Di pagi yang cerah, dari kejauhan Sarah melihat puluhan orang berpakaian hitam berkumpul di padang rumput yang luas didepan sebuah tugu setinggi 3 meter.
“Kau ingin menulis namanya?” Ucap Dylan sambil memberikan alat pengukir ditangannya. Sarah melihat Dylan dengan tatapan sendu. Tangannya bergerak mengambil alat pengukir itu lalu berjalan perlahan menuju tugu tersebut.
Sarah menatap tugu itu cukup lama, melihat ratusan nama yang tertulis disana. Setelah menemukan nama yang ia cari. Sambil menangis dan tersenyum, Sarah mengukir nama Estomihi Bornslav di bawah nama adiknya, Elisabeth Bornslav.
“Ya setidaknya kau bisa menghabiskan waktu mu bersama Tomi disana.” Gumam Sarah sambil menatap ukiran nama Elisabeth.
“Kita pulang sekarang? upacara pengangkatan Aruna akan dilakukan sebentar lagi.” Ucap Dylan sambil merangkul Sarah dari belakang.
Sarah mengangguk dan meninggalkan Dylan terlebih dahulu menuju mobil hitam milik Frans.
“Terimakasih.” Ucap Dylan dengan senyuman tulus pada Tomi.
“Tenang saja. aku akan menggantikan mu untuk menjaga Sarah. Aku janji akan menjaga nya sebaik mungkin. Ya walaupun sebenarnya dia bisa menjaga dirinya sendiri tanpa bantuanku sih.”
“Sampai jumpa di kehidupan berikutnya kawan.”
Dylan berlari menyusul Sarah dan merangkul tubuh perempuan yang udah dianggap nya sebagai kakaknya sendiri itu dengan erat.
“Sudah, jangan sedih lagi.”
Dylan membukakan pintu mobil untuk Sarah dengan senyuman lebar dibibirnya.
“Muka mu jelek kalau menangis.” Sambung Dylan lalu masuk ke dalam mobil.
“Kau bisa memelukku sekarang dan menangis sepuasnya. Kalau kau mau.” Ucap Dylan dengan lembut pada Sarah.
Tanpa berpikir panjang lagi, Sarah memeluk Dylan dengan erat sambil menangis sepuasnya, Dylan membalas pelukan Sarah tanpa berkata sedikitpun, tangannya dengan lembut mengelus pundak Sarah dengan harapan kesedihan Sarah dapat segera berlalu.
***
“Kau mau kemana?” Ucap Dylan memperhatikan Agra keluar dari kamarnya berbalut gaun merah dengan rambutnya yang sudah mulai memanjang dibiarkan tergerai indah.
“Aku ada urusan. Kenapa kau melihat ku seperti itu?”
“Entah lah, kau terlihat aneh. Sejak kapan kau jadi feminim seperti ini? Astaga Tuhan! Kau berdandan Agra?!” Sahut Dylan terkejut.
“Diam lah sebelum aku memukul mu!”
“Aku tidak mengejek mu kan, kenapa kau marah?”
“Kau terlihat cantik sekali Agra. Kemana kau akan pergi?” Ucap Aruna.
“Jangan bilang kau akan pergi berkencan.” Ucap Sarah.
“Kenapa kalian semua tidak bisa membiarkan ku tenang? Aku ingin pergi menjemput Aneshka, aku harus berpenampilan begini agar dia tidak takut dengan ku. Bagaimana? Apa aku sudah tidak menyeramkan?” Tanya Agra.
“Belum.” Jawab teman-temannya serentak.
“Ah! Wangi parfum milik siapa ini? Kenapa seluruh ruangan ini jadi harum seperti ini?” Sahut Frans seraya berjalan menuju Agra dan teman-temannya dengan cerutu di mulut pria tua itu.
“Diam lah kakek, kau sudah bau tanah juga masih saja mengganggu ku. Kenapa kau tidak tidur saja di kamar mu dan memakan apel disana.”
“Aku dengar kau akan menjemput Aneshka, mari biar ku antar.”
“Tidak usah, aku akan terbang ke sana.” Ucap Agra yang di balas dengan tatapan heran dari teman-temannya yang lain.
“Kenapa?”
“Kau sudah berdandan rapi seperti ini dan kau mau terbang?” Ucap Dylan membungkam Agra.
“Kau tau tempat nya?” Tanya Agra pada Frans, laki-laki itu tertawa menghembuskan asap dari mulutnya.
“Tentu saja, sebelum memutuskan untuk membunuh putri Maria aku sempat berpikir untuk membunuh Aneshka. Namun setelah tau anak itu sudah menderita dengan kebutaan yang ia miliki, aku membiarkannya hidup.”
“Buta?” Tanya Sarah, Frans mengangguk.
“Bolehkah kami ikut?” Ucap Aruna, Frans mengangguk.
“Kita semua akan kesana menggunakan Pesawatku, ayo.”
Mereka semua masuk ke dalam pesawat tempur milik Frans, setelah memakai perlengkapan-perlengkapan yang diperlukan pria tua itu mengendalikan pesawatnya dan membawa mereka terbang menuju panti asuhan distrik tiga tempat Aneshka berada.
“Kenapa kau tiba-tiba ingin mengambil Aneshka? Bukannya kau sangat membenci Beatriz.”
“Aku tidak bisa mengabaikan permintaan terakhir orang yang sudah mati.” Jawab Agra dengan singkat, padahal yang sebenarnya ada di hatinya, Agra ingin menjadikan Aneshka sebagai obat penawar atas rasa bersalah karena ia terpaksa membunuh Beatriz, sahabatnya. Meskipun kebencian menyelimutinya, namun rasa kasih sayang terhadap Beatriz masih terpendam jauh di dalam lubuk hari perempuan berjiwa keras ini. Sedari dulu Agra sudah menganggap Aruna, Beatriz, dan Sarah sama seperti adik kandungnya, tapi karena Beatriz sudah tidak dapat mereka jangkau lagi, ia terpaksa membunuhnya demi keselamatan orang banyak.
Bahkan sampai sekarang pun Agra masih menyesali kejadian dimana ia tidak mampu menyelamatkan Beatriz, saat perempuan itu di sekap oleh istana.
“Setidaknya aku tidak membiarkan anak malang itu hidup sendirian seperti ibunya.” Gumam Agra yang tidak dapat di dengar oleh siapapun.
Frans mendaratkan pesawat tempurnya di atas sebuah lapangan sepak bola milik Distrik tiga, mereka ber-lima berjalan bersama-sama di sambut dengan sorak-sorai dan tepuk tangan dari seluruh penduduk di distrik tempat Beatriz berasal.
“Panjang umur untuk kalian!” Sahut seorang pria dengan sekeranjang jamur di tangannya.
“Kau tidak mau mencuri keranjang itu? Sepertinya jamur itu masih segar.” Bisik Dylan pada Sarah tanpa di ketahui oleh siapapun.
“Aku sudah selesai memikirkan strateginya bahkan sebelum kau sempat mengatakan itu.” Ucap Sarah dengan senyuman tipis di bibirnya, Dylan yang awalnya ikut murung karena kesedihan yang Sarah rasakan merasa sedikit lega setelah melihat kakak angkatnya itu dapat tersenyum kembali.
“Hei, kenapa kau menyukai Aruna bukannya kau lebih muda tiga tahun darinya?” Ucap Frans dengan suara lantam.
“Memangnya kenapa kalau aku lebih muda? Aku lebih baik daripada kau yang menyimpan anak kecil di dalam kamar mu.”
“Apa?” Ucap Frans terkejut, apa Dylan sudah menyadari keberadaan Elisabeth di rumahnya?
“Kau benar-benar menjijik kan.” Ucap Agra dengan tatapan sinis lalu berjalan selangkah lebih cepat di bandingkan Frans.
“Mulai hari ini jaga jarak mu dari Aruna, kalau kau ada didekatnya kurang dari 2 meter. Kau akan berhadapan denganku!” Ucap Sarah pada Frans.
“Hei, sepertinya aku pernah mendengar perkataan itu?” Ucap Dylan.
“Iya kau pernah ketakutan setengah mati saat Sarah mengancam mu seperti itu.” Ucap Agra.
“Mana mungkin!” Sahut laki-laki berusia 18 tahun itu.
“Berhati-hatilah padanya.” Bisik Dylan pada Frans.
“Sarah itu monster yang sangat berbahaya, bahkan dia tidak merasa takut sedikitpun saat menenteng kepala Arka. Kau mau kepala mu jadi target selanjutnya? Sebaiknya kau lepaskan anak kecil itu, kasihan dia, masih kecil.” Ucap Dylan serius.
“Kita sudah sampai.” Ucap Aruna yang tiba-tiba saja sudah berada di depan panti asuhan.
“Aku akan masuk duluan.” Ucap Agra mendahului Aruna. Setelah menarik nafas panjang Agra masuk ke dalam ruangan yang dipenuhi oleh anak-anak.
“Selamat pagi, apa ada yang bisa saya bantu?” Ucap seorang anak kecil berusia sekitar 12 tahun.
“Ah, aku ingin mengadopsi seorang anak.” Ucap Agra sambil tersenyum lembut.
Setelah menyelesaikan semua administrasi, seorang anak perempuan dengan mata hitam legam sama seperti mata asli Beatriz keluar dari sebuah ruangan dengan pintu putih.
Mata Agra terpaku dengan kemiripan wajah Aneshka dengan wajah ibunya. Sambil tersenyum Agra mengangkat tubuh mungil anak itu lalu memeluknya sambil menangis.
“Kau siapa?” Ucap Aneshka kebingungan.
“Maaf tante tapi Aneshka tidak bisa ikut dengan anda, soalnya Aneshka harus menunggu ibu di sini.” Ucap Aneshka dengan polos. Rasa bersalah dan bingung terbesit di dalam tubuh Agra dan teman-temannya yang lain, bagaimana caranya mengatakan pada Aneshka bahwa Beatriz telah mati?
“Aneshka cantik, kami adalah teman-teman dari ibu mu, jadi ibu mu menyuruh kami untuk menjemput Aneshka dari sini.”
“Kalau begitu, Aneshka mau ikut dengan tante! Aneshka ingin bertemu dengan ibu.” Ucap Aneshka bersemangat. Tanpa sadar Agra mengangguk lalu berjalan bersama teman-teman nya yang lain menuju pesawat tempur milik Frans.
“Hei kenapa kalian lama sekali?” Ucap Sarah yang sudah terlebih dahulu berada di dalam pesawat.
“Kau darimana saja? Kok bisa tiba-tiba ada disini, bukannya kau tadi berada di panti asuhan bersama kami?” Ucap Dylan.
“Lihat apa yang ku dapatkan Dylan!” Sahut perempuan tertawa puas sambil menunjukkan sebuah keranjang pada Dylan.
“Kau benar-benar mencuri—“ Sahut Dylan tidak percaya namun terpotong oleh perkataan Sarah.
“Sekeranjang penuh jamur yang nikmat!!!” Teriaknya penuh kebahagiaan.
“Kau memang tidak waras Sarah.” Ucap Dylan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Ayo kita pulang! Aku harus menendang p****t pria tua bangka ini karena dia sudah berani menyekap seorang anak perempuan di rumahnya!” Ucap Sarah dengan tatapan sinis ke arah Frans.
“Apa? kenapa kau mengatakan itu? Aku tidak—“ Frans menyalakan mesin pesawat sambil menjawab tuduhan Sarah, namun sayangnya belum saja dia berhasil menjelaskan, satu pukulan keras dari Sarah mendarat di bagian belakang kepalanya dan membungkam segala penjelasan yang ingin ia keluarkan.
“Diam kau! Aku tidak mau mendengar suara mu.”
“Kau sudah bisa berjalan?!” Sahut James dengan sekantung buah-buahan di kedua tangannya.
“Aku tidak penyakitan James.” Ucap Elisabeth.
“Pelan-pelan.” Tangan James menopang bahu perempuan di sampingnya itu dengan lembut, perlahan James mendudukkan Elisabeth di atas tempat tidurnya.
“Apa kau bisa ceritakan pada ku bagaimana mereka membunuh Tomi?" Ucap Elisabeth, James menggeleng sambil memberikan beberapa obat yang harus Elisabeth konsumsi.
“Sudah ku bilang aku tidak penyakitan James!” Ucap Elisabeth, walaupun Elisabeth terkenal kasar, tapi ia belum pernah se-kasar ini dengan James. Perempuan itu melemparkan obat-obatan di tangan James tanpa rasa bersalah sedikit pun.
“Awalnya aku rasa aku bisa hidup tanpa Tomi, tapi mengingat semua harapan yang aku perjuangkan dari dulu tidak akan mungkin terjadi, aku rasa aku lebih baik menyusul Tomi dan keluarga ku yang lain ke surga.”
“Iya kalau kau masuk surga. Perempuan seperti mu sudah pasti masuk neraka.”
“Apa?” Ucap Elisabeth tidak percaya.
“Lebih baik hidup sendirian di bumi kan daripada sendirian di neraka?”
“Kau mau mati ya?” Ucap Elisabeth.
“El, aku tau pasti sangat menyedihkan kehilangan seorang keluarga, tapi kalau kau bertingkah seperti ini, Tomi juga tidak akan senang melihatnya, kau masih punya banyak orang yang sangat sayang dengan mu, apa lagi yang kau harapkan?” Ucap James.
“Dimana anak perempuan yang kau sembunyikan itu Frans?!” Sahut Sarah setelah berhasil mendobrak pintu rumah ketua markas tempat mereka tinggal.
“Siapa itu?” Tanya Elisabeth dengan penuh persiapan.
“Sedang apa kau? Kau mau bertarung di kondisi mu yang seperti ini? Langkahi dulu mayatku Elisabeth Bornslav.” Ucap James lalu keluar dari ruangan.
“Kenapa ada seorang dokter disini? Astaga! Kau akan benar-benar mati di tanganku Frans!” Sahut Sarah penuh amarah.
“Tunggu dulu Sarah. ini tidak seperti yang kau pikirkan.” Bujuk Frans, setelah mendengar pengaduan Dylan beberapa saat yang lalu, Sarah tidak henti-hentinya memaki Frans, bahkan pria tua itu sudah menerima beberapa pukulan keras dari Sarah.
Bagaimana aku bisa menjelaskan tentang Elisabeth kalau kau masih mengamuk seperti banteng?
“Minggir kau dokter m***m!” Bentak Sarah seraya mendorong tubuh James menjauh.
Dengan kasar Sarah membuka pintu tempat dimana Elisabeth di rawat, wajahnya yang sebelumnya terlihat begitu menyeramkan, seketika berubah menjadi sangat iba, bahkan Sarah hampir saja menjatuhkan air mata di pipinya.
“Kasihan sekali.” Ucap Sarah sambil memeluk tubuh Elisabeth, entah mengapa Elisabeth merasakan kehangatan yang sama seperti saat ia bertemu dengan Tomi di markas The Unknown dulu. Siapa perempuan ini? Kenapa dia bisa membuat Elisabeth merasa sangat nyaman dengannya hanya dengan sebuah pelukan.
“APA YANG KAU LAKUKAN PADANYA?! KENAPA DIA BISA SEPARAH INI?!” Teriak Sarah sekuat tenaga pada Frans, kali ini dia benar-benar marah. Bagaimana bisa seseorang yang sudah berumur seperti Frans bisa menyekap seorang anak perempuan di dalam rumahnya.
“Bukan, ini tidak seperti yang kau pikirkan. Tolong dengarkan aku. El tolong katakan padanya aku tidak melakukan apa-apa padamu” Ucap Frans panik sambil membujuk Elisabeth, namun sayangnya Elisabeth masih terpaku dengan perasaan hangat yang berasal dari pelukan Sarah.
“Aku akan mengirim mu ke neraka!” Sahut Sarah sambil mengeluarkan pisau di tangannya.
Perempuan itu berlari dengan cepat ke arah Frans untuk menyerang pria tua bangka itu, namun serangannya yang begitu gesit itu terhenti saat mendengar perkataan yang terucap dari mulut perempuan tawanan Frans.
“Jadi kau perempuan cantik yang di buatkan seragam karet oleh abang ku?” Ucap Elisabeth sambil tersenyum, entah kenapa perempuan itu merasakan kehadiran Tomi di dalam diri Sarah.
“Apa?”
Dengan susah payah Elisabeth menahan keseimbangan tubuhnya untuk berjalan menghampiri Sarah. Rasa sakit yang berasal dari setiap sudut badannya kembali menyiksa Elisabeth, semua ini karena kebodohannya yang tidak mau memakan obat pemberian James.
“Pelan-pelan, jangan paksakan diri mu seperti ini El.” Ucap James sambil menuntun Elisabeth.
“El?”
“Senang bertemu dengan mu Sarah, perkenalkan, namaku Elisabeth Bornslav. Saudara perempuan Estomihi Bornslav. Senang bertemu dengan mu.