SATU

2443 Words
Nusantara. Distrik 1, 01 Januari 2302. Seorang perempuan berambut pirang dengan iris mata berwarna biru langit berdiri didepan teras rumahnya dengan sebatang rokok disela jarinya sambil menatap ke arah mobil-mobil box berwarna abu-abu yang sedang memenuhi pasokan makanan di distrik mereka. Sampai beberapa waktu kemudian, muncul lagi mobil-mobil tentara yang akan mengumpulkan peserta test untuk dibawa ke istana setiap tahun. “Sedang apa kau disini ?” Ucap seorang laki-laki berambut hitam dengan iris mata berwarna coklat khas pribumi. Secara tiba-tiba perempuan itu membalikkan badannya dan mengancam nyawa laki-laki itu dengan sebuah pisau ditangan kanannya. “Wow, tenanglah Sarah!” Sahut Dylan ketakutan melihat refleks temannya yang sangat menyeramkan itu. Sarah menurunkan pisaunya dari leher Dylan sambil menghembuskan nafas lega. Hampir saja dia merenggut nyawa satu-satunya orang yang ia percaya. “Maaf.” Ucap perempuan bernama Sarah Bornslav itu. “Bukannya tahun ini kau jadi peserta tes kerajaan?” “Iya. Jangan mengejekku, kau juga akan menyusulku ke neraka tahun depan.” Ucap perempuan itu sambil menghisap rokoknya. “Kau mau kabur?” Ucap Dylan, Sarah menggeleng sambil menghembuskan asap dari mulutnya kearah wajah Dylan. “Tak akan ada gunanya. Kau lupa? Sejak lahir mereka sudah menanamkan alat pelacak dalam tubuh kita.” Ucap Sarah sambil menunjukkan sebuah tanda di pergelangan tangan kanannya. “Hmm, jadi kau akan pergi ke gedung putih?” “Ya. Aku sudah menghabiskan batang rokok terakhirku. Tak ada lagi yang perlu aku pertahankan di dunia ini.” Dylan menatap wajah perempuan yang sudah dianggapnya sebagai kakaknya sendiri dengan ekspresi sedih. Tidak ada yang tau apa saja yang terjadi pada orang-orang yang mengikuti tes tersebut. Namun yang pasti, sejak hari pertama tes tersebut di selenggarakan tidak ada peserta yang kembali. Tanpa bukti yang konkret pihak kerajaan mengatakan bahwa orang-orang tersebut dikirim ke distrik 5 untuk melanjutkkan pendidikan mereka dengan sarana yang lebih memadai disana. Akan tetapi, tidak ada yang bisa membuktikan ada atau tidaknya Distrik 5. Bahkan tak ada satu orangpun di distrik ini yang pernah pergi ke distrik tersebut. “Aku pergi dulu. Senang bisa mengenalmu.” Ucap Sarah sambil memeluk Dylan. “Aku akan merindukan mata sipitmu ini.” “Oh iya, ambil ini.” Ucap Sarah dengan sebuah kantung yang di ambilnya dari dalam tas kulit tersebut. “Jamur? Ini kan sangat mahal, bagaimana bisa kau mendapatkannya?” “Tentu saja aku mencurinya.” “Kau bisa dibunuh kalau ketahuan mencuri, kau tau itu kan?” “Terus? Kenapa kau harus takut dengan peraturan itu? Mereka membutuhkan nyawamu untuk di bunuh saat berumur 18 tahun.” “Hei, kau hanya akan melakukan tes fisik Sarah, kita akan berjumpa di Distrik 5 tahun depan.” “Jangan buat dirimu menjadi bodoh karena percaya tentang adanya Distrik 5. Dari dulu, dari sejak kakek moyang ku datang kesini. Negara ini hanya mempunyai 4 Distrik.” “Terserahmu.” “Um, Sarah, boleh aku meminta sesuatu darimu?” Ucap Dylan. “Apa? Kau sudah mendapatkan sekantung penuh jamur, apalagi yang kau harapkan?” “Jangan lupa untuk kembali.” Ucap Dylan dengan penuh harapan. “Kau tau aku tidak akan mati hanya karena tes ini kan? Mereka butuh usaha lebih untuk membunuhku.” Ucap Sarah meninggalkan Dylan menuju Gedung Putih.   “Tapi kalau nanti aku mati, aku pasti akan kembali untuk menggentayangi mu Dylan!” Sarah berjalan menuju sebuah lapangan yang ada di Gedung itu. Sudah banyak orang-orang yang berbaris disana, ada yang sedang bercanda tawa dengan temannya, ada juga yang sedang menangis sendirian. “Perhatikan jalanmu, orang miskin!” Bentak seorang tentara pada Sarah. Bukannya takut, Sarah malah mendorong tentara itu menjauh darinya. Sarah mengambil posisi nya pada barisan kedua, dan mengantri untuk masuk kedalam bus-bus yang akan membawanya menuju Stasiun Istana. Setelah masuk ke dalam bus tersebut, Sarah mengambil tempat duduknya disamping seorang perempuan yang sedang menangis. “Takut mati huh?” “Aku meninggalkan anakku sendirian dirumah, siapa yang akan menjaganya nanti?” Ucapnya. “Anakmu umur berapa?” Ucap Sarah. “3 tahun.” “Kau melahirkan di usia 15 tahun?” Ucap Sarah kaget. “Kenapa?” Ucap perempuan itu dengan kesal. Sarah terdiam sambil menunduk. Meski melahirkan di usia sangat muda sudah tidak mengherankan lagi untuk rakyat di negara ini, Sarah tidak pernah membayangkan dirinya memiliki seorang anak, dia merasa masih terlalu muda untuk itu. Walaupun pendapatnya tentang pernikahan ditolak oleh masyarakat kebanyakan, setidaknya Sarah bukan satu-satunya orang yang berpikiran bahwa tes ini dilakukan hanya untuk membunuhnya. Bus-bus itu berhenti di sebuah stasiun yang terletak diantara wilayah Distrik 2 dan 4, rombongan peserta dari Distrik 1 sampai Distrik 4 masuk kedalam kereta api sesuai dengan nomor tempat duduk mereka masing-masing. Membutuhkan waktu dua jam untuk sampai ke Istana. Sarah menghabiskan waktu dengan memakan kacang yang sudah dicurinya dari gudang persediaan makanan kemarin malam sambil menatap pemandangan hutan pinus diluar yang begitu asri. Dari jauh ia bisa melihat Istana yang berdiri kokoh dengan begitu megahnya. Didalam hatinya Sarah membayangkan hidupnya yang pasti akan dipenuhi dengan kemewahan jika ayahnya tidak kabur dari Istana hanya untuk menikah dengan ibunya yang berasal dari kalangan rakyat biasa di Distrik 1. “Hei, kau dari Distrik 1 kan?” Ucap seorang laki-laki yang tiba-tiba duduk di samping Sarah. “Aku Joe.” Ucapnya. “Sarah.” “Aku sudah tak sabar.” Ucap Joe dengan penuh semangat. “Untuk mati?” “Mati? Apa orang-orang di Distrikmu kira kalau tes ini berujung kematian?” “Kami beranggapan seperti itu karena tidak ada yang kembali.” “Kalian semua beranggapan seperti itu?” “Tidak, hanya beberapa orang saja. Termasuk aku.” Ucap Sarah. “Kalau kau berpikir kita akan mati setelah melakukan test. Kau salah besar, karena aku pernah melihat Distrik 5.” Ucap Joe yang akhirnya bisa menarik perhatian Sarah. “Kau pernah kesana?” “Tentu saja tidak. Kita tidak diperbolehkan keluar dari Distrik kan?” Ucap Joe yang membuat Sarah kesal. “Jadi dari mana kau melihat Distrik 5? Dari mimpimu?” “Memang aku belum pernah kesana, tapi aku punya pacar di Istana, dan dia pernah kesana. Waktu itu dia membocorkan kondisi di Distrik 5 padaku melalui video call. Disana benar-benar canggih dan mewah, berbeda dengan Distrik lainnya, kita benar-benar terlihat menyedihkan.” “Kau yakin itu Distrik 5?” “Tentu saja. Kalau tidak, kenapa aku bisa se-semangat ini untuk mengikuti tes?” Dua jam berlalu dan kereta api yang membawa seluruh peserta dari Distrik 1 sampai 4 berhenti di stasiun kereta api Istana, Sarah turun dari kereta api itu dan mengikuti rombongan Distrik 1 menuju mess yang telah disediakan oleh pihak Istana untuk masing-masing Distrik. Setelah masuk kedalam mess, mereka diminta untuk meninggalkan semua barang yang dibawa dari Distrik masing-masing dan mengganti baju mereka dengan seragam berwarna putih tulang yang telah disediakan. Sarah meninggalkan semua barangnya kecuali pisau kecil kesayangan yang selama ini telah menemani perempuan itu menjalankan segala aksi kriminalnya di Distrik 1 dulu. Sarah menyimpan pisaunya didalam sebuah pot bunga yang terdapat dalam mess tersebut. Dan saat malam tiba, ia mengambilnya dan menyelipkannya dibawah kasur. Waktu menunjukkan pukul 20.00, muncul suara bel yang berbunyi dengan keras mengalihkan seluruh perhatian orang-orang didalam mess itu menuju sumber suara. “Kepada seluruh peserta tes, diharapkan berkumpul di gedung A untuk menyantap makan malam.” Ucap seseorang dari pengeras suara. Semua peserta beranjak dari messnya masing masing menuju gedung A, gedung ini di hiasi oleh 4 jenis bedera di atas tiap meja makan berukuran raksasa. Bendera-bendera tersebut merupakan lambang dari tiap-tiap Distrik. Distrik 1 dengan lambang rubah, Distrik 2 dengan lambang Badak, Distrik 3 dengan lambang Kelelawar, dan Distrik 4 dengan lambang burung gagak. Sarah berjalan menuju meja Distrik 1 diikuti oleh 47 orang lainnya. Baru saja ia duduk satu menit, seorang pria paruh baya muncul dan berdiri diatas mimbar sambil memandang kearah ratusan peserta yang duduk di depannya. Sarah menatap pria itu dengan cukup lama, dia tak pernah melihat orang tua selama ini. Walupun kemungkinan besar ia tidak akan pernah merasakan hari tua, setidaknya dia tau bagaimana bentuk kulitnya nanti disaat usianya menginjak 50 tahun. “Selamat datang di Istana.” Ucap pria itu melalui sebuah mic yang terletak diatas mimbar tersebut. “Kehadiran kalian disini benar-benar sangat dibutuhkan oleh Negara demi menjamin kesejahteraan dan keamanan Nusantara dimasa mendatang. Kalian adalah pahlawan yang sangat berharga.” Semua orang di gedung ini bertepuk tangan, ada yang bertepuk tangan dengan kegembiraan yang teramat sangat, ada juga yang bertepuk tangan dengan niat yang sangat minim seperti Sarah. Baginya hal ini benar-benar membosankan. Buat apa melakukan perjamuan makan besar-besaran seperti ini? Toh mereka juga akan mati besok. Setelah hampir satu jam mendengarkan pidato dari Fransiscus Alvero, Panglima Tentara Nusantara. Akhirnya para pelayan mulai bermunculan dari dapur dengan membawakan berbagai jenis makanan mewah khas kerajaan yang selama ini tidak pernah di santap oleh Sarah. Seluruh peserta di dalam gedung ini menyantap makanannya dengan sangat lahap, termasuk Sarah. Hanya ada dua hal yang bisa membuatnya bahagia di dunia ini. Yang pertama rokok, dan yang ke dua makanan enak. Setelah menghabiskan makanannya, seluruh perserta kembali ke messnya masing-masing dengan perut kenyang dan hati yang gembira, Sarah naik keatas tempat tidurnya dan membungkus badannya dengan selimut sambil menggenggam pisau kecil yang diselinapkannya tadi. Dengan susah payah Sarah menutup matanya mencoba untuk tidur. Ia ingin setidaknya malam terakhir di hidupnya berjalan dengan baik dan menyenangkan, namun percuma saja hal itu tidak terjadi. Matanya terus terbuka menatap langit-langit messnya yang bertuliskan Nusantara. Entah apa yang akan terjadi besok, Sarah sangat penasaran akan hal itu, dia terus membayangkan segala kemungkinan yang ada, mulai dari tes fisik seperti biasa, sampai hal gila seperti pengambilan organ-organ tubuhnya untuk diberikan pada kaum bangsawan di Istana yang membutuhkan donor. Sarah menutup matanya saat segerombolan orang masuk kedalam messnya. “Berapa orang dari Distrik 1?” Ucap laki-laki dengan suara sangat berat yang sering didengar oleh Sarah. Sarah membuka matanya sedikit, untuk mengintip orang-orang yang masuk kedalam messnya tadi. “47 orang yang mulia.” Ucap seorang perempuan yang berdiri disamping Arka. Mata Sarah terbuka lebar saat menyadari Raja nya berada tepat didepan matanya. Seperti yang orang-orang katakan, Raja Arka mempunyai paras yang sempurna dengan rahang yang tegas dan tubuh yang gagah. Namun bukan hal itu yang membuat Sarah terpaku padanya. Rasa benci yang teramat sangat lah yang membuat Sarah yang ingin membunuhnya saat itu juga. Karena peraturan bodoh laki-laki sialan ini, dia terpaksa kehilangan kedua orangtuanya dihari yang sama. “Hai, kau belum tidur?” Ucap Arka saat menyadari Sarah sedang memandang ke arahnya. “Tidur lah, kau butuh fisik yang kuat untuk tes besok.” Ucap Arkan dengan lembut. “Baik yang mulia.” Ucap Sarah dengan sinis, entahlah apa Arka menyadari sifat tidak sopannya itu, dia sama sekali tidak peduli. Bahkan jika dia harus di hukum mati karena berlaku kasar pada seorang Raja, dia tidak takut. Kenapa dia harus takut di hukum mati kalau waktu hidupnya hanya tersisa beberapa jam lagi? Arka beserta rombongannya pergi dari ruangan itu menuju ruangan lain untuk melihat perserta dari Distrik 2 sampai 4 yang akan melakukan tes besok. Setiap tahun, hari ini lah yang selalu dinantikan oleh Arka. Melihat tahun ini rakyatnya memberikan peserta tes terbanyak dari tahun-tahun sebelumnya, membuat Arka menjadi sangat bahagia, karena menurutnya, semakin banyak peserta yang ikut, akan semakin tinggi pula kemungkinan eksperimennya berhasil. *** Cahaya matahari dan bunyi bel membangunkan Sarah dari tidurnya, sambil mengikat rambut panjangnya Sarah berlari menyusul rombongan Distrik 1 menuju sebuah gedung megah yang berisikan alat-alat canggih. Semua orang berbaris mengantri dibagikannya sebuah seragam karet seperti baju renang untuk dipakai saat tes nanti. Sarah mengambil miliknya dan mengganti bajunya, perempuan itu memukul kepalanya dengan keras saat menyadari kalau dia lupa membawa pisau kecil kesayangannya di tempat tidur. Hari ini benar-benar menjadi hari terburuk baginya, selain dia harus kehilangan nyawanya, dia juga harus kehilangan benda terakhir pemberian ayahnya hanya karena mengikuti tes ini. Di ikuti oleh 9 orang lainnya, Sarah masuk kedalam sebuah laboratorium berisi kapsul-kapsul canggih berukuran raksasa yang muat menampung seorang manusia. “Silahkan duduk.” Ucap seorang dokter sambil mengarahkan 10 peserta diruangannya untuk duduk kursi dalam ruangan tersebut. Setelah mengambil tempat duduknya, seorang suster datang menghampiri Sarah dengan sebuah suntikan yang berisi cairan berwarna biru. “Apa itu?” Ucap Sarah. “Hanya vitamin untuk menjaga staminamu saat tes fisik nanti.” Setelah suster-suster tersebut selesai menyuntikkan cairan itu ke masing-masing peserta. Tiga orang di antara para peserta terjatuh pingsan dari tempat duduknya. “Kenapa mereka?” Tanya Sarah dengan perasaan panik. “Respon tubuh setiap orang berbeda, jangan takut, ini adalah hal yang wajar. Mereka akan bangun dalam waktu 10 menit.” Ucap sang dokter menjelaskan. “Silahkan masuk ke kapsul kalian masing-masing, kita akan memulai tes fisik sebentar lagi. Jadi sebaiknya jangan membuang-buang waktu.” Sarah masuk kedalam kapsul tersebut, para suster datang menghampirinya lalu menempelkan alat-alat seperti kabel ke bagian kepala, lengan, d**a, punggung dan kakinya. Setelah selesai mereka menutup pintu kapsul tersebut dan mulai menghidupkan mesinnya. Tubuh Sarah dikejutkan dengan listrik bertekanan tinggi yang membuat kesadarannya terenggut seketika sama seperti peserta lainnya. Kemudian tubuh mereka dibiarkan didalam kapsul tersebut selama beberapa saat. Dokter didalam ruangan tersebut terus memperhatikan elektrokardiogram masing-masing peserta dari kapsul mereka, baru saja berlangsung lima menit, 2 peserta terpaksa dikeluarkan dari kapsul karena sudah tak bernyawa lagi, dan setelah 15 menit hanya tersisa Sarah yang masih berada didalam kapsul. Sejauh ini, Sarah adalah orang pertama yang mampu bertahan didalam kapsul dengan waktu diatas 15 menit. Jika Sarah bisa bertahan sampai 20 menit, dan masih hidup. Maka eksperimen ini akan berhasil untuk pertama kalinya. Sang dokter dengan semangat menelepon penasihat Raja untuk mengabarkan berita ini. Arka yang mendengar kabar tentang Sarah, beregas masuk kedalam laboratorium tersebut. Saat timer menunjukkan 19 menit 25 detik. Arka merasakan kebahagiaan yang teramat sangat karena akhirnya eksperimen miliknya membuahkan hasil. Namun, di saat itu juga, Sarah menghembuskan nafas terakhirnya. Perempuan malang itu meninggal di detik-detik penuh kebahagiaan di hidup Arka. “Hidupkan dia lagi!” Teriak Arka dengan penuh amarah kepada semua orang yang berada didalam laboratorium tersebut. Dengan sigap dokter dan suster-suster disana mengeluarkan tubuh Sarah dari dalam kapsul dan memacu jantungnya dengan defribrilator. Sayangnya setelah berkali-kali menempelkan lead ke d**a Sarah, Perempuan itu tetap bujur kaku diatas tempat tidur. “Maaf yang mulia, kami tidak bisa menyelamatkannya.” Ucap sang dokter. Lagi-lagi, setelah 17 tahun lamanya, eksperimen sang Raja tidak membuahkan hasil. “Dasar tidak berguna!” Dengan penuh amarah Arka membanting semua benda yang ada didepannya. “Maafkan kami yang mulia.” Ucap sang dokter ketakutan. “Aku tidak membutuhkan orang-orang bodoh seperti kalian.” Ucap Arka. “Bunuh mereka, lalu buang mayatnya di tempat pembuangan mayat.” Arka keluar dari laboratorium itu dengan perasaan kecewa, membiarkan para pengawal merampas nyawa sang dokter dan suster-susternya tersebut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD