagaimana jika dia bukan spesimen melainkan anggota kerajaan? Kau mau kita semua ketauan?!”
“Apa tadi kau tidak mendengarnya memanggil namaku? Dia pasti spesimen yang berhasil, sama seperti kita.” Ucap perempuan bergaun putih itu.
“Hai, Aku Agra. Siapa namamu?” Ucapnya.
“Sarah. Sarah Bornslav.” Jawab Sarah lalu jatuh pingsan.
“Angkat dia.” Ucap Agra. Beatriz menatap Agra dengan tatapan sinis.
“Tak sudi. Apa gunanya kekuatanmu itu?”
“Siapa disana?!” Sahut seorang tentara yang sedang bepatroli disekitaran hutan pinus.
Secara refleks Beatriz menyerang tentara itu dengan listriknya.
“Kau gila?! Bagaimana kalau ada yang melihatmu tadi.”
“Sorry, ayo pergi dari sini.” Beatriz menggendong tubuh Sarah dan pergi bersama Agra menuju sebuah gua tempat mereka tinggal.
Gua ini terletak di tengah hutan pinus dan ditutupi oleh akar-akar pohon yang terbentuk seperti tirai yang menyelimuti mulut gua tersebut. Agrapana Cundamani adalah orang pertama yang tinggal didalam gua ini. Perempuan berumur 24 tahun itu mengabiskan hidupnya sendirian didalam gua selama 3 tahun, sampai akhirnya dia bertemu dengan Aruna Dineshcara, Beatriz Romanov, dan sekarang Sarah Bornslav.
Agrapana adalah seorang perempuan penjual roti yang berasal dari Distrik 3, dulu hidup nya dipenuhi dengan kebahagiaan, sampai akhirnya dia harus menjadi bahan percobaan oleh pihak Kerajaan.
Nusantara. Istana Negara, 01 Januari 2296.
Perempuan dengan baju karet itu berjalan memasuki sebuah Laboratorium, setelah duduk bersama 5 peserta lainnya, seorang suster kemudian menyuntiknya dengan serum berwarna hijau tua. Tubuhnya terasa panas dan penglihatannya menjadi berkunang-kunang.
“Kau tak apa?” Ucap seorang suster pada Agra.
Agra mengangguk, sang suster membantunya berjalan menuju kapsulnya, namun rasa sakit semakin menyiksa tubuhnya. Agra terjatuh ke lantai dan wajahnya terlihat sangat pucat dengan keringat yang becucuran.
Disaat peserta lainnya sudah memasuki kapsul, Agra kembali ke tempat duduknya dengan kondisi lemas, badannya bergetar dengan kencang, bukan karena rasa sakit yang sedang dirasakan tubuhnya, melainkan karena ia melihat peserta lain sangat tersiksa didalam kapsul itu. Mata, telinga, dan hidung mereka mengeluarkan darah begitu banyak seperti keran air.
Saat Agra berusaha keras untuk keluar dari ruangan ini, seorang laki-laki berbadan tegap masuk ke dalam laboratorium tersebut.
“Kenapa dia tidak dimasukkan kedalam?” Ucap Arka.
“Mohon maaf yang mulia, kondisi spesimen yang ini sangat lemah, jika kami memaksanya untuk masuk ke dalam kapsul, kemungkinan besar dia akan mati.” Ucap seorang suster yang tadi menyuntik tubuh Agra.
“DIAM!” Bentak Arka dengan penuh amarah, tubuh Agra tersentak kaget. Baru kali ini dia melihat sisi lain dari Rajanya yang terkenal sangat lembut itu.
Arka menarik tubuh Agra dengan kasar dan mendorongnya masuk kedalam kapsul. Setelah selesai menempelkan semua alat ke seluruh bagian tubuh Agra, Arka menutup pintu kapsul tersebut dan mulai menyalakannya.
Seketika tubuh Agra menggelepar karena kejutan listrik dari mesin tersebut, Agra berteriak kesakitan, selama hampir sepuluh menit dia merasakan sakit di sekujur tubuhnya, sakit yang teramat sangat sampai-sampai ia merasa lebih baik mati saja.
“KELUARKAN AKU!” Jeritnya penuh penderitaan. Namun bukannya mendapat belas kasih, Agra melihat Arka sedang menatap kearahnya dengan penuh semangat. Agra tidak bisa membayangkan apa yang di inginkan oleh orang-orang jahat di depannya. Kenapa mereka bisa tega menyiksa manusia seperti ini.
“Kumohon! Rasanya sangat sakit.” Ringis Agra.
Tak lama kemudian darah mengalir keluar dari hidung, telinga, dan kedua matanya. Rasa sakit itu semakin menguasai tubuhnya, karena sudah tidak kuat lagi akhirnya Agra terjatuh tak sadarkan diri.
“Tidak! Jangan lagi!” Teriak Arka saat mengetahui bahwa Agra telah mati.
Agra membuka matanya dan mendapati dirinya berada di dalam sebuah gudang yang terisi dengan mayat-mayat dari peserta tes dari setiap Distrik.
“Halo?!”
“Apa ada yang bisa mendengarku?!” Sahut Agra sambil menutup hidungnya.
Tubuh Agra tersentak saat seekor tikus melintasi kakinya, bersamaan dengan mayat-mayat yang bergeser dengan sendirinya.
Dengan terburu-buru Agra membongkar tumpukan mayat disampingnya. Perempuan itu mengira bahwa ada seseorang yang masih hidup didalam sana. Setelah menghabiskan waktunya selama kurang lebih satu jam, Agra akhirnya menyadari, kalau dia lah satu-satunya manusia yang masih bernyawa di tempat ini.
Agra menyusuri ruangan tersebut mencari jalan keluar dari tempat ini, tubuhnya benar-benar tidak bertenaga setelah dia memuntahkan isi perutnya sebanyak 3 kali di tempat menjijikkan ini.
Perempuan itu melompat-lompatkan tubuhnya, entah karena perut yang kosong atau karena baru bangkit dari kematian, Agra merasa tubuhnya jadi sedikit berbeda, terasa seperti berat badannya berkurang dan menjadi sangat ringan.
“Apa yang terjadi padaku?” Agra mencoba melompat lebih tinggi lagi, benar saja, dia berhasil melompat setinggi 2 meter tanpa bantuan alat apapun, dan mendarat sempurna tanpa merasakan rasa sakit.
“Apa-apaan ini?” Dengan sekuat tenaga Agra melompat, dan matanya membulat sempurna saat iya mendapati dirinya mengambang di udara.
Rasa takut tiba-tiba menyelimuti perasaan Agra, dan tubuhnya pun mulai kehilangan keseimbangan, perempuan itu meluncur ke bawah dengan sangat cepat, untung saja tubuhnya mendarat diatas tumpukan mayat, sehingga tidak terlalu terasa sakit. Tak lama setelah Agra terjatuh, sebuah sinar putih terpancar dari atas, dan kemudian mayat-mayat manusia mulai berjatuhan dari atas.
“Ada apa diatas sana?” Gumam Agra.
Dengan penuh keyakinan Agra melompat dan membiarkan tubuhnya terbang ke arah sebuah pintu dengan seorang suster yang sedang membawa gerobak berisi mayat.
Suster tersebut berteriak ketakutan dan jatuh pingsan. Agra mendarat sempurna didepan suster tersebut, lalu mengganti baju karetnya dengan seragam sang suster. Dengan penuh kebencian, Agra mendorong tubuh suster serta mayat-mayat di gerobak itu masuk kedalam tempat tumpukan mayat tadi, kemudian bergegas membersihkan wajah dan tangannya didalam kamar mandi, setelah semua nya beres. Perempuan itu keluar dari istana dan melarikan diri ke dalam hutan pinus yang sangat rindang.
Hari ini, tanggal 10 Januari tahun 2299, sembilan hari yang lalu,tepat 3 tahun Agrapana Cundamani menghabiskan waktunya sendirian di tengah hutan. Entah setan dari mana yang merasukinya, tiba-tiba saja ia ingin kembali ke dalam gudang berisi mayat-mayat itu, dia beranggapan, mungkin saja ada orang lain yang terjebak sama sepertinya didalam ruangan itu.
Agra mengambil seragam suster yang tiga tahun lalu dicurinya lalu beranjak menuju istana.
Dengan begitu hati-hati, dia melewati beberapa penjaga Istana dan masuk kedalam sebuah ruangan tempat ia membunuh seseorang untuk pertama kalinya.
“Hei mau ngapain kau?” Ucap seorang tentara padanya saat dia membuka pintu gudang mayat itu.
Agra mengeluarkan kekuatan telekinesis yang didapatnya dari hasil eksperimen itu dan mencekik tentara itu sampai mati tanpa menyentuhnya sama sekali. Dengan angkuh perempuan itu meludahi mayat tentara didepannya, lalu mengambil baju seragam yang dipakai laki-laki malang itu.
Setelah mendapatkan seragam tentara yang di inginkan, dengan cepat Agra melemparkan tentara tersebut masuk kedalam gudang mayat, lalu terbang ke dalam.
“Halo? Apa ada orang?” Sahut Agra berharap mendengar jawaban.
“Apa ada yang bisa mendengarkanku? Jangan takut, aku datang untuk menyela--”
“TOLONG!” Teriak seorang perempuan memotong ucapan Agra.
Sekujur tubuh Agra merinding saat mendengar teriakan itu. Akhirnya setelah hidup sendirian selama 3 tahun, Agra menemukan seseorang yang senasib dengannya.
***
“Bagaimana keadaannya?” Ucap Beatriz pada Aruna yang sedang menyembuhkan Sarah dengan kekuatannya.
“Entahlah tubuhnya berbeda dari kita.” Jawab Aruna.
“Berbeda bagaimana maksudmu? Dia bukan Spesimen seperti kita?” Ucap Beatriz sambil mengeluarkan sedikit gelombang listrik dari tangannya.
“Manusia biasa?” Tanya Agra.
“Kan sudah ku bilang, dia pasti anggota kerajaan! Sudah, serahkan saja dia padaku.” Ucap Beatriz sambil menyambar tubuh Sarah. Untuk kesekian kalinya dia gagal untuk membunuh perempuan berambut pirang itu karena Aruna menahan serangan Beatriz dengan shield miliknya.
“Kenapa kalian semua membela perempuan yang gak jelas ini? Dia bisa menjadi ancaman untuk kita!” Omel Beatriz lalu beranjak keluar dan menyambar sebuah pohon pinus untuk meluapkan amarahnya.
“Dasar anak-anak.” Gumam Agra.
“Lihat ini.” Ucap Aruna pada Agra.
Perempuan berambut coklat itu mengarahkan tangannya kearah lengan Sarah. Kedua wanita itu terpana dengan hal aneh yang ada didepan mereka. Saat Aruna berusaha mengobati perempuan didepannya itu, kulit Sarah berubah menjadi sisik-sisik berukuran kecil, sisik itu bergerak dan berubah warna selama sepersekian detik.
“Dalam kurun waktu sepersekian detik, tiap sel di tubuhnya mati dan hidup disaat yang bersamaan. Aku tidak mengerti, bagaimana bisa? Hal ini tidak pernah terjadi.” Ucap Aruna heran.
“Shape shifter.” Ucap Agra dengan kagum.